rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galon yang Terlambat dan Tembakan yang Tepat Waktu.
Pelabuhan Tanjung Priok siang itu berbau garam laut, oli mesin, dan keringat ribuan buruh yang bergerak seperti semut di atas kapal-kapal raksasa. Matahari menusuk seperti pisau panas, membuat aspal parkiran mengkilap seperti minyak hitam. Di tengah deru truk kontainer dan teriakan mandor, Farhank berdiri di depan ruang kerja staf pelabuhan—sebuah kontainer bekas yang dicat biru pudar, AC-nya mati sejak pagi. Kemejanya basah di punggung, dasinya melorot, dan wajahnya merah karena marah yang tertahan.
“Sadiq! Kok telat sih? Kan saya pesan sejak pagi, ini udah jam tiga sore! Aduh-aduh, saya sampe keluar uang banyak buat beli air mineral kemasan botol!” jerit Farhank, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah tumpukan botol plastik kosong di meja kerjanya.
Shadiq—tukang galon berusia tiga puluh lima, badan kurus tapi otot kawat dari angkat galon tiap hari—meletakkan galon terakhir di pintu masuk. Seragam birunya lusuh, sepatu ketsnya berdebu, dan topi baseballnya miring karena keringat. Ia menyeka wajah dengan ujung lengan baju, tersenyum tipis meski lelah.
“Maaf, Bos,” katanya, suaranya santai tapi hormat. “Pesanan banyak banget hari ini. Saya sampai sempat makan siang cuma roti tawar sama air teh.”
Farhank menggeleng keras, jari telunjuknya hampir menusuk dada Shadiq. “Harusnya yang pesan paling awal ya kamu utamakan lah! Saya pesan pagi-pagi banget loh!”
Shadiq mengangkat bahu, tidak tersinggung. “Emang begitu saya kerjanya. Yang pesan galon dari kemarin sore saya anter duluan sebelum anter punya Bos.”
Farhank terdiam, alisnya naik. “Oalah, ada yang pesan dari kemarin juga to? Saya kira saya pelanggan pertama hari ini.”
Shadiq terkekeh pelan, suaranya menggema di koridor sempit. “Bos yang ke-30 mungkin. Yah, walaupun nggak banyak-banyak banget, tapi lokasi antarnya itu... Halah, kayak orang mau selundupin berlian lewat lubang tikus.”
Ekspresi Farhank berubah seketika. Senyumnya hilang, matanya menyipit, dan tangannya yang tadi menunjuk kini mengepal di saku celana. Kata “selundupin” seperti jarum yang menusuk telinganya. Ia memandang Shadiq lama, mencoba membaca wajah tukang galon itu.
Farhank mengeluarkan dompet kulit hitam dari saku belakang, mengambil satu lembar seratus ribuan dan satu lembar lima puluh ribuan lagi. “Ini buat enam galon sama ongkirnya,” katanya datar, menyodorkan uang itu.
Shadiq memeriksa uangnya. “Gada receh, Bos.”
“Ambil aja kembaliannya,” kata Farhank cepat, suaranya sedikit tegang. “Cuma tiga puluh ribu kan. Alah, buat kamu beli rokok.”
Shadiq tersenyum lebar, matanya berbinar. “Oh wah, makasih, Bos! Kan jadi semangat saya anter galon kalo gini.”
“Yaa... sama-sama,” jawab Farhank sambil berbalik, berjalan masuk ke ruang kerjanya tanpa menoleh lagi. Pintu kontainer ditutup pelan, tapi terkunci dari dalam.
Shadiq mengangguk sendiri, memasukkan uang ke saku celana, lalu menuju eskalator belakang. Langkahnya ringan, tapi pikirannya berat. Di kepalanya, daftar pesanan hari ini berputar seperti roda gigi yang tak pernah berhenti.
Saat ia naik eskalator menuju teras belakang—tempat motornya diparkir di area parkiran—suara tembakan meledak. **DOR! DOR! DOR!** Tiga kali berturut-turut, keras, menggema di seluruh pelabuhan. Buruh-buruh berteriak, kontainer bergoyang, dan alarm darurat mulai berbunyi nyaring, menusuk telinga seperti sirene kapal karam.
Shadiq mempercepat langkah. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi seperti ada dorongan insting untuk bertindak—melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar mengantar galon.
Di pintu keluar teras, ia dicegat pria berpakaian rompi hitam—security pelabuhan, wajahnya pucat pasi. “Ada apa ini?” tanya Shadiq, suaranya tetap tenang meski napasnya sedikit tersengal.
“Lihat dan perhatikan,” jawab pria itu, menarik Shadiq ke balik dinding beton yang retak-retak.
Dari celah jendela kaca pecah, Shadiq melihatnya: adu tembak di seberang jalan utama pelabuhan. Mobil-mobil macet total, klakson membabi buta, asap knalpot bercampur debu tebal. Polisi pelabuhan mundur perlahan, senjata mereka kalah jauh dari yang lawan. Di tengah kekacauan, pria-pria bertopeng hitam mendobrak pintu kaca lobi utama. Orang-orang berteriak ketakutan, berhamburan seperti tikus keluar dari sarang.
Salah satu pria bertopeng berteriak keras, suaranya menggelegar di atas kebisingan: “TIARAP! BERI KAMI JALAN!”
Security yang memegangi Shadiq menoleh sekilas, tapi terlambat. Salah satu pria bertopeng memukul punggungnya dengan gagang senjata, lalu sebuah pukulan keras mengenai kepala security itu. Darah menetes pelan dari pelipisnya.
Shadiq memperhatikan senjata pria itu dalam sekejap: warna emas gradasi silver dengan aksen biru, bentuknya seperti pistol buatan amatir tapi didesain mewah—mungkin modifikasi ilegal, pikirnya dalam hitungan detik.
Tiba-tiba, roundhouse kick lemah mengenai kepala Shadiq. Ia meringis, menunduk ke lantai beton yang dingin. Saat itu, ia melirik tas ransel pria bertopeng: ada gantungan kelinci kecil di resletingnya, warna perak mengkilap.
Pria-pria bertopeng itu kemudian lari ke belakang, lewat lorong curah yang sempit dan berbau ikan busuk.
Shadiq bangkit perlahan, memperhatikan kepergian mereka sambil berdiri. Ia mengusap kepala yang ditendang tadi. “ Roundhouse buruk,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. “Aku bisa mengembalikan tendangan itu padamu dengan lebih sempurna.”
Lalu, ia membantu security bangun, menopang bahunya yang lemas.
Security meringis, memegang punggungnya. “Aw, sakit juga punggungku. Pada kemana mereka?”
Shadiq menunjuk lorong curah. “Ke bagian kapal curah. Mereka lewat jalur itu tadi.”
Security mengangguk lemah. “Lewat jalur curah buat kabur doang. Abis ini mungkin mereka bakal tertangkap di kapal ekonomi.”
Shadiq menggeleng pelan. “Mereka mungkin akan tertangkap di taksi. Hampir nggak mungkin mereka tetap di sini atau di kapal saat situasi sudah genting begini.”
Security menatap lorong curah yang gelap, napasnya masih tersengal.
Shadiq pun bergegas ke motornya di parkiran teras. Ia memegangi kepalanya yang masih nyut-nyutan. “Keranjang galon baru ku!!!” jeritnya dalam hati, melihat motornya ambruk miring dan galon-galon bertebaran di tanah berdebu. Ia menelan ludah pahit, mata menyapu kekacauan di sekitar—tapi di balik itu, pikirannya sudah mulai menyusun potongan-potongan: senjata aneh, gantungan kelinci, dan kata “selundupin” yang tadi terlontar begitu saja.