Laura yang ingin mendapatkan kebebasan dalam hidupnya mengambil keputusan besar untuk kabur dari suami dan ibu kandungnya..
Namun keputusan itu membawa dirinya bertemu dengan seorang mafia yang penuh dengan obsesi.
Bagaimana kah kelanjutan kehidupan Laura setelah bertemu dengan sang mafia? Akankah hidupnya lebih atau malah semakin terpuruk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SabdaAhessa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Warisan
Laura nampak terkejut mendengar hal itu. Bagaimana Ben bisa tau? Laura merasa pria ini lama-lama seperti psikopat yang mengerikan dan tau segala hal. Aaron seperti punya seribu telinga yang tersebar dimana-mana, bahkan di tempat yang tak terduga.
Dia juga terkejut saat mendengar sebuah kenyataan pahit itu. Ben mengusir Maggie dari apartementnya? Tapi mengapa Maggie tidak kembali ke rumah mereka?
"Apa benar Ben mengusir ibu?" Tanya Laura memastikan.
Maggie mengangguk cepat.
"Kenapa ibu tidak kembali ke rumah kita?" Tanya Laura lagi.
Aaron tersenyum dengan satu sudut bibirnya. Dia sudah tau jawabannya. Tapi Aaron ingin mendengar penjelasan dari Maggie. Meskipun Maggie pasti akan mulai membuai lagi untuk menutupi kenyataan itu.
Sedangkan Maggie yang masih ada di luar mansion itu mulai gelagapan karena belum menyiapkan jawaban. Maggie langsung memutuskan untuk mengejar Laura ke Miami saat di usir oleh Ben dari apartemen yang selama ini di sediakan oleh Ben.
Maggie hanya berpikir dia tak mau hidup gelandang di tengah-tengah hiruk-pikuknya Kota New York. Saat menyadari uang di akun banknya menipis dan tak akan cukup untuk hidup di New York, Maggie segera mencari keberadaan Laura di Miami, dengan di bantu seorang hacker.
Hingga tibalah dia sekarang di depan gerbang utama mansion Aaron yang berdiri kokoh dan tak gentar dengan air mata palsunya.
Maggie terkejut bukan main saat tau Laura di bawa ke mansion semewah dan semegah ini oleh Aaron. Dia berpikir tak masalah jika Laura bercerai dengan Ben lalu menikah dengan Aaron. Toh ternyata Aaron lebih kaya daripada Ben. Maggie ingin mengambil keuntungan dari pernikahan Laura lagi.
Meskipun awalnya dia berpikir perceraian Laura dan Ben akan membawa mala petaka baginya. Tapi saat melihat kekayaan Aaron yang bergelimang membuatnya kembali serakah.
"Hmm iya, itu karena.." Maggie berusaha menjawab meski tak punya jawaban yang pas.
"Karena apa?" Tanya Laura.
"Karena sudah dia jual." Aaron menyela pembicaraan mereka.
Laura kembali terkejut bukan main. Jantungnya seakan berhenti berdetak seketika. Matanya mulai mengabur karena air mata.
"Di jual?" Laura memastikan dia tak salah dengar kali ini.
"Bukan.. Itu hanya.. Hanya sementara, sudah jangan bahas itu dulu!" Ucap Maggie yang nampak panik. Dia tak menyangka Aaron akan mengetahui hal itu.
Karena sebenarnya Maggie sudah menjualnya beberapa hari lalu sebelum Ben menemukan keberadaan Laura dan Dante di Kota Miami. Maggie menjualnya karena kehabisan uang saat kalah berjudi.
Saat itu dia belum tau jika Laura kabur dari Ben. Sehingga dia tak berpikir dua kali saat akan menjual rumah satu satunya itu. Rumah yang penuh kenangan. Rumah peninggalan mendiang ayah Laura.
"Apa benar di jual?" Suara Laura mulai lirih. "Kenapa?"
"Tidak, itu hanya salah paham, ibu tidak berniat menjualnya, hanya saja seseorang mengancam ibu dan ibu terpaksa menjualnya." Maggie kembali berbohong.
"Setelah kalah bermain judi tepatnya?" Tanya Aaron dengan senyuman miringnya.
Maggie dan Laura saling memandang dan membulatkan kedua matanya. Sama-sama terkejut. Maggie terkejut mengapa Aaron begitu tau banyak persoalan dirinya dan Laura. Sedangkan Laura juga terkejut mendengar kenyataan pahit itu.
Dia benar-benar tak menyangka ibunya akan bertindak sejauh ini. Menjual satu-satunya warisan dari mendiang ayahnya. Setelah menjual hampir seluruh harta warisan, ternyata Maggie masih kalap dan selalu merasa kurang. Rakus.
Sontak Laura melepaskan genggamannya. Melangkah mundur perlahan sambil menggeleng kecil. Dia masih tak percaya akan hal ini. Itulah sebabnya Maggie mengejar Laura ke Miami karena dia sudah tidak punya tempat tinggal di New York.
"Laura.. Beri ibu kesempatan, ibu akan membelinya lagi jika kau memberi ibu uang!" Ucap Maggie seakan tak sadar dengan apa yang dia katakan.
"Tidak perlu, kau bisa pergi dari sini sekarang!" Aaron mulai maju mendekati Maggie yang mencakar-cakar udara.
"Aku tidak bicara pada mu, bodoh!" Umpat Maggie.
"Kau mau uang kan?" Tanya Aaron.
Seketika Maggie terdiam. Mematung. Dia nampak berpikir sejenak. Karena sebenarnya dia datang kesini memang untuk meminta uang pada Laura.
Lalu Aaron memberi kode pada pengawalnya disana untuk mengambilnya sesuatu. Setelah seorang pengawal itu kembali, dia membawa sebuah koper dan memberikannya pada Aaron.
"Ini uang mu, sekarang pergilah! Jika aku melihat mu lagi, akan ku penggal kepala mu!" Ancam Aaron sambil melempar sebuah koper hitam itu ke luar dari gerbang.
Saat koper hitam itu menyentuh tanah. Terbukalah kopernya, memperlihatkan segebok uang di dalamnya. Membuat mata Maggie membulat sempurna. Dia segera memunguti beberapa lembar uang yang berserakan di tanah. Memasukkannya kembali ke dalam koper dan segera menutupnya rapat.
"Baiklah." Ucap Maggie seakan tak punya beban apapun.
Detik berikutnya dia sudah melenggang pergi dan menghentikan sebuah taksi yang tak sengaja lewat di depan sana. Meninggalkan Laura tanpa sepatah katapun seperti tidak saling mengenal. Padahal detik sebelumnya dia sedang merayu Laura agar menerimanya kembali.
Laura hanya memandang kepergian Maggie tanpa sanggup berkomentar apapun. Ini sangat singkat namun sangat menusuk. Jadi, Maggie masih sama saja seperti dulu? Gila uang? Hidup foya-foya dan tak tau diri.
"Jadi.. Dia baru saja menjual ku?" Tanya Laura pada Aaron yang sudah memandangnya lekat-lekat.
Aaron tak menjawabnya. Dia hanya meraih tangan Laura dan membawanya kembali masuk ke dalam mansion. Sedangkan yang di tarik hanya menurut saja.
"Aku sudah membeli kembali rumah mu, jadi kau tidak perlu sedih!" Ucap Aaron sambil terus melangkah masuk.
"Bagaimana bisa kau melakukan ini semua? Kau seakan tau semua hal, Aaron!"
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." Jawab Aaron tegas.
Bersambung...
.