Enough berkisah tentang kisah asmara seorang wanita bernama Dia Tarisma Jingga dengan seorang lelaki yang belum lama dikenalnya, Btara Langit Xabiru
Keduanya saling mencintai dan kemudian memutuskan membangun kehidupan keluarga kecil yang harmonis dan bahagia.
Namun sayangnya semua itu hanya menjadi angan saja, hal ini terjadi lantaran trauma masa lalu dan sikap Tara yang abusive, yang pada akhirnya menjadi prahara dalam rumah tangga mereka.
Akankah Tari dan Tara mampu mempertahankan rumah tangga mereka? Kisah selengkapanya hanya ada di novel Enough.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Tari tersentak ketika ia menabrak Tara yang berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Dengan cepat Tari melirik ke balik bahunya, melihat Ranu keluar dari kamar mandi bersamanya.
Tara nampak bingung saat tatapanya berpindah dari Tari lalu ke Ranu. "Apa-apaan ini, Tari?"
"Tara," suara Tari terdengar gemetar.
Ranu melangkah mengitari Tari, lalu berbelok menuju pintu dapur, seolah ia tak melihat keberadaan Tara sama sekali. Mata Tara terus tertuju pada punggung Ranu.
Tepat saat Ranu sampai di pintu dapur, langkahnya terhenti. Dalam hitungan detik, Ranu berbalik dan bergegas menghampiri Tara, ia menyambar kerah kemeja Tara.
Sekelebat kemudian, Tara membalas dengan mendorong Ranu hingga punggungnya membentur dinding. Ranu mendesak Tara, kali ini ia memiting leher Tara dengan bagian depan lengan lalu menjepitnya di dinding.
"Kalau kau berani menyentuh periku lagi, akan ku potong tangan sialanmu itu, dasar manusia sampah!"
"Ranu tolong hentikan!" teriak Tari.
Ranu melepas Tara dengan kasar, ia melangkah mundur. Tara terengah-engah menatap Ranu dengan tatapan tajam, kemudian perhatiannya berpindah ke arah Tari. "Ranu?"
Tunggu.
Malam pertama Tari berkenalan dengan Tara di rooftop apartemen orang tuanya, salah satu kejujuran yang Tari ucapkan terdapat nama Ranu.
Tara terbahak-bahak dan menujuk ke arah Ranu, namun ia masih terus menatap Tari. "Jadi ini Ranu? preman pasar senen yang pernah kamu tiduri karena kasihan?"
Ranu langsung bergegas kembali menghampiri Tara, dan lorong itu berubah jadi ajang baku hantam bercampur jeritan Tari untuk menghentikan perkelahian Tara dan Ranu.
Dua pelayan menerobos melewati Tari, mereka memisahkan mereka berdua. Mereka sama-sama ditahan di dinding yang bersebrangan, melotot satu sama lain, dan nafas mereka terengah-engah. Tari tak sanggup memandang mereka berdua.
"Pergi!" teriak Ranu, menunjuk ke arah pintu. "Pergi dari restoranku, pria sialan!"
Tara menghempaskan tangan pelayan, keudian ia berjalan menuju ruang makan sembari menatap Tari dengan tatapan penuh kecewa dan kesedihan.
Sekilas Tari memandang Ranu, kemudian ia berlari mengejar Tara.
Tara menyambar jaketnya dari bangku dan melangkah menuju pintu keluar tanpa memandang Caira ataupun Gala. Caira mendongak melihat Tari "Ada apa?" tanyanya bingung.
"Ceritanya panjang. Kita bicarakan besok di cafe." Tari mengikuti Tara keluar, ia berjalan menuju tempat parkir. Saat mereka tiba di mobil, Tara langsung menuju pintu pengemudi dan ia menujuk sisi bangku penumpang. "Masuklah, Tari!"
Sepanjang jalan menuju apartement, tak ada kata yang keluar dari mulut Tara. Tari sempat ingin memulai percakapan namun Tara menggeleng, ia masih belum mau mendengar penjelasan Tari.
Hingga mereka tiba di basement apartement, Tari memberanikan diri untuk memulai pembicaraannya. "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan Tara." ia melihat ada banyak kesedihan di mata Tara.
"Aku tidak mau menjalin hubungan! Aku tidak ingin stres seperti ini dalam hidupku!" ucap Tara.
Ucapan Tara tersebut membuat Tari tersinggung. "Yah, kalau begitu pergilah!" Tari melepas sabuk pengamannya dan bersiap untuk keluar dari mobil Tara.
"Apa?" tanyanya sambil menahan Tari turun dari mobilnya.
"Aku tidak mau menjadi bebanmu, Tara! Maaf jika kehadiranku dalam hidupmu ternyata sangat merepotkanmu!"
Tara masih memegangi lengan Tari. "Buka itu maksudku, Tari," ucapnya. "Kejujuran, hanya itu yang aku inginkan sekarang darimu."
Tari mengangguk.
"Kamu tahu dia bekerja di sana?"
Tari mengatupkan bibirnya dan melipat tangannya di dadanya. "Ya, untuk itulah aku tidak ingin makan di sana lagi, aku tidak ingin berpapasan dan bertemu dengannya."
Tara mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa kau memberitahu dia tentang kejadian semalam? Apa kau cerita padanya tentang pertengkaran kita?"
Tari menggeleng. "Tidak. Dia hanya menduga karena melihat ada luka di mataku dan tanganmu, kemudian ia menyimpulkan sendiri."
Tara menghebuskan nafas berat dan bersandar di tempat duduknya. "Lalu mengapa kau berduaan di kamar mandi? Dan mengapa ia menyebutmu peri?"
"Ranu mengikutiku ke dalam, dan itu nama panggilan yang dulu ia berikan saat kami masih berhubungan. Percayalah Tara, aku sama sekali tidak tahu kabarnya,aku juga tidak tahu jika ternyata adiknya penilik restoran itu, aku pikir dia hanya bekerja di sana. Dia bukan bagian dari hidupku lagi. Dia hanya..." Tari memelankan suaranya. "Kami di besarkan dari keluarga yang penuh kekerasan. Dia melihat wajahku dan tanganmu dan... Dia hanya mengkhawatirkanku. Tidak lebih dari itu."
Tara mencerna setiap kata yang di sampaikan oleh Tari. "Okay, sekarang giliranku." Ia menangkup wajah Tari dan menatapnya dalam-dalam. "kalau kau tidak ingin bersamaku... Tolong katakan padaku sekarang. Karena saat melihatmu bersama dia, itu sangat menyakitkan. Aku tidak ingin merasakan itu lagi, aku tidak bisa membayangkan sekarang saja sakitnya sudah seperti ini apa lagi nanti saat hubungan kita sudah semakin jauh."
Air mata Tari perlahan menetes di wajahnya, ia menaruh tangannya di atas tangan Tara, kemudian ia menggeleng. "Aku tidak menginginkan orang lain, Tara. Aku hanya menginginkanmu."
Tara berusaha untuk tersenyum meski hatinya masih terasa perih, ia menarik tubuh Tari dan mendekapnya dengan erat. "Aku mencintaimu, Tari. Aku benar-benar mencintaimu."
Tari membalas pelukan Tara sambil mencium bahunya. "Aku juga mencintaimu."
👏👏👏👍
banyak pesan moral yg didapat dari cerita ini.. asli keren kak.. bisa buat baper akut n nangis Bombay.. untuk kak Irma sukses terus sehat dan selalu di tunggu karya selanjutnya..
banyak pesan dan ilmu yang terkandung
Semangat Kak author,
Terima kasih untuk cerita yg luar biasa ini,
💪👍