Stella Medison seorang putri angkat dari keluarga konglomerat. Dimalam pernikahan kakaknya, Stella dijebak hingga tidur bersama Xander Oliver, calon suami kakak angkatnya sendiri.
Stella dibuang keluarganya dan dipaksa menikah dengan Xander untuk balas dendam.
"Bencilah aku sekuat dan sepuas yang kamu mau, aku akan menerima setiap luka yang kau berikan" ~ Stella Medison.
"Aku tidak akan berhenti membencimu sebelum air matamu habis" ~ Xander Oliver.
Akahkah Stella kuat menghadapai segala siksaan batin dam fisik dalam rumah tangganya? Sedangkan dia juga mempunyai penyakit yang mematikan?
Simak ceritanya hanya di novel ini ya...
JANGAN LUPA TEKAN TOMBOL LIKE, KOMEN, FAV DAN VOTENYA KARENA ITU SANGAT BERHARGA BAGI AUTHOR.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghukumnya.
"STELLA!!" teriakan Xander menggelegar mengejutkan kedua orang itu. Amarahnya sudah di ubun-ubun dan siap meledak, ditambah saat ia melihat bagaimana Stella bisa tersenyum kepada pria lain. Ia langsung melangkahkan kakinya panjang-panjang untuk menghampiri kedua manusia itu.
Stella membesarkan matanya melihat sosok Xander, tubuhnya terasa bergetar saat melihat tatapan seolah bisa menembus jantungnya. Sedangkan Daniel menatap Xander dengan sorot mata tak kalah emosinya. Pria brengsek didepannya inilah yang membuat Stella menderita.
"Xander … " Stella memandang suaminya takut.
"Beraninya kau keluar dari rumah, siapa yang mengizinkan mu pergi? Sekarang ayo pulang!" kata Xander menarik tangan Stella dengan kasar.
Daniel pun menarik tangan Stella yang satunya, ia sangat suka melihat sikap kasar Xander.
"Lepaskan tanganmu!" bentak Xander menatap Daniel sengit.
"Tidak akan, kau yang harus melepaskan Stella." Ucap Daniel menatap Xander tak kalah sengitnya.
Xander mengertakkan giginya yang gemeletuk, tanpa ada angin ataupun hujan, ia langsung melayangkan bogem mentah ke pipi Daniel hingga pria itu terhuyung seketika karena tak siap.
"Kak Niel!" Stella berteriak kaget, ia ingin melihat kondisi Daniel tapi tangannya kembali ditarik oleh Xander.
"Kau akan tahu akibatnya jika melawanku!" ucap Xander, aura dingin dan mengancam itu sangat kental di wajahnya.
"Lepas, aku tidak mau ikut denganmu," ucap Stella berontak dari cekalan tangan Xander.
Daniel mengusap sudut bibirnya yang robek, pukulan Xander memang tak main-main, sangat keras hingga kepalanya terasa pusing.
"Kalau kau berani membawanya pergi, aku pastikan kau akan menyesal Xander!" Ucap Daniel tak ingin semudah itu menyerah untuk Stella.
"Kurang ajar! Kau pikir siapa dirimu berani mengancam ku!" bentak Xander melepaskan tangan Stella lalu menghampiri Daniel, rasanya tangannya sudah gatal ingin sekali menghabisi pria tak berguna di depannya ini.
Kali ini Daniel langsung sigap melawan, adu pukul pun tak terelakkan. Baik Xander dan Daniel ternyata sama-sama kuat, meski beberapa kali Xander terkena pukulan di bagian tubuhnya, ia masih bisa melawan Daniel hingga pria itu terkapar.
"Kak Niel!" teriak Stella syok demi melihat tubuh Daniel ter kapar di jalanan dengan beberapa luka di wajahnya.
Xander meludah ke arah Daniel, ia kemudian berjongkok dan menarik dagu Daniel. "Dengarkan aku baik-baik, aku tidak punya masalah apapun denganmu. Tapi jika sekali lagi kau berani mendekati Stella, kau pasti akan habis!" ucap Xander mengulas senyum smirk-nya.
"Apa yang kau lakukan? Kau melukainya!" teriak Stella histeris, ia menghampiri Daniel, tak tega melihat Daniel yang terluka.
Xander melirik Stella dengan kesal, ia langsung menahan tangan Stella sebelum wanita itu berhasil menyentuh Daniel.
"Jangan coba-coba mendekatinya atau aku akan membuatnya lebih parah dari ini!" kata Xander tak menunggu waktu lama lagi, ia menarik tangan Stella dan membawa wanita itu pergi.
Stella hanya bisa menatap Daniel dengan tatapan sendu, matanya bahkan sudah basah karena air matanya. Tapi jika dia semakin melawan Xander, pria itu pasti tak segan melukai Daniel lagi.
"Stella …" Daniel ingin mencegah Xander membawa Stella, namun tubuhnya yang sangat lemah membuat ia tak berdaya.
*****
Xander terus menarik tangan Stella dengan kasar menuju unit Apartemennya, ia tak perduli wanita itu kesakitan atau tidak. Yang dipikirannya saat ini hanya ingin menghukum Stella karena sudah membuat ia sangat kesal.
"Xander, sakit …" ucap Stella menahan nyeri di pergelangan tangannya akibat cengkraman Xander.
Xander tak menggubris, ia segera mendorong wanita itu ke ranjang saat mereka sudah sampai di kamar.
"Xander, maafkan aku jika aku mempunyai salah padamu, tolong jangan lakukan apapun padaku …" ucap Stella mengatupkan kedua tangannya, memohon agar Xander tak berbuat nekat. Ia hanya tak ingin Xander akan melukai anak mereka nantinya.
"Sekarang kau baru meminta maaf? Kau pikir kesalahanmu itu bisa dimaafkan? Ha!" Xander membentak sangat keras hingga membuat tubuh Stella terjingkat kaget.
"Maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi, aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Joana, aku …"
"Diam!" sekali lagi Xander membentak Stella dengan suaranya yang menggema di kamar itu.
Stella semakin menangis ketakutan, ia berusaha menjauh dari Xander untuk menyelamatkan dirinya.
Xander menyeringai sinis, ia dengan cepat menarik tangan Stella dan menindihnya dengan kedua tangan ditekuk di atas kepala.
"Wanita sepertimu tidak pantas mendapatkan maaf dariku! Kau harus aku hukum agar kau tahu kalau aku tidak pernah main-main dengan ucapanku Stella," kata Xander menarik dasi yang dipakainya lalu mengingat tangan Stella di ranjang.
"Xander! Aku tidak mau, aku mohon jangan lakukan itu …" Stella berteriak histeris dan mencoba berontak sekuat tenaga.
Tapi tentu saja tenaganya tak cukup kuat untuk melawan Xander yang memiliki tubuh tegap. Kini kedua tangan Stella sudah terikat di ranjang dan Xander tersenyum puas.
Xander tersenyum licik, ia mengusap-usap dagunya seraya menatap tubuh Stella yang tergolek indah di depannya. Karena terus saja bergerak, mini dress yang dipakai Stella jadi tersingkap hingga memperlihatkan paha mulusnya yang putih bersih.
Xander menelan ludahnya kasar, seketika saja libido nya langsung naik begitu melihat pemandangan itu. Rasanya sudah lama sekali ia tak menyentuh Stella. Ia lalu membuka kemejanya hingga bertelanjang dada, perlahan ia mendekati Stella seperti serigala yang memindai mangsa.
"Xander … tolong ampuni aku …" lirih Stella tak bisa lagi menggambarkan rasa takutnya dirinya saat ini.
"Mengampuni Mu? Aku bahkan belum melakukan apapun padamu," ucap Xander mengelus lembut pipi Stella yang basah karena air matanya.
"Sekarang katakan padaku, dimana saja pria itu sudah menyentuhmu? Apakah disini?" Xander tiba-tiba menggigit leher Stella dengan keras hingga meninggalkan bekas merah kehitaman.
"Argh! Sakit!"
"Katakan dimana? Apakah disini?" kali ini Xander merobek baju Stella lalu mencium dadanya sama seperti sebelumnya.
Meski Stella berteriak kesakitan nyatanya tak membuat Xander mau berhenti melakukan kegilaan nya. Ia menciumi hampir seluruh tubuh Stella dengan kasar hingga menimbulkan bekas-bekas kemerahan, bahkan ada juga yang berdarah.
"Xander, aku minta maaf, aku …" Stella menggenggam kedua tangannya dengan keras saat Xander menyentuh dirinya dengan begitu kasarnya.
"Katakan padaku kalau kau tidak akan menemui pria itu lagi," kata Xander menghentakkan tubuhnya dengan keras, bukan hentakan berirama seperti biasanya, namun sesekali agar membuat Stella frustasi.
"Aku berjanji padamu," ucap Stella menggigit bibirnya bawahnya, tubuhnya bergetar hebat demi merasakan apa yang dilakukan Xander.
Xander tersenyum puas, ia menundukkan wajahnya lalu me lu mat bibir istrinya dan panas. Tak semudah itu ia akan melepaskan Stella, ia kembali menyetubuhi Stella dengan liar dan panas sampai wanita itu pingsan karena kehabisan tenaga.
Happy Reading.
Tbc.