Devina Stefani Germanotta, wanita yang tengah hamil tua berusia 25 tahun berjalan masuk ke dalam rumah setelah memeriksa kandungannya ke rumah sakit Sejahtera Harapan Bunda.
Wanita itu menyeret dirinya ke rumah sakit, karena suaminya tidak punya waktu untuk mengantar dirinya dengan alasan sibuk mengurus perusahan yang sedang berkembang pesat.
Devina berjalan menuju kamar, karena tubuhnya terasa pegal sekali. Dan ia ingin segera mandi, agar tubuh pegalnya bisa kembali segar.
Baru separuh pintu di buka, Devina malah mendengar suara des*h*n seorang wanita tepat di dalam kamarnya. Ketika ia menghidupkan lampu kamarnya, sontak saja matanya menangkap dua orang berlawanan jenis, sedang bergumul di atas tempat tidur yang biasa ia gunakan untuk berhubungan dengan suaminya.
Namun, kini suaminya menggunakan tempat tidur itu untuk bergumul dengan wanita yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri, yaitu Vindy Bernadette Claudia.
Tapi... untuk mengetahui lebih lanjut, ikutin terus dong alur cer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 35
Sinopsis–35.
Oke... Guys, Markijut Balakabe alias (Mari Kita Lanjut Baca Lagi Kalau Begitu).
.
.
.
Di ruang tamu, kini mereka semua sudah berkumpul di sana. Verlyn membuka satu persatu perlengkapan-perlengkapan itu, lalu secara perlahan membagi-bagikannya kepada anak-anak panti. Kemudian mulai menyantap makanannya, setelah wanita itu menyerahkan nasi pecel ayam 34 box itu kepada mereka.
Verlyn membuka satu nasi pecel ayam itu, dan secara perlahan mulai menyuapkan nasi itu ke anak laki-laki berusia 5 tahun yang duduk di hadapannya menggunakan tangan, sambil berbincang-bincang dengan Bu Khadijah dan Bu Sukma dan juga Tiara.
Alexa dan Elvina yang menyaksikan hal itu merasa iba, lantaran baru kali ini mereka melihat temannya bisa seakrab itu dengan anak kecil.
"No—"
"Panggil... Alexa aja El, biar lebih santai ngomongnya" ujar Alexa sambil tersenyum ramah kepada wanita yang duduk di sampingnya.
"Ta—"
"Udah... kamu tadi mau ngomong, apa?!" lanjut Alexa lagi-lagi menyela ucapan temannya.
"Dek... silahkan di minum, tehnya? Maaf... kalau ibu cuma bisa hidangkan teh hangat saja, untuk teman cemilan kalian?!" ujar Bu Sukma mempersilahkan, sambil tersenyum ramah.
"Iya... Bu, terima kasih?" ujar Elvina sopan sambil menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Gak... apa-apa Bu, teh hangat juga udah lebih dari cukup. Makasih udah repot-repot?" ucap Alexa menimpali ucapan temannya.
"Ini... sih membengkokkan banget, Xa? Nona... Verlyn, yang biasanya terkenal dingin dan arogan? Kok... bisa ya, seakrab itu sama anak kecil?!" bisik Elvina akhirnya bisa sedikit lebih santai berbicara dengan Alexa.
"Oh... jadi itu yang ingin kamu tanyakan tadi sama aku, Elvina?!" ujar Alexa melirik ke arah temannya.
"Hehehe... maaf, kalau kurang sopan?!" ujar Elvina cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Percaya... kan dengan namanya reinkarnasi, atau sebelumnya kamu gak pernah mendengarnya? Terdengar... mustahil, tapi itu benar ada dan sangat nyata Elvina?!" pungkas Alexa berbisik pada temannya dengan ekspresi wajah serius.
"Aku... percaya, dan nona Verlyn juga udah cerita semuanya kok sama aku?!" lanjut Elvina memberitahu sambil berbisik agar perbincangannya tidak terdengar oleh orang sekitarnya.
"Serius? Jadi... Verlyn, udah cerita semuanya sama kamu?!" tanya Alexa sedikit terkejut sambil mengunyah kue kering hidangan Bu Sukma, agar tidak ada orang yang curiga dengan apa yang di bicarakan mereka.
Elvina lalu mengangguk mengiyakan ucapan temannya.
"Terus... kalau udah tahu ngapain kamu nanya, lagi? Ingatan... wanita ini, masih suka ke bawa di alam bawah sadar Verlyn? Itulah... sebabnya, mengapa Verlyn begitu akrab sama mereka setelah bertemu kembali?!" jelas Alexa panjang lebar, dan Elvina hanya mengangguk sesekali menanggapi ucapan temannya.
"Jadi... perkiraan aku tidak salah dong, tentang wanita ini? Devina... memang, pernah tinggal di sini? Saat... Nona Verlyn menginjakkan kaki di sini, ingatan Devina seakan-akan hidup kembali. Benarkan?!" ujar Elvina menimpali, sambil berpikir keras menyimpulkan bahwa kenangan abadi Devina masih belum sepenuhnya menghilang dari jasadnya.
"Emang... sulit untuk di percaya, tapi begitulah kira-kira?!" sarkas Alexa sambil mengindikkan kedua bahunya.
.
.
.
Okey... Guys, terlepas dari obrolan Alexa dan Elvina. Yuk kita balik lagi ke pembahasan tentang model cantik dan seksi kita. Hehehe🤗🤗🤗.
.
.
.
"Sayang...?" panggil Bu Khadijah kepada wanita itu sambil mengedarkan pandangan untuk mencari orang yang keberadaannya tidak ada di ruangan itu.
"Hmmm... apa, Bu?!" lantas wanita itu pun mendongakkan kepala sambil tetap asyik menyuapi anak laki-laki tersebut.
"Sejak... tadi ibu perhatikan, kok cuma kalian bertiga yang ada di sini? Suami... kamu Jonathan dan keluarganya, kok tidak ikut datang kemari bersama kalian?!" ujar wanita paruh baya itu bertanya dengan pandangan mata masih memperhatikan sekitar mencari keberadaan suami anak asuhnya.
Dan sejenak Verlyn terdiam, mendengar pertanyaan wanita paruh baya itu. Verlyn tidak ingin langsung menjawab, lantaran takut kalau dirinya akan salah dalam mengucapkan kata-katanya tersebut.
"Aku... udah cerai Bu sama, Jonathan?!" dengan suara lembut wanita itu membuka mulut, menanggapi pertanyaan ibu Khadijah.
"Hah? Kok... cerai sih sayang, memangnya apa yang sudah terjadi?!" kaget Bu Khadijah merasa bersedih.
Bu Sukma dan Tiara masih setia penyimak, tanpa berniat ingin ikut campur dengan perbincangan mereka sedikitpun. Namun ekspresi wajah gadis itu terlihat sangat kesal setelah Verlyn melontarkan kata-kata itu dari mulutnya.
"Panjang... ceritanya Bu, dan aku tidak ingin membahas itu lagi?!" lanjut Verlyn merasa bingung. Karna wanita itu tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ingin sedih tapi ia tidak sedih. Ingin bahagia tapi ia merasa tidak enak dengan jasad wanita ini. Verlyn benar-benar bingung dan jadi serba salah.
"Nah... kan, Bu? Dari... dulu juga Tiara gak pernah setuju, kalau kak Devina menikah dengan Jonathan? Alih-alih... bikin kak Devina bahagia, ini malah bikin tambah menderita? Dan... ibu, malah nerima pinangan Tuan Bagas begitu saja?!" timpal Tiara menyahut dengan ekspresi wajah kesalnya.
"Tiara... jaga sikap kamu, nak?" tegur Bu Sukma kepada gadis itu.
"Tapi... aku benar, Bu?!" protes Tiara tidak terima jika kakaknya di perlakukan demikian.
"Walaupun... benar, tapi kamu tetap tidak boleh ngomong seperti itu Tiara?!" lanjut Bu Sukma masih menegur gadis itu.
Membuat Tiara semakin kesal, dan langsung membuang muka ke sembarangan arah sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Sayang... ibu ikut perihatin dengarnya, kamu yang sabar ya nak?!" ujar Bu Sukma sedih sambil menyemangati wanita itu.
"Iya... aku udah sabar banget kok, Bu?!" pungkas Verlyn menimpali ucapan Bu Sukma dengan ekspresi serba salahnya.
"Terus... nak setelah kamu bercerai, kamu tinggal di mana sekarang? Kalau... memang sudah tidak ada tujuan di sana, kenapa kamu gak pindah dan tinggal di sini lagi bersama ibu?!" ucap Bu Khadijah sedih, lalu mengajak wanita itu untuk tinggal bersamanya di panti.
"Gak... bisa, Bu? Meskipun... aku sudah bercerai dengan Jonathan, tapi aku masih punya tanggung jawab di sana? Sejak... pisah, aku mulai merintis usaha ku sendiri hingga aku seperti ini sekarang?!" jelas Verlyn memberitahu.
"Wow... kak Devina hebat, Tiara jadi bangga sama kakak? Ketergantungan... terus, dengan laki-laki juga gak bagus? Kakak... memang the best, cocok banget jadi panutan aku?!" pungkas Tiara kembali menyahut dengan ekspresi penuh percaya diri.
"Hmmm... banyak ngomong ya kamu sekarang, kakak gelitikin biar tahu rasa?!" sarkas Verlyn merasa gemas dengan tingkah laku gadis itu. Ia bangkit dari duduknya dan berniat untuk menggelitik gadis itu.
"Eh... jangan kak, ampun kak?!" ucap gadis itu sambil tersenyum ceria.
"Tahu... rasa kamu ya, gemesin banget sih, kakak jadi gregetan banget tahu sama kamu Tiara?!" ujar Verlyn tetap dengan niat jahilnya itu, dan raut wajah wanita itu, tidak kalah cerianya dengan gadis itu.
Alexa dan yang lainnya pun, ikut terbawa suasana menyaksikan keseruan antara Verlyn dan juga Tiara. Terlebih-lebih dengan Alexa yang merasa sangat bersyukur, melihat kebahagiaan temannya. Bisa tertawa lepas, meski banyak masalah yang harus di hadapi temannya.
Sementara Elvina. Merasa bahagia, sekaligus bingung. Lantaran baru kali ini ia benar-benar bisa melihat atasannya, tersenyum ceria. Terlepas dari sikap dingin dan arogan, atasannya selama ini.
"Iiihh... kak jangan di gelitikin, geli tahu?!" ujar Tiara tidak ingin lagi menerima gelitikan dari wanita itu.
"Lagian...kamu ngomongnya, sok bijak banget sih, jadi kakak gregetan deh sama kamu?!" ujar Verlyn berhenti sambil duduk bersebelahan dengan gadis itu.
"Iya deh iya deh, Tiara gak bakal ngomong seperti itu lagi?!" ucap gadis itu sambil memonyongkan sedikit bibirnya, namun ekspresinya tetap saja sangat ceria.
"Terus... ngomong-ngomong, kuliah mu di kampus gimana Tiara?!" tanya Verlyn kepada gadis itu.
"Oke... lancar-lancar aja, dan aku ambil fakultas kedokteran?!" jawab Tiara memberitahu dengan begitu cerianya.
"Kenapa... harus, fakultas kedokteran?!" tanya Verlyn sambil menaikkan satu alisnya menatap wajah gadis itu.
"Unik? Dan... aku merasa tertantang, saat melihat petugas-petugas rumah sakit dengan jubah putih kebesaran mereka?!" jawab Tiara sambil tersenyum ceria.
"Di kampus... ada yang sering jahilin kamu, gak?!" tanya Verlyn sedetail mungkin, sambil tersenyum simpul.
"Siapa... yang berani, kalau ada yang dekat-dekat langsung Tiara sikat?!" ujar gadis itu dengan penuh percaya diri.
"Elleh... baju aja kali yang mau, di sikat?!" sarkas Verlyn menimpali ucapan gadis itu.
"Hehehehe," balas Tiara sambil cengengesan.
"Hmmm... ya udah, Bu? Aku... dan teman-teman aku, pamit dulu ya Bu kalau begitu?!" lanjut Verlyn perlahan berdiri, setelah melirik jam tangannya.
"Lah... kok buru-buru sih, sayang? Ibu... kan masih kangen, sama kamu?!" tanya Bu Khadijah ikut berdiri, dan begitupun dengan yang lainnya, juga ikut berdiri dari tempatnya.
"Iya... kak, kok buru-buru sih? Apa... kakak, gak mau nginep dulu di sini?!" sahut Tiara menimpali.
"Maaf... Bu, Tiara? Aku... gak bisa tinggal lama-lama, soalnya di sana aku masih banyak kerjaan? Lagian... ini udah mau sore, aku dan teman-teman gak mau sampai malam pulangnya? Lain... kali, aku berkunjung lagi kesini kalau ada waktu luang. Ya... Bu, ya Tiara?!" jelas Verlyn bicara panjang lebar sambil menggenggam kembali tangan kanan wanita paruh baya itu. Bersalaman dan menciumnya, sebelum akhirnya wanita itu pergi meninggalkan tempat.
"Ya udah... kamu hati-hati di jalan ya sayang, ibu pasti sangat merindukanmu nanti?!" ujar Bu Khadijah sambil memeluk erat tubuh wanita itu. Dan Verlyn dengan penuh kasih sayang, juga membalas pelukan wanita paruh baya itu.
Setelah itu.
"Hati-hati... di jalan, sayang? Ibu.. akan selalu mendoakan, agar keberuntungan selalu menyertaimu, dan Allah senantiasa menjagamu di mana pun kamu berada?!" ujar Bu Sukma kepada wanita itu.
"Terima... kasih, Bu?!" ujar Verlyn seraya melepaskan pelukan Bu Khadijah, lalu beralih menggenggam tangan kanan Bu Sukma. Dan melakukan hal serupa, seperti apa yang di lakukannya kepada Bu Khadijah. Mencium punggung tangan sambil memeluk wanita paruh baya itu juga. Dan Bu Sukma pun membalas pelukan wanita itu dengan sangat erat, sambil meneteskan airmata perpisahan.
"Tiara... ini, kakak ada sedikit uang, kamu pakai ya untuk kuliah? Belajar... yang giat, kakak doakan semoga suatu saat nanti kamu bisa sukses seperti kakak?!" ujar Verlyn yang kini beralih kepada gadis ceria itu sambil memberikan sejumlah uang.
"Tapi... kak—"
"Terima? Kakak tidak suka penolakan?!" ujar Verlyn sedikit tegas, karna Tiara berniat untuk menolak uang pemberiannya.
"Kok... maksa banget sih, kak?" tanya Tiara menangis terisak di dalam pelukan wanita itu, sambil terpaksa menerima uang pemberian wanita itu.
"Udah... jangan nangis, kakak gak suka loh sama gadis yang cengeng?!" ujar Verlyn juga memeluk erat gadis itu untuk menenangkan.
"Kak... Tiara pasti sangat merindukan kakak? Hiks... hiks... hiks?!" ujar Tiara masih menangis terisak di dalam pelukan wanita itu.
"Iya... sayang, kakak juga pasti sangat merindukanmu? Udah... kamu jangan nangis lagi, dan kakak pamit dulu kalau begitu" ujar Verlyn sambil melonggarkan pelukannya.
"Iya, kak?!" ujar Tiara sambil menghapus air matanya.
"Assalamualaikum.... Bu, jangan lupa ya kirim nomor rekeningnya? Nomor... aku, udah di simpan kan tadi?!" tanya Verlyn sambil sedikit berteriak dan secara perlahan melangkah pergi dari rumah itu.
"Wa'alaikum salam... udah sayang, iya nanti ibu kirim?!" timpal Bu Khadijah juga sedikit berteriak sambil menjawab salam wanita yang berjalan pergi dari hadapannya.
"Iiih... anak itu maksa banget ya, Bu?!" sahut Bu Sukma menghapus air matanya, sambil menatap kepergian wanita itu.
"Anak-anak... kakak pamit pergi dulu ya?!" ujar Verlyn kepada anak-anak panti.
"Iya... kak, makasih hadiahnya?!" ujar anak panti bernama Rayhan mewakili teman-temannya yang lain, sambil mengucapkan terima kasih kepada wanita yang berdiri di hadapannya.
"Iya... sama-sama, sayang? Ya udah... kakak pamit dulu ya, Assalamualaikum?!" pungkas Verlyn mengusap lembut puncak kepala anak-anak panti itu secara bergantian, lalu berpamitan kemudian melenggang pergi keluar meninggalkan kediaman ibu pengurus panti asuhan itu.
"Wa'alaikum salam?!" jawab anak-anak itu secara bersamaan, sambil tersenyum manis menatap kepergian wanita itu dari hadapan mereka.
Begitupun Alexa dan Elvina, juga melakukan hal serupa. Berpamitan sambil bersalaman dan mencium punggung tangan kedua wanita paruh baya itu. Lalu secara bergantian memeluk gadis itu, sebelum akhirnya mereka melenggang pergi mengikuti langkah temannya dari belakang.
Bersambung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Nah guys, untuk hari ini cukup sekian dulu cerita dari author. dan nantikan episode selanjutnya yang nantinya akan semakin seru dan menarik, oke👍👍
See you again thanks for watching 🙏🙏🙏