NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Menang Tanpa Merendahkan.

Bagas Suroto masih terduduk lemas di atas pasir pantai Parangtritis yang mulai terasa panas menyengat kulit. Sepasang matanya menatap kosong pada keris Kyai Setro yang tergeletak pasrah di pangkuannya. Napas pendekar muda itu memburu, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena guncangan batin yang luar biasa hebat. Seluruh keyakinan diri dan keangkuhannya sebagai murid utama Padepokan Karang Bolong runtuh berkeping-keping hanya dalam tiga gebrakan singkat di tangan seorang pemuda musafir yang bajunya bahkan berlubang di bagian pundak.

Di depannya, Erlang berdiri dengan santai. Pemuda itu sama sekali tidak memasang wajah jemawa atau melayangkan tatapan mengejek. Ia justru melangkah mendekat, lalu berlutut di atas pasir hangat tepat di hadapan Bagas, menyamakan tinggi tubuh mereka agar Bagas tidak merasa kian terintimidasi.

"Kangmas Bagas, nyuwun sewu... badannya ada yang terasa linu atau sakit tidak?" tanya Erlang, suaranya terdengar sangat jernih dan tulus, tanpa ada nada kepalsuan atau kepura-puraan sedikit pun.

Bagas tersentak kecil, mendongak menatap wajah Erlang yang polos. "K-kau... kenapa kau tidak menghajarku sampai pingsan seperti yang kau lakukan pada Ki Gede Sagara? Aku sudah menantangmu bertaruh nyawa, bahkan berniat menusuk lehermu dengan keris ini. Kenapa kau malah melepaskan totokanmu semudah ini?"

Erlang tersenyum renyah, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gaya cuek. "Waduh, Kangmas. Kenapa saya harus menghajar Kangmas sampai pingsan toh? Kita ini kan tidak sedang bermusuhan. Kangmas menantang saya karena rasa cinta dan tanggung jawab untuk melindungi Nimas Mirah, kan? Itu tanda kalau Kangmas Bagas adalah ksatria yang punya hati jantan. Paman Suro selalu bilang, orang yang berani memperjuangkan hatinya itu tidak boleh direndahkan, melainkan harus dihormati."

Mendengar penuturan Erlang, dada Bagas yang tadinya sesak penuh rasa iri dan dengki mendadak terasa seperti diguyur air es yang sejuk. Rasa malu yang amat sangat seketika menjalar di seluruh wajahnya. Ia teringat betapa kasarnya kata-kata makian yang ia lontarkan kepada Erlang tadi, sementara pemuda di hadapannya ini justru memperlakukannya dengan kemuliaan yang luar biasa tinggi.

Sekar Arum yang berdiri dekat pohon, di belakang Erlang tampak melipat kedua tangannya di depan dadanya. Sepasang alisnya yang indah bertaut rapat, namun binar matanya tidak bisa menyembunyikan rasa takjub yang kian mendalam pada tabiat luhur pemuda yang menjadi pelindungnya itu.

"Erlang," panggil Sekar dengan nada suaranya yang kaku dan seperti biasa, mencoba menutupi getaran batinnya sendiri. "Kalau urusan ramah tamahmu sudah selesai, cepat berdiri. Matahari sudah makin tinggi di atas kepala, jubahku ini bisa kusam kalau terlalu lama terkena uap air laut yang asin."

"Nggih, Nimas Sekar, sebentar," sahut Erlang tanpa menoleh, lalu kembali memfokuskan perhatiannya pada Bagas. Erlang mengulurkan tangan kanannya yang kokoh ke hadapan pendekar muda lokal itu. "Ayo, Kangmas Bagas. Berdiri dulu. Pasirnya makin siang makin panas, tidak enak diduduki lama-lama."

Bagas Suroto menatap uluran tangan Erlang dengan ragu sejenak. Namun, melihat ketulusan yang memancar dari sepasang mata jernih pemuda itu, perlahan-lahan Bagas menjabat tangan Erlang. Dengan satu tarikan ringan yang sangat bertenaga namun lembut, Erlang membantu Bagas bangkit berdiri kembali di atas kedua kakinya.

"Erlang... aku... aku benar-benar meminta maaf atas kelancanganku tadi," kata Bagas dengan suara yang serak, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Erlang. Rasa segan dan hormat yang luar biasa kini sepenuhnya menggantikan rasa iri di dalam hatinya. "Aku benar-benar buta karena rasa cemburu sampai tidak bisa melihat bahwa kau adalah seorang pendekar luhur yang memiliki ilmu setinggi langit. Caramu bergerak dan menepis kerisku tadi... itu adalah tingkat kesaktian yang bahkan guruku sendiri pun belum tentu bisa mencapainya."

Erlang terkekeh canggung, menggaruk rambut belakangnya dengan wajah merona merah karena malu dipuji begitu tinggi. "Ah, Kangmas Bagas ini beneran pandai memuji. Ilmu saya ini biasa saja kok, murni hasil latihan mengusir pegal-pegal karena keseringan disuruh memikul kayu jati gelondongan oleh mendiang paman saya. Keris Kangmas tadi itu justru yang hebat sekali tenaganya, anginnya sampai membuat baju saya yang robek ini makin melar."

Bagas tersenyum kecut, menggelengkan kepalanya melihat betapa Erlang tetap bersikap rendah hati dan tidak mau mengakui kehebatannya sendiri. "Kau tidak perlu merendah begitu, Erlang. Kejeniusanmu dan keluhuran budimu telah membuatku sadar betapa kerdilnya jalanku selama ini. Oh ya, tentang Mirah... kau benar. Hati perempuan tidak bisa dipaksa dengan kekerasan senjata. Aku akan mencoba mendekatinya lagi dengan cara yang lebih baik, seperti yang kau sarankan tadi."

"Nah, begitu dong, Kangmas! Itu baru namanya pendekar sejati dari pesisir selatan," puji Erlang tulus, matanya berbinar gembira melihat kesalahpahaman di antara mereka telah mencair sepenuhnya.

Sekar Arum melangkah mendekat dengan keanggunan seorang putri keraton asli, jubahnya melambai indah ditiup angin pantai sore. "Baguslah kalau kau sudah sadar, Pendekar Lokal. Pelindungku ini memang agak bodoh dan tidak peka dalam urusan asmara, tapi kalau masalah menghajar orang tanpa membuat tulangnya patah, dia memang ahlinya. Jadi, sekarang bisakah kau memberi tahu kami jalur darat terbaik menuju pusat kota tanpa perlu dihadang oleh pendekar patah hati lainnya?"

Bagas Suroto langsung membungkuk hormat kepada Sekar Arum, rasa segannya kini menular pada gadis berbaju biru yang tampak berwibawa tinggi itu. "Tentu, Nimas. Sebagai penebus rasa bersalahku karena telah menghambat perjalanan panjenengan berdua, saya sarankan jangan lewat jalur hutan jati barat. Jalur itu saat ini sedang dijaga ketat oleh sisa-sisa antek pasukan bayaran yang membakar rumah Mbah Wiro."

Erlang dan Sekar langsung menegang mendengar nama Mbah Wiro disebut kembali.

"Kangmas Bagas tahu tentang kejadian di rumah Mbah Wiro?" tanya Erlang cepat, wajah polosnya mendadak berubah menjadi sangat serius.

"Iya, Erlang," jawab Bagas penuh selidik. "Kejadiannya dua malam lalu. Pasukan bayaran berbaju hitam dengan lambang gagak itu bergerak sangat rapi. Namun, sepenglihatan mata kawan-kawan nelayan di perbatasan timur, Mbah Wiro sebenarnya tidak terkepung di dalam rumah. Beliau sengaja memancing mereka masuk ke jalur tebing kapur purba di arah timur laut, melewati celah Goa Langse."

Sekar Arum melirik Erlang dengan tatapan mata yang berkilat tajam. "Goa Langse... itu jalur tebing curam yang menghadap langsung ke samudra. Berarti Mbah Wiro memang sengaja berpindah tempat untuk mengulur waktu."

"Benar, Nimas," timpal Bagas Suroto, menunjuk ke arah jajaran perbukitan kapur yang tampak membiru di ufuk timur laut. "Kalau kalian mau mengejar petunjuk tentang beliau, lewatlah jalur setapak di balik bukit pasir timur ini. Jalurnya lebih sepi dan jarang dipantau oleh mata-mata pasukan bayaran. Saya jamin jalur itu aman dari gangguan kelompok bajak laut maupun pendekar lokal."

Erlang langsung menepuk kedua tangannya dengan gembira, memikul kembali bambu tua pengangkut buntalan kain lusuhnya ke atas pundak kanan dengan gerakan yang sangat mantap. "Wah, terima kasih banyak, Kangmas Bagas! Informasi dari Kangmas ini beneran berharga sekali buat saya. Jauh lebih berharga daripada dua koin tembaga di kantong saya ini."

Bagas tertawa renyah, rasa canggung di antara mereka kini benar-benar telah sirna sepenuhnya. "Sama-sama, Erlang. Itu tidak sebanding dengan pelajaran yang kau berikan padaku hari ini. Hati-hati di jalan, Sahabatku. Semoga Gusti Allah selalu melindungi pengembaraanmu yang mulia ini."

"Nggih, Kangmas Bagas. Kami pamit dulu. Sampai jumpa lagi, dan semoga sukses dengan Nimas Mirah ya!" canda Erlang sembari melambaikan tangannya dengan santai.

Sekar Arum memberikan anggukan kepala yang anggun sebagai tanda perpisahan, lalu berjalan beriringan bersama Erlang meninggalkan Bagas Suroto yang berdiri tegak di tepi pantai dengan tatapan mata penuh rasa hormat melepas kepergian mereka.

Kedua pemuda-pemudi itu melangkahkan kaki dengan mantap menapak gumuk pasir menuju arah timur laut, menutup babak ketegangan di pesisir Parangtritis dengan kedamaian batin yang utuh, siap menyongsong misteri pencarian Mbah Wiro yang kian menantang di balik celah tebing kapur purba yang membentang luas di depan sana.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!