Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak. Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja. Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop. Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja. Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut. Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Dinzy sampai di ruang meeting bersama Hendra. Beberapa orang menatap kedatangan Dinzy termasuk Alvin dan Luca.
Luca menyadari jika Dinzy baru saja menangis, tapi ia tidak tahu apa yang membuat Dinzy menangis.
"Cantik, anak baru ini Pak?" tanya Alvin kepada Adam.
Luca yang mendengar seketika melirik Alvin sekilas, lalu kembali menatap Dinzy.
"Are you okay sayang?" - Luca
Luca tetap menatap kearah Dinzy, hingga mendapat perhatian dari beberapa orang. Mereka berasumsi jika keduanya sedang bertengkar. Hingga Dinzy menyadari tatapan Luca, kemudian ia membuka ponselnya.
"Not really, but it's okay" - Dinzy
"Tell me" - Luca
Dinzy terlihat sedang mengetik panjang kali lebar di ponselnya, lalu segera mengirimkan kepada Luca sebelum meeting dimulai.
Meeting dimulai dengan presentasi di setiap departemen, hingga saat departemen Dinzy yang mempresentasikan, Alvin menatap Dinzy tanpa berkedip.
Tubuh Dinzy terlihat kecil, namun untuk bagian tubuh yang lain terlihat sangat menggoda.
Sementara Luca, fokus dengan presentasi yang sedang Dinzy bawakan. Tanpa menyadari apa yang sedang di lakukan oleh Alvin.
Setelah presentasi, semua orang meninggalkan ruang meting dan kembali ke ruangan masing-masing. Sementara Alvin mendekati Adam untuk menanyakan informasi tentang Dinzy.
Luca membaca pesan Dinzy yang belum sempat ia baca, kemudian ia menatap Alvin, Adam dan Manager yang sedang berbincang.
"Pak Luca terimakasih banyak" ucap Adam ketika Luca berjalan dan hampir melewatinya.
"Sama-sama Pak" jawab Luca singkat.
"Pak Luca, mungkin next time kita bisa bertemu lagi dan membangun bisnis bersama"
"Tentu Pak Alvin. Saya permisi dulu Pak"
"Silahkan Pak"
Luca pergi begitu saja, bukan ia tidak peduli dengan Alvin yang sejak tadi menatap kekasihnya. Namun ia tahu, kapan harus bertindak.
Apalagi Dinzy, dia bukan wnaita yang mudah di dekati. Jadi Luca percaya sepenuhnya dengan Dinzy.
Sementara Dinzy, sampai diruangannya kembali. Semua orang sedang pergi untuk istirahat, Dinzy membuka komputer di hadapannya lalu mengetik nama Alvin dan ia mulai mencari apa yang membuatnya curiga.
Dan benar saja, Alvin adalah kekasih Siska. Karena di internet tersebut, memperlihatkan Alvin bersama dengan istrinya. Wanita yang ia temui di apartemen Siska beberapa hari lalu.
Dinzy mengirimkan foto tersebut kepada Luca, kemudian ia kembali melanjutkan pencariannya tentang siapa Alvin dan istrinya.
"Kamu tidak melibatkan diri kedalam urusan Siska sayang. Aku bisa membantu Siska mendapat pekerjaan, tapi berhenti mencari tahu tentang Alvin dan istrinya. Kita tutup cerita ini" - Luca
"Iya sayang, terimakasih" - Dinzy
Luca benar-benar tidak ingin Dinzy berurusan dengan Alvin dan istrinya, bukan karena Luca tidak memiliki kekuasaan, hanya saja jika bisa dihindari kenapa tidak. Karena Luca bukan tipe pria yang suka mencari keributan.
Sementara Adam, dan Alvin mereka masih membahas tentang Dinzy. Namun Alvin mengatakan jika Adam berhasil membujuk Dinzy, Alvin akan menginvestasikan lebih banyak lagi bahkan melebihi investasi Luca.
Adam hanya mengangguk kemudian mereka meninggalkan ruang meeting. Alvin kembali ke kantornya, kemudian Adam dan Manager menuju ruangan Adam untuk melakukan diskusi.
"Bagaimana ini Pak" ucap Adam mulai resah
"Kalau menurut saya tidak perlu di lakukan Pak.Biarkan Dinzy tetap bersama Pak Luca. Mengingat yang terjadi diantara Siska dan Pak Alvin berakhir seperti ini. Lagi Pula perusahaan Pak Luca lebih stabil dibanding perusahaan Pak Alvin" jawab Manager
"Hmm saya mengerti"