Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Tak lama kemudian, makanan dihidangkan.
Niko dan Galang membawa semangkuk bubur hangat ke atas meja, sedangkan Arga datang sambil membawa pakaian baru yang masih terlipat rapi.
Namun saat Mira hendak mengambil pakaian itu, Arga justru menariknya kembali.
"Wah, itu kan baju yang Ibu buat untukku. Kenapa harus diberikan kepadanya?"
Tatapannya tertuju pada Seina dengan wajah cemberut, namun hal itu justru membuat Seina hampir tertawa.
'Jadi beginilah sifat Arga ketika masih kecil. Benar-benar jauh berbeda dengan sosok licik yang aku kenal dulu.'
Mira mengusap kepala putra bungsunya.
"Pinjamkan dulu untuk adikmu. Besok Ibu akan membeli kain baru dan membuatkan pakaian yang lebih bagus untukmu."
"Benarkah?"
"Ibu pernah ingkar janji?"
Arga akhirnya menghela napas pasrah lalu menyerahkan pakaian itu. Meski masih tampak enggan, ia tetap tidak berani membantah ibunya.
Dalam hati ia bergumam pelan.
'Dulu aku yang paling disayang Ibu. Jangan-jangan nanti pengemis kecil ini merebut perhatian Ibu dariku...'
Mira sama sekali tidak menyadari kecemburuan putra bungsunya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Sora.
Ia mengambil semangkuk bubur hangat, lalu memberikan satu-satunya roti putih yang ada di rumah kepada gadis kecil itu.
Melihat hal tersebut, Niko langsung berseru heran.
"Ibu, bukankah roti itu biasanya untuk Arga? Katanya tubuhnya masih lemah."
Mira berdeham pelan.
"Adikmu sudah datang. Arga kan kakak laki-laki, sesekali mengalah untuk adiknya tidak apa-apa."
Arga langsung mengerucutkan bibir.
Padahal tubuhnya baik-baik saja. Alasan itu selama ini hanya dipakai ibunya agar ia mendapat makanan yang lebih enak. Namun kali ini ia memilih diam.
Sementara itu, Seina tidak langsung menyentuh makanan di depannya.
"Ibu... boleh aku mencuci tangan dan wajah dulu?"
Mira tersenyum bangga.
"Tentu saja boleh."
'Anak sekecil ini masih memikirkan kebersihan.. Sungguh anak yang baik.'
Niko segera mengambilkan air hangat.
Dengan hati-hati, Seina mencuci kedua tangan dan wajahnya, bahkan Mira membantu mengusap sisa air menggunakan kain bersih.
Perlahan, lapisan debu yang menutupi wajah gadis kecil itu pun menghilang.
Seluruh anggota keluarga Pratama yang berada di ruangan langsung terdiam.
Tak seorang pun menyangka, di balik wajah yang kotor itu tersembunyi seorang gadis kecil yang begitu cantik.
Setelah debu yang menutupi wajah Seina hilang, seluruh ruangan mendadak sunyi.
Meskipun tubuh gadis kecil itu sangat kurus, wajahnya begitu mungil dan menawan. Pipi bulatnya masih menyisakan sedikit daging, membuat kedua matanya tampak besar dan berkilau. Bibirnya merah muda alami, sementara dua lesung pipit tipis di kedua pipinya membuat senyumnya terlihat begitu manis.
Bahkan Galang, yang selama ini dikenal sebagai anak paling tampan di keluarga Pratama, seolah kehilangan pesonanya ketika berdiri di samping gadis kecil itu.
Mira sampai menutup mulutnya karena terkejut.
"Ya Tuhan... Sora cantik sekali."
Hatinya semakin dipenuhi rasa sayang.
Sementara itu, Seina hanya tersenyum tipis.
Sejak kehidupan sebelumnya, ia memang tahu bahwa dirinya memiliki paras yang rupawan. Mungkin hanya itu satu-satunya "hadiah" yang diberikan orang tua kandungnya.
Mira pernah bekerja di rumah keluarga bangsawan ketika masih muda. Ia telah melihat banyak wanita terpandang dan putri keluarga kaya, tetapi belum pernah menemukan anak sekecil ini yang memiliki wajah seindah Seina.
Sesaat Mira menoleh kepada Yohan.
'Nanti malam aku harus bertanya dari mana sebenarnya anak ini berasal.'
Kalau benar tidak ada seorang pun yang menginginkannya, ia akan merawat Seina seumur hidupnya.
Namun melihat pakaian lusuh yang dikenakan gadis kecil itu, Mira kembali menggeleng pelan.
'Tidak mungkin... Kalau keluarganya benar-benar mampu, mereka tidak mungkin membiarkan anak sekecil ini hidup sengsara.'
Perasaan itu membuat tekadnya semakin bulat.
Sekalipun suatu hari orang tua kandung Seina datang, ia tidak akan rela melepaskan putrinya begitu saja.
cerita nya juga seru