"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Protokol Bandung
Aroma kopi hitam dan udara pegunungan yang menusuk tulang menyambut pagi di kawasan Pasteur, Bandung. Berbeda dengan Jakarta yang serba terburu-buru dan berselimut polusi, Kota Kembang hari ini menawarkan langit biru bersih dengan gumpalan awan putih yang berarak rendah. Namun, bagi Ayana Sheenaz, keindahan visual itu sama sekali tidak mengurangi kewaspadaan yang sudah tertanam di kepalanya sejak meninggalkan Pradipta Tower subuh tadi.
Sesuai jadwal akademik tahunannya, Ayana harus menghadiri Grand Symposium Neuropsikiatri Asia Tenggara yang diselenggarakan di salah satu hotel bintang lima di pusat kota Bandung.
"Dokter Ayana, semua berkas registrasi dan ID card pembicara tamu sudah saya selesaikan di meja depan," ujar Karina, yang mendadak muncul di samping Ayana sembari memegang sebuah folder kulit hitam.
Ayana menoleh, menatap sekretaris pribadi Arka itu dengan tatapan tak enak hati. "Karina, saya benar-benar merasa bersalah. Kamu itu sekretaris CEO dengan gaji fantastis, tapi sekarang malah harus merepotkan diri menjadi asisten pribadi saya di acara simposium kedokteran seperti ini."
Karina tertawa kecil, lesung pipitnya menyembul. "Jangan berkata seperti itu, Dokter. Ini adalah perintah langsung dari Pak Arka. Beliau bahkan menegaskan bahwa jika ada satu helai rambut Anda yang terluka selama di Bandung, saya tidak perlu repot-repot kembali ke Jakarta untuk menyerahkan surat pengunduran diri, karena beliau sendiri yang akan memecat saya secara tidak hormat."
Karina mendekatkan wajahnya, berbisik dengan nada jenaka namun sarat akan kebenaran, "Pak Bos kita itu... kalau sudah menyangkut keselamatan Anda, tingkat protektifnya berubah dari seorang CEO menjadi seorang diktator militer. Lihat saja ke arah luar lobi."
Ayana mengikuti arah pandang Karina menuju pelataran parkir hotel. Di sana, dua unit mobil SUV hitam antipeluru dengan kaca super gelap terparkir rapi. Empat orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam tanpa dasi tampak berjaga secara acak di sekitar area lobi, mata mereka yang tajam terus memindai setiap orang yang keluar masuk gedung.
"Mereka adalah tim pengawal elite dari divisi keamanan privat Pradipta Group," lanjut Karina. "Pak Arka benar-benar tidak mau mengambil risiko setelah mendeteksi adanya pengintaian di balkon dua hari lalu."
Ayana mengembuskan napas panjang, ada rasa hangat yang menggelitik dadanya mendengar detail perhatian dari Arka. Pria kapitalis itu mungkin tidak pandai merangkai kata-kata romantis yang manis, namun setiap tindakan nyata yang ia lakukan selalu berhasil membuat Ayana merasa menjadi wanita paling berharga di dunia.
"Baiklah, mari kita selesaikan simposium ini dengan cepat agar kita bisa segera kembali ke Jakarta," ujar Ayana, membetulkan posisi blazer abu-abu mudanya sebelum melangkah masuk ke dalam aula utama yang sudah dipenuhi oleh ratusan dokter dan profesor dari berbagai negara.
Sementara itu, ratusan kilometer dari Bandung, tepatnya di ruang kerja utama Pradipta Tower Jakarta, atmosfernya justru terasa sedingin es.
Arka berdiri di dekat jendela besar yang kini tertutup rapat oleh tirai otomatis setengah bagian. Di depannya, monitor besar menampilkan pergerakan saham yang sudah stabil, namun fokus pria itu sama sekali tidak berada di sana. Tangannya menggenggam ponsel pintarnya, menatap layar yang menampilkan titik GPS berwarna hijau yang bergerak statis di kawasan pusat kota Bandung—posisi Ayana.
"Bagaimana perkembangannya, Yudha?" suara berat Arka memecah keheningan ruangan, ditujukan kepada kepala tim siber privatnya yang sedang duduk di sofa dengan laptop operasional terbuka.
Pria bernama Yudha itu mendongak, wajahnya tampak serius. "Pak Arka, tim kami baru saja memotong sebuah jalur komunikasi radio enkripsi pendek yang memancar di sekitar jalur tol Cipularang arah Bandung sekitar satu jam yang lalu. Sinyal itu menggunakan kode frekuensi yang sama dengan perangkat yang mengintai Anda di balkon kemarin."
Rahang Arka seketika mengetat, sepasang mata elangnya berkilat berbahaya. "Siapa dalangnya? Apa mereka bergerak mengejar Ayana?"
"Kami berhasil melacak pemilik menara relai yang disewa secara ilegal untuk memancarkan sinyal tersebut, Pak. Semuanya mengarah pada sebuah perusahaan logistik fiktif yang baru didirikan tiga bulan lalu di daerah Jakarta Utara. Dan setelah kami tarik garis kepemilikan modalnya melalui beberapa lapisan nomine... nama Kendra Pradipta muncul di ujung dokumen," jelas Yudha dengan nada bicara yang tegas.
"Kendra..." desis Arka, menyebut nama sepupu jauhnya itu dengan nada suara yang begitu rendah hingga sanggup membuat suhu di dalam ruangan terasa merosot tajam. "Dia mengira saya tidak tahu tentang pergerakan senyapnya di bawah bayang-bayang Elena selama ini. Pria pengecut itu sengaja mengincar Ayana karena tahu dia tidak akan pernah bisa menang jika berhadapan langsung dengan saya di ruang rapat."
Arka melangkah lebar menuju meja kerjanya, menyambar kunci mobil sport hitamnya dan jas hitamnya. "Yudha, perintahkan tim keamanan fase dua di Bandung untuk merapatkan barisan. Jangan biarkan Ayana keluar dari area hotel tanpa pengawalan berlapis. Saya akan berangkat ke Bandung sekarang juga."
"Tapi Pak, siang ini Anda ada jadwal penandatanganan memorandum dengan perwakilan kementerian," Yudha mencoba mengingatkan.
"Batalkan atau tunda sampai besok pagi!" potong Arka dengan nada komando yang mutlak dan tidak bisa dibantah. "Urusan memorandum tidak akan ada artinya jika keselamatan dokter saya terancam. Bergerak sekarang!"
Pukul tiga sore, acara simposium di Bandung akhirnya memasuki sesi istirahat pertama. Ayana berjalan keluar dari aula utama menuju area balkon hotel yang menghadap langsung ke arah pemandangan perbukitan hijau di kejauhan. Udara sore yang sejuk sedikit meredakan rasa pening di kepalanya setelah berjam-jam mendengarkan presentasi kasus klinis yang rumit.
"Dokter Ayana, ini teh hangat untuk Anda," ujar Karina, menyerahkan sebuah cangkir kertas berisi teh melati.
"Terima kasih, Karina. Kamu benar-benar penyelamatku," sahut Ayana, menerima teh tersebut dengan senyuman tulus.
Namun, baru saja Ayana hendak menyesap tehnya, perhatiannya teralih oleh sebuah pergerakan yang tidak biasa di area taman bawah hotel. Dua orang pria berpakaian kasual jaket bomber hitam tampak berjalan tergesa-gesa, melewati barikade pengawal Pradipta Group dengan berpura-pura menjadi kru dekorasi taman. Salah satu dari mereka membawa sebuah tas olahraga berukuran besar yang tampak sangat berat.
DEG!
Insting medis dan kewaspadaan Ayana seketika berdenting keras. Sebagai seorang dokter yang terbiasa membaca gerak-gerik tubuh pasien, ia tahu persis bahwa gestur kedua pria itu sama sekali bukan gestur pekerja dekorasi; mereka bergerak dengan presisi taktis yang teramat terlatih.
"Karina," panggil Ayana dengan suara yang mendadak merendah dan tegang. "Coba lihat dua orang di dekat air mancur bawah itu. Apa mereka bagian dari tim pengawal kita?"
Karina menajamkan pandangannya ke bawah, dan dalam hitungan detik, wajah sekretaris itu langsung berubah pucat. "Bukan... mereka bukan tim kita. Dan lihat apa yang dia keluarkan dari dalam tas itu..."
Dari sudut pandang balkon lantai tiga, Ayana bisa melihat dengan jelas pria berjaket bomber itu mengeluarkan sebuah perangkat elektronik berbentuk silinder hitam dengan antena parabola kecil di ujungnya—sebuah alat perekam frekuensi audio jarak jauh tingkat militer, yang sengaja diarahkan ke posisi balkon mereka, dikombinasikan dengan sebuah perangkat pengacau sinyal portabel (jammer).
Seketika itu juga, ponsel di dalam saku blazer Ayana bergetar keras, menampilkan tulisan 'No Service' pada bar sinyalnya. Jalur komunikasi mereka telah resmi diputus secara sepihak.
"Sinyal ponselku mati, Dokter!" seru Karina dengan panik, mencoba menekan tombol darurat pada perangkat tabletnya namun gagal.
Sebelum kepanikan itu meluas, pintu kaca balkon di belakang mereka mendadak digeser terbuka dengan sentakan keras yang kasar. Ayana berbalik dengan cepat, mengira itu adalah bagian dari penyusup. Namun, sosok yang berdiri di ambang pintu justru membuat napasnya seketika tercekat di tenggorokan.
Arkananta Pradipta berdiri di sana.
Napas pria itu tampak sedikit memburu, kemeja hitamnya sedikit berantakan di bagian kerah, dan jas hitamnya tersampir di lengan kirinya. Sepasang mata elangnya memancarkan kilat amarah yang begitu masif saat menyapu pandangan ke arah sekitar balkon, sebelum akhirnya mengunci sosok Ayana dengan tatapan yang penuh dengan kelegaan yang teramat sangat.
"Arka..." bisik Ayana, tak percaya bahwa pria yang beberapa jam lalu berada di Jakarta kini sudah berdiri tegak di depannya.
Arka tidak membuang waktu untuk menjelaskan. Ia melangkah lebar, langsung mencengkeram lembut kedua bahu Ayana, menarik tubuh mungil wanita itu ke dalam pelukannya yang teramat kokoh dan protektif, seolah-olah sedang menyembunyikan sang dokter dari seluruh ancaman bahaya yang ada di dunia luar.
"Saya di sini, Ayana," bisik Arka di dekat telinga Ayana, suaranya berat, dalam, dan bergetar penuh dengan emosi posesif yang tak terbendung lagi. "Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu. Tidak di Jakarta, dan tidak akan pernah di kota ini."
Di dalam pelukan hangat dan aroma maskulin Arka yang familier, di tengah kepungan bahaya senyap dari faksi Kendra yang mengintai di bawah, Ayana merasakan detak jantungnya sendiri melambat dalam ritme yang teramat damai. Batas profesionalitas di antara mereka kini telah hancur sepenuhnya, digantikan oleh sebuah ikatan emosional baru yang siap membakar siapa saja yang berani mengusik ketenangan aliansi mereka. Babak pertempuran luar kota ini baru saja resmi dimulai dengan Arka yang bertindak sebagai pedang pelindung seutuhnya.
Bersambung.
good job Thor..up yg banyak LG ya Thor...👍👍🙂🙂👏👏
btw terima kasih thor upnya🤭
💪💪