NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Keesokan paginya, Aurel bangun lebih awal dari biasanya.

Di dapur rumah orang tuanya, ia sedang menggoreng telur sambil menyiapkan bekal untuk Raka.

Aroma nasi goreng memenuhi ruangan. Sesekali terdengar suara Raka yang sedang menyiapkan alat sekolahnya sambil menonton kartun di ruang tengah.

Suasana pagi terasa begitu damai. Aurel bahkan sempat berpikir, mungkin hari ini akan menjadi hari yang tenang.

Namun...Suara ketukan pintu memecah keheningan.

Ayah Aurel yang sedang menyapu ruang depan berjalan membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, wajah beliau langsung berubah datar.

"Mahesa." ucap Ayahnya Aurel.

Mahesa menundukkan kepala. "Selamat pagi, Pak."

"Ada apa pagi-pagi begini?"

Mahesa menghela napas pelan. "Saya... ingin bertemu Raka."

Ayah Aurel menatap menantunya beberapa saat. Lalu mempersilahkannya masuk tanpa banyak bicara.

Dari dapur, Aurel mendengar suara itu. Tangannya yang sedang mengaduk nasi goreng seketika berhenti. Ia memejamkan mata sesaat. Baru semalam ia berharap hidupnya kembali tenang. Pagi ini, Mahesa sudah datang lagi.

"Ayah datang!" teriak Raka begitu melihat sosok Mahesa.

Anak kecil itu langsung berlari memeluk ayahnya.

Mahesa membalas pelukan putranya erat. "Ayah kangen Raka."

"Aku juga kangen Ayah."

Melihat pemandangan itu, hati Aurel terasa sesak. Apa pun yang terjadi antara dirinya dan Mahesa, ia tidak ingin Raka kehilangan kasih sayang seorang ayah. Karena itu, ia memilih mengesampingkan perasaannya.

Aurel keluar dari dapur.

"Waktunya sarapan."

Tatapan Aurel dan Mahesa bertemu sesaat. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Hanya keheningan.

Aurel kemudian berkata singkat,

"Kalau memang mau menemani Raka..."

"...sekalian sarapan."

Mahesa sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Aurel masih mengizinkannya duduk satu meja.

"Terima kasih." Jawab Mahesa pelan.

Beberapa menit kemudian...Mereka bertiga duduk mengelilingi meja makan. Ditambah ayah dan ibu Aurel yang ikut sarapan.

Suasana terasa canggung. Hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring.

Raka yang sama sekali tidak memahami masalah orang dewasa justru menjadi satu-satunya yang banyak berbicara.

"Ayah."

"Iya, Nak?"

"Kenapa Ayah baru datang?"

Mahesa yang sedang menyendok nasi langsung terdiam.

Raka kembali bertanya polos.

"Dari kemarin Ayah ke mana?"

"Raka nungguin."

Aurel menghentikan aktivitas makannya. Ia menoleh pelan ke arah Mahesa. Tatapan mereka kembali bertemu.

Mahesa tahu, pertanyaan itu harus dijawab.

Namun...Ia tidak tahu harus berkata apa.

Apa ia harus mengatakan bahwa rumah tangga mereka sedang berada di ujung tanduk?

Bahwa ia telah mengkhianati ibu dari anaknya sendiri?

Tentu tidak mungkin.

Mahesa memaksakan senyum.

"Ayah..."

"...lagi banyak pekerjaan."

Raka langsung mengangguk. "Oh..."

"Makanya Ayah lama nggak datang?"

Mahesa mengangguk pelan. "Iya."

"Maaf ya."

Raka tersenyum polos.

"Nggak apa-apa."

"Asal sekarang Ayah sering datang."

Kalimat sederhana itu membuat tangan Mahesa berhenti bergerak. Dadanya kembali terasa sesak. Ia tahu...Bukan hanya Aurel yang mulai menjauh darinya. Sebentar lagi, jika perceraian benar-benar selesai, momen sederhana seperti sarapan bersama ini mungkin akan menjadi sesuatu yang sangat jarang ia rasakan.

Mahesa melirik Aurel. Wanita itu tetap makan dengan tenang. Tidak membenarkan jawaban Mahesa. Namun juga tidak membongkarnya di depan Raka.

Aurel memilih menjaga hati putranya. Karena menurutnya, Raka masih terlalu kecil untuk memikul kenyataan pahit tentang kesalahan ayahnya.

Di balik meja makan itu, hanya Raka yang menikmati sarapan dengan penuh keceriaan. Sementara empat orang dewasa lainnya menyimpan perasaan masing-masing. Ada penyesalan. Ada amarah. Ada kekecewaan. Dan ada kepedihan yang belum juga menemukan akhirnya.

Usai sarapan, Raka berlari kecil mengambil tas sekolahnya.

"Ma, hari ini Ayah yang antar Raka, ya?"

Raka menatap Aurel dengan mata berbinar.

Aurel terdiam sesaat. Ia sebenarnya sudah berencana mengantar Raka seperti biasanya. Namun melihat antusiasme putranya, ia tidak tega mengecewakan.

Aurel mengangguk pelan. "Iya."

"Hari ini Ayah yang antar."

"Yeay!" Raka langsung memeluk Mahesa.

Mahesa tersenyum, meski senyum itu terasa hambar. "Siap, kita berangkat."

Aurel kemudian mengambil tas kerjanya. "Aku berangkat dulu."

Ibunya menghampiri. "Hati-hati di jalan."

"Iya, Bu."

Sebelum keluar rumah, Aurel sempat menoleh ke arah Raka. "Belajar yang rajin."

"Iya, Mama." Raka melambaikan tangan dengan ceria.

Pemandangan itu membuat hati Aurel sedikit hangat. Setidaknya, Raka masih bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya, meski keadaan mereka tidak lagi sama.

Aurel masuk ke mobilnya. Begitu pintu tertutup, senyum tipis yang tadi ia paksakan perlahan menghilang. Ia menyandarkan kepalanya ke jok. Mengembuskan napas panjang.

"Kenapa harus datang pagi-pagi..." gumamnya pelan.

Baru beberapa menit bertemu Mahesa, suasana hatinya yang semula tenang kembali berantakan. Bukan karena ia tidak rela Mahesa bertemu Raka. Sebaliknya. Aurel tahu Mahesa tetaplah ayah bagi putra mereka. Dan ia tidak pernah berniat menghalangi hubungan itu.

Yang membuatnya lelah adalah. Setiap kali melihat wajah Mahesa. Setiap kali mendengar suaranya. Setiap kali berada dalam satu ruangan dengannya. Semua luka yang berusaha ia tutup kembali terbuka.

Bayangan pengakuan Kayla. Tangisan malam itu. Perselingkuhan yang berlangsung bertahun-tahun. Semuanya kembali memenuhi pikirannya.

Aurel menggenggam setir mobil lebih erat. "Kenapa masih sesakit ini..." Air matanya hampir jatuh.

Namun ia segera mengusapnya. Ia tidak ingin menangis sebelum sampai di kantor.

Hari ini masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Mobil perlahan melaju meninggalkan rumah orang tuanya. Di sepanjang perjalanan, Aurel menyalakan radio sekadar mengalihkan pikiran.

Namun tetap saja. Kenangan bersama Mahesa terus bermunculan. Mulai dari saat mereka pertama kali menikah. Saat membangun bengkel dari nol. Saat menyambut kelahiran Raka. Hingga akhirnya semua kenangan indah itu harus ternoda oleh satu kenyataan yang begitu menyakitkan.

Aurel menggeleng pelan. "Tidak."

"Aku tidak boleh terus hidup di masa lalu."

Ia menarik napas dalam-dalam. "Aku memilih bercerai justru supaya luka ini bisa perlahan sembuh."

Meski ia tahu... Kesembuhan itu tidak akan datang dalam sehari.

Sementara itu, di rumah, Mahesa menggandeng tangan Raka menuju mobil.

Tanpa disadari, dari balik kaca spion, Mahesa melihat mobil Aurel perlahan menjauh. Ia tahu, setiap kali dirinya muncul di hadapan Aurel, ia bukan lagi sosok suami yang dirindukan. Melainkan pengingat dari luka yang belum sempat mengering. Dan kesadaran itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada penolakan apa pun yang pernah ia terima.

1
Yuyu
mamam tuh
Eneng Farida
dasar tidak tahu dri kmu kayla pengen hdup seneng dan bahagia atas jeri payah istri sah makan tuh laki2 kere
Ma Em
Semoga masalah Aurel dgn Mahesa cepat selesai .
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!