"Seandainya Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa melihat, aku ingin melihat wajahmu walau itu hanya satu hari saja," ucap Safira.
Demir yang dari kecil hidup tanpa cinta, membuatnya menjadi sosok yang dingin dan tidak percaya akan adanya cinta, tapi kehadiran seorang wanita bernama Safira bisa membuat Demir merasakan cinta yang selama ini dia rindukan.
Akankah Demir bisa menemukan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Bara
🌻
🌻
🌻
Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia sudah tidak tahu lagi harus menjelaskan apa kepada Safira. Dia yakin, kalau Safira sudah melihat semuanya.
"Ah sial," kesal Bara dengan memukul setir mobilnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Bara pun sampai di rumahnya. Bara dengan cepat keluar dari dalam mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Fira...Fira!" panggil Bara.
"Ada apa Den?" tanya Mama Ros.
"Fira mana, tante?"
"Loh, bukanya Fira ke rumah sakit ya, buat nemuin kamu?"
"Ah, tadi aku suruh Fira pulang duluan karena tadi aku masih ada pasien," dusta Bara.
"Oh, tapi Fira belum pulang."
"Apa? Belum pulang?"
"Sebenarnya ada apa, Den? Kenapa Den Bara seperti panik begitu?"
"Ah tidak apa-apa tante, ya sudah kalau begitu Bara keluar dulu, sepertinya Fira menunggu Bara di tempat biasa."
Bara pun langsung berlari keluar, di saat Bara ingin masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumahnya membuat Bara menoleh dan mengurungkan niatnya.
Terlihat Safira keluar dari dalam mobil Demir dan itu membuat Bara emosi.
"Mir, terima kasih ya sudah mau mengantarkan aku, pulang."
"Sama-sama, kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan-sungkan bilang sama aku."
"Oke."
"Aku pulang dulu."
"Iya, hati-hati ya."
Demir pun mulai melajukan mobilnya, Safira dengan santai membuka gerbang rumah Bara
"Bagus, kamu pulang diantarkan sama siapa?" geram Bara.
"Sama teman, Mas."
"Teman apa teman?"
"Maksud Mas apa?"
"Kamu sadar, kalau kamu sudah tunangan denganku? Tapi kenapa kamu bisa-bisanya malah pulang diantar sama pria lain, kamu tidak menghargai aku sebagai calon suamimu, Fira!" bentak Bara.
Mata Fira berkaca-kaca. "Apa aku tidak salah dengar Mas? Kenapa kamu selalu menyalahkan aku, sementara kelakuan kamu sendiri sudah di luar batas," seru Safira.
Safira hendak meninggalkan Bara tapi Bara dengan cepat menahan lengan Safira.
"Fira, maksud kamu apa? Aku melakukan hal di luar batas?"
"Mas itu pura-pura bodoh apa bodoh beneran sih? Aku sudah beberapa kali memergoki Mas dengan mantan Mas itu, kalau Mas memang masih mencintai dia, silakan kejar dia dan lepaskan aku," sahut Safira.
Seketika emosi Bara memanas mendengar ucapan Safira, Bara memang gampang emosian orangnya dan selalu merasa dirinya yang paling benar.
"Kamu mengatakan itu karena kamu ingin bersama pria yang tadi, kan?"
Safira menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecut.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu, Mas."
Safira menghempaskan tangannya, dan hendak meninggalkan Bara.
"Minggu depan kita menikah," seru Bara.
Seketika Safira menghentikan langkahnya dan merasa terkejut dengan ucapan Bara.
"Maksud Mas, apa?"
"Kamu selalu menuduhku macam-macam dengan Aurin, padahal aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Aurin. Untuk membuktikan kalau aku benar-benar mencintaimu, minggu depan kita menikah."
"Apa?"
"Kamu tidak usah memikirkan apa-apa, biar aku yang urus semuanya," seru Bara.
Safira tidak bisa berkata apa-apa lagi, hingga akhirnya Safira pun masuk ke dalam rumah Bara dan langsung menuju kamarnya.
Sedangkan Mama Ros yang dari tadi mengintip di balik gorden, tampak meneteskan airmatanya. Ternyata Bara tidak sebaik yang dia pikir, ada Mamanya saja Bara sudah berani bentak-bentak, bagaimana kalau ia sudah tidak ada, bisa-bisa Safira di bunuh oleh Bara.
"Ya Allah maafkan hamba yang sudah memaksa putri hamba untuk menikah," batin Mama Ros dengan deraian airmata.