Bagaimana rasanya jatuh cinta pada lelaki yang belum bisa melepaskan masa lalunya?
Alexander Henry Salim seorang pria berusia 28 thn dan seorang pengusaha muda yang sukses menjadi seorang petualang wanita setelah dia dicampakkan oleh cinta pertama nya.
Nadia Wirahma adalah anak dari sahabat mama Alex, karena berhutang budi ia rela dijodohkan dengannya namun pada akhirnya Nadia jatuh cinta pada lelaki yang menjadi suaminya itu.
"Jangan katakan kamu jatuh cinta padaku, Nadia. Jangan melakukan hal yang bodoh" Ucap alex seraya menggelengkan kepalanya.
Nadia yang mendengar itu merasakan ngilu dalam hatinya. Ya Alex memang benar, untuk pertama kali dalam hidupnya sebagai wanita dewasa ia merasakan jatuh cinta. Bila oran lain yang sedang jatuh cinta di hiasi gelembung cinta berwarna merah muda 💗 karena euphoria rasa bahagia, maka gelembung miliknya adalah hitam pekat 🖤 karena sang lelaki tak memiliki rasa yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeeGorjes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Happy reading ❤️
"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga," ucap mama Alex seraya membukakan pintu. Segera saja Nadia menyalami ibu mertuanya itu dan menyerahkan kue yang ia bawa.
"Buat Mama," ucapnya dengan wajah tersenyum.
"Aduuuh sayang repot-repot segala," timpal Mama Alex seraya menciumi kedua belah pipi menantunya itu.
"Gak repot kok, Ma. Alex juga bantu pilihin, semoga Mama suka" sahut Nadia.
"Kalau kalian yang berikan, Mama pasti suka," lanjutnya lagi dan kali ini ia mencium kedua belah pipi Alex. "Terimakasih sayang," gumamnya dan Alex tersenyum menanggapinya.
"Ayo yang lain sudah menunggu,"
"Yang lain ?" Tanya Alex.
"Iya, sepupu-sepupu kamu dan yaang lainnya udah pada datang," jawab Mamanya.
Nadia berjalan digandeng oleh ibu mertuanya dan mengenalkannya pada kerabat juga saudara Alex yang lain. Sifatnya yang ramah dan mudah berbaur membuat Nadia cepat akrab dengan yang lainnya. Sedangkan Alex ia lebih suka menyendiri dan hanya akan berbicara jika ada yang lebih dulu mengajaknya.
Alex amati Nadia dari jauh, istrinya itu tertawa lepas dengan sepupunya yang lain baik itu perempuan atau sepupunya yang laki-laki. Meskipun Alex tengah berbicara dengan para pamannya tentang bisnis namun beberapa kali matanya tertuju pada istrinya itu.
Hingga tiba waktu makan bersama, Nadia masih terlihat asik dengan lawan bicaranya.
"Udah waktunya makan, mau sampai kapan kamu ngobrol terus ?" Tanya Alex tanpa bisa menyembunyikan wajahnya yang terlihat kesal.
"Oh, iya." Sahut Nadia dan ia pun mengakhiri pembicaraannya dan membantu ibu mertuanya untuk menata meja makan.
"Istri lo asik banget sih, Bang. Pinter banget. Jarang ada cewek begitu. Kalau bukan bini lo udah gue pepet," kata salah satu sepupunya dengan nada bercanda. Namun tidak bagi Alex.
"Ehheeem," Alex berdehem seraya melonggarkan kerah kemejanya karena tiba-tiba ia merasa tak nyaman dengan apa yang sepupunya itu katakan.
Nadia memang mempunyai pesonanya sendiri dan saat ini Alex mengakui itu semua.
Semua telah duduk di tempatnya masing-masing begitu juga Nadia yang bersebelahan dengan Alex. Sebisa mungkin ia mengontrol perasaannya agar Alex tak menyadari jika ia begitu gugup saat ini.
Makan malam pun berjalan dengan lancar dan meriah. Sepanjang itu Nadia tak banyak bicara begitu juga Alex.
"Kemarin malam gue lihat lo keluar dari apartemen XY, Bang," ucap salah satu adik sepupunya dan itu membuat Alex juga Nadia menghentikan makan mereka.
"O-oh ya ? Mungkin Lo salah orang," jawab Alex gugup seolah-olah tertangkap basah karena melakukan sesuatu yang buruk.
"Nggak lah, gue lihat mobil lo juga," lanjutnya lagi dan Alex tak bisa mengelak.
Perih, itulah yang Nadia rasakan saat ini. Tentu saja ia berpikir jika Alex pasti menemui kekasihnya dan bodohnya ia terus terjaga di kamarnya hanya untuk menunggu suaminya itu pulang.
Nadia tersenyum muak dan segera berdiri untuk mengakhiri makan malamnya namun tangan Alex menahan lengannya.
"Mau kemana ? Duduk disini dekat aku," tahan Alex.
"Aku sudah kenyang, aku mau bantu mama siapkan makanan penutupnya," kata Nadia beralasan.
"Aku bilang duduk, Nad !" Ucap Alex dengan suara meninggi.
"Aku...,"
"Duduk ! Kamu itu istriku jadi seharusnya menemani aku, bukan tebar pesona pada mereka," Alex mulai tak bisa mengontrol emosinya.
"Mereka ? Mereka itu sepupumu,"
"Aku tak peduli ! Duduk di sini temani aku,"
"Mmm a..aku,"
"Jangan menolakku terus, Nadia !" Kata Alex lagi dengan rahang mengeras menahan rasa sesak di dadanya. Apa yang mereka lakukan menjadi pusat perhatian sehingga membuat Nadia pun menuruti Alex untuk tak pergi meninggalkannya.
***
Nadia yang kelelahan tertidur di bangku penumpang yang berada di sebelah Alex. Bibirnya yang sedikit terbuka membuat suaminya itu memperhatikannya berulang kali.
"Dasar tukang tidur," gumam Alex sembari tersenyum dan ia merasa senang karena Nadia menuruti perkataannya. Setelah makan malam, istrinya itu selalu berada di sebelahnya tak lagi bercengkrama dengan para sepupunya.
Alex menghentikan mobilnya dengan sempurna di lantai dasar apartemennya. Setelah beberapa puluh menit berkendara akhirnya ia sampai juga.
Bukannya langsung membangunkan Nadia, tapi yang ia lakukan saat ini adalah menatapi wajah istrinya yang tertidur. Beberapa kali ia merapikan rambut Nadia yang menutupi wajahnya. Dan dengan lancangnya ia menyentuh bibir istrinya itu.
Bibir yang beberapa bulan lalu pernah memenuhi kepalanya namun setelah setelah kedatangan Lola dan perseteruannya dengan Nadia di malam itu membuat ia sedikit melupakannya.
Tapi ternyata bibir ini masih saja menarik perhatiannya. Alex mencondongkan tubuhnya dan mengangkat dagu Nadia dengan perlahan. Ia tak mau membangunkan istrinya itu sebelum bisa menikmati bibirnya yang menggoda itu.
Alex memejamkan matanya dan berusaha meraih bibir Nadia dengan bibirnya.
"Ka.. kamu ngapain ?" Tanya Nadia dengan gugupnya.
Alex membuka mata dan merasa kecewa karena Nadia telah terbangun dari tidurnya. Ia yakin Nadia akan menolaknya jika ia lakukan sekarang.
"Mau bangunin kamu," jawab Alex beralasan.
"Aku udah bangun," Nadia pun membenahi tasnya dan segera turun dari mobil Alex yang tengah menelan pil kekecewaan karena tak berhasil mencuri sebuah ciuman dari sang istri.
Sedangkan Nadia, ia berusaha untuk tetap tenang dan menekan perasaannya karena ia tahu ternyata Alex memang menemui kekasihnya dan itu membuatnya patah hati yang entah untuk ke berapa kalinya.
Sesampainya di apartemen, Nadia langsung memasuki kamarnya tanpa berbicara pada Alex terlebih dahulu. Meninggalkan Alex yang lagi-lagi merasa kesal karena sebuah penolakan.
***
Esok paginya Alex telah bersiap untuk pergi ke Semarang guna melihat proyek pekerjaannya di sana.
Nadia yang baru terbangun keluar dari kamarnya dan harus bertemu Alex walaupun ia tak mau. Semenjak tahu jika Alex menemui kekasihnya, ia memutuskan untuk berusaha melupakan lelaki itu dan menjaga jarak dengannya
"Aku pergi, kamu jangan kemana-mana ya. Kalau takut menginap di rumah Mama saja. Ingat Nad, jangan pergi kemana-mana," ucap Alex memperingatkan.
Tak ingin berdebat dan berbicara lebih banyak lagi, akhirnya Nadia pun menyetujui apa yang Alex katakan.
***
Telah berlalu 2 hari dan Alex begitu sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga Nadia yang tengah mempersiapkan projek yang dipimpinnya. Bahkan dalam beberapa hari ke depan Nadia akan pergi ke Bali untuk mengecek lokasi pekerjaannya.
Selama berada di Semarang, Alex beberapa kali memikirkan istrinya. Ia khawatir Nadia ketakutan karena ditinggal sendirian. Pernah Alex berusaha menghubungi Nadia tapi istrinya itu tak mengangkat panggilan nya, bahkan Nadia tak berusaha untuk menghubunginya.
Tak seperti Lola yang selalu menelponnya setiap saat namun meskipun begitu bagi Alex rasanya tak lagi istimewa.
***
"Thanks kopinya enak banget," ucap Edo sembari menyesap kopinya. Saat ini ia dan Nadia tengah duduk berdua di sebuah cafe yang letaknya masih satu gedung dengan apartemen mereka.
"Terimakasih juga sudah banyak membantu aku," sahut Nadia.
"Aku gak nyangka kamu udah nikah,Nad. Aku kira kamu ini masih kuliah atau magang," ucap Edo dengan sedikit rasa kecewa.
"Hahahaha, umurku udah 24 tahun loh,"
"Tapi ku kira masih single," decak Edo kesal.
"Menikah rasa single," batin Nadia dalam hatinya. Ya walaupun ia terikat pernikahan tapi tak bisa memiliki cinta suaminya.
"Tapi kita bisa temenan kan ?" Tanya Edo kemudian.
"Sure, aku suka punya banyak teman,"
Edo tersenyum mendengar jawaban Nadia dan mereka pun terlibat obrolan seputar pekerjaan yang ternyata masih saling berhubungan membuat keduanya larut dalam pembicaraan itu.
Alex baru saja memasuki gedung apartemennya dengan satu koper di tangannya. Ia baru saja pulang dari Semarang setelah menghabiskan 2 malam di sana.
Ia baru saja akan memasuki lift ketika melihat istrinya tengah duduk berduaan dengan lelaki yang tak ia kenal. Alex berdiri terpaku melihat Nadia yang sedang tertawa. "Yeah right, gue khawatir kaya orang gila dan dia senang-senang sama cowok lain. What the f...," Maki Alex seraya memasuki lift.
Sepanjang perjalanan menuju kamarnya dada Alex terasa panas juga sesak. Dia tersenyum muak ketika mengingat Nadia yang terus menjaga jarak dengannya tapi bisa begitu akrab dengan lelaki lain. Padahal dirinya pun telah kembali bersama Lola tapi ia tak rela jika Nadia bersama yang lain.
"F*ck," umpat Alex ketika ia sadar bahwa melihat Nadia dengan lelaki lain ternyata membuatnya cemburu.
Alex menyimpan kopernya asal dan berjalan ke arah mini bar dan menuangkan minuman yang sudah lama tak disentuhnya. Memikirkan Nadia membuatnya tersiksa.
Terdengar suara gagang pintu yang diputar dan tepat seperti dugaannya Nadia lah yang baru saja memasuki apartemennya.
"Eh kamu udah pulang ?" Tanya Nadia dengan terkejut
"Kenapa ? Gak suka suami pulang ?" Alex menyimpan minumannya di atas meja bar dan berjalan mendekati istrinya yang terlihat gugup saat ini.
"Nggak, tentu saja aku suka kamu udah pulang," jawab Nadia seraya menelan saliva.
"Bohong...," Sahut Alex dengan mengangkat dagu Nadia untuk melihatnya.
Lagi-lagi bibir Nadia yang setengah terbuka membuat Alex ingin mencicipinya. Ia merengkuh tubuh Nadia pada dekapannya dan mulai menundukkan wajah untuk meraih bibir istrinya itu.
"A... Alex....," Gumam Nadia mulai cemas.
"Kali ini jangan menolakku, Nadia," lirih Alex frustasi.
"Kamu selalu dekat dengan yang lain tapi tidak denganku. Aku cemburu," lirih Alex kemudian. mendengar yang Alex ucapkan membuat Nadia terdiam membisu tak dapat berkata-kata.
Alex mendekatkan wajahnya dan bibir mereka pun bersentuhan. Nadia memejamkan mata dan Alex mengulumnya dengan lembut. "Daammnn," lirih Alex karena bibir Nadia terasa lebih nikm*t dari yang pernah dirinya bayangkan.
Alex hendak melakukan lebih dengan menahan kepala Nadia agar tak menjauh namun suara bel di pintu membuat ia terpaksa menghentikannya.
"Iisshhhh," decak Alex kesal karena selalu saja ada gangguan ketika ia akan mencumbu sang istri.
"Tunggu aku, jangan pergi kemanapun." Kata Alex memperingatkan sebelum ia pergi menuju pintu.
Alex membuka pintu apartemennya dengan perlahan. "Kejutan !" Ucap seorang wanita dengan senyuman dari bibirnya yang merah.
To be continued ❤️
Maaf telat update yes 🙏