DUREN SAWIT (duda keren sarang duwit)
Menceritakan seorang duda yang mati-matian mengejar cinta seorang remaja delapan belas tahun yang bernama Rianti. Gadis sederhana yang wajahnya begitu mirip dengan mendiang sang istri.
Hayu kepoin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adisty Rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut ketahuan
"Shinta ... Shinta ... bangun Shinta." Veno mencoba menyadarkan Shinta dengan menggoyang-goyangkan bahu Shinta.
Veno memandang tajam pada Haikal.
"Kamu beruntung karena gadis bodoh ini memaafkanmu! Kalau kau mengganggunya lagi ... aku tidak akan tinggal diam. Camkan itu!!!"
Veno menggendong tubuh Shinta keluar dari toko dan masuk ke mobil. Terlihat kepanikan di wajah Veno.
Ya Tuhan ... apa yang harus ku lakukan? Kalau ku bawa ke rumah sakit pasti akan lebih panjang masalahnya dan nama baik gadis labil ini akan hancur. Tapi kalau kubawa ke kost-nya, pasti nanti aku yang dikira tersangka. Aargh ... sial!!! Baiklah ... akan aku bawa ke rumah saja. Papi kebetulan ada di luar kota. Dan aku akan memanggil Om Joy saja untuk merawat gadis ini. Yah ... itu sepertinya pilihan terbaik yang bisa aku pilih.
Veno menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu meninggalkan toko. Selama perjalan Veno tak henti-hentinya memarahi Shinta yang sedang tak sadarkan diri.
"Kau memang bodoh Shinta! Kenapa kau biarkan situasi menjadi begitu mengerikan seperti sekarang? Bagaimana kau bisa berakhir seperti ini? Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku cukup yakin kau juga bersalah dalam hal ini. Ayolah bangun ... jangan buat aku khawatir seperti ini."
Veno menyetir dengan perasaan yang bercampur aduk. Hingga beberapa kali ia menekan klakson agar kendaraan yang ada di depannya menyingkir. Ia ingin cepat sampai di rumah dan mengobati Shinta.
"Ayolah bangun Shinta ... jelaskan padaku apa yang terjadi? Bagaiman bisa kau berakhir seperti ini di tangan penjahat seperti dia? Sungguh demi Tuhan, kalau terjadi apa-apa padamu aku akan memberi perhitungan kepada bajingan itu! Aku sungguh tak mengerti kenapa kau mau memaafkannya. Ayolah bangun ... dan kita masukkan saja si brengsek itu ke penjara."
Tidak berapa lama mereka pun tiba di rumah kediaman Veno dan di sana sudah ada Joy yang menunggu kehadiran mereka.
"Bagaimana Om, apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Veno yang masih terlihat panik.
Joy yang sedang memasang infus memandang tajam ke arah keponakannya itu.
"Apa kau yakin bukan kau pelakunya?"
"Apa maksud pertanyaan Om itu? Aku memang playboy, tapi aku tidak bermain dengan anak di bawah umur, terlebih lagi dengan paksaan." Veno berdecak kesal dituduh yang tidak-tidak oleh adik dari maminya itu.
Joy menghampiri Veno dan menepuk pundaknya.
"Tenanglah Veno, dia akan baik-baik saja. Selain memar, tidak ada luka yang serius. Namun Om khawatir tentang kejiwaannya. Kebanyakan orang yang mengalami hal mengerikan seperti ini akan mengalami tekanan emosi, bahkan depresi. Apalagi gadis ini begitu muda. Om tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Intinya, kamu harus selalu mendampingi gadis malang ini. Jangan biarkan dia sendiri dan jika terlihat sesuatu yang tidak wajar, cepat hubungi Om ya. Kita sama-sama ke psikiater." terang Joy.
"Aku mengerti Om, tolong rahasiakan hal ini dari mami dan papi."
Joy hanya tersenyum dan berlalu pergi.
Veno duduk di samping tempat tidur Shinta. Ia lap dengan lembut wajah Shinta yang penuh dengan lebam.
Kasian kamu. Masih kecil tapi harus menerima kenyataan pahit seperti ini.
****
Di rumah Ardi.
Rianti terlihat gelisah. Beberapa kali ia mengganti posisi tidurnya namun matanya tak kunjung terpejam. Ardi yang sedang membaca buku di sebelahnya menjadi penasaran akan tingkah Rianti.
"Sayang, kamu kenapa?"
Rianti mengubah posisinya menjadi duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Mas, aku mau jujur ... tadi aku ada masuk ke ruang kerja."
Ardi terlihat panik namun mencoba menyembunyikannya. Ia letakkan buku di atas nakas dan menggenggam tangan Rianti.
"Kamu ngapain ke sana?"
"Tadi aku ngangkat telepon dari mas Veno, trus katanya Mas di suruh telepon balik."
"Ohh itu ... besok aja lah, udah gak penting lagi. Masalahnya udah diselesaikan."
"Tapi apa bisa Mas telepon dia. Apakah dia bersama Shinta atau tidak. Soalnya tadi aku minta tolong buat mastiin keberadaan Shinta. Aku takut Mas ... sampai sekarang Shinta tidak bisa di hubungi."
Ardi hanya mengangguk paham. Ia lega bahwa yang membuat istrinya gelisah adalah Shinta. Ia mengambil ponselnya yang ada di nakas dan menghubungi Veno dan menekan tombol lounds speaker agar Rianti juga bisa mendengar perbincangan mereka.
"Hallo Veno, kamu di mana? Apa kamu bersama Shinta?"
"Iya ... sekarang dia bersamaku dan sedang tertidur." Terdengar suara Veno dari seberang telepon.
"Oh ... sukurlah. Istriku mencemaskan Shinta. Dia baik-baik saja, kan?"
"Dia baik-baik saja. Besok sebaiknya kalian ke sini."
"Baiklah. Besok kami ke sana."
Ardi memutuskan panggilan dan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
"Sudahlah ... jangan terlalu khawatir. Besok kita ke sana dan melihat keadaan temen kamu itu."
Ardi memeluk tubuh Rianti dan mengusap-usap rambut pendek sang istri.
Rianti hanya mengangguk pelan dan makin memeluk erat tubuh sang suami seakan merasa nyaman dan tak ingin melepaskannya.
"Sayang ... Mas boleh minta tolong sama kamu." Ardi melepaskan pelukannya dan menatap dalam mata Rianti.
Rianti hanya merespon dengan anggukan serta senyuman.
"Kamu harus percaya seutuhnya sama Mas, jangan pernah meragukan cinta dan sayang yang Mas berikan untukmu. Kalau suatu saat Mas melakukan kesalahan sebesar apapun itu ... tolong jangan pernah meninggalkan Mas. Bisa?"
Rianti yang sebenarnya tidak paham dengan omongan sang suami mencoba berpikir sejenak.
"Ya gak bisa gitu donk Mas ... itu namanya pemaksaan. Anak TK aja kalau salah dapet hukuman. Masa Mas yang udah dewasa gak mau dapat hukuman." Rianti memasang wajah galak pada suaminya.
Ardi peluk kembali tubuh istrinya itu.
"Aku rela mendapat hukuman apapun darimu. Asal kamu tidak pergi meninggalkan aku." Suara Ardi terdengar lirih dan bergetar.
Rianti yang merasa sukses menggoda sang suami hanya terkekeh geli dalam dekapan Ardi.
"Aku hanya bercanda Mas. Aku tidak akan pernah meninggalkan si duren sawitku ini. Aku pasti akan rugi besar. Hehehe ... Apapun kesalahan dan kondisimu kelak, aku akan mencoba mengerti. Asal jangan pernah Mas menghianatiku dengan mencari kebahagiaan ke perempuan lain." Rianti makin mengeratkan pelukan sang suami.
Bagaimana bisa aku berbahagia dengan perempuan lain sedangkan kaulah kebahgiaanku itu, Stella.
"Iya ... Mas akan selalu menjadi si duren sawitmu sampai kapanpun itu. Dan kamu akan selamanya jadi milik Mas, apapun situasi dan kondisimu."
"Aku mencintaimu Mas."
Ardi mencium pucuk kepala Rianti dan membelainya pelan.
"Aku lebih mencintaimu sayang."
"Ya udah Mas, udah malam. Kita tidur yuk," ucap Rianti sambil melepaskan pelukan dan masuk ke dalam selimut.
"Kamu yakin bisa tidur?" Terlihat senyum genit milik Ardi.
"Iih apaan sih ... udah malem nih," ucap Rianti yang menahan geli karena Ardi sudah menyerang lehernya terlebih dahulu.
"Bukankah lebih malem lebih seru ... apalagi kita ini pengantin baru," bisik Ardi.
,Heran aku..Gitu aja udah luluh aja..