Adella Mahendra, gadis cantik dengan segudang prestasi. Kehidupannya bagaikan salah naik angkot, oper sana oper sini, pindah sana pindah sini.
Bagi sebagian orang, mungkin akan merasa senang jika berada di posisi Adel, tetapi tidak bagi Adel yang membuat dirinya harus di putar putar karena memiliki tiga orang tua yang sangat menyayanginya. Ditambah lagi dengan seseorang yang telah lama mencintainya dan begitu posesif terhadapnya.
Lanjut baca yuk, gimana jungkir baliknya Adel tetapi dengan sejuta pesona nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kaya
Senyum mengembang kini terpancar di wajah tampan Dokter Vikky, baru kemarin bertemu, rasanya hatinya sudah berbunga bunga. Memang tidak salah dengan pilihan hatinya, tidak sia sia penantiannya selama ini.
Menunggu selama sembilan tahun, itu tidaklah mudah, apalagi mereka berpisah dengan usia Adel yang masih kecil, dan belum tau apa artinya cinta. Apalagi ditambah perbedaan umur mereka yang sangat jauh.
Tapi hati tetaplah hati sejauh apa jarak mereka tempuh, jika hati sudah memilih maka akan tetap disana, dan jangan lupakan takdir....sekuat apapun cinta mereka, kalau takdir tidak menyatukan, mereka tidak bisa berbuat apa apa.
"Makasih ya han..."
Tangan Dokter Vikky lagi lagi memegang tangan Adel. Posisi mereka saat ini berada di mobil menuju SMA Nusantara
"Makasih?? untuk??"
"Sudah setia menunggu Mas, dan secangkir kopi nya"
Adel terkekeh geli. Dia beranikan diri melihat ke arah Dokter tampan. Dan sebaliknya, sang Dokter juga melihat ke arah Adel
"Kenapa?" tanya Dokter Vikky heran
"Aku gak tau yang namanya menunggu itu seperti apa dan setia itu gimana"
Adel menghentikan ucapannya, lalu menoleh ke arah Dokter Vikky yang dirasa sangat penasaran dengan ucapannya
"Masak menunggu dan setia kamu gak tau han?"
Tepat, tepat sekali dugaan Adel, kalau pikiran Dokter Vikky mengarah ke situ
"Bukan seperti itu Pak Dokter!! Mas masih ingat gak waktu ninggalin aku --"
"Stop....." Dokter Vikky menghentikan ucapan Adel
"Bukan ninggalin yang sengaja, tetapi Mas kuliah waktu itu sayang"
"Hufh....oke oke aku ralat, iya waktu Mas mau kuliah itu aku nya umur berapa?"
Dokter Vikky mengingat ingat lagi, kemudian menghitung dengan jarinya dan dengan mulut yang komat kamit.
"Enam tahun" jawabnya singkat
Adel tersenyum "Nah Mas bisa bayangin gak, anak sekecil itu apa tau artinya menunggu? apa tau artinya setia?"
Dokter Vikky menggeleng, lalu mengacak rambut Adel "Pinter kamu ngelesnya ya"
"Hei....Pak Dokter aku bicara fakta, walaupun Mas tiap hari kasih kabar ke aku telponin aku, tapi apa aku mudeng Mas? enggak kan"
"Tapi nyatanya kamu juga gak punya pacar kan han, walau sempat dekat ma seseorang di sana" tiba tiba suara Dokter Vikky melemah ketika mengucapkan itu
Adel menoleh ke Dokter Vikky, dan melihat ekspresinya, dari ceria berubah menjadi muram.
"Kak Chandra maksdunya?? kayak Papi aja mbayar orang buat ngintilin aku, pasti Mas juga"
"Iya, Chandra..."
"Aku mau cerita, dan aku gak mau ngulangin lagi, cukup sekali saja aku ceritanya"
Adella langsung menceritakan semua nya kepada Dokter Vikky entah ada alasan apa hingga dia berani bercerita, termasuk berita terakhir yang dia peroleh dari Papi Surya mengenai Chandra
"Jadi intinya??" tanya Dokter Vikky
Klik, Adel membuka sabuk pengaman, karena sudah sampai di depan Sekolah, lalu Adel mendekat ke arah Dokter Vikky
"Inti nya apa?" ucapnya dengan jari tangannya yang nakal mengelus pipi lelaki tampan itu
Dan hap, seketika tangan Dokter Vikky langsung menangakap jari Adel yang nakal, lalu tatapan mereka bertemu
Klik, Dokter Vikky juga membuka sabuk pengamannya dengan salah satu tangannya, dengan tangan yang satunya masih digunakan untuk memegang jari Adel yang nakal
"Intinya, kamu milikku Adella, hanya milikku" lalu Dokter Vikky memiringkan bibirnya hendak mencium Adel tetapi seketika Adel tersenyum dan mendorong Dokter Vikky
"Dasar mesum" ucap Adel dengan terkekeh, lalu membenarkan posisinya, dan bersiap untuk turun
Dokter Vikky yang melihat tingkah Adel jadi gemas sendiri "Awas aja sayang, kalau dapat pasti akan minta terus kamu nya"
"Hmmm aku tunggu serangannya" balas Adel dengan manjanya
"Aku keluar ya Mas, udah nyampe kan, em...soal kopi itu, maaf aku hanya bisa buat kopi, dan aku yang seharusnya terima kasih banyak ma Mas, karena dua hari ini begitu sepesial buat aku, dan Mas juga udah bantu ngrawat Papi"
Tangan Dokter Vikky mengacak rambut Adel "Sudah menajadi kewajibanku untuk nyenengin kamu dan merawat Papi, dan semua itu gak gratis loh sayang"
Adel melotot, mendengar ucapan Dokter Vikky. Tetapi Dokter Vikky malahan tersenyum dengan memandang wajah Adek yang dengam ekspresi masam
"Bayar dengan mencintai, menyayangi dan menemaniku seumur hidup kamu, kamu mau kan han??"
Adel mengangguk, tanpa sadar menyetujui ucapan Dokter itu, mungkin sudah terpesona dengan wajah tampan dan mulut manis sang Dokter,.hingga Adel mengangguk tanpa berpikir terlebih dahulu
"Eh kok aku ngangguk sih, em..."
"Telat, sudah Mas kunci jawabannnya, gak bisa diubah, karena sejujurnya apa yang aku rasakan, kamu juga merasakannya"
"Au ah Mas, aku malu yang jelas, dan aku keluar ya Mas"
Dengan muka yang sudah seperti tomat, Adel membuka pintu mobil, tetapi tangan kekar milik Dokter Vikky menghentikan tangan Adel
"Tunggu Han, masih ada satu lagi"
Adel menoleh ke arah Dokter Vikky, dan melihat Dokter Vikky mengambil seseuatu dari celana nya, ya sebuah dompet. Kemudian Dokter Vikky membuka dompet dan mengambil sebuah kartu lalu diserahkan ke Adel
"Mulai sekarang pakailah ini sayang" Dokter Vikky menaruh sebuah black card di telapak tangan Adel "Pin nya tanggal lahir kamu"
Adel menggeleng, lalu menyerahkan lagi kartu itu kepada Dokter Vikky "Aku belum berhak Mas, lagian bukannya aku sombong ya,.Mas kan tau sendiri kalau aku kaya raya"
"Idih sombongnya calon istri Dokter Vikky, Mas tau sayang, kartu kartu dari Papi dan Papah Ken, atau dari Opa dan Uyut kamu simpan, dan mulai detik ini gunakan kartu dari Mas, karena kamu tanggung jawab Mas, gak boleh nolak" Dokter Vikky langsung menutup telapak tangan Adel yang ada kartu nya itu.
Adel mengangguk lagi, entah mengapa dia begitu pasrah jika berhadapan dengan lelaki tampan itu. Lalu Adel membuka tasnya, dan mengambil dompet kemudian memasukkan black card ke dalam dompetnya
Sedangkan Dokter Vikky sempat melirik dompet Adel, lalu tersenyum "Hmm gak ada uang tunai sayang, terlalu kaya sampai gak ada recehan di dalamnya" goda Dokter Vikky
"Iya Mas, aku selalu lupa jika mau ambil uang, daan alhasil setiap ke kantin, Maya bayarin aku dulu, terus aku ganti pake transfer heeeee"
"Mulai sekarang jangan lagi, selain kartu, Mas akan kasih tunai" Dokter Vikky membuka dompetnya kembali lalu mengambil uang berwarna merah sebanyak sepuluh lembar, memang yang ada tinggal itu
"Uang jajan kamu sayang,.Mas juga lupa ambil, jadi baru segini, besok Mas kasih lagi" Lagi lagi Dokter Vikky memaksa Adel untuk menerimanya
"Kok aku kesannya kayak cewek matre ya Mas??"
"Shututt.....jangan ngomong gitu, kamu calon istri Mas, dan secepatnya akan Mas sahkan"
"Dan jangan pikir macam macam tentang Mas, Mas sayang ma kamu dan Mas gak akan macem macemin kamu, udah masuk ke Sekolah sana sayang"
"Makasih Mas, hati hati, semangat kerjanya dan titip Papi dulu ya"
Tanpa menjawab, Dokter Vikky mendekat langsung mencium kening Adel. Menyalurkan rasa sayang dan cintanya untuk kekasih hatinya.