Blurb :
Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.
Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.
Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VISUAL
Setelah puas mencubit perut Luthfie, Shasha bergegas meninggalkan lelaki itu di ruang tamu.
"Katanya tak mau disentuh, tapi dia seenaknya mencubit perutku." Luthfie tertawa sambil meringis dalam waktu bersamaan. Tangannya masih mengusap perut yang masih sedikit sakit.
Beberapa jenak kemudian, Luthfie teringat ucapan Shasha yang memintanya melamar dengan cara yang baik dan benar. Kalimat itu terngiang membuat Luthfie terus berpikir.
Serius apa enggak, sih, tuh anak? Kalau aku melamarnya terus dia mau jadi istriku, apa iya gadis sekecil itu bisa mengerti tugas seorang istri?
Luthfie terus bermonolog dalam hati layaknya lelaki yang tengah bimbang. Terkadang ia khawatir jika menikahi Shasha akan membuat gadis itu tidak menikmati masa mudanya tetapi keinginan itu semakin besar untuk memiliki dan menyayanginya sepenuh hati. Dia bisa melakukan apa pun untuknya sekalipun harus menunggu.
Luthfie masih memainkan ponsel sambil menatap layarnya. Setelah berpikir lama, akhirnya dia putuskan untuk menelpon Zidan, padahal malam sudah cukup larut.
"As-Assalamualaikum, Bro. Be-lum tidur kan lo?" sapa Luthfie ragu. Tak menyangka Zidan akan mengangkat teleponnya malam-malam.
"Waalaikum salam." Suara Zidan terdengar parau. "Lo liat jam gak, sih?"
"Gue tau ini dah malem tapi gue gak bisa tidur. Kirain lo dah tidur ternyata belum juga," jawabnya sembari melayangkan pandangannya pada jam di dinding yang menunjuk waktu dini hari.
"Gue bukannya belum tidur, tapi kebangunan gara-gara hp gue bunyi mulu. Buru-buru gue angkat daripada istri gue ikut bangun, kasian."
"Kalian nyampe rumah dengan selamat kan? Ya udah istirahat sana. Gue tutup dulu telepnnya, mau lanjut tidur, nih. Ngantuk," ucap Zidan lagi dengan mata kembali terpejam.
"Tunggu dululah!. Belum juga ngomong, dah mau ditutup. Gak sopan lu!"
"Lu yang gak sopan, gangguin orang malem-malem. Ngomong apa cepetan!" Masih dengan nada malas.
"Gue ... gue lagi bingung, Dan."
"Orang kaya elo bisa bingung juga?" gumam Zidan pelan.
"Kalau gue ngelamar Shasha, aneh gak sih?"
"Ya ampun, dari kemaren temanya masih tetep aja tentang lamaran, ganti kek ngomongin yang lain, udah kaya si Juned aja lu sekarang. Inget ga si Juned temen kita dulu, tiap ketemu yang diomongin dia tuh cuma itu dan ituuuu aja. Soal Mimin cewek gebetannya. Ati-ati lu, kena karma dulu suka ngebully si Juned." Mata Zidan mulai terbelalak sambil merubah posisinya. Dia perlahan menarik tubuhnya hingga bersandar di kepala ranjang tidur.
"Tau! Ini gara-gara adik lu," gumam Luthfie persis seperti anak kecil. "Dulu kan gue cool kalo kaya permen mint kalau ngadepin cewek."
"Terus lu nyalahin adik gue gara-gara berubah jadi permen jahe? Enak aja."
"Lu bantuin gue kenapa sih, Dan? Amal dikit demi gue sama adik lu."
"Ya udah, gue harus ngapain sekarang? bantuin gimana lagi, sih? Untung dulu lu baik banget sama gue, kalau enggak, males banget gue dengernya."
"Kasih gue ide, cara ngelamar anti gagal. Lu kan pernah ngelamar Anita, dulu."
"Hahaha!" Zidan refleks tertawa, tetapi dia berhenti tiba-tiba sambil menutup mulutnya saat menyadari ada Anita yang tengah tertidur pulas di sampingnya.
"Ngelamar ya ngelamar aja. Kalau gak mau gagal, tanya dulu orang yang mau dilamar, yakin gak dia mau terima lamaran lu?"
"Ada-ada saja emang cowok satu ini."
"Itu dia masalahnya, gue gak yakin. Apalagi kalau cara ngelamar gue ternyata salah."
"Ckckck ... gue turut berduka kalo kaya gini. Tanggalkan saja gelar coker lu itu, karena sekarang lu udah gak keren lagi. Lo Bucin sekarang."
"Peduli amat sama gelar murahan itu! Lu mau bantu apa enggak? Gue tanya."
"Oke ... oke. Tunggu gue sampe akhir pekan, rencananya gue mau ke sana. By the way Shasha gimana kabarnya?"
"Dia baik baik aja, besok mau gue bawa ke rumah sakit lagi."
"Inget pesen gue, jangan sentuh dia sedikit pun."
"Gue gak janji. Tidur ajalah sekarang, gue dah selesai ngomongnya." Luthfie sengaja membuat Zidan was-was sebelum menutup sambungan telepon.
Bersambung...
Readers yang baik hati dan tidak sombong, di bawah ini ada visual alakadarnya. Mungkin sesuai dengan ekspektasi kalian tapi mungkin juga tidak sesuai. Ya, bayangin sendiri ajalah ya sesuai imaginasi kalian.
1.Dr. LUTHFIE
dia baik dan tampan, idaman para wanita😍😘
BANAFSHA/SHASHA/BANANA
kecantikan alaminya membuat dr Luthfie klepek-klepek 😂
ZIDAN
dia tampan dan maskulin, cowok keren kedua saingan Luthfie di kampus.
4.ANITA
Wajahnya sangat ayu, bikin adem.
5.RENA
Rena Cantik, Seksi, Elegan dan Berkelas
6.SITA
Sita yang manis wajahnya khas anak sekolahan.