Citra melahirkan anak yang genius diusia muda, tanpa mengetahui bahwa ayah dari sang anak Genius itu adalah seorang CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardia Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 1.35 Ibu Jangan lupakan aku
Jhonson yang tidak sanggup melihat tangisan sang adik, menarik tubuhnya untuk berdiri. Menguatkan sang adik "Tidak apa-apa, jangan bersedih nanti ibu juga lekas mengingat kita lagi." Mengangkat kepala adiknya yang terus tertunduk dan menangis.
Citra hanya bisa terus menatap orang-orangndi sekitarnya, melihat Jhonatan yang terus menangis hatinya pun merasa begitu sakit, nalurinya sebagai seorang ibu hadir, memeluk mereka berdua "Aku tidak yakin siapa diriku, tapi jika memanggil ku ibu membuat kalian bahagia maka panggil saja aku ibu..." Melihat mata kedua malaikat kecil itu yang kini berbinar . Jhonatan dengan cepat menyentuh pipi ibunya dan berkata "ibu..tenang saja aku akan berusaha mengembalikan ingatan ibu lagi..." Melihat ke arah sang kakak . "saat aku dan kakak dewasa, kami akan baik-baik menjaga ibu."
Citra kini mulai tersenyum, mencoba mengalir dengan suasana yang ada, Reza yang dari tadi masih tampak kebingungan dan hatinya yang gelisah, namun dengan sikap citra, kini Reza tampak terlihat tenang.
"Baiklah.. situasi di luar sudah aman, kita seharusnya kembali kerumah..." Ujar Reza
"Rumah....??"
"Iya ibu... rumah, dua kakek tampan nenek cantik sedang menunggu dirumah !"
"Ayah mu, dan juga ayah dan ibu mertuamu sedang menunggu dirumah, Citra pulanglah bersama kami."
Citra terdiam sejenak, memandang kearah Adinata, melihat laki-laki itu mengangguk kepadanya, Citra akhirnya setuju untuk ikut pulang dengan syarat Adinata ikut bersama mereka.
Mereka berlima pulang mengendarai mobil milik Adinata yang bisa melewati Medan jalan vila yang memang sulit di lalui.
Sepanjang perjalanan Citra hanya menatap pemandangan sekitar sembari kedua tangan nya membelai kepala Jhonson dan Jhonatan yang dari tadi tertidur lelap di pangkuan nya.
Reza dari tadi melihat wajah lugu citra dari balik kacanya, melihat wanita yang dia cintai baik-baik saja itu sudah cukup. ("Biarlah ingatan yang menyakitkan itu terlupakan, mulai saat ini aku akan membuat ingatan terindah yang akan kamu ingat selamanya citra." ) Gumam Reza dalam hatinya.
Adinata melihat mata Reza yang penuh dengan cinta semakin rela melepaskan Citra untuknya.
"Syukurlah, seseorang dengan cita yang tulus di hatinya kini akan menjaga mu sepenuh hati, kakak akan tetap menjadi kakakmu selamanya citra, percayalah semua akan baik-baik saja, kakak jamin itu." Kata Adinata dalam hati.
Wanita yang selama ini dia cintai lebih dari dirinya sendiri, kini melupakan tentang semua perasaan mereka berdua, bahkan melupakan tentang hidupnya sendiri.
Citra ikut terlelap dengan suasana yang redup itu, cuaca yang mendung dengan sedikit hujan, membuatnya sangat terlelap dalam suasannya.
"Biarkan saja jika dia masih tertidur saat kita sampai...!"
"Kenapa..?"
"Citra memang sulit tidur sejak dia remaja, sejak pertama kali dia kehilangan ibunya..!"
"Ohh... susah berapa lama kalian saling kenal?"
"Citra tumbuh bersamaku kami ....." Tiba-tiba telpon Reza berdering...
"***Maaf ibuku menelpon.".
"Baiklah angkat dulu, mungkin beliau masih khawatir tentang merek***."
Reza mengangkat telpon Nyonya Micela, menjelaskan tentang keadaan mereka, kini Reza, Citra dan anak-anaknya dalam perjalanan pulang, Reza juga memberitahukan pada ibunya bahwa akan ada tamu yang datang.
"Apakah keluarga mu akan menerima ku?" Tanya Adinata ragu.
"Tenanglah ibuku orang yang bersahabat, kecuali ayah, dia itu seperti kulkas berjalan..." Sambil tertawa-tawa.
"***Kulkas....!!?"
"Beliau adalah orang yang sangat dingin kepada orang lain yang baru ditemui, namun setelah ayahku mengenal lebih dalam dia lebih hangat dari microwave***." Jelas Reza.
Mereka telah melewati jalanan yang sepi, 45menit berlalu waktu terus berjalan, mereka semakin dekat dengan rumah.
"Berapa lama kamu tidak bertemu dengan ayah mertua ku ?"
"Ayah Darwis maksut mu Reza..!"
"Emmm...."
"Sampai hari ini kurang lebih seumuran anak-anak, 7thn...." Tukas nya, Reza hanya menatap bingung. "Jangan heran.. sejak aku menikah citra, sebenarnya ayah Darwis tidak begitu menyetujui nya, karena beliau berfikir semua ini akan mempengaruhi masa depan ku."
"Apakah kalian sedekat itu..." Merasa cemburu.
"Tentu saja..." Melihat ke arah Reza yang terlihat cemburu, Adinata sengaja menggodanya. " Hei.. bola matamu itu seperti akan keluar dari sana..." Tertawa puas "Tenang lah, meskipun Citra menikah denganku, tidak sehari pun kami tinggal di kamar yang sama, meskipun aku mencintai nya, hatiku tetap memiliki naluri sebagai seorang kakak."
"Bagus jika begitu..." Reza memotong pembicaraan mereka. "***Oke, 5menti lagi kita sampai.."
...****************...
Bersambung***....