Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sendang Srengenge
Axel melangkah cepat menghampiri rekan mereka. Dengan bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apapun, ia ikut mengamati sendang Srengenge.
Dimana sendang itu dikenal dapat membuat siapa saja awet muda dan memancarkan pesona ketampanan ataupun kecantikan, sehingga membuat banyak para artis yang datang untuk meminum airnya atau mencuci muka dan melakukan ritual yang disarankan.
Naura menatap Axel dengan tatapan penuh selidik. "Kalian darimana saja?"
"Kita lagi lihat-lihat dilorong sana, ada batu besar, dan coba rekam untuk ambil gambar," sahut Axel dengan berusaha menjaga kalimatnya agar tidak keceplosan.
"Xel, aku tau gimana kamu, jadi jaga sikap ditempat seperti ini, jangan sampai kamu berbuat aneh, sebab yang akan terkena sialnya bukan hanya kamu, tetapi kita semua yang ada disini." Naura setengah berbisik, tetapi ia menekan ucapannya, tatapannya penuh intimidasi, dan berharap pemuda tengil tersebut tidak berbuat aneh.
"Kamu cemburu, ya? Aku bisa atur waktunya," balas pemuda itu tanpa rasa sungkan. Ia juga menjaga volume suaranya, agar tidak terdengar oleh Kael yang sibuk dengan kameranya.
Naura membolakan matanya. Axel memang tampan, tetapi pemuda itu terlalu playboy, dan suka membuat huru-hara, mendekati gadis manapun yang ia inginkan tanpa menjalin ikatan serius.
Baginya, mendapatkan apa yang ia inginkan merupakan pencapaian yang sangat dibanggakan.
Apalagi dapat menyerobot gadis yang sudah didekati oleh rekannya sendiri, itu adalah kebanggan baginya.
Ia akan berusaha mencicipi gadis yang didekatinya, setelah itu meninggalkannya begitu saja, baginya jika mau sama mau, maka tak ada penuntutan, kecuali melakukannya dengan paksaan.
Bermodal wajah tampan, membuat ia begitu percaya diri dalam melakukan setiap aksinya.
Dan, tujuannya adalah Sendang Srengenge, yang mana airnya dapat dijadikan sebagai pembuka aura ketampanan untuk dirinya. Ia ingin membuat dirinya terlihat lebih mempesona.
Naura yang mendengar pernyataan Axel merasa jengah, ia sudah berupaya menghindari pemuda itu, tak ingin menjadi korban berikutnya.
Naura menggeser tubuhnya, menjauh dari sang pemuda, memberikan peringatan pada Axel hanya sia-sia.
Sesaat ia melihat Alesaa tiba ditepian sendang, sama seperti yang lainnya, menatap air yang sangat jernih, dan membuat rasa tenang.
Akan tetapi, Naura melihat Alessa seperti gelisah dibagian area sensitifnya, seperti menggesek kedua pahanya, untuk menghilangkan rasa gatal yang tiba-tiba datang dan tak dapat untuk dihentikan.
Sedangkan Kael berulang kali melihat cameranya. Setiap bidikan yang diambilnya dengan sempurna, tetapi hasilnya nihil, hanya gambar buram bagaikan layar televisi yang tak bergambar dengan banyak bintik bergerak layaknya ribaun semut.
Sesaat ia merasakan bulu kuduknya meremang, dan bergidik ngeri.
"Kenapa, Kael?" Naura menghampiri, dan melongok ke arah camera pemuda bertubuh jangkung tersebut.
"Ini, kenapa gak ada gambarnya, cuma hitam buram, padahal udah bidik paling bener," Kael memperlihatkan cameranya dan hasil bidikan yang terus salah.
Sedangkan Axel yang diabaikan Naura, berpindah mendekati Manda, mencari mangsa yang dapat dijadikannya sebagai tempat berfantasinya.
Naura menatap layar camera, dan ia seolah menatap ada ribuan mata merah dalam tangkapan layar tersebut.
"Sebaiknya kamu ijin dulu, deh," saran Naura kepada pemuda tersebut.
"ijin bagaimana?"
"Kamu bilang begini. 'Nini Maru dan Aki Maru yang ada ditempat ini, saya ijin ambil gambar, gak punya niat jahat, mohon dijinkan--ya'," Naura memberi contoh kepada Kael tentang cara meminta ijin kepada penghuni ghaib didalam goa.
Kael tersenyum lucu. Tetapi ia berusaha mencobanya, dan saat ia melakukannya, benar saja, hasil gambarnya jernih dan membuat ia tercengang.
"Ih, sumpah. Berhasil," soraknya dengan girang, lalu memperlihatkan hasil bidikan sendang yang didapatnya kepada Naura.
"Tuh, kan berhasil," Naura merasa bangga, sebab apa yang disarankannya terbukti.
Kael semakin bersemangat, lalu mengarahkan kameranya le berbagai arah, hingga tanpa sengaja membidik seseorang yang sedang bertapa disudut ruangan, tepatnya didepan batu berukuran sangat besar.
Klik
Satu bidikan didapatkannya, saat ia melihat hasilnya, pemuda itu mengerutkan keningnya, ia melihat sosok pria tersebut seperti dikenalnya, dan dalam camera tersebut, ia melihat dibelakang pria itu berdiri satu sosok berkepala kerbau berwarna hitam, bola matanya merah menyala, seolah ikut menjadi pendampingnya.
Sontak saja hal itu membuat Kael bergidik ngeri.
Pria itu adalah sosok publik yang sedang diincar oleh pejabat negara, sebab tersandung kasus korupsi dalam jumlah yang cukup fantastis. Entah apa yang dilakukannya didalam goa itu. Disaat para KPK dan juga kepolisian memburunya, ia justru bertapa, dan sepertinya meminta wangsit, bagaimana caranya agar dapat terbebas dari jerat hukum.
Kael masih diam membisu, dan terus mengamati setiap pengunjung dengan bidikan kameranya.
Sedangkan Nathan, ia merasakan jika aroma melati yang sejak saat memasuki pintu loket terus saja hadir didekatnya.
Ia juga sibuk mengamati setiap aktivitas dari wisatawan yang datang berkunjung.
"Nath, Nih--Minum." Sena datang menawarkan sebotol air mineral, dan pemuda itu mengambilnya, lalu meneguknya.
Seeeerrrr
Sesaat Nathan merasakan jika air itu mengalir le tenggorokannya, ada rasa sensasi berbeda, dan ia menggelengkan kepalanya.
"Ini air apa--Sen?" tanyanya pada Sena. Namun, gadis itu sudah tak lagi ditempatnya. Dan hal yang membuatnya heran, jika Sena sedang bersama Naura, mengamati sesajian yang diletakkan oleh para pencari wangsit.
Lalu siapa tadi yang memberikannya minum? Sesaat botol air mineral yang dipegangnya berubah menjadi sebuah kendi yang terbuat dari tanah lempung, dan hal itu membuat Nathan tersentak kaget.
Tanpa sengaja menjatuhkan benda tersebut le lantai goa, suaranya berdenting, pecahan kendi berserakan, tetapi tak satupun dari warga yang peduli.
Sesaat Nathan merasa pusing dibagian kepalanya. Ia memegang kepalanya, dan terasa berdenyut, hingha dalam samar ia melihat ada banyak makhluk menyeramkan didalam goa.
Entah bagaimana caranya ia dapat melihat makhluk astral, semua begitu tiba-tiba, sejak ia meminum air dalam kendi.
Jantungnya berdegub kencang. Ia melihat setiap petapa didampingi oleh makhluk mengerikan. Dari Siluman Ular, Siluman Kerbau, bahkan Siluman Kera, dan setiap makhluk mengerikan itu akan menjadi pendamping bagi para petapa yang sudah berhasil mencapai tingkat kemurniannya.
Disaat Nathan dalam kebingungannya, Axel justru terlihat berjalan ke ruangan lain. Ia sedang sendirian, sebab Manda yang tadinya ingin digoda, memilih untuk pergi bersama Jhony.
Tanpa sadar, Alessa mengikutinya, dan membuat mereka masuk ke ruangan yang mana baru saja ditinggalkan.
Ada sajian jajanan pasar, dan dupa yang masih masih menyala.
Alessa berjongkok, lalu mengambil sepotong kue yang diletakkan diatas pasar, dan menyantapnya.
Tak hanya itu, Axel juga mengambil sebungkus rokok kretek, dan juga menenggak segelas kopi hitam yang ada ditempat sajian.
"Setan kok dikasih makan, emang mereka bisa apa?" ucap Axel, sembari mengambil batang dupa yang masih menyala, lalu menginjaknya.
"Iya, aneh-aneh saja manusia, buat apaan coba begini?" Alessa mengambil kembali roti terakhir dan mengunyahnya.
Sesaat dinding goa bergetar, namun sejenak, dan saat bersamaan, mereka melihat sebuah benda mirip dengan liontin bermata hitam dan juga kitab berukuran sangat mini dan hanya sebesar kotak korek api.
"Apaan ini?" Axel mengambil kedua benda itu.
kasihan yaa para keluarga nya yg kebingungan mencari keberadaan mereka semuanya 😔
Semoga Naura dan Kael serta Nathan bisa menemukan kitab kuno itu, sehingga mereka bisa bebas dari hutan Alas Purwo.. 🙏