seorang gadis bernama Clarisa Oktaviani harus melahirkan seorang anak karena sebuah insiden yang tidak dia harapkan terjadi kepadanya.
Clarisa terpaksa berhenti kuliah karena memiliki seorang anak di luar nikah dan karena hal itu juga membuat orang tua Clarisa mengusirnya dari rumah dan meninggalkan kehidupan serba berkecukupannya.
mampukah Clarisa Oktaviani menjalani hidupnya bersama anaknya dalam kehidupan yang serba kekurangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balasan Risa
seorang wanita masih menatap tajam Yana mikayla putri yang berdiri dihadapannya.
"kebiasaan burukmu itu tidak berubah Yana bagaimana jika aku melakukan hal sama denganmu." Risa berbicara sambil menyerigai.
"Apa maksudmu?" tanya Yana
"membongkar aibmu seperti yang kau lakukan padaku." sahut Risa datar.
"hahhahahhahha aib kau bilang heiiiiii jalangg aku ini wanita yang sempurna istri seorang CEO terbesar dikota ini tidak memiki aib apapun." Yana berbicara dengan sikap sombongnya.
"kau YAKIN." tanya Risa menekan
"iya coba kau katakan dimana aibku."
"kau Yakin memintaku mengatakannya didepan banyak telinga yang akan mendengarnya."
"Yakin karna aku tak memiliki aib apapun." sahut Yana percaya diri.
Risa berjalan mendekati Yusuf yang berada tidak jauh dari Defvan.
"tuan Defvan yang terhormat berapa usia pernikahan kalian saat ini?" tanya Risa.
"7 tahun." jawab Defvan
"diusia berapa tahun pernikahan anda memiliki seorang putri." Risa kembali bertanya pada Defvan.
"Diusia 7 bulan pernikahanku Yana melahirkan Amira." sahut Defvan.
"apa istri anda melahirkan primatur" risa kembali bertanya.
"iya begitulah."sahut Defvan.
"mas Yusuf sabagai seorang dokter pasti mas taukan bagaimana kundisi bayi yang lahir primatur." tanya Risa.
Ya, bayi yang lahir primatur biasanya berat badannya akan dibawah 2 kg warna kulit kebiruan, dan ia juga tidak bisa beradaptasi dangan suhu ruang hingga ia memerlukan tempat khusus untuk bertahan hidup. jelas Yusuf.
"Tapi Amira tidak seperti itu beratnya bahkan lebih dari 3 kg saat itu kulitnya lakyaknya bayi baru lahir pada umumnya, ia juga tidak memerlukan perawatan dalam tempat khusus." ucap Defvan
wajah Yana sudah berubah menjadi cemas.
"Ada apa Yana? apa kau ingin mengatakan sesuatu ?" tanya Risa yang melihat gelagat aneh Yana.
"apa yang ia katakan itu semua bohong sayang kau jangam percaya dengan omong kosongnya." ucap Yana.
"memang aku mengatakan apa aku hanya bertanya beberapa hal pada suamimu." sahut Risa.
"kau ingin mengatakan Amira bukan anak Defvankan?" tanya Yana.
"uuupppss bukan aku yang mengatakannya tapi kau sendiri." sahut Risa sambil tersenyum.
Defvan menatap tajam Yana.
Yana yang ditatap tajam Defvan menjadi semakin cemas.
"sayang bukankah dokter mengatakan saat itu Amira lahir dengan kundisi normal adalah sebuah keajiban" ucap Yana.
mendengar itu Risa dan Yusuf saling pandang lalu tersenyum.
sedangkan Abi dan Gio menjulurkan lidahnya mengolok Yana.
"heyy lihatlah meraka semua mengolokku." ucap Yana.
"kau menipuku Yana?" tanya Defvan menatap dengan mata elangnya.
"lakukan saja tes DNA untuk membuktikannya pak defvan." seorang tamu undangan memberi saran.
"Yana Amira ikutlah denganku." ucap Defvan tegas.
"sayang kita sudah bersama selama 7 tahun aku tidak mongkin menipumu percayalah." Yana mencoba membila diri.
"Yana apa kau tidak dengar aku mengajakmu ikut denganku pulang sekarang." Defvan berbicara dengan nada tinggi.
"jika kau tidak mau tidak masalah Amira ikutlah denganku." ucap Defvan.
Amira yang melihat Defvan marah tidak berani mendekat.
Defvan dengan cepat menarik Amira mengajaknya pulang
"tuan Defvan berhentilah lepaskan tangan anak itu kau tidak mendengar dia kesakitan." ucap Risa.
"jika kau marah pada seseorang jangan kau lampiaskan amarahmu pada anakmu dia tidak mengerti apapun." jelas Risa
"Istiriku benar pak Defvan anak anda itu masih dalam massa perkembangan jadi jagalah dengan baik." ucap Yusuf.
Defvan segera melepas cekelan tangannya pada Amira.
"maaf Amira ayo kita kerumah sakit nak." ucap Defvan.
Amira masing menanggis ia tidak menjawab ucapan Defvan.
"jagan membuat trauma itu mempengaruhi perkembangannya dikemudian hari." ucap Risa.
"terima kasih yonya Yusuf sampai ketemu dilain waktu." sahut Defvan.
"Defvan tunggu jangan membawanya kerumah sakit aku akan ikut pulang bersamu" ucap Yana cemas
"kau tak perlu takut Yana kita akan menyelesaikan masalah kita setelah hasil tes DNA Amira keluar." sahut Defvan.
"dokter Yusuf saya benar-benar meminta maaf jika acara anda menjadi kacau karna ulah Yana, lanjutkanlah Acara kalian aku akan membawanya pergi." Ucap Defvan.
Yusuf mengangguk sebagai jawban.
"kita tak perlu tes DNA Amira anakmu Defvan," Yana terus saja membujuk Defvan agar mengurungkan niatnya membawa Amira.
Defvan berjalan pergi menuju mobilnya diikuti oleh Yana dibelakangnya.
"memelukan berani sekali dia menipu Defvan." ucap seorang wanita muda.
bahkan ada yang melempari Yana dengan tisu bekas saat Yana bejalan dibelakang Defvan.
"baiklah semua sudah berlalu kami mohon maaf sebesar-besarnya pada tamu undangan atas ketidak nyamanan yang telah kalian semua rasakan." Ucap Mc acara.
"silahkan duduk di kursi masing-masing dan silahkan nikmani hidangan yang kami sediakan, jika ada yang ingin memberi selemat kepada mempelai kami persilahkan" ucap Mc kembali berbicara.
"apa ada yang ingim menyumbangkan suara emasnya?" tanya Mc
"Abi mau." ucap Abi antusias.
"Abi kah ingin menyanyi nak?" tanya Mc memastikan
"iya" sahut Abi.
"Baiklah ini." ucap Mc memberikan sebuah mic pada Abi.
Abi mendekati pemain piano lalu berbisik sesuatu.
tak lama sebuah lantunan sholawat merdu terdengar diacara resepsi.
"Abi." ucap Yusuf dan Risa bersamaan.
Abi tersenyum melihat sang bunda sambil terus melantunkan sholawat dari bibir mungilnya.
sepasang muda mudi berbeda usia terliahat sedang berada tengah-tengah pesta.
"Vania sayang jika kamu ingin mengucapkan selamat pada mempelai pergilah aku akan menunggumu dimobil." ucap Hermawan.
"kenapa mas tak mau ikut memberi selamat pada dokter Yusuf serta istrinya." tanya Vania.
"aku tidak kenal mereka pergilah sendiri." ucap Hermawan ketus.
"baiklah aku akan pergi sendiri." sahut Vania.
Hermawan berjalan keluar dari Acara tanpa segaja matanya bertemu dengan mata Gio yang sejak tadi memperhatikannya.
"bocah ingosan." gumam Hermawan
Ia segera mempercepat jalannya keluar dari acara resepsi.
"sepertinya dia tak ingin bertemu denganku baiklah, akan ku cari tau siapa wanita yang bersammamu itu." ucap Gio berbicra sendiri.
sesampainya dimobil hermawan bernapas lega karna Gio tak mengejarnya.
"bodoh seharusnya aku melihat dulu undangannya sebelum menerima ajakan Vania ke resepsi pernikahan" Hermawan berbicara merontuki kebodohannya itu.
semantara Gio berjalan mendekati Vania yang telah selesai mengucapkan selamat pada kedua mempelai.
Gio segaja menambrak sedikit bahu kiri Vania.
"maaf nona aku tidak segaja." ucap Gio.
Vinia memandangkan Gio kesal sambil berbicara, "jika berjalan lihatkan kedepan."
"sekali lagi aku minta maaf nona aku benar-benar tidak segaja sahut Gio." dengan raut wajah menyesal.
"hmmmmm." ucap Viania
"sebagai permintaan maafku aku akan antar kamu pulang." sahut Gio
"tidak perlu suamiku sudah menunggu dimobil." jawab Vania.
"suami oh jadi kamu bersama suami kesini?" tanya Gio.
"Ya dia menungguku dimobil permisi." sahut Vania bergegas pergi maninggalkan Gio.
"apa benar laki-laki yang disebutnya suami oleh wanita itu adalah ayah dia menikah lagi?" tanya Gio pada diri sendiri.
Risa dan Gio Adiknya Risa... Karena Sudah 7tahun berpisah dengan Risa.
.
sementara Ayah biologisnya Abimanyu..
keberadaanya Masih ngga jelas... beda dengan cerita yang lain biasanya Mereka cepat Dipertemukan... Dengan Abimanyu atau Risa.... Kalo soal Hermawan aku nggak peduli....
utk penulisan kata² asing lebih baik lihat kamus dulu