NovelToon NovelToon
NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama
Popularitas:509k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Nu Yayan

"Ningrat?? kok miskin?"

Pertanyaan itu sudah sering dilontarkan orang- orang pada Ning, saat mereka tahu nama asli Ning . Akan tetapi karena keadaan nya yang tak sesuai dengan namanya, seringkali menjadikan namanya sebagai ejekan baginya.


Tak hanya itu, bahkan ia memiliki kebiasaan aneh yang lain dari yang lain.

Akankah Ning bertemu dengan kebahagiaannya dibawah bayang- bayang cemoohan orang?



Ning juga dihadapkan pada dua pilihan tersulit dalam hidupnya.

"Yang satu ku sayangi, yang satu kucintai ...."

Pada siapakah hati dan hidupnya akan ia serahkan ...?

Nantikan kisahnya dalam NINGRAT Antara Dia dan Duda ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Nu Yayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dasar Sinting!!!!

Ting ting

Suara ponsel berbunyi yang menandakan ada sebuah pesan masuk.

Riko, asisten pribadinya Athar yang masih stay di depan pintu luar unit apartment Athar segera membuka pesan dari bos nya.

Pak Daniel

“Nyalakan lagi sikring nya!”

Riko

“Siap Bos ….”

Riko membalas pesan dari Athar sembari cekikikan, padahal ingin rasanya ia tertawa terbahak- bahak menertawakan kelakuan konyol bos nya itu. Namun jika Athar mendengarnya, tentu akan membuatnya murka pada Riko. Ia lalu menyalakan kembali sikring lampu apartment Athar.

“Riko, ngapain kamu senyam- senyum sendiri di sini?” terdengar suara yang mengejutkan Riko, karena ia kenal betul dengan suara tersebut.

Seketika Riko langsung menghentikan tawanya, dan berbalik.

“Nyo nyonya besar ….” Ucapnya terbata- bata dengan raut wajah terkejut melihat keberadaan Nyonya besar yang ditemani perawat pribadinya tiba- tiba muncul.

“Mampuus … Pak Daniel bisa kena masalah besar ini ….” gumamnya dalam hati mengkhawatirkan bos nya.

“Dimana bos mu?” tanya Nyonya besar dengan tatapan tajam.

“Pak Daniel?” Riko yang gugup malah balik bertanya.

“Memangnya siapa lagi?” ucapnya ketus, kemudian ia melangkah mendekati pintu diikuti sang perawat dibelakangnya.

“Tunggu Nyonya besar … anda tidak boleh____”

Ceklek …

Riko terlambat mencegah, karena Nyonya besar sudah membuka pintu karena beliau mengetahui password keypad pintu apartment Athar.

Nyonya besar pun masuk bersama perawat pribadinya. Dan Riko bergegas mengikuti dari belakang.

Betapa terkejutnya beliau mendapati putranya sedang berpelukan dengan seorang wanita.

“DANIEL ATHAR SAHULEKHA … Apa yang sedang kalian lakukan??” teriak Nyonya besar sembari bekecak pinggang.

Hal itu mengejutkan Athar dan Ning yang sedang berpelukan. Keduanya segera melepaskan diri dan berbalik menghadap ke arah Nyonya besar.

“Mami …”

“Nyonya besar ….”

Ucap Ning dan Athar bersamaan dengan raut wajah shock. Nyoya besar pun sama terkejutnya saat melihat wajah wanita yang dikenalinya. Ia melangkah mendekat pada kedua orang tersebut.

Plak

Satu tamparan keras dilayangkan Nyonya besar dengan raut wajah murka.

Athar yang terkejut dengan ulah ibunya, mengusap pipi kanannya yang terasa panas.

Sementara Ning yang memejamkan matanya saat melihat nyonya besar mengangkat tangannya, membuka matanya seketika kemudian membekap mulutnya yang ternganga. Ia sempat mengira jika dirinyalah yang akan di tampar, namun tak disangka ternyata Nyonya besar malah menampar putranya sendiri.

“Mami menamparku??” Athar masih terkejut dan tak menyangka dengan apa yang baru saja dialaminya.

“Kamu benar- benar keterlaluan!! Mami susah- susah mencarikan wanita baik- baik dan terhormat untuk dijadikan istri mu, kau malah berhubungan dengan pelayan rendahan ini!!” bentaknya kesal sembari melirik Ning.

Nyonya besar beralih menatap tajam pada Ning.

“Dan kau … dasar pelayan tidak tahu diri … pura pura pergi dari rumah ku … Ternyata malah datang tempat tinggal putra ku untuk merayu dan menggodanya … dasar wanita mudahan!!” bentaknya lalu kembali mengangkat tangan, Namun Athar segera mencegahnya dengan menahan tangan ibunya.

“Mami !!!”

Nyonya besar menarik tangannya dengan kasar. Ia menunjuk wajah Athar.

“Kau … Kau lebih memilih membela pelayan rendahan ini!!” bentaknya semakin kesal.

“Mami … Ning bukan wanita seperti itu … Dia ini wanita baik- baik ….” ucap Athar yang tak terima mendengar Ning dihina oleh ibunya.

“Oh ya .. wanita baik- baik kata mu??”

Beliau mengambil ponsel dari dalam tasnya dan memperlihatkan laya ponselnya pada Athar

“Lalu apa ini hah? Memalukan berciuman di depan umum!!”

Athar dan Ning yang melihat foto tersebut sama- sama terkejut.

“Mampoos .. kenapa bisa ada yang mengambil foto saat insiden itu … habislah aku habis ….” Jerit Ning dalam hati.

“Mami dapat foto itu dari mana?” tanya Athar heran.

“Dari Falesha yang kebetulan sedang belanja di mall … Kau bahkan membawa anak pembawa sial itu … Mami sudah memperingatkan mu berkali- kali untuk menjauhi anak itu … Kau itu sudah hampir kepala empat, tapi kelakuannya lebih mirip anak ingusan!!!”

“Oh baguslah … dengan begitu Falesha tidak akan mendekati ku lagi ….” ucap Athar tersenyum sinis.

“Falesha itu seribu kali lebih baik dari pelayan rendahan ini ….” Nyonya besar mendelik tajam pada Ning.

“Cukup Mami … Jangan menghina Ning lagi!!” Athar kali ini mulai kesal.

“Oh, sekarang kau sudah berani membentak Mami hanya gara- gara pelayan rendahan ini!!”

“Bukan kah Mami sendiri yang memintaku untuk segera menikah? Dan aku akan menikah dengannya,” ucap Athar sembari menggenggam lembut tangan Ning dan menatap matanya .

“Apa? Bukanya kamu bilang kalau kalian hanya pura- pura pacaran di depan Falesha saja?” Nyonya besar terkejut dengan pengakuan Athar.

“Iya .. dulu memang kami pura- pura pacaran … Tapi setelah Ning pergi, aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupku … Makanya aku terus mencari keberadaannya … Dan sekarang kami sudah benar- benar pacaran ….” ucap Athar meyakinkan ibunya.

“Astaga … Apa – apaan ini si kudanil pakai mengarang bebas segala … Bagaimana ini? Tamatlah riwayat ku ….” Ning kembali menjerit dalam hati. Ia merasa semakin takut berada di tengah perdebatan ibu dan anak itu.

“Sampai kapan pun Mami tidak akan pernah merestui hubungan kalian!!” bentaknya menolak keras.

“Terserah … Kami saling mencintai dan tak akan ada yang bisa memisahkan kami … Iya kan sayang?” ucapnya dengan yakin menoleh ke arah Ning dan tersenyum lebar padanya.

“It itu tidak benar nyonya besar ….” Ning menyanggah pengakuan Athar.

“Hei sayang ,, kamu tidak usah takut dengan Mami ku … Beliau pasti akan menerima mu sebagai menantunya….” Athar masih berusaha membuat ibunya yakin akan hubungan mereka. Ia merangkul bahu Ning dan memeluknya dari samping.

“Jangan harap Mami akan menerima hubungan kalian!!” Nyonya besar tetap menolak.

“Terserah Mami … tapi kami harus tetap menikah … karena aku harus bertanggung jawab ….” Athar tak kehabisan akal.

“Apa?” ucap Ning dan Nyonya besar bersamaan.

“Apa maksudmu Athar?” Nyonya besar kembali terkejut.

“Ya seperti yang mami lihat kami berduaan di apartment ini … Mami tahu kalau laki- laki dan perempuan berada dalam satu kamar ngapain aja?” ucap Athar dengan entengnya.

“Daniiiiiiiel!!!” teriak Nyonya besar kemudian kembali mengangkat tangan kanannya.

Bruuuk

Tiba tiba Ning pingsan tergeletak tak sadarkan diri.

“Ning!!” Teriak Athar menoleh ke arah Ning yang tergeletak di lantai. Ia berjongkok dan segera mengangkat Ning, lalu membawanya ke kamar tanpa menghiraukan ibunya yang masih shock dan semakin murka.

Athar membaringkan Ning di atas tempat tidurnya. Dan ternyata nyonya besar bersama perawat pribadinya pun masuk ke kamar Athar.

Sementara Riko yang juga shock, hanya berdiam diri di ruang tamu. Nampaknya ia tak mau ikut campur urusan pribadi Athar dan lebih memilih menunggu bos nya memberi perintah.

“Ning… Ning… bangun” Athar menepuk-nepuk pipi Ning mencoba membangunkannya, namun itu tak membuat Ning sadar. Hingga Athar mencobanya berulang kali pun, Ning tetap tak sadarkan diri.

“Periksa keadaannya!!” titah nyonya besar pada perawatnya.

“Baik, Nyonya ….” Angguk perawat itu, dengan segera ia menghampiri Ning yang ditemani Athar di atas tempat tidur.

“Permisi Tuan Athar, saya mohon izin memeriksa keadaan Nona ….”

“Periksa saja, saya akan tetap di sini menemani nya ….” Athar enggan menjauh dari Ning.

“Athar, biarkan suster memeriksa keadaan pelayan itu … Ikut Mami keluar … Kita perlu bicara ….”

“Nanti setelah Ning diperiksa….” tolak Athar.

“Sekarang!!!” bentak Nyonya besar tegas.

Athar mendengus kesal. “Iya ….” Athar pun bangkit.

“Pastikan keadaanya baik- baik saja … temani dia disini sampai urusan saya dan mami selesai ….” ucapnya pada si perawat.

“Baik, Tuan ….”

Athar beranjak pergi untuk memenuhi titah ibunya yang sudah lebih dulu duduk di ruang tamu bersama Riko yang berdiri di belakang sofa tempat nyonya besar duduk.

“Ada apa lagi sih, Mami ….” Ucap Athar jengah, ia pun duduk di sofa yang berhadapan dengan nyonya besar dan terhalang oleh meja saja.

“Jangan sampai kalau hasil pemeriksaan suster mengatakan kalau pelayan itu hamil.... " ucap nyonya besar dengan tatapan tajam..

“Mami itu bicara apa sih? Aku kan sudah bilang kalau Ning bukan wanita seperti itu!!”

“Tadi kau sendiri yang bilang kalau kau harus bertanggung jawab dan menikahinya?”

“Hahahaha … ya ampun Mami, aku hanya bercanda … Aku baru membawanya ke sini tadi siang karena dia pingsan saat di mall … Ayolah Mami, aku bukan laki- laki yang suka menghabiskan malam dengan seorang wanita, apalagi yang belum aku nikahi ….”

“Lalu kenapa dia pingsan begitu?”

“Dia itu sepertinya masih lelah, di tambah tadi shock melihat mami marah- marah….” Ucapnya terkekeh.

“Berarti soal pacaran dengannya pun kau bergurau juga?” nyonya besar menyimpulkan.

“Kalau itu beneran ….” ucap Athar dengan yakin.

“Jangan bohong kamu!!”

“Mami tanya aja sendiri sama orangnya ….”

“Jangan harap mami akan merestui hubungan kalian!!”

“Mami ini gimana sih … Tiap hari selalu meminta ku agar segera memiliki pasangan … Giliran sekarang aku sudah punya pasangan, Mami malah tidak mau merestui, aneh….”

“Iya, tapi bukan dengan pelayan itu … Mami akan kenalkan kamu dengan gadis terhormat anak dari teman- teman mami ….”

“Terserah Mami … aku cinta nya cuma sama dia dan hanya akan menikah dengannya … Jadi jangan harap Mami bisa menjodoh- jodohkan ku dengan anak teman- teman Mami yang manja, kecentilan yang hobinya menghambur- hamburkan uang saja ….”

“Athar!!” bentak nyonya besar.

“Cukup Mami … Aku tidak mau berdebat lagi. Dan keputusan ku sudah bulat … Aku hanya akan bersama Ning, gadis yang aku cintai, titik ….” ucap Athar dengan tegas.

“Tapi___”

“Mami harus belajar menerima Ning … Dia gadis baik- baik, mandiri, pekerja keras dan tidak materialistis seperti anak teman- teman mami itu … Dan Mami harus ingat, Diandra saja bisa pergi untuk memperjuangkan cintanya, apalagi aku yang seorang laki- laki ….” Ucap Athar mengakhiri percakapan mereka. Ia pun beranjak pergi meninggalkan maminya yang nampak tertegun. Ia lalu kembali masuk ke kamarnya untuk melihat keadaan Ning.

Sementara nyonya besar tiba- tiba terdiam nampak merenungkan ucapan terakhir Athar yang mengingatkannya pada mendiang putrinya. Keangkuhannya pun seolah luruh, karena teringat akan kesalahannya di masa lalu. Ia mengusap dadanya yang mulai terasa sesak.

“Syukurlah kau sudah sadar ….” Ucap Athar yang baru masuk dan melihat Ning tengah duduk di atas tempat tidur dengan setengah tubuhnya masih diselimuti. Namun Ning yang masih sangat kesal dan marah, saat melihat kedatangan Athar langsung memalingkan wajah.

Athar menghampiri Ning yang masih di temani perawat pribadi nyonya besar.

“Kau boleh keluar … temani mami di ruang tamu ….” Ucapnya pada sang perawat.

“Baik, Tuan ….” Perawat itu pun beranjak pergi keluar kamar.

“Baru sadar langsung ngambek … Aku bisa membuat mu pingsan lagi, loh ….” Sindir Athar sembari berpangku tangan.

“Aku bahkan bisa membunuh mu!!” umpat Ning kesal tanpa menoleh.

“Woahh … aku mau sekali dibunuh oleh mu … Supaya setiap waktu arwah ku bisa bergentayangan dan selalu berada di dekat mu terus ….” Athar malah menggoda Ning.

“Cih ….” Ning berdecih sebal.

“Ayolah, jangan seperti ini … apa kau lupa jika kita pernah membuat sebuah perjanjian dan kita sudah deal, loh ….”

Ning menoleh dan menatap kesal pada Athar. “ hei, apa kau juga lupa jika aku sudah membatalkannya ….”

“Eits, no no no ….” Athar menggoyang- goyangkan jari telunjuknya di depan Ning.

“Tapi aku belum menyetujui pembatalannya, jadi itu tidak sah ….”

“Apa kau bilang?!” Ning semakin kesal.

“Iya … Jadi perjajiannya belum batal ….”

“Tapi___”

“Aku tidak mau tahu … mulai sekarang di depan keluarga ku atau pun semua orang, kau adalah pacar ku ….”

“Aku tidak mau … apa- apaan itu? tba- tiba aku harus menjadi pacar mu … L ebih baik aku pergi ….” Ning membuka selimutnya dengan kasar dan bangkit dari tempat tidur.

“Baiklah … pergi saja ….” Ucap Athar tak melarang.

Ning melangkah dan melewati Athar begitu saja. Ia lalu mengambil tasnya yang berada di atas sofa. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar nampak masih mencari sesuatu.

Athar pun berbalik dan melihat Ning yang terlihat kebingungan.

“Kanapa? Apa kau lupa letak pintu keluar? Bisa- bisa kau malah masuk ke kamar mandi,” ucapnya terkekeh.

Ning mendelik tajam. “Dimnan tas pakaian ku?” tanyanya ketus.

“Dimana ya???” goda Athar terkekeh.

“Ck ….” Ning kembali melangkah untuk keluar dari kamar itu.

“Mau kemana? Kalau mau pergi, lihat dulu isi tas mu ….” Ucapnya lalu duduk di sofa.

Ning pun berhenti di depan pintu. Ia segera memerksa isi tas nya. Betapa terkejutnya karena ia hanya mendapati bedak dan lisitknya saja. Ning berbalik dan kembali menghampiri Athar.

“Dimana dompet dan ponselku?” tanya Ning kesal.

“Di brankas ku ….”

“Kau!!!” Ning menunjuk wajah Athar.

“Sekarang kau sudah tak punya uang sepeser pun dan ponsel pun tak punya … Yakin masih mau pergi???”

“Apa kau lupa. Jika sebelumnya aku masih bisa hidup tanpa memiliki uang sepeser pun!!”

“Iya, tapi kan kau menjual ponsel mu … lalu sekarang mau jual apa?” ejek Athar.

“Kau … benar- benar menyebalkan!! Aku akan tetap pergi!!”

“Pergi saja … Nanti juga anak buahku akan mengikuti kemana pun kau pergi….”

“Ihhhh … kau itu benar- benar menyebalkan ….” Ning menghentakkan kakinya.

“Sudahlah … akan lebih baik jika kau mau bekerja sama dengan ku, pura- pura menjadi pacar ku … Dan nanti bayaran kerja samanya kan bisa kau gunakan untuk menebus rumah orang tua mu … Bayarannya masih tetap sama dengan yang dulu ku tawarkan loh … Bagaimana?”

Ning terdiam sejenak, ia memikirkan penawaran Athar yang begitu menggiurkan.

“Benar juga sih, dengan uang seratus juta aku bisa menebus rumah bapak ….”gumam Ning dalam hati.

“Tapi setelah kerja sama selesai, Tuan Om tidak akan mengganggu ku lagi kan?” Ning sepertinya sudah tidak marah lagi.

“Tentu saja … Kita tidak akan ada urusan lagi setelah ini.”

“Baiklah, aku bersedia jadi pacar pura- pura nya tuan om ….”

“Deal ….” Athar mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman tanda sepakat. Ning pun menerima uluran tangannya dan bersalaman dengan Athar.

“Deal ….”

“Mulai sekarang jangan emanggil ku tuan om lagi ….” ucap Athar.

“Terus manggil apa?” tanya Ning heran.

“Panggilan kesayangan lah, layaknya sepasang kekasih … Mas, Abang, sayang, ayang, bebs …”

“Baiklah, ayang om ….” ucap Ning lalu bergidik.

“Jangan pakai embel- embel om ….”

“Cih, tidak sadar umur ….”

“Aku ini masih muda, bukan om om ….”

“Memangnya aku ini tuli apa? Tadi kan nyonya besar bilang umur tuan om itu hampir kepala empat … berarti jauh lebih tua dari ku ….”

“Perlu digaris bawahi HAMPIR KEPALA EMPAT … Bukan berarti umur ku 39 tahun ….”

“Terus berapa dong umurnya?”

“33 ….” jawab Athar.

“Hahahahaha ….”

“Kenapa kau tertawa?”

“Tentu saja aku pantasnya memanggil om, karena umurku setengah dari umur tuan om ….”

“Apa? Tidak mungkin … wajah mu itu menunjukan kau sudah berumur 25 tahunan ….”

“Hei jangan sembarangan memfitnah ya … Umur ku baru 18 taun, dan aku baru lulus sekolah pertengahan tahun ini,”

“Tidak mungkin ….” Athar tak percaya.

“Yasudah kalau tidak percaya ….”

“Baklah, terserah ….” Athar berdiri dan mendekat pada Ning. “Ayok kita keluar menemui mami … Perlihatkan padanya kalau kita ini benar- benar pacaran ….”

“Iya.”

Keduanya pun keluar dari kamar bersamaan. Mereka menghampiri nyonya besar yang sedang dipijat kepalanya oleh perawat pribadinya.

“Mami ….” Sapa Athar.

“Jangan bicara lagi!! Kepala mami masih pusing ….”

“Baiklah ….”

“Antarkan pacar mu itu pulang … Jangan mengajaknya menginap di sini … Mami tidak mau punya cucu hasil hubungan terlarang di luar nikah ….”

“Apa aku tdak salah dengar? Itu artinya mami bersedia menerima hunbungan kami?”

“Ya … sudah sana antarkan dia pulang!! Mami tidak mau berdebat dengan mu lagi….”

“Baiklah ….”

“Tunggu!!” cegah nyonya besar.

“Ada apalagi, Mi?”

“Kamu ….” Tunjuknya pada Ning. “Jangan pernah mengecewakan atau menyakiti putraku … Kalu tidak, kau akan tahu akibatnya ….”

“Iy iya Nyonya ….”jawab Ning terbata-bata.

“Suster … lanjutkan pijatannya ….”

“Kami pergi dulu Mi … Kalau Mami membutuhkan sesuatu, Riko akan tetap berada di sini ….”

“Hmmm ….”

Athar kembali ke kamarnya untuk membawa tas pakaian Ning beserta kunci mobilnya. Ia lalu keluar bersama Ning meninggalkan apartment nya. Keduanya berjalan menu lift untuk turun ke besmen parkiran mobil.

“Tuan Om ….” ucap Ning yang baru saja menaiki mobil bersama Athar.

“Hmmm ….”

“Kok dari tadi diam saja? Kenapa?” tanya Ning heran.

“Gak apa-apa ….” Athar pun menyalakan mesin mobilnya. Ia lalu malajukan mobilnya untuk keluar dari parkiran.

“Kita mau kemana?” tanya Ning setelah mobil Athat melaju di jalan raya.

“Kita akan pergi makan malam … Setelah itu aku akan mengantarkan mu ke hotel.”

“Kenapa ke hotel? Jangan bilang Tuan Om akan macam- macam dengan ku?”

“Kau itu terlalu percaya diri … Memangnya kau mau pulang kemana? Rumah juga sudah tidakpunya ….”

“Gak usah diperjelas gitu juga kali … Aku gak mau nginap di hotel ….”

“Terus mau kemana?” tanya Athar.

“Emmm … aku nginap di rumah Bu Asri saja ….”

“Apa? Yang benar saja? Disana itu hanya ada Nana dan Singgih … Kau itu, tidur di apartment gak mau, gilian di rumah Bu Asri yang ada Singgih nya mau ….” cerocos Athar.

“Bukannya Tuan Om bilang kalau aku ini pengasuhnya Nana … Berarti aku harus menjaganya kan?”

“Alasan saja kau itu … Apa jangan- jangan … Kau itu suka ya sama si Singgih sialah itu?”

“Tuan Om ngomong apa sih?”

“Ngaku aja kamu … pasti naksir ya sama Singgih?”

“Enggak …” sanggah Ning.

“Terus kenapa kekeuh ingin nginap di rumah Bu Asri?”

“Kan tadi aku sudah bilang, kalau aku ini pengasuhnya Nana jadi harus menjaganya, kan?”

“Memangnya Nana bisa masak sendiri, makan sendiri, mandi sendiri hah? Bu Asri dan MbaK Kinan kan masih di rumah sakit?”

“Benar juga apa yang dia katakan,” gumam Athar dalam hati.

“Baiklah, aku akan mengantarkan mu ke rumah Bu Asri … Tapi ingat, jangan dekt- dekat dengan Singgih atau kecentilan padanya ….”

“Ih .. apa urusanya dengan Tuan Om … Terserah aku dong mau dekat dengan siapa saja ….”

“Apa kau lupa dengan perjanjian kita … Kalau sekarang kita ini pacaran ….” Athar mengingatkan.

“Iya, tapi hanya pacar pura- pura … Jangan lupa itu ….”

“Pokoknya aku tidak mau tahu … selama kita jadi pacar pura- pura, kamu jangan dekat dengan lelaki mana pun!!!”

“Gak bisa gitu dong….” Ning tak terima.

“Apa kau tidak dengar tadi kata Mami apa? Jangan membuat ku kecewa … Mami itu pasti akan mengawasi kita dan tidak semudah itu percaya kalau kita pacaran … Jadi jangan sampai kau dekat dengan laki- laki lain, jangan jalan dengan laki-dan laki lain, apalagi berhubungan dengan laki laki lain, mengerti ….”

“Iya!!”

“Dasar sinting … jadi pacar pura- pura aja banyak ngekang , apalagi jadi pacar beneran … amit- amit … amit- amit gue musti pacaran sama kudanil sinting ini….” gerutu Ning dalam hati sembari mendelik tajam pada Athar.

"Jangan memgataiku dalam hati mu!!" ucap Athar seolah menyindir.

"Eng enggak, kok... " sanggah Ning gelagapan.

"Darimana dia tahu... apa dia punya indra keenam... " gumam Ning dalam hati.

----- TBC ------

happy reading...

monmaaf baru up lagi... eceu lagi disuruh bedrest sama om doktel .... 🙏🙏🙏

tilimikicih selalu menantikan kisah Ning nong ,....

aylapyu all...😘😘😘

1
Chintya
1 tahun lebih gada kelanjutanya sayg bgt
Chintya
kpn endingnya
ziya
udah 2024 Thor
N_ariya
galau" tuh si ning
anjurna
Ketawa
N_ariya
Mimi peri pake baju daun kelapa,,,,,😂😂😂
Sebastian Clements
lanjut thor
Sebastian Clements
Lanjut thor
Sebastian Clements
lanjut thor
Asngadah Baruharjo
patah hati Ning 😀
Asngadah Baruharjo
om tamvan 🤣🤣🤣
Asngadah Baruharjo
hadeehhhhhhh,bikin sakit perut 🤣🤣🤣
Asngadah Baruharjo
ngakak paraahhh
Asngadah Baruharjo
asyiiikk asyik
Asngadah Baruharjo
sakit perut kebanyakan ngakak
Asngadah Baruharjo
ningrat kok miskin wa ha ha 🤣🤣🤣🤣, ngakak paraahhh 😀
Asngadah Baruharjo
Ning sabar ya
Asngadah Baruharjo
aduh Ning Ning
Asngadah Baruharjo
semangat thoorrr 🌹🌹🌹
Asngadah Baruharjo
hoalah Ning Ning apes temen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!