Alsa, gadis introvert yang menyukai sosok Ken secara diam-diam, baginya Ken adalah lelaki yang begitu baik karena hanya dia lah yang mau menjadi teman Alsa. Kebaikan Ken disalah artika oleh Alsa, hingga sebuah kenyataan pahit terpampang di depan matanya. Ken menjalin kasih dengan gadis lain.
Di tengah keterpurukannya atas cinta pertama yang berakhir tragis, sosok Davin selalu hadir dengan kasih sayang yang begitu besar padanya. Hingga Alsa terlena dan mengerti arti mencintai yang sesungguhnya.
Davin, seorang pria yang menjadi suami dari mendiang Kakak perempuannya kini menjadi alasan Alsa untuk tetap bertahan meski berbagai cobaan berat ia lalui.
Akankah semuanya berakhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
.
.
.
.
.
Davin memukul stir kemudi penuh emosi, dadanya kian gemuruh akan amarah yang terpendam. Ia terus saja mengumpat pada jalanan hutan yang semakin sulit di lalui.
Jalanan itu cukup lebar, namun banyak bebatuan yang menonjol pada permukaan tanah juga jalan yang bergelombang menghambat perjalanannya. Ia sudah tak tahan lagi sekarang, apalagi sinyal GPS dari ponsel adiknya sudah tak terdeteksi lagi. Kini mobilnya berhenti pada pertigaan jalan.
"Siaaallll!!" teriak Davin ketika sudah berada di luar mobil, ia sungguh bingung sekarang. Kearah mana mereka harus pergi?
Padahal mereka tengah dikejar waktu untuk menyelamatkan hidup Alsa. Davin jatuh terduduk pada tanah berdebu, lelaki itu sudah tak punya tenaga lagi sekarang bahkan hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan Grace.
"Alsa, maafin kakak, Sayang. Kakak gak becus jaga kamu, hiks ... hiks ... ALSAA!!!!" teriak Davin di akhir kalimat dan di tengah isakan kecilnya. Grace menghampiri Davin, memeluk pria itu berharap bisa menenangkan sang kakak.
"Abang harus kuat! Kita udah sejauh ini buat nyari Alsa, jangan nyerah, Bang! Dia pasti nungguin Abang sekarang." Grace juga terisak di pelukan Davin, gadis itu bisa menguatkan kakaknya, namun ia tak bisa menguatkan dirinya sendiri yang kini sudah hampir putus asa.
Gerry hanya diam mematung, sedari tadi ponselnya berdering lebih dari seratus kali panggilan dari mama dan papanya, namun ia tak berani menjawab panggilan mereka. Pria itu tak tahu harus berkata apa pada orang tuanya jika memang tak berhasil membawa Alsa pulang.
Sudah dipastikan bahwa Vani akan sangat terpukul dan bersedih, mengingat gadis itu adalah anak kesayangan orangtua Gerry.
****
15 menit kemudian...
"Tolong ... tolong ..."
Mereka bertiga mendongak dan mencari sumber suara, sayup-sayup mereka mendengar suara minta tolong dari arah hutan.
Segera Davin, Grace, juga Gerry mengikuti arah suara itu berasal. Dan benar saja, dari dalam hutan tampak dua orang remaja yang tengah berlari sesekali berhenti mengatur nafas.
Grace melambaikan tangan dan memanggil mereka, dengan cepat kedua remaja itu menghampiri ketiganya.
"Lho, Kak Davin? Kakaknya Alsa, kan?" tanya gadis berjaket merah maroon itu. Mendengar nama Alsa disebut, Davin langsung menghampiri keduanya.
"Kalian teman adik saya, kan? Damar dan kamu, Luna?" tanya Davin memastikan, mereka mengangguk kompak dengan cepat.
"Kak, tolongin Alsa sekarang. Dia gak punya waktu banyak!" ucap Damar dengan nafas yang masih tersengal. Davin langsung memegang pundaknya.
"Apa maksud kamu? Apa yang terjadi dengan adik saya?" tanya Davin bertubi, seakan tak mengijinkan Damar mengambil napas.
"Ken mau memperkosa Alsa di rumah tua dekat hutan." Luna menjawab dalam satu tarikan napas.
Gerry merasa sebuah palu besar menghantam dadanya hingga lelaki itu bersandar lemas di pintu mobil, Grace menutup mulutnya dengan satu telapak tangan serta air mata yang terus mengalir. Sedangkan Davin, entahlah apa yang ia rasakan saat ini, yang jelas lelaki itu tampak kosong dan pucat.
Dengan segera Davin membuka pintu mobil dan mendorong semua orang agar segera masuk ke dalam. Ia tak punya banyak waktu untuk berpikir dan meratap penuh sesal, yang ada dipikirannya hanyalah cara agar adik yang selalu ia jaga sejak kecil selamat.
"Tuhan ... tolong lindungi Alsa-ku, aku sangat mencintainya." Davin terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli dengan kondisi jalan yang tak memungkinkan sekalipun.
Bayangan masa kecil dan kebersamaan mereka selama ini menambah goresan luka sayat pada hati Davin. Ia menyesal telah mengabaikan Alsa dan mementingkan orang lain, apalagi jika terjadi sesuatu pada Alsa. Mungkin dunia lelaki itu seakan runtuh tak bersisa.
*****
Mereka sampai disebuah rumah besar yang berada sedikit masuk ke hutan, tampak dua pohon raksasa yang ada di depan rumah hingga akar besar pohon itu merambat pada dinding rumah bergaya belanda kuno tersebut.
Tampak juga beberapa makam tua di samping kanan rumah, suasana seram dan memcekam mereka rasakan pada hari yang senja dengan kabut yang mulai turun.
Davin memarkir mobilnya tepat di pelataran depan rumah, segera ia membuka pintu mobil dan berlari memasuki rumah di susul yang lainnya.
Luna menunjuk satu pintu di lantai dua pada Davin, dengan nafas memburu serta dada yang bergemuruh amarah. Lelaki itu melangkah mendekati pintu kayu yang cat-nya telah mengelupas.
"Hiks ... to-long ... hiks ... ampun ...Kak." Davin membeku di depan pintu ketika mendengar isakan juga suara lemah adiknya. Air mata lelaki itu sudah menetes membayangkan kemungkinan buruk yang terjadi, tanpa membuang waktu ia langsung membuka pintu tersebut.
Kedua kaki Davin seakan lemas melihat pemandangan di depannya, dunianya benar-benar runtuh sekarang. Lelaki itu diam membeku di tempatnya, dadanya seakan di remas sakit melihat apa yang tengah terjadi pada adiknya.
Begitu juga dengan keempat orang lainnya, terutama Gerry yang kini wajahnya sudah memerah menahan amarah.
Davin mengepalkan tangannya, ia bersumpah akan menghabisi Kenzo.
"B*******K!"
_______Tbc.
semangat terus untuk novelnya....
terus semangat ya thor ditunggu cerita² selanjutnya 😉💘