Gue Alana Pradipta. Kalau lu liat penampilan , gue yakin lu bakalan berpendapat gue cewek gak bener, preman dan cewek kasar. Gue maklum sih kenapa lu bisa mikir gitu.
Sampe hari gue ketemu malaikat kecil yang gue jamin bikin lu yang sekeras batu karang bisa leleh kayak es krim kepanasan.
Angel minta gue jadi ibu sambungnya.
Yang bikin gue binggung adalah gue sayang sama Angel tapi gak sama bapaknya. Belum lagi sosial ekonomi kita yang nge jomplang banget.
Apa siap Angel punya ibu sambung preman kayak gue gini? Terus pernikahan tanpa cinta sama Pak Ricard gimana? Masa iya ngabisin hidup gue sama orang yang gak gue cinta dan mencintai gue?
cover source : wallbox. ru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Empat
Pagi gue kembali ceria sampe gue melupakan ritual merokok gue. "Appa, ayo bangun." gue memberikan ciuman selamat pagi pada Richard.
"Sebentar lagi, sayang." Richard membalikkan badannya.
"Appa kalau olahraga malam membuat mu lelah, bagaimana kalau olahraga malamnya ditiadakan saja?"
"Apa?! Tidak sayang, aku tidak mau." Richard bangun dan duduk di ranjang dengan bibir cemberut. "Baiklah, aku bangun sekarang." Gue tersenyum berhasil karena berhasil mengerjai Richard.
Suasana sarapan pun kembali ceria seperti biasanya. Jasmin sudah tidak lagi memasak sarapan sejak beberapa hari ini. Entah kenapa gue juga gak tahu dan tidak mau bertanya.
"Sayang, nanti siang datang ke kantor. Kita. akan siang bersama." Gue sedang mengantar Richard dan Angel ke mobil. "Angel biar di rumah uwak dulu, bawa ajak Lilis juga."
"Gak mau. Aku gak mau menodai mataku lagi." gue cemberut mengingat bagaimana kemarin Richard bermesraan.
"Tidak akan, sayang." muach! Richard mencium bibir gue dengan gemas. "Hari ini, kamu yang aku pangku. Bagaimana?" Godanya.
"Appa! Ada Angel." gue dorong Richard agar menjauh.
"Angel, kamu melihat sesuatu?" Richard menoleh pada Angel.
"Tidak appa." Angel berbalik badan.
*****
Gue tiba di sekolah Angel lebih awal dari pada biasanya. Gue mampir ke base camp sebelum Angel keluar kelas.
Ternyata ada Bang Codet di base camp. Entah ini gue datang di waktu yang tepat atau justru di waktu yang salah.
"Wah... nyonya besar dateng." sapa bang Codet sambil menghampiri gue. Di ikuti beberapa anak buahnya.
Ciri - ciri pengecut, sama cewek aja keroyokan.
"Bang, apa kabar?" gue basa basi sambil siaga.
"Ada apa nyonya besar mau main ke gubuk gini?" Bang Codet memandang gue seakan sedang menelanjangi gue. Pengen gue congkel itu mata.
"Gak ada apa - apa bang, cuman mau nyapa anak - anak doang."
"Enak ya lu sekarang, tinggal di gedong, tidur di kasur empuk. Duit lu banyak dong sekarang?"
"Sama aja, bang. Bedanya sekarang gue udah punya suami."
Gue liat Anto udah siaga, sementara Ujang sibuk dengan ponselnya. Mungkin memang sedang minta bantuan. Karena memang kami kalah jumlah. Bang Codet bawa sekitar lima belas orang. Bahkan beberapa sudah mengeluarkan senjata mereka.
"Gak percaya gue. Dandanan lu aja beda. Sini gue liat tas lu." Bang Codet berusaha mengambil tas gue, tapi gue tahan.
"Berani lu sama gue?! Gak liat lu anak buah gue segini banyak? Mau sehebat apa pun lu, tetep aja lu bakalan babak belur keluar dari sini."
Gue lepasin tas gue, bukan karena gue takut. Tapi gue mikir kalau sampe ada perkelahian disini, bakalan panjang urusannya sama polisi dan pasti sekolah akan kena imbasnya.
"Nah... gitu dong. Timbang tas doang. Ini mah uang receh buat lakik lu." Bang Codet memberikan tas gue ke anak buahnya. Tas gue dibongkar. Isi nya dibuang ke lantai.
Beberapa lembar uang yang ada di dompet gue diambil. SIM card gue di keluarkan dari ponsel, sedang ponselnya sendiri dimasukkan ke kantong.
"Berapa pin lu?" Bang Codet mengoyang - goyangkan ATM berwarna emas yang diberikan oleh Richard.
Gue gak jawab.
"Pin lu!!!" Tiba - tiba tangan bang Codet udah ada dileher gue. Cekikannya membuat gue susah bernapas. Gue berusaha melepaskan tangan Bang Codet.
"Wah bagus tu cincin." Bang Codet melihat cincin kawin gue. "Mahal kayaknya." Dia berusaha melepaskan cincin dari jari masih gue.
BRUGH!
Gue tendang perut bang Codet. Gak akan gue biarin dia ngambil cincin ini. Dia bisa ambil apapun yang ada di tas gue, tapi gak cincin ini.
"Bangsa*t!! Tangkep dia!" perintah bang Codet.
Anto menarik seorang yang berusaha mendekati gue dari belakang. Ujang juga mencoba membantu dengan menghadapi dua orang.
Gue menghadapi dua orang. Dua nya berbadan tinggi, lebih tinggi dari gue dan berotot. Gue tebak mereka bukan lawan yang mudah.
Gue menunduk, menghindar dari pukulan salah satu dari mereka. Tangan gue menahan pukulan, sedang kaki gue menendang.
BUG!
Seseorang menendang punggung gue. Membenturkan kepala gue pada lututnya.
PLAK!
Gue menerima tamparan entah dari orang yang mana. Kepala gue masih berputar.
Gue menangkap tangan kekar yang hendak memukul gue, gue tangkap lagi tangan lain nya yang juga akan menyerang gue. Setelah kedua tangan terkunci di ketiak, gue membenturkan kepala gue ke kepalanya. Tapi karena laki - laki itu terlalu tinggi yang kena malah hidungnya. Darah keluar dari hidung laki - laki itu.
Bang Codet maju, mengeluarkan pisau dari belakang tubuhnya.
BRUGH!
Tiba - tiba bang Codet tersungkur ke depan.
"Berani lu nyentuh anak gue! Gue Mati*n lu!" Uwak Madin datang. Gue bisa lega sekarang.
Gak perlu waktu lama, Bang codet dan anak buah nya berhasil di ringkus oleh uwak Madin. Ternyata uwak bawa pasukannya.
"Lapor, kapten Semua sudah diamankan."
"Bawa semua. Saya mau kelompoknya Codet habis sampai akar - akar nya."
"Siap, Kapten!" jawab bawahan uwak Madin.
"Wak, abi minta tolong jemput Angel. Abi gak mau Angel liat abi babak belur gini."
Setelah segala urusan di base camp selesai, gue ke klinik untuk ngobatin luka gue setelah itu ke kantor Richard.
...🌼🌼🌼 Jangan lupa masukin list favorit ya, Like dan komen. Kasi bunga mawar buat Alana, Angel dan Richard gaes🌹🌹🌼🌼🌼...
Kasian Angel pengen ortu yg lengkap..