Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bencana Amnesia
Perlahan, mata itu terbuka. Livia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu ruangan yang menyilaukan. Ia tampak bingung, menatap langit-langit, lalu menoleh perlahan ke arah Ayub yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca penuh cinta.
"Mbak... syukurlah kamu sadar," Ayub mencoba meraih tangan Livia, namun Livia justru menarik tangannya perlahan, sorot matanya penuh dengan ketakutan dan keasingan.
"Siapa... siapa kamu?" tanya Livia. Suaranya sangat lemah, hampir seperti bisikan angin.
Ayub membeku. Senyum yang sempat merekah di wajahnya seketika luntur. "Ini aku, Mbak Liv. Ayub. Kamu tidak ingat? Kita... kita di toko kue, ada kebakaran, dan aku—"
Livia mengerutkan keningnya, tampak merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. "Ayub? Aku tidak kenal siapa itu Ayub. Kenapa kamu di sini? Di mana suamiku?"
Dunia Ayub seolah berhenti berputar. "Maksudmu...?"
"Di mana Attar?" tanya Livia lagi, kali ini dengan nada yang lebih cemas. "Tolong panggilkan Attar. Kami baru saja bertengkar soal... soal Sheila, tapi dia suamiku. Aku ingin bertemu Attar."
****
Tepat di saat itu, pintu ruangan terbuka. Attar masuk dengan wajah yang masih dipenuhi kecemasan, diikuti oleh Dokter spesialis syaraf. Langkah Attar terhenti saat melihat Livia sudah membuka mata.
"Livia!" Attar berlari menuju sisi tempat tidur yang lain.
Melihat kehadiran Attar, wajah Livia yang semula tegang mendadak melunak. Ia mengulurkan tangannya yang lemah ke arah Attar. "Mas... Mas Attar... syukurlah kamu di sini. Orang ini... laki-laki ini terus memanggilku dengan sebutan aneh. Siapa dia?"
Attar menatap Ayub, lalu menatap Livia. Ia melihat kebingungan yang murni di mata mantan istrinya itu. "Liv, ini Ayub. Dia yang menjagamu selama ini..."
"Jangan bercanda, Mas," potong Livia, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kita baru saja merayakan ulang tahun pernikahan kita bulan lalu, kan? Kenapa aku di sini?"
Dokter segera maju untuk melakukan pemeriksaan. "Pak Attar, Pak Ayub, mohon tenang. Ini adalah efek dari trauma berat dan kekurangan oksigen saat kejadian kebakaran. Pasien mengalami Retrograde Amnesia. Memorinya terhenti pada titik tertentu sebelum konflik perceraian dan hubungan barunya terjadi."
****
Ayub mundur selangkah, lalu dua langkah, hingga punggungnya menghantam dinding dingin. Ia melihat Livia menggenggam tangan Attar dengan erat, seolah-olah Attar adalah satu-satunya pegangan hidupnya. Semua kenangan manis yang mereka bangun—kedai kue, tawa di sore hari, janji-janji masa depan—telah menguap dari ingatan Livia, terbakar bersama api yang melalap toko mereka.
"Mbak Livia... ini benar-benar tidak adil," bisik Ayub, suaranya pecah oleh isak tangis yang ia tahan.
Attar menoleh ke arah Ayub dengan perasaan yang sangat rumit. Di satu sisi, ia merasa bersalah karena secara tidak sengaja "memenangkan" kembali hati Livia melalui amnesia ini. Di sisi lain, ia tahu bahwa kenyataan ini adalah racun. Jika ia berpura-pura tetap menjadi suaminya, ia hanya akan menyakiti Livia lebih dalam saat ingatannya kembali nanti.
"Ayub, maafkan aku..." ucap Attar tanpa suara.
Ayub tidak sanggup lagi berada di ruangan itu. Ia berbalik dan berlari keluar menuju lorong rumah sakit. Ia jatuh berlutut di depan lift, menangis sejadi-jadinya. Ia telah mengorbankan nyawa, raga, dan segalanya untuk menyelamatkan Livia, namun takdir memberikan lelucon paling kejam: Livia selamat, namun ia telah kehilangan "Livia-nya" yang mencintainya.
Di dalam kamar, Livia menyandarkan kepalanya di bahu Attar. "Mas, jangan pergi lagi ya. Aku takut. Aku merasa seperti baru saja bermimpi buruk tentang kita bercerai. Untunglah itu cuma mimpi, kan?"
Attar hanya diam, membelai rambut Livia dengan tangan gemetar. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara tawa Sheila dari kejauhan dalam ingatan mereka, seolah sang iblis sedang merayakan kemenangan terbesarnya dari balik sel isolasi: menghancurkan masa depan Livia dan Ayub tanpa perlu menyentuh mereka.
****
Lantai rumah sakit yang putih mengkilap itu seolah memantulkan kegamangan yang membara di dalam hati Attar. Ia duduk di kursi tunggu kayu, tepat di bawah lampu neon yang berdengung rendah, sementara di dalam ruang perawatan, Livia sedang terlelap dengan senyum tipis yang tak pernah ia lihat selama setahun terakhir. Livia tersenyum karena ia percaya ia masih berada di pelukan hangat pernikahan mereka, bukan di reruntuhan perceraian yang berdarah.
Attar menatap telapak tangannya sendiri. Tangan yang sama yang pernah membubuhkan tanda tangan di atas akta cerai. Kini, Livia menatapnya seolah ia adalah pahlawan tunggal.
"Mas... Mas Attar jangan ke mana-mana, ya?" suara Livia yang masih lemah saat ia siuman tadi terus terngiang. Livia menggenggam tangannya begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, dunianya akan runtuh.
Dokter syaraf tadi menjelaskan dengan nada datar namun dingin. "Goncangan emosional dan trauma fisik telah membuat otaknya melakukan mekanisme perlindungan diri. Ia menghapus masa lalu yang menyakitkan—termasuk perceraian dan kehadiran orang baru—dan kembali ke zona yang ia anggap paling aman. Yaitu pernikahannya dengan Anda."
Attar terjebak dalam dilema yang menyiksa. Jika ia jujur, ia mungkin akan menghancurkan kewarasan Livia yang masih rapuh. Namun jika ia bersandiwara, ia adalah seorang pembohong besar yang mencuri kesempatan di atas penderitaan Ayub.
****
Di ambang pintu kamar, Ayub berdiri dengan sejumput bunga lili putih yang mulai layu karena genggamannya yang terlalu kencang. Ia mencoba masuk, mencoba mendekati wanita yang beberapa hari lalu masih membalas cintanya dengan ketulusan yang sama.
"Mbak Livia... aku bawakan bunga favoritmu," suara Ayub bergetar, mencoba terdengar ceria di balik luka lebam di wajahnya yang belum sembuh.
Livia, yang sedang disuapi buah oleh perawat, menoleh. Begitu melihat wajah Ayub, raut wajahnya yang tenang mendadak berubah menjadi defensif dan penuh kecurigaan. Ia menarik selimutnya hingga ke dada.
"Mas Attar! Mas, suruh laki-laki ini keluar!" teriak Livia dengan nada ketakutan yang murni. "Dia lagi... kenapa dia terus-menerus mengikutiku? Siapa dia sebenarnya?"
Attar berdiri dengan canggung. "Liv, dia Ayub. Dia orang yang... sangat baik padamu."
"Aku tidak peduli!" potong Livia, matanya berkaca-kaca karena panik. "Laki-laki brondong ini bertingkah seolah dia mengenalku lebih dari siapa pun. Dia bilang kami punya kedai kue? Mas, aku ini istri seorang arsitek, mana mungkin aku punya kedai kue! Dia terobsesi padaku, Mas. Dia menyeramkan!"
Ayub terpaku. Kata-kata itu lebih tajam daripada pisau lipat Sheila. "Mbak... ini aku, Ayub. Ingatlah saat kita membuat croissant pertama kali? Ingat janji kita untuk membangun hidup baru?"
"Keluar! Pergi dari sini!" Livia mulai terisak histeris. "Mas Attar, suruh dia pergi!"
Attar terpaksa melangkah maju dan memegang bahu Ayub. "Ayub, tolong... jangan sekarang. Kamu hanya akan membuat kondisinya memburuk."
Ayub menatap Attar dengan tatapan tak percaya. "Mas, jangan bilang Mas akan memanfaatkan amnesianya? Mas tahu dia mencintaiku! Dia mencintai Ayub, bukan Attar!"
"Tapi sekarang dia hanya tahu aku!" desis Attar pelan namun tajam.