Jasmine Elnora Brown, seorang pelukis yang menyukai hal sederhana dan tidak rumit harus menghadapi sebuah cinta unik dari seorang pria pendiam nan misterius, Edward Maleaki Lendsman. Semua berawal baik, tapi semakin jauh Jasmine melangkah dia akhirnya menyadari bahwa dia tidak hanya menghadapi satu sisi pribadi saja dalam diri Edward, tapi juga menghadapi sisi tergelap Edward yang begitu hitam. Sisi yang akan membuat dia berpikir dua kali untuk memperjuangankan Edward.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Problem
Happy Reading
****
Jasmine POV
Aku meminum pil pengotrol kehamilan besok harinya. Aku sudah meminum dua pil dalam waktu seminggu. Ini pasti akan membuat jadwal datang bulanku tidak teratur.
"Aku mengenal dokter obgyn..." Edward membuka pembicaraan kami saat kami sedang serapan pagi.
Aku berdehem kecil. Merasa canggung karena topik yang dia angkat.
"Ini demi.. Uhm. Kau tahu maksudku, bukan?
"Aku akan menemuinya.." Dia benar. Aku menyukai sekks dan dia juga. Kami berdua pasti akan kehilangan kontrol yang membuat Edward terkadang tidak sempat memakai pangaman. Terlebih, lebih menyenangkan rasanya jika dia mengeluarkan itu dalam tubuhku. Hangat.. Hangat yang membuat seluruh tubuhku diliputi kenikmatan.
Aku mengangkat cangkir tehku kemudian menyeruputnya seraya menatap pemandangan lautan di pagi hari melalui jendela kaca besar. Aku menatap langit yang mendung di atas lautan, seolah menyiratkan akan cuaca buruk hari ini.
"Sepertinya aku harus pulang setelah serapan.." aku menaruh cangkir kemudian memakan potongan besar pancake.
"Kenapa?" tanya Edward dari seberang meja.
"Aku mendapat pekerjaan baru yang harus kuselesaikan.."
Edward bersandar di kursi kemudian menggosok dagunya yang tampaknya kasar karena bulu halus yang tumbuh.
"Kenapa kau tidak bawa pekerjaanmu ke mari?"
Aku berkedip sekali padanya.
"Kupikir lebih cocok rasanya jika kau bekerja di tempatku. Lihatlah sekitar... Bukankah lebih menyenangkan bekerja di ruangan luas dan lingkungan yang lebih asri..."
Masuk akal, tapi..
"Kau bisa membawa pakaianmu sekalian.." lanjutnya dan aku menyipitkan mata padanya.
"Kau mengajakku pindah ke sini bersamamu?" ucapku langsung
****
Aku menyesap kopiku dan menatap Jasmine yang sedang mengkonsumsi obat pengontrol kehamilan. Aku merasa sedih dan merasa bersalah. Itu semua karena hasratku yang terlalu menggebu-gebu.
Sebuah ide melintas dalam pikiranku. Bagaimana jika dia melakukan prosedur kesehatan untuk mencegah kehamilan berupa kontrasepsi dan lainnya.
"Aku mengenal dokter obgyn.." ucapku dan Jasmine segera terbatuk dengan canggung.
Seharusnya aku membuat pendahuluan. Hah.. Ini membuat keadaan menjadi udara di sekitar menjadi canggung.
"Ini demi.. Uhm. Kau tahu maksudku, bukan?" aku berusaha mencari kata yang pas, tapi aku tidak menemukannya. Setiap berada di dekatnya, pikran dan hatiku menjadi tidak karuan dan tidak fokus. Jika dia menola--
"Aku akan menemuinya.." ucapnya secara tiba-tiba, memotong pikiranku sendiri. Aku menatapnya dan bertanya-tanya apa yang ada dipikirannya. Dia mengiyakannya terlalu cepat. Jasmine terkadang terkadang tidak terduga.
"Sepertinya aku harus pulang setelah serapan.." ucapnya dan aku menyergitkan kening. Kenapa? Kupikir dia akan menginap lebih lama lagi. Aku bertanya kenapa dan dia menjawab bahwa ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Aku menggosok daguku yang mulai kasar karena rambut tumbuh.
"Kenapa kau tidak bawa pekerjaanmu ke mari?" ucapku dan dia sedikit menatapku dengan selidik. Sial. Tatapan mata birunya kadang membuatku sedikit khawatir.
"Kupikir lebih cocok rasanya jika kau bekerja di tempatku. Lihatlah sekitar... Bukankah lebih menyenangkan bekerja di ruangan luas dan lingkungan yang lebih asri..." Aku segera menambah penjelasan agar dia tidak memikirkan hal yang lain. Yah. Sejujurnya, aku ingin dia di sini lebih lama lagi karena aku ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamanya.
"Kau bisa membawa pakaianmu sekalian.." sambungku dan dia segera menyipitkan matanya. Dia menggaruk belakang lehernya, tampak bingung.
"Kau mengajakku pindah ke sini bersamamu?"
Aku menatap wajahnya.. Bukankah itu ide bagus?
Yah..
Bisikan Lucas membuatku segera berdehem seraya menegakkan tubuhku. Aku harus menjawab apa? Aku menginginkannya, tapi mengingat kondisiku yng memiliki alter ego membuatku was-was. Jika aku menjawab tidak, aku takut akan menyinggung perasaan Jasmine.
Just said yes, Edward...
"Aku tidak akan memaksakanmu. Aku akan senang jika kau tinggal di sini, tapi semua keputusan ada di tanganmu...." Yah. Biarlah Jasmine yang mengambil keputusan.
Pengecut. Aku tau kau menginginkannya juga, Edward
"Jangan merasa terbebani, Jasmine.." ucapku lembut saat menatap wajahnya yang tampak berpikir keras.
Dia memajukan bibir bawahnya, tampak kebingungan. Apa yang kau pikirkan saat ini, Jasmine?
"Apa apa?" tanyaku.
"Tidak. Hanya saja.. Uhm.. Kupikir bagus jika aku di sini, tapi..." dia menatapku lalu berkedip dua kali, "Ah.. Lupakan saja.." sambung Jasmine seraya mengalihkan tatapannya dariku.
Demi apa pun.. Aku benar-benar ingin mengetahui isi pikirannya saat ini juga.
"Jika ada yang mengganggu pikiranmu, beritahu aku..."
Jasmine menatapku kemudian menyandarkan tubuhnya. Jemari kanannya mengetuk-etuk meja tersebut. Dia menyergit, kemudian menyipitkan matanya. Sial. Melihat dia melakukan itu menambah beban pikiranku.
"Aku hanya takut..." ucapnya.
"Apa yang kau takutkan?"
Jika yang dia takutkan adalah biaya hidup, aku benar-benar tidak keberatan.
"Uhm..." dia menarik napas kemudian mengubah gaya duduknya dengan gusar. Ayo, Jasmine.. Katakan. Katakan. Kumohon, Jasmine. Sial, aku benar-benar penasaran saat ini.
"Bagaimana dengan biaya hidupku?" ucapnya dan aku segera bernapas lega.
"Kau tidak perlu mengkhawatiraknnya..."
Dia menggeleng, "Aku tidak mau hidup dengan gratis..."
Kenapa? Baru ini aku menemukan seseorang yang tidak menginginkan sesuatu yang gratis.
"Biarkan aku membayarmu atau apalah.."
Ah.. Aku tidak mau uangmu, Jasmine. Benar-benar tidak mau. Namun, jika aku menjawab tidak, aku yakin Jasmine akan terus bersikukuh dengan perkataanya. Aku menggaruk daguku seraya memikiran ide untuk pemecahan permasalahan ini.
"Lukisan.." ucapku saat ide itu muncul, "Kau bisa membyarku dengan lukisan. Aku selalu mengginginkan lukisan tentang rumah ini..."
Dia tersenyum jelas senang dengan ideku kemudian senyumnya pudar.
"Ada masalah lagi?"
"Nothing..." dia menggeleng.
Aku segera berdiri dan menggeser kursiku ke arahku.
"Jujur padaku, okay?" ucapku setelah aku duduk. Aku menggenggam tangan kanannya, "Kita harus saling terbuka agar hubungan ini bisa berjalan dengan baik..."
Kau sendiri berbohong padanya..
Munafik....
"Uhm..." dia menggigit bibir bawahnya.
Aku mengelus rambut, "Jika terasa berat, kau tidak perlu mengatakannya..." Aku tidak suka melihat dia berpikir keras.
"Thank you..." bisiknya, "Jika aku tinggal di sini, aku tidur denganmu?"
Yah..
"Aku senang jika kita tidur bersama, tapi aku akan menghargai privasimu. Aku punya banyak kamar yang tidak terpakai. Kau bisa memakai salah satunya.."
Jasmine tersenyum kecil kemudian wajahnya berubah memerah, merah itu menyebar ke telinga dan leher. Manis..
"Kenapa?" aku bertanya-tanya apa yang dia sedang pikirkan saat ini. Apa pun yang membuat pipinya memerah secara tiba-tiba sudah bisa kupastikan pikirannya sedang memikirkan itu
"Tidak ada..." dia menarik tangannya kemudian beralih ke arah cangkir tehnya lalu meneguk teh itu hingga habis.
"Aku harus pulang sebentar untuk menjemput alat lukisku..."
"Aku akan menemanimu sekalian aku ingin memperkenalkanmu pada dokter obgyn itu.."
Dia berdiri, "Ide bagus..."
****
Jasmine POV
Aku menerima pil kuning bulat kecil dan segelas air hangat dari seorang perawat. Dokter Palvin tersenyum padaku. Setelah menjemput alat lukisku, aku akhirnya memantapkan diri melakukannya hari ini juga. Dokter Palvin berkata bisa memikirkannya, tapi aku tidak mau lagi memikirkannya.
"Itu obat pereda nyeri..."
Aku mengangguk kecil, "Aku meminumnya sekarang?"
"Yah, Jasmine..." aku merasa tenang bersama Dokter ini.
Dia wanita paruh baya yang memiliki wajah lembut. Dia dengan senang hati memanggilku dengan namaku sendiri, membuatku merasa tidak canggung. Dia sudah menjelaskan macam-macam kontrasepsi padaku dan pilihanku jatuh pada IUD. Itu aman dan bukan semacam obatan. Aku meneguk habis air hangatku hingga membuatku merasa kenyang.
"Kapan terakhir kali kau menstruasi?"
"Seharusnya jadwalku besok atau lusa.."
Dia mencatat itu di atas lembar kerjanya.
"Apa kau mengkonsumsi semacam obat-obatan? Obat tidur atau obat penenang."
Aku menggeleng, "Aku tidak mengkonsumsi obat-obatan, tapi seminggu ini aku sudah meminum dua pil pengontrol kehamilan, Dokter..."
"Itu pasti akan membuat jadwal mensstruuasimu tidak bagus. Bagaimana dengan alkohol?"
"Aku minum alkohol segelas hingga tiga gelas sehari, tapi kemarin penuh aku tidak meminum alkohol.."
"Kapan terakhir kali kau melakukan hubungan sekssual, Jasmine?"
Aku melipat bibirku.
"Oh.. Dear. Kau tidak perlu malu.."
Dia tersenyum meyakinkan padaku
"Semalam..." ucapku dan bayanganku dengan Edward di kamar mandi memenuhi pikiranku.
Dia mengangguk kecil, "Apa kau memiliki keluhan rasa sakit setelah atau saat melakukannya?"
"Hm..." aku menjilat bibirku, "Sejujurnya tidak hanya sedikit terasa pegal...
"Itu wajar.." ucapnya seraya menaruh kertas kerjanya, "Apa kau sudah memiliki keinginan untuk buang air kecil?"
Aku mengangguk kecil, "Yah.."
"Kau tahu cara menggunakan ini?" dia memberiku sebuah test-pack strips.
Aku menatapnya bingung. Kenapa aku harus melakukannya?
"Untuk memastikan bahwa kau tidak hamil, Jasmine.."
Aku menganggul kecil.
"Baiklah.."
"Di kamar mandi ada wadah kecil. Kau bisa menampung urinmu di sana..."
"Okay, Dokter. Thank you.."
Dia tersenyum hangat dan aku segera berdiri untuk berjalan ke arah kamar mandi. Aku masuk dan melihat betapa sterilnya kamar mandi itu, bau khas kamar mandi rumah sakit tercium begitu kental. Ada cermin besar dengan tiga wastafel.
Aku melihat wadah kecil styrofoam di atas wastafel dan aku mengambilnya. Aku masuk ke dalam kamar mandi lalu melakukan hal yang perlu kulakukan. Setelah selesai, aku mencelupkan testpak itu dalam air seniku dan menunggunya selama 10 menit..
Aku menaruh testpack itu di atas waftafel lalu menatapnya dengan wanti-wanti. Perlahan.. Satu garis merah muncul. Aku menunggu lagi dan tidak ada garis yang bertambah. Aku mendesah lega. Jika aku hamil, aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Mungkin aku pingsan?. Aku melap tesp pack dengan tisu lalu membawanya pada Dokter Palvin.
"Bagaimana hasilnya?" tanyanya.
"Negatif.." aku memberikan itu padanya lalu dia mengangguk kecil.
"Nah.. Sekarang gantilah bajumu.."
Aku menoleh ke arah hospital bed yang tengah di bereskan oleh perawat. Ada satu gaun biru rumah sakit di sana. Aku berjalan dan mengambilnya.
"Kau tidak perlu memakai pakaian dalamu.." Dokter Palvin memakai sarung tangan karet dan aku mengangguk kecil. Aku menuju kamar mandi dan mengganti pakaianku. Sedikit terasa aneh karena aku tidak memakai pakaian dalam.
Saat keluar, aku sudah melihat Dokter Palvin dan perawatnya dalam masker. Sial. Membuatku gugup.
"Berbaringlah.." ucap Dokter Palvin seraya menepuk-nepuk hospital-bad.
Aku berjalan dan berbaring di atas hospital bed. Lalu perawat menarik tirai biru penutup.
"Sekarang, buka kakimu lebar..." ucap Dokter Palvin setelah duduk di hadapan kakiku.
Aku menekuk kakiku dan membukanya.
"Kau tidak perlu malu, Jasmine..." lalu di bantu oleh perawat, kakiku di angkat ke atas membuatnya semakin terekspos. Sebuah lampu di arahkan untuk menyoroti kewanitaanku
"Okay.. Aku akan memasukkan spekulum untuk mempermudah pemasangan IUD" aku merasakan sebuah besi dingin masuk ke dalam diriku dan itu membuat berjengkit. Jantung berdebar.
"It's okat, Miss.." ucap perawat menenangkanku
Benda bernama spekulum itu membuat kewanitaanku terbuka lebar dan sedikit rasa nyeri di sana.
"Sekarang untuk cairan anti septik untuk mensterilkan leher rahim dan vaaagina.." ucap Dokter Palvin dan kepalaku terasa pusing.
"Apa itu akan perih?"
"No, jasmine.." sebuah benda menyerupai kapas basah di lap di sekitar kewanitaanku. Rasanya dingin dan sedikit menyejukkan.
"Tidak ada kelainan pada rahim dan ini saatnya untuk pemasangan IUD.."
Aku menggerak-gerakkan tubuhku dengan gusar dan perawat memegang pahaku agar tidak bergerak.
"Tidak perlu takut.. Ini akan cepat dan..."
Aku merasakan dua benda masuk ke dalam kewanitaanku secara berganti. Itu terasa mengganjal di sana. Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi karena tertutupi.
"Gunting.." ucap Dokter Palvin dan perwat memberikannya gunting. Sial! Untuk apa gunting itu?
"Selesai.."
Hah? Secepat itu?
Perawat menurunkan kakiku setelah spekulum di ambil. Aku akhirnya bisa melihat Dokter Palvin yang tersenyum dari balik maskernya.
"Seperti yang saya jelaskan tadi, mungkin ini akan menimbulkan pendarahan kecil dan kram. Namun, tidak apa.. Itu akan membaik seiring waktu.. Aku akan meresepkan obat pereda nyeri untukmu. Jika selama tiga hari nyerinya tidak hilang kau bisa datang kembali..."
Aku duduk dan menekan pahaku, tidak ada rasa sakit walau sedikit risih.
"Baiknya kau menggunakan pembalut untuk beberapa bulan ini..." lanjut Dokter Palvin.
"Itu selesai?"
"Yes...."
Tirai di buka dan aku bergerak untuk turun. Dokter Palvin melepas masker dan sarung tangan karetnya.
"Apa aku perlu menghindari kegiatan sekssual beberapa hari?"
Dia menggeleng seraya duduk di kursinya, "Tidak perlu setelah ini pun kau bisa melakukannya..."
Aku mengangguk kecil, "Thank you, Dokter..."
"Sudah kewajibanku..."
****
"Bagaimana?" tanya Edward setelah mobil melaju meninggalkan rumah sakit.
"Baik-baik saja..." ucapku.
"Benarkah?"
"Hm.. Kau menunggu selama itu di luar?"
Dia melirik ke arahku, "Tentu saja..."
Aku tersenyum senang, merasa berharga.
"Jadi kita sudah bebas?"
"Dokter berkata aku harus menghindari aktivitas sekssual selama dua bulan."
"Dua bulan?!!" suara Edward meninggi dan aku segera tertawa.
"Bercanda. Maksudku satu bulan..." ucapku seraya menahan tawa.
"Sa-satu bulan!"
"Hm.. Jadi apa yang harus kita lakukan?"
Dia menoleh padaku sekilas kemudian dia berusaha tersenyum tegar. Demi apa pun, ini benar-benar lucu.
"it's okay.. Jika memang begitu. Aku akan menunggu." ucapnya sungguh-sungguh. Aww.. My man..
"Kau tidak akan mencari wanita lain, bukan?"
"Tentu saja tidak. Kenapa kau berpikiran begitu?"
"Kau pernah berkata sekks adalah kebutuhan untukmu."
"Aku jauh lebih memerlukanmu..."
Aku tersipu malu. Ah.... Betapa beruntungnya aku mendapatkan Edward.
"Satu bulan bukanlah waktu yang lama..." ucapnya dan tanpa sadar aku merasa menikmati permainan ini. Haha..
"Kau ingin makan di luar untuk makan siang?"
"Tidak.. Kita makan di rumahmu saja.."
"As you wish, Jasmine..."
***
Edward POV
Aku sedang membaca beberapa berkas setelah kembali dari rumah sakit. Jasmine dan aku makan siang bersama lalu bekerja di ruangan masing-masing. Aku membaca email dari Kimberly di layar monitorku kemudian menganalisisnya.
Sebuah ketukan halus terdengar dan aku segera menyuruhnya masuk. Setelah pintu terbuka, aku menatap Johansen ada di sana seraya membawa nampan berisi kopi. Aku tersenyum.
"Selama siang, Sir.."
"Siang.."
Dia menaruh kopi dan aku mengucapkan terima kasih.
"Duduklah.."
"Ada keperluan apa, Sir?"
"Jasmine memiliki rencana tinggal bersamaku di sini. Aku ingin kau menyedikan ruangan tempat dia bisa melukis.."
Senyumnya di matanya perlahan hilang, "Sir. Apakah anda berpikir itu ide yang baik?"
Aku menarik napas dan yah.. Senyumku pun hilang. Aku bersandar di kursi lalu mengetuk-etuk tanganku di atas meja.
"Ini tentang Lucas, bukan?" tanyaku dan dia mengangguk
"Sejujurnya ada hal yang belum kuceritakan padamu. Entah mengapa, aku bisa merebut tubuh ini saat Lucas dalam posisi terkuatnya..." aku mengingat kejadian di kamar mandi kemarin, saat dia berusaha mencelakai Jasmine.
"Bagaimana bisa terjadi?"
Secara harfiah, pemilik tubuh asli bisa mengontrol alter ego. Yah dan awalnya aku bisa mengontrol keberadaan Lucas, tapi tidak setelah aku melakukan hipnotis yang dilakukan seorang psikiater saat aku kecil. Bukannya menghilangkan alter egoku, Lucas semakin kuat dan bisa merebut tubuhku jika aku dalam posisi lengah dan lemah.
"Entahlah... Itu terjadi begitu saja ketika dia berusaha menyakiti Jasmine. Mungkin itu karena Jasmine.."
Dia melihatku, seolah menungguku melanjutkan perkataanku.
"Namun, aku masih bisa mendengar suaranya di dalam pikiranku... Jadi, kupikir jika Jasmine berada di sekitarku, aku bisa kembali ke posisi awalku. Di mana aku bisa mengendalikan Lucas..."
Untuk menghilangkan alter ego adalah hal yang cukup mustahil dalam dunia kesehatan. Setidaknya, aku bisa menguasai dia.
"Itu berita bagus, Sir... Namun, baiknya anda selalu waspada."
"You right.. Satu lagi, aku tidak bisa memastikan selamanya berjalan mulus. Jika kemungkinan terburuk terjadi, kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?"
"Yes, sir.."
Aku tersenyum legar. Setidaknya, aku masih memiliki seseorang yang bisa kuandalkan yang dapat memahamiku.
"Thank you, Johansen..."
Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika tidak ada dia.
"Yes, Sir....."
Di sana.. Di sisi tergelap. Aku dapat merasakan Lucas sedang duduk di singgasananya untuk mendengar, melihat, dan mencerna perkataan kami. Apa pun yang sedang kupikirkan, dia pasti tahu. Tidak ada rahasia antara kami.
Dia menunggu dengan sabar dalam gelap dan menunggu saatnya akan datang...
****
Aku membuka pintu kamar setelah selesai bekerja dan mendapati Jasmine ada di sana. Dia duduk di depan balkon yang terbuka dengan peralatan lukisnya. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum.
"Kau tidak kedinginan?" tanyaku saat melihat dia hanya memakai crop top hitam lengan pendek dibalik appronnya yang penuh cat.
Dia menggeleng, "Entah kenapa aku merasa kepanasan..." Dia melanjutkan melukis di atas kanvasnya.
Aku melihat cuaca mendung di luar. Aku duduk di sofa depan tempat tidur untuk menatapnya. Jasmine mengambil botol soda dan menegaknya. Dia bersendawa kecil.
"Ups.." ucapnya seraya menoleh padaku, "Sorry..."
Aku mengangguk kecil.
"Kau harus mengurangi minuman seperti itu.."
"Saat melukis, moodku untuk minum sangat tinggi. Aku sudah minum lima cangkir teh tadi jadi sekarang aku minum soda sebagai pengganti alkohol."
"Kenapa melukis di sini?
"Ini adalah tempat yang kau lihat setiap bangun jika kau tidur di sini jadi aku melukis ini dalam keadaan mendung. karena saat mendung adalah saat terbaik untuk tidur."
Aku tidak merasa kata-katanya berhubungan. Aku berdiri kemudian berjalan ke arahnya lalu berdiri di belakangnya. Aku meremas lembut lengannya.
dia menoleh padaku, "Apa kau tidak merasa panas?"
Aku mengangkat sebelah alisku, bertanya-tanya.
"Aku ingin melakukan croquis.." ucapnya seraya menepuk tangannya sekali.
Croquis? Aku pernah mendengarnya, tapi tidak yakin dengan artinya.
"Artinya menggambar cepat.." dia berdiri kemudian menutup pintu balkon lalu melepas aprronnya.
"Duduk di sofa.." perintahnya dan aku tersenyum miring. Dia sudah berani memerintahku.
Aku mematuhinya kemudian dia menarik kursinya dan duduk tidak jauh dariku. Di tangannya ada buku gambar dan pensil.
"Aku selalu ingin melakukan ini, tapi aku tidak punya modelnya.."
Aku menatapnya kemudian beralih ke perutnya yang mengintip dari balik crop topnya.
"Boleh kau memperbaiki pose dudukmu?"
Aku duduk rapi dan tegap. Jasmine memutar matanya.
"Bukan begitu..." dia berdiri dan menaruh buku gambarnya di atas kursi.
"Begini..." dia mengelus tangan lembut dan aku berdehem. Dia mengarahkan tangan kiriku ke arah bibir kemudian dia meremas otot lenganku.
Dia melakukannya dengan sengaja....
"Lalu kakinya...." dia turun dan berjongkok di depan kakiku. Dia mengelus pahaku dan aku berdehem lagi seraya tersenyum. Dia benar-benar menggodaku.
Lalu secara mengejutkan dia menyentuh bagian kejantananku di balik Jasmine.
"Jasmine.." ucapku dengan nada peringatan seraya melihatnya.
"What?" ucap Jasmine dengan wajah tanpa dosa.
Aku menyipitkan mataku seraya tersenyum, "Kau melakukannya dengan sengaja.." ucapku saat menyadari diriku terangsang.
"Melakukan apa?" dia meremas pahaku dan aku berdecak lidah. Jasmine menyilangkan kakiku kemudian berdiri. Dia mundur dua langkah dan melihatku, lebih tepatnya ke bagian celanaku yang kini tampak menonjol.
"Sempurna.." bisiknya seraya menjilat bibirnya.
Dia membalikkan badannya dan mau tak mau, aku menatap bokongnya di balik jeans yang dia pakai.
"Bertahanlah selama tiga menit dalam posisi itu..." ucapnya setelah dia duduk.
"Aku suka posisi itu.." bisiknya pelan dan aku tau dia tidak mebicarakan posisi dudukku.
"Posisi apa?" tanyaku.
"Kau tidak diperbolehkan bicara, Mr.Lendsman...."
Aku tersenyum kecil dan menatap dia nampak serius menggambarku.
"Tiga menit selesai.." ucapnya dan aku berpikir sudah berlalu lima menit lebih.
"Sekarang pose berdiri..."
Aku berdiri dan dia berlajan ke arahku.
"Aku bisa melakukannya sendiri.." ucapku
Dia menggeleng, "Kau tidak bisa..."
Jasmine berdiri di depanku kemudian dia mengelilingi tubuhku. Menyentuh bagian-bagian tertentu dengan sengaja. Mulai dari lengan, selanggkanganku, bokong, dan lainnya. Dia benar-benar sengaja melakukannya.
"Hentikan, Jasmine.." ucapku
"Hentikan apa?" tanyanya polos, "Sekarang tangan dimasukkan ke dalam kantong celana.." dia memasukkan tangan kananku ke kantong celana dan secara mengejutkan, tangannya ikut masuk.
"Jasmine.."
Dia tertawa kecil kemudian memasukkan tanganku yang lain ke dalam kantong hingga tubuh kami nyaris bersentuhan. Napasku sedikit memburu.
"Aku tidak segan-segan menarik kontrasepsimu, Jasmine.."
"Kenapa kau ingin melakukannya?" tanyanya dengan nada menggoda. Jasmine mendekatkan tubuhnya hingga aku merasakan benda kenyal itu menempel di tubuhku.
Aku menoleh ke arahnya yang mendongkakkan kepalanya.
"Aku serius, Jasmine.." aku menelan ludah saat dia menjilat bibir bawahnya. Kemudian, dia menggesek pinggulnya ke arahku.
Aku menggeram kecil.
"Ada yang menonjol.." bisiknya dan demi apa pun aku kepalaku berkabut oleh rangsangan.
Aku memejamkan mata menikmati gesekan tersebut dan aku menikmatinya. Benar-benar menikmatinya. Namun, Jasmine segera melepaskan tangannya dan menjauh dariku. Sial. Saat dia membalikkan badan hendak pergi, aku melingkarkan tanganku di tubuhnya.
"Jasmie." ucapku dengan suara rendah, "Jangan uji kesabaranku.."
Dia tertawa kecil, "Memangnya apa yang terjadi jika aku menguji kesabaranmu?"
Aku terdiam. Sial. Memangnya apa yang akan aku lakukan? Aku benar-benar tidak serius saat mengatakan menarik kontrasepsinya. Tentu saja aku tidak serius..
Aku mendengus kasar kemudian menarik tanganku dari tubuhnya.
"Kembalilah menggambar.." atau aku berubah pikiran dan segera pergi dari sini.
"Aku tidak mau lagi melakukannya.." ucapnya lalu memutar tubuhnya ke arahku. Kedua tangannya memegang lenganku. Wajahnya memerah, tanda bahwa dia terangsang. Oh.. Jasmine. Seharusnya kau tidak menggodaku jika kau sendiri tidak mampu menahan hasrat sendiri.
"We can't, Jasmine.." bisiku pelan seraya mengelus wajahnya, "Kita harus menunggu satu bulan.."
Kemudian Jasmine tersenyum kecil nan misterius. Dia mendekatkan tubuhnya padaku dan berjinjit untuk berbisik di telingaku.
"Aku berbohong.."
Aku menatap wajahnya yang tersenyum tanpa dosa.
"Kau berbohong soal larangan dokter itu?" suaraku meninggi satu oktav.
Dia hanya tertawa kecil dan aku benar-benar tidak habis pikir dia membohongiku.
"Apa yang harus aku lakukan padamu, Jasmine?" bisikku seraya memegang pipinya dengan kedua tanganku.
Dia menggeleng kecil, "I don't know.."
Aku segera menggendong tubuhnya di atas bahuku bak karung gandum.
"Edward!" pekiknya seraya tertawa
Aku memukul bokongnya, "Aku akan memberimu pelajaran, Miss Brown.." Pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan.
***
Jasmine POV
Tiga minggu lebih sudah berlalu sejak aku menetap di rumah Edward. Sejujurnya, terkadang aku masih pergi dan tinggal di apartemenku sehari-tiga hari. Namun, kali ini aku sudah memantapkan diri untuk tinggal bersama Edward. Aku akan mengatakannya setelah aku menyelesaikan lukisanku ini.
Aku tengah melukis lumbung ternak di siang hari yang cukup cerah. Lukisanku yang ke-empat tentang rumah ini.. Ah.. Betapa menyenangkannya. Semenjak bersama Edward, aku merasa lebih sehat dan lebih bahagia. Dia benar-benar baik dan sangat penuh kasih sayang. Namun, dia terkadang sangat memanjakanku dengan membeliku barang-barang yang tidak kuperlukan.
"Nampaknya kau sangat bahagia.." suara yang kukenal jelas itu membuat perasaan bahagiaku perlahan memudar. Kimberly! Selama di sini, aku sering melihatnya bersama Edward. Namun, Edward menyakinkan aku bahwa mereka hanya bekerja dan tentu aku percaya pada Edward.
"Apa kau tidak punya rumah hingga harus menumpang di sini?" tanyanya dengan nada mencemooh.
Hah? Ternyata dia belum tau yah....
"Edward yang memintaku untuk tinggal bersamanya......" ucapku dengan suara bangga
Kemudian KImberly tertawa penuh ejekan dan aku menatapnya tajam.
"Kau pikir dia serius padamu? Dia hanya menganggapmu seoogok daging hidup.." ucapnya dengan nada tajam dan itu benar-benar membuat darahku mendidih.
"Jaga ucapanmu.." ucapku seraya menunjuk wajahnya.
Dia segera memukul jemariku dan itu membuatku naik pitam. Aku berdiri menghadapnya. Sialan. Wanita tua sialan ini!
"Kau pikir akau tidak punya hubungan denagn dia? Kau pikir kau mengenal Edward hanya karena dia mengizinkanmu tidur bersamanya, huh?!"
"Aku tidak memercayai apa pun yang kau katakan!"
"Benarkah?" Dia mengambil ponselnya kemudian melakukan sesuatu. Aku segera membalikkan badanku dan mulai membereskan barang-barangku. Kemudian, ponselku yang berada di saku apron bergetar. Aku mengabaikannya.
"Lihatlah dan kau akan percaya..."
Aku menelan ludah kemudian mengambil ponselku. Aku menerima pesan dari nomor tak dikenal, yahh.. tentu saja itu nomor Kimberly.
Aku membuka pesan itu dan detik itu rasanya duniaku runtuh saat melihat foto yang dikirimkan oleh Kimberly. Bukan hanya satu. Tiga. Enam. Sepuluh...
"Apa kau percaya sekarang?"
****
MrsFox
Aduh kalo pelakor aku paling gak suka bahas" gini wkwwkwk. Tapi, yah gimana lah. Just information, Kimberly bakal bantu Jasmine dikemudian hari (?) sebenarnya masih dipertanyakan hehehe. Maaf, adegan 'pemersatu bangsa harus aku skip, takut pembaca bosan....Jangan lupa dukung author selalu.
sukaaa bgt semua tulisan miss Foxxy ini
❤️❤️❤️
dan kasihan juga Edward..
terimakasih thor cerita mu luar biasa