NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Gadis Bermata Biru

Terjerat Cinta Gadis Bermata Biru

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya-senja

Cinta itu ada masa kedaluwarsanya, tapi hanya Tuhan yang tahu kapan cinta itu datang dan pergi.
Satya dibuat kesal karena kalah tender pembangunan mega proyek kilang minyak baru dan surat penalti yang dilayangkan perusahaan owner akibat kecerobohan karyawan baru yang salah dalam membuat project schedule. Alih-alih menerima konsekwensi pemecatan, Aritha malah memaksa Satya tetap mempekerjakan dirinya agar dapat bertanggung jawab atas kecerobohannya.
Tantangan diterima, namun bertemu pandang dengan mata biru elektrik perempuan itu membuat hatinya bergetar.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah Aritha berhasil menyelesaikan kasusnya atau kecerobohannya semakin membuat bosnya emosional dan bangkrut?

Session 2 :
Tentang bagaimana Ritha berjuang mempertahankan pernikahannya dengan seorang petarung bisnis yang kehidupannya sangat berbeda dengan kehidupan impiannya yang sederhana.
Sanggupkah ia bertahan dengan cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya-senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keteledoran Ardi

Ardi meraih gawainya lagi. Ia harus menghubungi Satya dan meminta maaf atas keteledorannya. Namun saat ia baru akan memencet nomor Satya, terdengar bunyi bel kamar. Ia bergegas berjalan ke arah pintu dan membukanya. Semoga saja Satya yang datang.

Terlihat sosok Satya berdiri dengan sedikit terhuyung dalam rangkulan Teguh. Entah apa yang terjadi pada bos GNC itu. Tanpa bertanya Ardi langsung meraih bahu kiri Satya, membantu Teguh yang merangkulnya dari sisi kanan. Bau alkohol tercium samar-samar. Mereka berdua memapah Satya ke dalam kamar.

"Maafkan, saya tadi meninggalkan bos ke toilet tanpa ijin. Kenapa bos bisa jadi begini? Apa persediaan bir pletok sudah habis?" Ardi mengeluh dengan suara pelan sambil membaringkan tubuh Satya ke kasur dengan dibantu Teguh.

Ia membuka sepatunya, sementara Teguh melonggarkan ikat pinggang. Tidak seperti orang mabuk yang biasanya suka meracau, Satya hanya diam. Matanya terlihat kosong, sepertinya ia masih berada dalam fase tidak sadarkan diri.

"Ada apa, Guh? Kenapa bos Satya bisa jadi begini? Maaf, aku tadi ke toilet agak lama jadi kehilangan jejak beliau." Ardi memandang Teguh dengan mata penuh penyesalan.

"Bos tadi keluar ruangan pesta bersama perempuan arab dan beberapa orang lain ke lobby dan meminum apa yang disuguhkan orang-orang itu. Mudah-mudahan hanya pengaruh kadar alkoholnya yang terlalu tinggi, tidak mengandung zat berbahaya lain. Malam ini, kita bergantian mengawasi perkembangan bos Satya ya. Aku tadi sudah sempat memberinya air mineral mudah-mudahan sedikit dapat menetralisir pengaruh alkohol."

"Maaf ya, Guh. Seharusnya tadi aku tidak meninggalkan bos Satya,"

"Bukan 100% salahmu, Bro." Teguh kembali mencoba menenangkan kegelisahan Ardi.

Ardi masih cemas, "Apa biar lebih meyakinkan kita bawa aja bos Satya ke IGD rumah sakit terdekat?"

"Sepertinya belum perlu, mas Ardi. Biar bos Satya istirahat. Kita pantau saja perkembangannya."

"Apa perlu kita mengundang dokter pribadinya ke sini?"

"Kita pantau saja dulu perkembangannya," Teguh berusaha meyakinkan Ardi dengan mengulang kalimat yang sama.

Ardi masih resah dan benar-benar merasa bersalah telah lalai menjaga Satya.

"Saat ini kita pantau saja perkembangannya. Satu jam pertama, kita bangunkan setiap 10 menit, ajak bicara dan tawarkan minum air mineral untuk mengurangi efek alkohol dalam darah. Setelah satu jam kita tetap mengontrolnya dalam rentang waktu yang lebih panjang. Aku ingat nasehat dokter agar selalu ingat BKML sebagai panduan mengenali gejala keracunan alkohol, yaitu: B untuk kulit yang basah atau membiru, K untuk ketidaksadaran, M untuk muntah yang tidak terkontrol, dan L untuk pernapasan yang lambat dan tidak teratur. Jika bos Satya mengalami tanda-tanda tersebut, barulah kita bawa dia ke rumah sakit secepat mungkin."

"Tapi sepertinya bos Satya sudah dalam fase tidak sadarkan diri." bantah Ardi.

"Tidak. Bos masih setengah sadar kok. Masih ada respon kalau diajak bicara."

"Tapi kenapa dia diam tidak meracau?"

"Kamu seperti tidak kenal bos Satya saja, Bro. Tadi bos hanya mengeluh pusing dan merasa melayang saja kok. Selama dia masih sadar, ia akan berusaha diam."

Ardi manggut-manggut. Teguh sudah lama menjadi pengawal Satya. Dia jelas lebih mengenal karakter Satya.

10 menit kemudian, mereka melihat Satya masih tertidur pulas dengan nafas normal dan teratur. "Sepertinya tidak ada masalah serius tapi sebaiknya kita bergantian memantau perkembangannya sampai pagi." ujar Teguh.

Hoam, Ardi mengantuk. Ia minta ijin Teguh untuk tidur duluan selama 2 jam. "Maaf, aku tidur duluan. Nanti kalau jam 2.30 belum bangun tolong dibangunin ya, Guh."

Teguh mengangguk. Pria itu tampak serius bermain game menggunakan gawainya di kursi kerja sebelah tempat tidur Satya. Sementara Ardi mapan tidur di sofa panjang.

Jam 03.10 Ardi terbangun dari tidurnya. Ufh, rupanya Teguh telah tertidur di kursi dengan kepala menunduk disangga kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Sementara Satya juga masih tampak berbaring lelap di kasur dengan nafas normal dan teratur. Kulitnya juga tidak tampak biru atau berkeringat lebih. Setelah memastikan keadaannya normal, Ardi pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil dan mengambil wudhu untuk shalat malam. Kebiasaan di pesantren membuatnya selalu terbiasa bangun di sepertiga malam terakhir menjelang subuh. Meski hanya 2 rakaat, namun karena sudah menjadi rutinitas Ardi merasa ada yang kurang jika tidak sholat malam.

Ardi bukan ahli ibadah, juga bukan penganut islam fanatik. Ia hanya orang beruntung yang dikenalkan ayah pada pesantren modern yang menerapkan kebiasaan baik serta melatih santrinya untuk mencintai alam dan menyayangi sesama. Kebiasaan yang diterapkan di pesantren serasa mendarah daging, terbawa terus hingga dewasa.

Dalam doanya Ardi menyisipkan harapan agar Allah memudahkan Satya dalam segala urusan. Ardi telah memutuskan untuk hidup sesuai dengan kebiasaannya. Ia tak akan mengantar Satya ke pesta seperti tadi malam. Ia juga tidak akan memaksa Satya untuk mempercayakan urusan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Kadang kala kita tak perlu mengikuti ambisi, karena tak semua ambisi membawa pada kebahagiaan dan ketentraman batin.

Ardi menoleh saat ia mendengar Satya meminta minum. Tangannya menggapai nakas dan meraba-raba mencari botol air mineral yang mungkin tersimpan di atasnya. Ardi bergegas bangun lalu mengambilkan botol air mineral di atas meja. Kemudian ia membimbing Satya agar duduk sebelum menyerahkan botol air mineral yang telah terbuka padanya.

Satya meminum air mineralnya beberapa teguk kemudian kembali bersandar di dipan. Tubuhnya masih terasa belum sepenuhnya berpijak ke bumi, seperti melayang-layang di udara. "Kamu kemana tadi malam, Ar?" tanya Satya dengan suara agak serak.

"Maaf, aku pergi ke toilet tanpa pamit dan ada sedikit masalah ketika keluar toilet berpapasan dengan orang yang menabrakku sampai terjatuh."

"Kamu dikemanakan botol bir pletok itu?"

Botol bir pletok? Dimana ya? Ardi mengingat-ingat lagi dimana ia meletakan botol bir pletok itu.

Oalah, ia memukul kepalanya sendiri. Ia baru ingat kalau botol itu terlempar entah kemana ketika ia jatuh tertabrak orang tinggi besar yang mencurigainya mengambil foto di dalam pesta privat itu. Kondisi gelap dan panik membuatnya tak sempat mencari kemana jatuhnya botol itu.

"Maaf, bos. Botol itu terlempar waktu saya jatuh di depan pintu toilet."

"Kamu teledor."

"Benar. Sekali lagi maaf, Bos. Gara-gara keteledoran saya bos jadi mabuk." Ardi memandang Satya dengan penuh harap memohon maaf.

Satya tersenyum. "Tak apa, berarti kamu yang menanggung dosaku minum wiski tadi malam ya. Gara-gara kamu aku jadi mencicipi the dalmore 62 yang konon harga sebotolnya lebih dari 300 juta rupiah itu. Hehehe. Sensasinya ternyata biasa saja, mungkin istimewanya hanya pada prestise."

"Jadi bos minum wiski semahal itu?" Ardi malah bengong mengetahui ada minuman yang harga sebotolnya setara dengan harga sebuah mobil MPV. Gila.

"Berempat dengan Hasan, Byun, dan Franz," Satya bicara dengan bangga menyebut 3 rekannya yang mencoba minuman limited edition yang sengaja dibawa Hasan dari Dubai.

Ardi hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tak tahu apakah sebenarnya Satya menyesal atau bangga mabuk karena minuman keras berharga fantastis itu.

"Raina?" tanya Ardi penasaran.

"Dia hanya minum setengah sloki, sisa dari para lelaki" jawab Satya sambil tersenyum sinis dan mengerdipkan matanya seperti isyarat meremehkan.

Ardi menepuk kepalanya. Ternyata pengusaha emirat itu islamnya kelewat moderat. Sholat jalan, tapi minum khamr tetap nomor satu. Seketika kekagumannya pada Raina mendadak sirna. Ia lebih suka Satya menikah dengan gadis biasa seperti ibu yang patuh dan berbakti pada suami, agama dan negara. Falsafah yang diajarkan ibu tentang perempuan membuatnya berpikir jutaan kali untuk mendukung hubungan serius antara Satya dan Raina. Sebagai istri, setiap perempuan memang dituntut bisa berperan menjadi manajer operasional dalam kehidupan rumah tangga. Tapi sepertinya untuk menempati posisi itu perempuan tak perlu cerdas, cantik dan kaya. Yang terpenting adalah baik budi pekerti dan agamanya.

1
Aprila santi
asik
Aprila santi
suka ..author
Ali Tell
gk bahaya ta???
Titien Muliasari
Luar biasa
Rhyna e Krebo
aku pernah di posisi Satya,di musuhi bahkan di fitnah gara" warisan.bahkan hakku di minta paksa.karena orang luar yg benci padaku dan ikut campur urusan keluarga kami.tapi aku mencoba ikhlas dan legowo dan tak menaruh dendam.
Rhyna e Krebo
😂😂😂😂ngakak sama tingkah Satya
Rhyna e Krebo
padahal aku lama jadi reader di NT,tapi kenapa baru sekarang Nemu novel ini.dan pas moment skrg anak gadisku sekolah di jurusan dpib.bismillah semoga anakku masa depannya kayak aritha😂😂😂ngayal dikit boleh lah ya🤭🤭🤭
Kurnianingsih Sa'ud
ceritanya apik, temanya gak melulu soal percintaan...pembaca malah seperti di giring u memgetàhui seluk beluk bisnis,naik turunnya kemajuan perusahaan...pokoknya mantab lah...👍👍👍
Katherina Ajawaila
Bas mmg ngk jelas dr dulu bikn apes aja, mskin aja Sat k hotel Rodeo biar belajar utk menghargai Saudara. sifat serakah ngk pernah hilang dr otaknya. ngk tau sayang nya saudara bagaimana kalau lg susah hanya Satya yg perduli🙃🙃🙃
Katherina Ajawaila
belah duren aman terkendali tinggal ngebuahin ja, semoga cepat ada Satya yunior. tks Thour
Katherina Ajawaila
bagus bahasa nya, jadi dibacanya senyum2 sendiri. 🥰🥰🥰
Katherina Ajawaila
udh thour Satya biar sekalian ngelamar
Katherina Ajawaila
lucu juga Satya, bisa ngebanyol
Katherina Ajawaila
thour semoga Satya langsung ngelamar Ritha y
Katherina Ajawaila
Satya lucu juga untung badan gede, tapi hati hello kitty, 😁😁😁
Katherina Ajawaila
bagus banget thour,
Katherina Ajawaila
keren Thour, biar Satya ngk kaki🤭🤭🤭
Katherina Ajawaila
maka nya thour biar Satya nembak Ritha aja skng
Katherina Ajawaila
thour ceritanya keren tau, 😁🥰🥰🥰🥰
Katherina Ajawaila
thour ceritanya keren tau, 😁🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!