Aster adalah gadis yg teguh pada pendirian
namun selalu dihadapkan dengan problem kehidupan yg penuh lika liku.
hingga akhirnya menemukan kebahagiaan hidup sejati. meski perjalanan hidupnya diwarnai berbagai macam kejadian pilu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abu Alfin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan karakter Hendra
Episode 35
Manager itu menceritakan bagaimana beraninya seoarang
karyawan baru bernama Aster yang dengan lantang menyatakan sanggup mengemban
tugas dari perusahaan untuk negoisasi dengan perusahaan asing. Dengan alasa dia
sangat kenal perusahaan itu dan mengenal anak dari owner tersebut. Karena anak
dari owner tersebut adalah teman kuliahnya dijepang.
Hal itu membuat beberapa karyawan yang merasa senior protes
dengan manager marketing. Sehingga manager marketing juga bingung, satu sisi menganggap apa yang
disampaiakan Aster itu benar. Tapi disisi lain akan menimbulkan masalah bagi
karyawan lain. Karena Aster yang baru masuk langsung diberi job mega proyek.
“Apa perlu karyawan baru yang namanya Aster itu kita
panggil, kita kasih tahu untuk jangan
terlalu vocal dengan orang orang tertentu yang sok senior.” Tanya manager
marketing itu.
“Jangaaaan,,,,!” jawab semua kompak dan bersamaan.
Membuat manager marketing itu semakin bingung.
“Kenapa ?” Tanya manager marketing itu bingung.
“Udah nurut aja, sama sekalian saya beri tahu bahwa karyawan
baru yang bernama Aster dan Asih adalah rekomendasi dari owner. Tapi mereka
sendiri tidak tahu hal ini. Jadi jangan ada yang membuat masalah dengan mereka.
Jika ada kerjaan yang kurang bagus cukup dikasih tahu saja jangan sampai memarahi.
Itu semua jadi urusan Putri owner mbak Astri.” Kata manager personalia.
Semua menjadi giduh dengan berbagai isi pikiran yang berbeda
beda. Dan ada yang bertanya.
“Apakah ibu Aster itu saudara dari ibu Astri, kok wajahnya
juga agak agak mirip ?” Tanya seorang Staf.
“Gak tahu pasti juga, yang penting kita ikuti saja perintah
mereka. Toh selama ini kita diperlakukan dengan baik tidak sekedar hubungan
karyawan dengan owner saja. Tapi sudah dianggap keluarga bagi mereka. Jadi kalo
ada hal yang mereka anggap rahasia dan kita tidak boleh tahu ya gak usah sok
kepo.” Ujar manager personalia.
Akhirnya semua diam dan hanya mengikuti apa yang menjadi
perintah dari owner melalui manager personalia tersebut.
Begitulah hasil pertemuan para petinggi perusahaan yang sebenarnya
itu semua hanyalah sebuah scenario Astri dalam mendekatkan Hendra dan Aster.
Karena baik Astri adik Hendra maupun mamahnya sangat tidak setuju apa bila
Hendra berhubungan dengan Elisa cewek matre yang hanya mengincar kekayaan
Hendra.
Untung saja pada saat yang limit itu muncul Aster yang juga
kebetulan masih menjomblo, bahkan belum pernah dekat secara khusus dengan laki
laki. Hal itulah yang mendorong Astri dan mamahnya untuk mendekatkan Aster
dengan Hendra. Meski sebenarnya mamah Astri sudah lama menanti kedatangan dan
kehadiran Aster, namun kedatangan Aster dan pertemuan dengan Astri yang tanpa
disengaja itu semakin membuat Astri dan mamahnya punya keyakinan kuat, inilah
jodoh yang tepat buat Hendra.
********
Flashback beberapa waktu sebelumnya.
Saat Hendra masih berhubungan dengan Elisa waktu itu
kehidupan Hendra dan mamahnya selalu diwarnai keributan. Satu sisi Hendra
merasa mamahnya tidak menghargai kekasihnya, disisi lain Astri dan mamahnya
tahu siapa dan bagaimana Elisa sebenarnya.
“Mah kenapa mamah tidak suka jika hendra mengajak Elisa
datang kerumah ini mah ?” Tanya Hendra suatu pagi.
“Mamah tidak melarang hendra bergaul dengan siapapun, tapi
jika itu menyangkut pasangan hidup Hendra mamah harus selektif. Karena kamu
yang akan menjadi tulang punggung keluarga meneruskan perusahaan papa kamu
nanti Hendra.” Kata mamahnya Hendra.
“Memangnya Elisa kenapa mah, diakan sangat menghormati mamah
dan menyayangi Astri juga. Tapi mamah dan Astri yang selalu pasang muka masam
pada Elisa.” Kata Hendra.
“Bang, Astri tahu siapa Elisa, dia adalah teman dari sahabat
kuliah Astri. Dan Astri pernah diajak melihat sendiri Elisa itu jalan bareng
dengan cowok lain selain bang Hendra. Jadi bang Hendra ini hanya dimanfaatkan
Elisa saja.” Ucap Astri menyadarkan Hendra abangnya. Namun justru makian Hendra
yang didapatkan.
“Halah paling kamu mau bilang kalo kamu diberi tahu Dimas
cowok kamu yang miskin itu kan ?” bentak Hendra pada Astri.
“Memang Dimas itu miskin mas, kuliah saja cari biaya sendiri
tapi dia gak matre seperti Elisa yang selalu mengukur semuanya dengan uang.”
Balas Astri pada Hendra.
“Kamu juga gak tahu saja, kalo Dimas itu hanya mengincar
harta kan ?” sungut Hendra.
“Gak bang, Dimas awal kenal dengan Astri, tahunya Astri
adalah anak seorang pedagang kecil yang hidup pas pas an. Jadi gak mungkin
Dimas seperti itu, berbeda dengan Elisa.” Sanggah Astri.
Kejadian seperti itu hamper tiap hari mewarnai kehidupan
keluarga Astri, hingga suatu hari karena kejengkelan Hendra terhadap Astri. Dia
mendatangi Dimas Pacar Astri dan melabraknya serta melarang Dimas berhubungan
dengan Astri. Dengan tuduhan Dimas hanya akan memanfaatkan Astri sebagai pundi
pindi penghasil uang untuk mencukupi kebutuhan hidup Dimas.
Hal itu tentu saja membuat Dimas marah dan tersinggung
dengan ucapan Hendra, dan hamper saja terjadi keributan antara Hendra dan
Dimas. Untung saja teman teman Dimas satu kos melerai mereka.
“Bang Hendra, abang boleh benci Dimas karena Dimas
miskin. Tapi jangan tuduh Dimas memanfaatkan
adik abang untuk mengambil harta keluarga abang. Itu sangat menyinggung
perasaan Dimas sebagai lelaki bang.” Kata Dimas yang sudah tidak bisa menahan
amarahnya menghadapi Hendra yang dengan sombongnya menghina Dimas habis
habisan.
“Ok, kalo kamu benar tidak mengincar harta. Sekarang juga
kamu jauhin adikku, dan tinggalkan kota ini. Butuh biaya pindah kuliah dan
segala sesuatunya kamu sebutin saja berapa, nanti aku ganti tiga kali lipat
atau berapa kali lipat yang kamu mau.” Kata Hendra yang sangat menyinggung
perasaan Dimas.
“Makaish bang, tapi gak perlu repot repot. Sebentar lagi
juga Dimas sudah wisuda, dan setelah itu Dimas akan balik ke jogja serta tidak
akan bilang ke Astri adik abang. Percayalah, tak sepeserpun Dimas mau terima
sesuatu dari Astri selama ini. Dan Dimas juga tetap menjaga Astri, tidak pernah
berbuat yang kurang ajar kepadanya. Sumpah demi apapun Astri sampai sekarang
adalah Astri yang seperti aku pertama kali kenal dulu.” Kata Dimas kepada
Hendra.
Hendra yang mendengar kata kata Dimas pun sebenarnya merasa
bersalah, namun itu dia lakukan karena dendam kepada Astri yang ia anggap jai
penghalang cintanya kepada Elisa. Namun demi menutupi keangkuhanya waktu itu,
Hendra tetap bersikap keras dan kasar kepada Dimas.
“Baik, aku pegang kata kata kamu. Jauhi adikku Astri. Jika
kamu berubah pikiran maka, aku masih member kesempatan kepadamu untuk mengganti
semua biaya mengurus pulang kamu ke jodja, meninggalkan kota Jakarta ini.” Kata
Dimas menutupi penyesalanya tapi dengan kesombongan dan keangkuhanya.
“Tidak perlu bang, Dimas tidak menginginkan harta abang.
Meski Dimas hanya seorang anak petani miskin, namun jiwa Dimas bukanlah jiwa
pengemis bang. Sebaiknya abang pulang saja sebelum Dimas juga berubah pikiran
mendengar kata kata abang yang sombong dengan kekayaan abang. Seakan mampu
membeli jiwa manusia.” Bentak Dimas kepada hendra.
Hal itu membuat Hendra sangat murka, baru kali itu dia bertemu
orang yang berani menghinanya. Hendra memukul Dimas, untunglah Dimas cepat
tanggap danmenghindari serangan Hendra. Dan teman teman Dimas segera melerai
mereka, sehingga tidak terjadi baku hantam waktu itu.
Sejak saat itulah Dimas selalu menghindar jika bertemu
dengan Astri, bahkan Dimas mengganti nomor ponselnya untuk menghindari kontak
dengan Astri. Meskipun dalam hati Dimas juga sangat merindukan Astri, namun
demi menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya Dimas memilih untuk menjauhi
Astri.
“Kamu beneran mau menjauhi Astri Dim ?” Tanya Arya sahabat
dekat Dimas.
“Bagaimana lagi Ar, harga diriku habis diinjak injak
abangnya Astri.” Jawab Dimas.
“Iya aku tahu Dim,tapi itu kan abangnya bukan Astri. Kenapa
kamu balaskan sakit hatimu ke Astri. Kasihan Astri hamper tiap saat nyari kamu
kesini, telpon kamu gak pernah nyambung. Sampai telpon aku, tapi aku gak berani
kasih no kamu. Aku juga ikut bingung dan kasihan sama Astri Dim ?” kata Arya.
“Aku juga sebenarnya gak enak Ar, tapi bagaimana lagi. Toh
sebentar lagi aku juga sudah wisuda dan harus balik ke jogja dulu. Gak tahu
nanti mau cari kerja disini atau dijogja Dimas juga gak tahu. Mudah mudahan
waktu nanti yang akan membuat Astri bisa melupakan Dimas.” Sahut Dimas.
Arya yang mendengar itu justru marah pada Dimas.
“Kamu enteng banget ngomongnya Dim,yang aku liht Atri tu
tulus mencintai kamu. Tapi keras kepalamu itu tidak jauh berbeda dengan
kesombongan Hendra abangnya Astri. Kalian sama saja hanya berbeda posisi saja.
Hendra sombong karena dia kaya, sementara kamu angkuh dengan kemiskinan dan
harga diri kamu.” Ucap Arya jengkel sambil melangkah keluar kamar.
Dimas hanya terbengong melihat respon Arya sahabatnya yang
dianggap malah lebih membela keluarga Hendra.
“Bodo ah, kamu gak tahu apa yang aku rasakan Ar.” Gerutu
Dimas waktu itu.
Arya melangkah keluar dengan membawa kedongkolan pada Dimas,
Arya merasa tidak enak dengan Astri. Dan Arya berniat menemui Hendra untuk
menjelaskan permasalahan yang terjadi antara Dimas dan Astri. Meskipun Arya
merasa itu bukan masalahnya, tetapi Arya merasa kasihan dengan Astri yang
begitu merasa kehilangan Dimas. Dan sebulan lagi Dimas harus kembali ke jogja
karena sudah lulus kuliah.
Dalam sebuah kesempatan Arya akhirnya berhasil menemui
Hendra, meskipun awalnya Hendra merasa keberatan. Tapi akhirnya Hendra pun mau
menemui Arya yang terus membujuk Hendra.
“Maaf bang, bukan maksutku mau ikut campur urusan pribadi
abang dan adik abang. Tapi karena ini menyangkut Astri sahabat saya dan
kebetulan adik abang, maka saya tidak bisa tinggal diam.” Ucap Arya memulai pembicaraan.
“Sekarang mau kamu apa, bilang saja terus terang gak usah
muter muter tidak jelas.” Jawab Hendra dengan ketus.
“Apa yang dikatakan Astri adik abang tentang Elisa itu benar
adanya. Dan Dimas juga tidak bermaksut mengadu domba antara abang dan Astri.
Bukan Arya membela mereka. Tapi itulah kenyataan yang sebenarnya.” Sambung Arya.
“Dengan apa aku harus percaya keoada ucaoanmu, sementara
kita juga tidak ada hubungan apapun.” Jawab Hendra ketus.
“Sekarang begini saja bang, abang buktikan saja sendiri,
abang pura pura usaha keluarga abang bangkrut, apakah Elisa masih mau dengan
abang atau tidak. Tapi harus dengan meyakinkan, agar terkesan abang benar benar
bangkrut.” Ucap Arya.
“Caranya bagainana agar Elisa percaya aku bangkrut, dan jika
omonganmu salah apa konsekuensinya ?” Tanya hendra.
“Abang pura pura jual Aset, agar Elisa yakin abang bangkrut.
Jika saya dan Astri salah terserah abang aku mau diapakan. Saya begini hanya
kasihan sama Astri. Dia sangat sedih kehilangan Dimas yang tidak mau lagi
menemui Astri, bahkan mengganti no ponselnya karena tidak mau kontak dengan
Astri.” Kata Arya.
“Baiklah, aku akan coba ikuti apa yang kamu bilang. Tapi jika apa yang kamu bilang itu salah maka jangan
salahkan aku jika aku buat perhitungan khusu kepadamu.” Ucap Hendra sambil
melangkah pulang.
Sampai dirumah, Hendra disambut mamahnya dengan muka yang
kesal, karena Astri seharian tidak mau keluar kamar. Dan mamahnya tahu jika itu
semua akibat ulah Hendra yang memisahkan Astri dengan Dimas, kekasihnya.
“Dari mana saja kamu, masih berhubungan dengan Elisa lagi
atau justru masih berusaha memisahkan Dimas dan Astri ?” Tanya mamah nya
Hendra.
“Dari menemui temanya Astri mah, Hendra mau buktiin jika
tuduhan kalian semua terhadap Elisa itu salah.” Ucap Hendra kepada mamahnya.
“Baguslah, kalo kamu mau buktiin tapi harus tahu resikonya
jika itu semua benar. Dan dengan apa Hendra akan buktiin itu semua ?” Tanya mamahnya
Hendra.
“Hendra akan pura pura perusahaan kita bangkrut, kita lihat
respon Elisa nanti bagaimana. Kalo tuduhan kalian salah maka mamah harus
merestui hubungan kami.” Kata Hendra.
“Ok, tapi jika itu benar maka Hendra yang harus meninggalkan
Elisa selamanya.” Jawab mamahnya Hendra.
“Iya mah, kita buktikan saja nanti. Sekarang Astri mana,
biar adil kita harus bikin perjanjian bersama.” Uvcap Hendra.
Kemudian Astri dipanggil mamahnya keluar, untuk berbicara
dengan Hendra.
“Bang, Astri gak nyangka deh bang Hendra tega menghina Dimas
seperti itu, sampai dia sangat sakit hati dan meninggalkan Astri !” kata Astri.
“Sama abang juga gak nyangka kamu tega fitnah Elisa seperti
itu.” Jawab Hendra.
“Tapia pa yang Astri bilang itukan fakta bang, sementara
abang nuduh Dimas memanfaatkan Astri tanpa bukti sama sekali. Belum pernah
sekalipun Dimas manfaatin Astri, dan Astripun gak merasa pernah ngasih apapun
ke Dimas. Sementara abang. Hamper semua kebutuhan sampai uang jajan Elisa semua
abang yang kasih, dan justru Elisa menggunakan untuk senang senang dengan pria
lain tanpa Abang tahu.” Protes Astri ke abangnya.
“Cukup, tuduhanmu juga tidak terbukti stri. Jangan bikin
Fitnah lagi.. ayo kita sama sama buktikan mana yang benar dan mana yang salah.”
Kata Hendra.
“Sudah, kalian jangan ribut terus, cape mamah kalo kalian
tiap bertemu selaluberantem. Sekarang apa rencanamu Hendra untuk buktiin jika
Elisa bukan cewek matre.” Kata mamahnya Hendra.
“Hendra akan bilang ke Elisa jika perusahaan keluarga kita
sudah di take over orang lain. Dan kita mengalami kebangkrutan.” Kata Hendra.
“Gak cukup kalo begitu, bisa saja Elisa mengira itu hanya
sandiwara bang.” Seru Astri menimpali kata kata Hendra.
“Terus dengan apa menurutmu biar, Elisa percaya ?” Tanya Hendra.
“Abang pasang iklan jual tanah kita yang di tangerang,
disitu abang cantumkan butuh uang cepat untuk menutupi hutang perusahaan biar
dibaca Elisa. Dan selama itu abang gak usah nemuin Elisa, takut abang gak jujur
bocorkan ini pada Elisa.” Kaata Astri.
“Baik, aku ikutin kata katamu. Tapi jika kamu salah kamu
juga harus janji jauhin Dimas karena kamu begitu pasti karena pengaruh Dima.” Ucap
hendra.
“Baik, tapi jika Astri benar apakah abang sanggup minta maaf
ke Dimas dan meninggalkan Elisa ?” Tanya balik Astri.
“Ok,kita deal atas kesepakatan ini. Besuk aku urus iklanya.”
Kata Hendra.
“Gak perlu bang, biar stri yang pasang Iklan atas nama
abang. Dan stri akan pasang di beberapa media biar Elisa bisa segera baca.” Kata
Astri.
“Ok, silahkan buktikan ucapanmu.?” Kata Dimas.
“Mamah menambahkan, untuksementara hp kalian mamah sita
sehingga tidak bisa member kabar pada siapapun. Agar rahasia ini hanya kita
yang tahu. Termasuk semua karyawan perusahaan tidak boleh tahu.” Kata mamahnya
Astri dan Hendra.
Mereka berdua menyetujui, dan sementara waktu mereka
berhenti bertengkar sampai ada bukti mana yang benar. Apakah Hendra atau Astri,
dan semua siap menanggung resiko sesuai kesepakatan mereka.
Maka setelah Astri berhasil memasang iklan sesuai rencana
maka mereka menunggu hasil atau respon dari Elisa. Apakah dia akan menghubungi
no Hendra atau tidak, sementara itu Astri menunggu dan berharap dengan cemas.
Satu hari dari iklan belum ada respon dari Elisa.
Dua Hari…
Tiga hari…
…..
Belum ada respon, membuat Astri sedikit gelisah, sementara
Hendra measa hamir saja menang.
Sampai dengan dua minggu dari iklan belum ada respon dari
Elisa, yang menanyakan perihal iklan tersebut.
Hanya sebatas wsay hello pada Hendra dan dijawab mamahnya
Hendra layaknya Hendra yang menjawab.
Meamsuki minggu ketiga, barulah ada jawaban atas teka teki
yang mereka tunggu.
Mamah nya Hendra menunjukkan, chat terakhir dari Elisa
kepada Hendra dan Astri.
“Owh pantesan kama sekali gak ada kabar bang Hendraa,
rupanya perusahaan papahmu gulung tikar ya ? kok bisa begitu sih, kalo
perusahaan gulung tikar, dengan apa bang Hendra mau menghidupi Elisa nanti…? Mending
juga abang konsen ngurus perusahaan yang hamper kolap, biar Elisa cari yang
lain saja buat pengganti Abang. Bye bye bang Hendra…
gak usah cari Elisa lagi sekarang.
Begitulah Chat dari Elisa yang terakhir setelah membaca
iklan palsu buatan Astri.
Hendra sampai down tidak mampu berkata, ternyata apa yang
dikatakan Astri dan mamahnya selama ini benar. Elisa itu hanya mengincar harta
Hendra bukan cintanya Hendra. Akhirnya Hendra menyadari meski sudah agak
terlambat. Sudah ada korban Dimas pacar Astri yang sakit hati terhadap ucapan
Hendra dulu. Hendra menangis mohon maaf pada mamahnya dan juga Astri, dan dia
berjanji juga akan mencari Dimas untuk meminta maaf atas ucapanya dulu.
Akhirnya keesokan harinya Dimas beraangkat ke kos kosan
Dimas, namun sayang Dimas sudah kembali ke jogja. Sehingga Hendra tidak sempat
meminta maaf pada Dimas, dan Dimas sudah pergi membawa rasa sakit hati. Tidak hanya
itu, Astri pun menjadi semakin sedih mendgar jika Dimas sudah kembali ke jogja
tanpa ada kabar terlebih dahulu.
“Semua ini salah abang, terlalu terburu buru menuduh Dimas
begitu tanpa ada bukti. Kalo sudah begini terus mau apa sekarang ?” Tanya Astri.
“Iya abang salah, abang minta maaf. Abang akan tetap mencari
keberadaan Dimas, dan jika ketemu abang akanmintamaaf padanya.” Kata Hendra.
“Udah terlambat bang, jogja tu luas mau kemana abang
mencari. Astri juga belum tahu alamat lengkap Dimas yang di jogja.” Sahut Astri.
Hendra menyesali semua kesalahanya, namun sudah terlambat
untuk meneui Dimas. Akhirnya hendra memutuskan untuk merubah sikapnya selama
ini. Dia menjadi lebih sabar dan lebih lembut terhadap semua orang. Kesalahan yang
dia lakukan terhadap Dimas sudah cukup untuk menjadi sebuah pembelajaran
baginya.
Suatu pagi, saat keluarga hendra berkumpul.
“Mah, dan Astri adikkku Hendra mau ngomong sesuatu.” Ucap
Hendra.
“Mau bilang apa Hendra ?” Tanya mamahnya.
“Hendra mau mencoba hidup mandiri sekarang, mau hidup
sederhana dan tinggal dirumah sederhana saja. Agar orang kenal Hendra sebagai
Hendra bukan sebagai pewaris perusahaan.” Ucap Hendra.
“Maksut kamu gimana ?” Tanya lanjut mamahnya.
“Hendra mau keluar dari rumah ini sementara waktu, sambil
menenagkan diri. Juga mau belajar mandiri mah.” Jawab Hendra.
“Terus soal perusahaan bagaimana ?” Tanya mamahnya lagi.
“Biar mamah saja yang awasin sama Astri, sampai Hendra siap
nanti. Mungkin butuh beberapa waktu mah. Bisa setahun bisa juga lebih mah.” Ucap
hendra.
“terus hendra mau kemana dan mau ngapain ?” mamahnya Hendra
mulai khawatir.
“Gak jauh jauh amat kok mah. Hendra mau cari rumah
sederhana, buat belajar hidup mandiri. Sampai hendra merasa siap untuk kembali
kerumah ini.” Ucap Hendra.
“Bang Hendra marah sama Astri ?” Tanya Astri.
“Tidak Astri, abang gak marah, justru abang berterimakasih
sama Astri. Sudah mengingatkan abang. Abang pergi sementara biar ada kangen
sama Astri, biar kalo ketemu gak berantem terus.” Kata hendra.
“Bang, meski kita tiap hari berantem tapi Astri kan tetep
sayang sama abang. Kenapa harus tinggalkan rumah ?” Tanya Astri. Yang merasa
keberatan ditinggal Hendra abangnya. Walau bagaimanapun Hendra adalah satu
satunya lelaki dikeluarga itu yang bisa menjadi tulang punggung keluarga.
“Tenang adikku, abang akan segera pulang dan tinggal dirumah
ini lagi jika sudah ada wanita yang mencintai abangmu apa adanaya, bukan
mencintai abangmu karena pewaris perusahaan.” Jawab Hendra.
Meski berat akhirnya mereka merelakan kepergian hendra demi
untuk mencari ketenangan atas kekecewaanya terhadap Elisa.
Ditempat lain, Arya kebingungan mencoba menghubungi Astri
yang saat itu juga ganti nomer hp. Karena ingin melupakan Dimas, padahal Arya
ingin memberikan no Dimas pada Astri. Arya sudah siap dimarahi Dimas, toh dia
sudah dijogja ini,pikirnya. Namun sayang Astri juga sudah ganti no kontaaknya. Sementara
Arya pun harus kembali ke kot a Bandung, karena juga sudah selesai wisuda.
bersambung
Salam dari "Re Life" jangan lupa mampir yah 😁
selamat kak novelnya sudah tamat. tpi jika blh ngasih masukan, lebih baik dilanjutkan saja. sayang klo novel bagus seperti ini ditamatkan. minimal target selanjutnya yaitu mencari like serta popularitas dri para reader hehehe
🙏🙏🙏