Setelah kesalahan yang dilakukan akibat jebakan orang lain, Humaira harus menanggung tahun-tahun penuh penderitaan. Hingga delapan tahun pun terlewati, dan ia kembali dipertemukan sosok pria yang dicintainya.
Pria itu, Farel Erganick. Menikahi sahabatnya sendiri karena berpikir itu adalah kesalahan diperbuat olehnya saat mabuk, namun bertemu wanita yang dicintainya membuat Farel tau kebenaran dibalik kesalahan satu malam delapan tahun lalu.
Indira, sang pelaku perkara mencoba berbagai cara untuk mendapat kembali miliknya. Dan rela melakukan apapun, termasuk berada di antara Farel dan Humaira.
Sebenarnya siapa penjahatnya?
Aku, Kamu, atau Dia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girl_Rain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Naik Jabatan
Rambut yang bergerak sana-sini kini dibungkus dengan kain sampai leher. Gaun atau pakaian kasual yang membalut tubuhnya kini telah berganti gamis sampai rumit. Sungguh penampilan 180 derajat berbalik terbalik dengan kemarin lusa dari Indira Erganick atau.... Rudiart.
Indira menarik pintu kaca itu ke samping dan melangkah ke kursi khususnya. Langsung saja orang-orang kantor yang penasaran mengerumuninya.
"Bu, apa yang terjadi?" Salah satu perempuan bertanya disertai tatapan kelaparan.
"Saya masuk Islam," jawab simple Indira. Dia kurang tertarik memberi perhatian sehingga lebih memilih memilah-milah dokumen yang sudah dua hari terbengkalai.
"Apa karena suami Ibuk masuk Islam dan menikah dengan orang islam juga? Ibuk dipoligami ya?" Sekarang laki-lakilah yang mencetus keingintahuannya.
"Begitulah." Indira mulai mengotak-atik komputernya.
Orang-orang saling pandang. Tanggapan kelewat santai Indira menimbulkan berbagai praduga orang-orang tentang pernikahan yang dijalani, dan kebanyakan setuju tentang pernikahan yang damai.
"Apa kalian tinggal bersama?" tanya laki-laki lainnya.
"Benar. Dan saya juga akan mendepak kalian ke rumah mereka kalau masih tidak bekerja," sahut orang dari belakang.
Lantas semuanya menoleh patah-patah ke belakang, dan berhambur ke kursi masing-masing begitu tahu orang kedua setelah bos muncul.
Gerald berdecih, dan berjalan ke meja Indira seraya berucap, "Harusnya kalian bekerja sesuai gaji kalian."
Buru-buru Indira berdiri dan membungkuk sesaat. "Selamat pagi, Pak."
Terlihat jelas tatapan Gerald yang menelisik penampilan Indira. Dia tertawa mengejek. "Kita perlu bicara, Nona Ketua Divisi Satu. Ikut saya keruangan."
Gerald melenggang pergi sesudah mengatakan keperluannya dengan dingin.
Indira melirik kepada sesama karyawannya, dan mendapati mereka memberikannya kepalan tangan semangat. Tentu saja, karena ia telah dipanggil pria berdarah dingin yang sialnya menjabat posisi asisten.
Indira menghela napas sebelum akhirnya naik ke lift dan menuju ke posisi ruangan yang kedua tertinggi di perusahaan ini.
Lagi, Indira menghela napas. Barulah tangannya mengetuk pintu pak asisten, dan masuk ke dalam.
"Kau kembali dengan penampilan baru ya." Gerald melepas kacamata, dan meletakkannya di atas meja. Dia menopang dagu. "Heh, gila."
Satu kata, namun mampu menghantam dada Indira. Seketika Indira menunduk.
"Tapi ya.... bukan urusanku juga. Kemarilah, dan duduk di depanku, Nyonya Erganick."
Indira mendekat dan duduk di depan meja asisten Gerald sesuai perintahnya. "Kenapa memanggil saya, Pak?"
"Begini, aku berpikir untuk menggantikan posisimu."
"Apa?" Spontan satu tangan Indira memukul meja dengan keras, reflek dari keterkejutan dan rasa tidak terima membuatnya sedikit berdiri.
"Apa maksud, Bapak?" tanya Indira disertai mata melotot.
Gerald berdehem, sedikit tersentak juga akan reaksi berlebihan Indira. "Maksudku, kamu sudah bersama kami bertahun-tahun. Aku berpikir untuk menaikkan mu ke pangkat yang lebih tinggi."
Pelan-pelan Indira duduk kembali. "Pangkat yang lebih tinggi? Benarkah."
Gerald menggaruk alisnya. "Sebenarnya itu cuma alasan klasik. Atasan kita ada di Indonesia sekarang, dan aku perlu pergi ke perusahaan di negara lain selama beliau ada di sini. Jadi, aku memerlukan seseorang yang akan menemaninya selama aku pergi. Kamu yang paling lama di perusahaan ini, maka dari itu aku memilihmu."
"Owh, begitu ya." Indira mengangguk-anggukkan.
"Kamu mau, bukan?" tanya Gerald menuntut jawaban.
"Posisiku yang akan menemaninya apa?" Indira bertanya balik.
"Sekretaris, kamu yang bakal mengatur waktu dan menemani CEO kemanapun beliau pergi," jelas Gerald.
Indira terlihat kembali berpikir. "Bagus 'sih, Pak. Tapi Saya memerlukan waktu untuk berpikir."
"Tidak ada waktu, kalau kamu menolak saya akan langsung mencari orang lain. Soalnya penerbangan saya sebentar lagi jam sepuluh, dan atasan sudah menunggu di ruangannya," tambah Gerald semakin menambah pemikiran Indira. Wanita itu terlihat ragu, dan keraguannya itu telah menunjukkan ketidakinginannya.
"Posisi sekretaris ini cuma diperlukan selama aku pergi, begitu aku kembali kamu bisa memilih mengundurkan diri atau tetap lanjut." Dan kata-katanya ini berhasil meyakinkan Indira yang tercetak riak ceria di wajahnya.
Wanita itu mengangguk yakin. "Baiklah, saya terima, Pak."
Gerald langsung melempar berkas saat persetujuan diucapkan. "Kalau begitu, silahkan tandatangani ini."
Indira menarik berkasnya, mengambil pulpen di saku baju gamisnya dan menandatanginya.
"Untuk seseorang yang sempat ragu, aku tidak percaya kamu menandatanginya secepat itu." Gerald menerima sodoran berkas dan melihat tanda tangan yang sudah terukir.
"Saya cukup membaca dibagian kerja satu bulan, karena kalau satu bulan saya bisa tahan terhadap apapun," jawab Indira sembari tersenyum simpul.
Gerald menarik satu sudut bibir, mengukir senyum remeh. "Baiklah. Silahkan ke ruangan CEO dan perkenalkan diri kamu. Saya tidak sempat mengantar kamu karena waktunya mepet."
Gerald berdiri diiringi gerakan bangkit dari Indira. Gerald memasukkan berkas tadi ke dalam tas dan berjalan ke luar ruangan, sementara Indira naik lift untuk menuju tingkat satunya lagi.
Dengan jantung berdebar-debar Indira mengetuk pintu, dan tanpa menunggu seruan Indira membukanya. Mendekat ke arah meja yang kursinya membelakangi dirinya.
"Maaf Pak sudah menganggu waktunya. Pak Diere bilang.... saya harus mengonversikan diri saya kepada Bapak setelah menyetujui kontrak menjadi sekretaris, Bapak," ucap Indira lancar, meski jemarinya yang bertaut telah menunjukkan pertahanannya.
"Panggil aku Tuan, Indira."
Sontak pupil Indira terbuka lebar disertai jantung yang berdegup keras, terlebih sewaktu kursi tersebut memutar menghadapnya dan menampilkan sosok yang terduga hanya dari suara.
"Atau.... Kamu mau memanggilku 'honey'? Silahkan, aku sangat senang." Exel bangkit dari kursinya.
Indira mundur selangkah, lalu berbalik cepat menghampiri pintu.
"Aku akan menghancurkan, Farel," ucap Exel yang seketika menghentikan niat kabur Indira.
Wanita itu memutar raga menghadapnya dan menatap dirinya nyalang. "Kamu kira bisa menghancurkan Farel? Dia lebih hebat darimu."
Exel merangkul Indira dalam dekapannya. "Mungkin, tapi menyentuh wanita yang dicintai pasti akan menghancurkannya."
"Kamu cantik," sambungnya menatap lekat. Penampilan Indira yang berbeda tetap mampu mengalihkan dunianya.
Indira tertawa. "Kamu mau melakukan hal yang seperti kamu lakukan delapan tahun lalu? Padaku? Sia-sia, Farel tidak peduli padaku. Lain halnya kalau kamu menyentuh Humaira, Farel akan meledak-ledak."
"Kamu memberitahuku sosok berharga Farel, apa kamu ingin aku menyakiti sosok tersebut?" tanya Exel menerka. Senyumnya tersungging miring saat netranya menangkap keterkejutan tipis dari Indira.
Apa wanita itu sadar telah mengucapkan hal jahat?
...🌾🌾🌾🌾...