Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Pelajar dan Menara Sihir
Tiga bulan kemudian.
Lokasi: Akademi Sihir Royal Aethelgard.
Gerbang emas Akademi terbuka lebar, menyambut masa depan kerajaan. Ratusan kereta kuda mewah dengan lambang keluarga bangsawan antre menurunkan anak-anak mereka. Gadis-gadis dengan gaun sutra tertawa renyah, sementara para pemuda memamerkan tongkat sihir baru mereka yang bertahtakan permata.
Di antara kerumunan elit itu, sebuah kereta sewaan sederhana berhenti.
Seorang pemuda turun.
Identitas Baru: Varian Valdris.
Latar Belakang: Putra Baron dari wilayah perbatasan utara yang terpencil dan miskin.
Penampilan Varian sudah dipoles sempurna. Armor hitam-ungunya yang berdarah telah diganti dengan seragam akademi: jubah biru tua dengan garis emas, kemeja putih, dan celana bahan yang rapi. Rambut hitamnya disisir ke belakang, memberikan kesan rapi namun tetap tajam.
Yang paling mencolok adalah matanya. Dia mengenakan sebuah kacamata berbingkai perak tipis. Itu adalah item sihir curian kelas atas: Spectacles of Deceit. Kacamata itu menyembunyikan warna ungu dan bentuk pupil vertikal mata iblisnya, mengubahnya menjadi hitam normal di mata orang lain.
"Hanya anak Baron miskin," bisik seorang bangsawan muda saat Varian lewat dengan satu koper kulit lusuh. "Lihat, dia bahkan tidak bawa pelayan untuk membawakan tasnya."
"Kasihan sekali. Mungkin dia menjual sapi ayahnya untuk masuk ke sini," timpal temannya sambil tertawa.
Varian tidak menoleh. Bibirnya membentuk senyum tipis yang sopan dan sedikit canggung, seolah dia malu dengan kemiskinannya. Akting yang sempurna.
Namun hatinya sedingin es.
Pelayan? batin Varian sinis.
Dia melirik bayangannya sendiri yang memanjang di tanah paving blok. Di dalam dimensi bayangan itu (Void Dimension), Agna, Viper, Shin, dan 300 pasukan Shadow Assassins sedang berdiri diam dalam kegelapan abadi, menunggu satu perintah untuk keluar dan membantai semua "bangsawan" ini. Varian membawa satu batalyon pasukan kematian di dalam sakunya.
Varian berjalan masuk ke aula ujian masuk. Tujuannya di sini bukan untuk belajar sihir dasar. Tujuannya adalah akses. Akademi ini adalah pusat koneksi dengan keluarga kerajaan dan petinggi Gereja. Dan yang lebih penting, Akademi ini menyimpan buku-buku terlarang tentang "Pembunuhan Dewa".
Sementara itu, di sisi lain Ibu Kota. Menara Sihir Kerajaan.
Malam itu, bulan tertutup awan. Menara setinggi seratus meter itu menjulang angkuh, dijaga oleh sihir pertahanan terkuat di kerajaan.
Namun, tidak ada alarm yang berbunyi.
Di lantai dasar, dua penjaga berbaju zirah sihir tiba-tiba ambruk. Leher mereka patah dengan sudut yang aneh.
Sesosok bayangan besar berjalan menembus dinding pertahanan sihir seolah itu hanyalah kabut. Itu adalah mantan Grandmaster (Undead). Sebagai mayat hidup yang dibangkitkan dengan Void, dia tidak memiliki aliran mana kehidupan yang bisa dideteksi oleh sensor menara.
Di langit-langit, sesosok wanita merayap seperti laba-laba. Viper (Undead). Dia bergerak tanpa suara, menghindari jebakan laser sihir dengan fleksibilitas tubuh yang tidak manusiawi.
"Lantai teratas. Ruang Penyimpanan Harta," desis Viper melalui telepati jaringan mayat hidup. "Tuanku menginginkan Jantung Naga."
Mereka bergerak cepat. Penjaga demi penjaga jatuh tanpa sempat berteriak. Racun saraf Viper dan kekuatan fisik Grandmaster adalah kombinasi mematikan.
Di ruang harta, Viper membuka kunci brankas magis dengan jarinya yang telah dimodifikasi menjadi kunci tulang.
Di dalam brankas, berdenyut sebuah organ sebesar kepalan tangan orang dewasa. Bersinar merah menyala, memancarkan hawa panas.
Jantung Naga Api Kuno.
"Target diamankan," lapor Viper. Dia memasukkan jantung itu ke dalam kotak penyegel.
Sebelum pergi, Viper meletakkan sebuah gulungan kertas di meja Kepala Menara. Itu adalah pesan palsu yang ditulis Varian dengan tulisan tangan yang meniru gaya mata-mata negara tetangga. Pesan untuk mengadu domba Kerajaan.
"Misi selesai. Mundur tanpa jejak."
Mereka menghilang ke dalam malam. Besok pagi, Kerajaan akan gempar karena harta nasional mereka hilang, dan Varian akan tersenyum sambil sarapan di kantin Akademi.
Kembali ke Akademi. Malam hari.
Jam malam sudah berlaku. Asrama putra sunyi. Namun, Varian tidak ada di kamarnya.
Dia berjalan di koridor gedung fakultas, langkahnya diredam sihir. Tujuannya: Kantor Profesor Gilderoy.
Gilderoy adalah Kepala Bagian Sejarah Sihir. Di permukaan, dia dihormati. Namun, Viper (saat masih hidup) memiliki data kotor tentang semua orang penting. Gilderoy sering menjual murid-murid berbakat dari keluarga miskin ke pasar budak eksperimen, dan dia juga korupsi dana akademi.
Varian mengetuk pintu kantor. Tok. Tok.
"Siapa di sana? Ini sudah jam malam!" suara Gilderoy terdengar kesal dari dalam.
Varian tidak menjawab. Dia memutar gagang pintu. Terkunci.
Varian mengalirkan sedikit energi Void ke lubang kunci. Mekanisme di dalamnya hancur menjadi debu. Pintu terbuka.
Varian masuk, lalu menutup pintu kembali.
"Ah, Varian Valdris," Gilderoy, pria gemuk dengan wajah berminyak, sedang duduk menghitung uang di mejanya. Dia menyeringai licik saat melihat murid barunya. "Murid berbakat dari utara. Apa kau mau nilai tambahan? Atau kau tersesat?"
"Aku mau kuncimu," kata Varian datar. Dia terus berjalan mendekat.
"Kunci?" Gilderoy mengerutkan kening.
"Kunci ke Perpustakaan Terlarang Sektor Z," jawab Varian. "Aku tahu kau memegangnya, Profesor."
Gilderoy tertawa meremehkan. Dia berdiri, perut buncitnya berguncang. "Bocah lancang. Kau pikir kau siapa? Kau tahu dengan siapa kau bicara? Aku bisa mengeluarkanmu dari sekolah ini detik ini juga, atau lebih buruk, mengirimmu ke 'tempat khusus' di mana tidak ada yang akan menemukanmu."
Varian berhenti di depan meja. Dia melepas kacamata sihirnya.
Mata ungunya—yang kini memiliki pupil vertikal tajam—menatap Gilderoy. Aura membunuh yang murni dan pekat memenuhi ruangan kecil itu.
Tawa Gilderoy mati di tenggorokan. Wajahnya memucat. "Mata itu... kau..."
Zrrrt.
Varian tidak bergerak, tapi bayangan Gilderoy di dinding di belakangnya tiba-tiba bergerak sendiri. Tangan bayangan itu keluar dari dinding, mencekik leher Gilderoy yang asli dari belakang.
"Ugh... Aa... pa..." Gilderoy terangkat ke udara, kakinya menendang-nendang tak berdaya. Uang koin emas berjatuhan dari tangannya.
"Dengar, Profesor Sampah. Aku tidak punya waktu untuk drama orang jahat amatir sepertimu," bisik Varian. "Orang sepertimu memberi nama buruk bagi penjahat sejati."
Varian menjentikkan jarinya.
KRAK.
Tulang leher Gilderoy patah. Kepala profesor itu terkulai ke samping.
Mayat profesor gendut itu jatuh ke lantai.
"Bersihkan," perintah Varian pada bayangannya.
Lantai di bawah mayat itu berubah menjadi genangan lumpur hitam. Mayat Gilderoy tenggelam perlahan ke dalamnya, masuk ke dimensi penyimpanan Varian. Mayat ini akan berguna. Tubuhnya yang penuh lemak mengandung banyak energi sihir yang bisa dijadikan bahan bakar untuk Agna.
Varian mengambil untaian kunci dari saku jas profesor yang kini kosong itu.
"Mudah sekali."
Varian menyemprotkan sedikit parfum penghilang bau darah, lalu keluar. Tidak ada jejak. Besok orang-orang hanya akan mengira Profesor Gilderoy kabur membawa uang korupsinya.
Perpustakaan Terlarang Sektor Z.
Tempat ini dingin, berdebu, dan berbau tua. Ini adalah tempat di mana buku-buku sihir gelap, kutukan darah, dan sejarah terlarang disimpan.
Varian berjalan melewati rak-rak tinggi, mengabaikan buku-buku tentang pemanggilan iblis rendahan. Dia mencari sesuatu yang spesifik.
Dia sampai di sebuah podium batu di ujung ruangan. Di sana, terdapat sebuah buku tua bersampul sisik naga hitam.
"The Theory of God-Slaying: How to Sever the Divine Link."
(Teori Pembunuhan Dewa: Cara Memutus Hubungan Ilahi).
"Ini dia," bisik Varian. Matanya berbinar.
Dia baru saja akan menyentuh buku itu ketika telinganya menangkap suara langkah kaki halus di pintu masuk perpustakaan.
Ada orang lain di sini. Dan orang itu memiliki mana yang sangat murni.
Varian segera memakai kembali kacamata sihirnya. Dia menyambar buku sembarangan dari rak terdekat—buku sejarah kerajaan—dan berpura-pura membacanya.
Seorang gadis muncul dari balik rak.
Dia cantik, dengan rambut perak panjang yang berkilauan seperti cahaya bulan. Matanya berwarna emas yang tajam dan cerdas. Dia mengenakan seragam akademi yang dimodifikasi dengan sulaman lambang Kerajaan di dada kirinya.
Varian mengenalinya. Semua orang mengenalnya.
Putri Aeliana.
Putri Kerajaan, jenius sihir cahaya, dan kandidat terkuat untuk menjadi Pahlawan Suci berikutnya. Musuh alami Varian.
"Kau..." Aeliana menatap Varian dengan curiga. Tongkat sihirnya terangkat sedikit, ujungnya bersinar. "Apa yang dilakukan murid tingkat satu di Sektor Terlarang malam-malam begini?"
Varian menutup bukunya dengan tenang. Dia berbalik, wajahnya datar.
"Tersesat," jawab Varian singkat. "Pintunya terbuka. Saya kira ini gudang."
"Bohong," kata Aeliana tajam. Matanya menyipit. "Aku merasakan aura aneh di sini tadi. Aura yang... gelap. Dan kau tidak terlihat seperti orang yang tersesat."
Varian menatap mata emas sang Putri. Dalam hati, dia berhitung cepat:
Bunuh dia sekarang?
Risiko: Terlalu besar. Raja akan membalikkan dunia untuk mencari putrinya. Penyamaranku akan terbongkar. Rencanaku hancur.
Manfaat: Satu calon pahlawan mati.
Tidak. Belum waktunya.
Varian memutuskan untuk bermain peran. Dia melangkah maju, menatap Aeliana tepat di mata, mengabaikan status bangsawannya.
"Gelap?" Varian tersenyum miring, senyum yang meremehkan. "Mungkin itu karena lampunya mati, Tuan Putri. Imajinasi Anda terlalu liar."
Varian berjalan melewatinya begitu saja, menyenggol bahu sang Putri dengan tidak sopan.
Aeliana tertegun. Tidak ada yang berani bersikap sedingin itu padanya. Semua orang selalu memujanya.
"Berhenti!" seru Aeliana, harga dirinya terusik. "Siapa namamu?"
Varian berhenti sejenak di ambang pintu, tapi tidak menoleh.
"Varian," jawabnya. "Dan sebaiknya Anda tidak menghalangi jalan saya, Tuan Putri. Saya benci orang yang membuang waktu saya."
Varian menghilang ke dalam kegelapan koridor.
Aeliana berdiri mematung, wajahnya memerah karena marah dan... rasa penasaran yang aneh. Dia belum pernah bertemu orang yang menatapnya dengan mata "mati" seperti itu.
Tanpa dia sadari, benih konflik telah ditanam. Dan Varian baru saja memulai permainannya di papan catur kerajaan.
aku jugak penasaran apa rencana Varian selanjutnya ya🤔