menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kakak yang kembali ke rumah
Arena latihan Kerajaan Vantier dipenuhi jejak sihir.
Di tengah lapangan, Lucyfer berdiri dengan napas teratur. Tangannya terangkat—dan dari bayangannya, empat kloning elemen muncul mengelilinginya.
Mereka semua memiliki wajah yang sama.
Namun auranya berbeda.
Yang pertama menjejakkan kaki berat ke tanah.
Gravem.
Ia adalah Kloning Tanah.
Tanah di sekitarnya bergetar, membentuk tangan-tangan besar dan golem mungil yang berdiri patuh.
Yang kedua berjalan pelan namun penuh percaya diri.
Nebel.
Ia adalah Kloning Kabut.
Kabut tebal menyebar, menelan pandangan, membuat jarak dan arah tak lagi jelas.
Yang ketiga tersenyum lemah.
Pyrrh.
Ia adalah Kloning Api.
Api menyelimuti tubuhnya, panasnya terasa nyata—siap bertarung jarak dekat.
Dan yang terakhir…
melayang tinggi di udara.
Aeral.
Ia adalah Kloning Angin.
Tekanan angin meledak dari tubuhnya, menciptakan gelombang yang memaksa tanah retak.
Lucyfer ikut bergerak di tengah mereka.
“Nah!” katanya penuh semangat.
“Kalau begini aku pasti bisa menyusul kakak!”
Ia mengepalkan tangan.
“Aku harus kuat… nilai ku juga harus bagus… Dan aku juga harus latihan!”
Sihirnya beresonansi.
Tanah bergetar hebat.
Dari lingkaran sihir di bawah kakinya, seekor naga kayu raksasa muncul—memanjang seperti ular, tubuhnya mencapai tiga puluh meter. Ranting-ranting tajam menyusun sisiknya, dan empat mata merah menyala dingin.
Naga itu meraung—bukan dengan suara, melainkan dengan tekanan sihir yang membuat udara bergetar.
"GRAAAHHHH!"
Di tepi arena, Elviera berdir sambil memperhatikan Lucyfer.
Wajahnya datar.
Posturnya sempurna.
Namun pikirannya hanya tertuju pada satu hal.
"Tuan Muda Lucyfer…"
"Anda berkembang terlalu cepat."
"Sihir anda… potensi anda…"
"Jika dunia luar melihat ini…"
"mereka akan mencoba mengambil anda."
Elviera berhenti sejenak berkata dalam batin nya.
"Tidak."
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun membuat anda terancam."
Tatapannya mengeras.
Lucyfer menoleh dan melambaikan tangan.
“Hei, Elviera!”
“Ayo ke sini! Kok malah melamun?”
Elviera tersentak, lalu berjalan mendekat dengan langkah tenang.
“Baik, Tuan Muda,” katanya sopan.
“Saya akan ikut latihan.”
Ia berdiri di samping Lucyfer—
posisi yang tak pernah ia tinggalkan.
Di Tempat yang Jauh – Markas High Magnus
Sementara itu—
Di sebuah markas megah yang dijaga lingkaran sihir tingkat tinggi, ruang pertemuan High Magnus divisi satu terasa dingin.
Di sana berdiri Elice.
Wajah cantik dan tegas dengan tatapan dingin dan tajam.
Di atas kepala ada hiasan kecil seperti mahkota, rambut putih bersih, lurus dan rapi.
Mata merah jernih dan menusuk
Tubuh tinggi, ramping, dan posturnya tegak
Memakai gaun putih dengan garis kuning keemasan
Sarung tangan putih panjang menutup tangan hingga lengan
Ekspresi datar hampir tidak pernah berubah
Aura: dingin, tenang, dan penuh wibawa
Di mejanya tergeletak sebuah surat.
Surat dari Lucyfer.
Elice menatapnya sejenak—lalu melempar nya tanpa empati.
“Seraphina,” katanya datar.
“Buang surat konyol itu.”
Seraphina—melayang di udara dengan biwa sihir di tangannya—terdiam sesaat.
“…Baik, Nona Elice.”
Surat itu dibuang tanpa dibaca ulang.
Kini mereka bukan murid amatir.
Elice — High Magnus es
Seraphina — High Magnus suara
Nama mereka naik terlalu cepat.
Setelah mereka berhasil mengalahkan sang penyihir kegelapan satu tahun lalu.
Dan mereka dijuluki jenius.
Dan Elice—menjadi ketua tim High Magnus, bersama enam orang lainnya.
Termasuk Vermila Serguire.
“Ayo, Seraphina,” ucap Elice.
“Kita kembali ke kerajaan menyedihkan itu.”
Ia menatap ke kejauhan.
“Kita lihat… apakah anak itu tumbuh.”
“Atau memang sejak awal… lemah.”
Seraphina melayang di sampingnya, memetik biwa pelan.
“Aku ada di belakang anda,” katanya tenang.
Sebelum pergi, Elice menoleh ke arah tujuh orang di belakang Elice.
Mereka dari divisi dua.
“Kalian bertujuh,” katanya tajam.
“Misi ke Kerajaan Xeluntos.”
“Bawa buronan itu dengan prajurit."
“Paham!”
Tujuh sosok itu mulai berjalan pergi.
Kereta kuda hitam berhenti.
Dua High Magnus veteran naik ke dalamnya— bukan lagi generasi baru,
melainkan pengganti generasi lama.
Dan tujuan kereta itu hanya satu.
Kerajaan Vantier.
Tempat di mana seorang adik masih menatap langit dengan harapan—
dan seorang kakak akan kembali
dengan dingin yang mampu membekukan segalanya.