(Buku ini sedang direvisi penulis untuk pengalaman membaca lebih baik)
*****
Shena yang baru ditinggal menikah oleh pacarnya pergi ke Afrika Selatan untuk bersafari menghibur diri. Dalam perjalanan, Shena satu pesawat dengan seorang dokter bedah tampan yang akan melamar pacarnya yang juga seorang dokter dan bekerja di Afrika.
Malangnya, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan dan mendarat darurat di hutan belantara sesaat sebelum mereka tiba di Johannesburg.
Firza, sang dokter bedah berhasil membawa Shena keluar dari pesawat.
Dan di tengah kekacauan dan kesulitan mereka untuk bertahan hidup sambil menunggu bantuan, ternyata ada sosok makhluk yang mengintai mereka.
Akankah para penumpang yang selamat berhasil bertahan hidup?
Mampukah Shena bertahan dari makhluk hutan dan pesona Firza yang telah memiliki pacar?
Originally Story by juskelapa
Insta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Menuju Bukaan Sempurna
3 bulan sejak kepulangan Shena ke Jakarta
Shena sedang berada di coffee shop mas Dimas bersama kak Shinta yang sedang menunggu suaminya. Kak Shinta sedang menghabiskan sepiring fettucini carbonara dengan lahapnya.
Shena terkagum-kagum melihat nafsu makan wanita yang sedang menunggu hari lahirannya itu. Tiap diejek Shena perihal kerakusannya akan makanan, kak Shinta selalu berkilah soal jenis kelamin bayi laki-laki di kandungannya yang pasti lebih kuat makan ketimbang jika dia mengandung anak perempuan.
Shena yang belum merasakan hamil hanya mendengus tiap mendengar kak Shinta mengatakan hal itu. Bagi telinga Shena itu hanya sebuah alasan buat kak Shinta yang sejak dulu memang hobi makan.
Mas Dimas terlihat mendekat ke arah mereka sambil membawa sebuah ransel kerja yang sudah pasti berisi laptop dan dokumen-dokumen.
Pria itu memegang kepala istrinya yang bahkan tak menoleh saat dirinya datang. Kak Shinta masih menunduk di atas piring makanannya seolah takut dimintai orang lain.
Matahari sudah melorot ke barat, hari menjelang sore, mereka bertiga asik mengobrol soal suasana coffee shop Shena yang bisa dibilang cukup berhasil dalam waktu satu setengah bulan sejak dibuka.
Mereka tertawa terbahak-bahak bercerita soal kegaduhan yang dibuat Fajar tiap dia mulai menggombali Tia. Dan tiba-tiba kak Shinta memegang perutnya mengatakan "aduh".
Mas Dimas dan Shena langsung terdiam memandang kak Shinta, kemudian sekali lagi wanita itu mengatakan, "aduh.." sambil memegang perutnya dan mengarahkan pandangan ke bawah.
"Mas--Mas.... Pecah itu. Bocor...udah bocor. Aku berasa pipis iniii..." pekik kak Shinta tertahan.
Mas Dimas dan Shena ikut melihat ke bagian bawah kaki Kak Shinta.
Mereka melihat air yang mengalir di betis kak Shinta. Mas Dimas langsung berdiri bagai tersetrum dan mengangkat lengan istrinya untuk berdiri.
"Shen...tolong bawain tas Mas. Ini kunci mobil Mas, kamu yang bawa mobil. Tau rumah sakitnya, 'kan? Ayo cepat buruan Shen...." Mas Dimas memapah istrinya keluar coffee shop.
Shena yang juga panik langsung berdiri dan langsung memakai ransel Mas Dimas.
Sambil berlari dia mencolek seorang waiter dan menunjuk meja tempat mereka duduk tadi sambil berkata, "Tolong bersihin ya, istri pak Dimas mau lahiran."
Kemudian secepat kilat Shena berlari ke arah mobil mas Dimas yang terparkir tak jauh dari gerbang masuk mendahului pasangan itu untuk segera menyalakan mesin mobil.
"Udah ready semua Mas? Tas perlengkapan bayinya udah di mobil, 'kan?" Shena bertanya kepada Mas Dimas yang sudah duduk di jok belakang bersama istrinya.
"Udah. Beres semua. Langsung berangkat." Mas Dimas menjawab Shena dengan wajah panik sambil memeluk istrinya yang duduk dengan wajah datar.
Kak Shinta tidak mengalami kontraksi, tapi ketubannya telah pecah.
Shena langsung melesatkan kendaraan itu ke arah Kebayoran Baru, rumah sakit tempat kak Shinta pernah memintanya untuk ditemani memeriksakan kandungan.
35 menit kemudian Shena telah tiba di lobby Instalasi Gawat Darurat. Setelah menurunkan kak Shinta dan mas Dimas, Shena berputar untuk mencari tempat parkir.
Shena berhasil masuk ke rumah sakit 20 menit kemudian dengan memakai ransel mas Dimas, tasnya sendiri yang tersampir di bahu, serta menenteng tas berisi perlengkapan bayi.
Shena berpikir kalau suami istri itu sekarang membuatnya seperti porter atau bahkan calon babysitter bayi mereka nanti.
Meski terlihat kepayahan, tapi dengan wajah bahagia Shena berhasil tiba di depan ruang VK (Verlos Kamer) ; ruang bersalin tempat kak Shinta berada yang ditunjukkan oleh seorang perawat kepadanya.
Setelah meletakkan tas perlengkapan Bayi dan ransel mas Dimas yang beratnya seperti berisi penuh batu gamping, Shena duduk memijat-mijat bahunya.
Ruang bersalin kak Shinta terletak di lorong yang sama dengan beberapa ruang OK (Operatie Kamer); ruang operasi yang letaknya berdampingan.
Seluruh pintu OK tertutup rapat, malam itu lorong yang berjejer ruangan operasi terlihat hening. Tak mengerti apa keadaan lorong itu sehening itu juga jika di siang hari.
Shena mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan kepada ibunya kalau kak Shinta sudah berada di rumah sakit untuk lahiran.
Ibu Shena selalu bertemu dan mengobrol dengan kak Shinta tiap menjenguk Shena ke Jakarta. Shena merasa ibunya patut mengetahui kabar kalau sebentar lagi bayi laki-laki Kak Shinta akan launching.
Tak berapa lama di ujung lorong Shena melihat seorang pasien sedang didorong oleh dua orang perawat dengan terburu-buru memasuki salah satu OK yang terletak paling pojok menghadap lift.
Ketika perawat dan pasien itu telah menghilang di balik pintu, ruang OK itu masih terbuka, Shena mengalihkan perhatiannya ke ponsel.
Sesaat kemudian Shena mendengar langkah kaki di ujung lorong, dirinya melihat seorang pria tinggi dengan seragam dan penutup kepala berwarna hijau serta masker medis sedang menuju ke arah OK yang masih terbuka.
Pria itu berjalan cepat sambil berbicara kepada perawat yang sepertinya sedang melaporkan sesuatu..
Jantung Shena berdebar melihat cara berjalan pria itu.
Seperti tertarik sebuah magnet yang tak kasat mata, Shena berdiri berjalan perlahan menuju ruang OK paling pojok tempat di mana pasien yang baru saja didorong tadi menghilang.
Mirip seorang perempuan usil hendak mengintip tetangganya yang baru saja membeli perabot baru, Shena mulai melongokkan kepalanya ke bagian pintu ruang OK yang masih sedikit terbuka.
Shena penasaran dengan sosok tinggi yang baru masuk ke ruangan itu.
Sejurus kemudian, salah satu perawat mendekat ke arah pintu karena akan menutupnya. Perawat yang juga sudah mengenakan masker melihat Shena dan tersenyum, terlihat dari ekspresi mata perawat itu yang menyipit saat melihat wanita muda yang berjingkat-jingķat di depan ruangan mereka.
Kemudian perawat meraih handle pintu dan berkata pada Shena, "Pihak keluarga bisa tetap menunggu di luar ya...operasi usus buntu gak akan lama kok." kemudian pintu OK pun tertutup.
Shena menggerutu karena malah dikira keluarga pasien. Kemudian Shena cepat-cepat kembali ke tempat di mana dia meninggalkan tas perlengkapan bayi dan ransel mas Dimas.
Shena mengingat-ingat kembali peristiwa tiga bulan lalu saat dia bertemu Firza. Wanita itu menajamkan ingatannya hingga ke titik maksimal.
Mencoba membayangkan gaya berjalan Firza dan cara pria itu berdiri. Mirip sekali dengan dokter pria yang sekarang sedang berada di dalam ruangan itu pikirnya. Tingginya juga pas. Tak sadar Shena menggelengkan kepalanya, dia berpikir itu adalah hal mustahil.
Firza sedang di Afrika sekarang. Lagi pula Shena telah mengecek daftar nama dokter yang bekerja di situ saat dia mengantarkan kak Shinta mengecek kandungan beberapa waktu lalu.
Halusinasinya akan pria itu tampaknya belum menghilang. Shena menatap sedih pojok lorong di mana operasi usus buntu sedang berlangsung.
Dan Firza kemungkinan besar telah melupakannya.
Hampir satu jam Shena duduk menunggu di depan ruang VK, sesekali didengarnya suara rintihan-rintihan kak Shinta yang membuatnya ngilu.
Lalu mas Dimas keluar terburu-buru dengan wajah kaku bak kanebo kering.
"Ayo Shen, kamu masuk aja. Tolong bantu videoin ya...sekalian foto. Dari posisi yang bagus. Udah bukaan sempurna katanya. Ayo...ayo." Mas Dimas mengangkat ransel dan tas perlengkapan bayi.
Shena merogoh ponselnya dari dalam tas dan berjalan menuju pintu VK yang berada di hadapannya.
Di waktu yang sama, dokter pria di ruang pojok baru saja keluar dari ruang operasi dan langsung menoleh ke kanan karena menangkap kegaduhan dua orang dari arah sana. Dokter pria tadi menatap tempat Shena melintas dan menghilang ke dalam VK mengikuti langkah kaki mas Dimas.
Dokter pria itu tertegun sejenak dan mengernyitkan dahi. Sosok wanita yang baru saja menghilang ke dalam ruang bersalin itu mengingatkannya pada seseorang.
...***...
kemana saja aku baru nemu cerita ini?