NovelToon NovelToon
KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS 2

KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS 2

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senjaku02

Kisah ini lanjutan dari KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS seasons 1
Banyak adegan kasar dan umpatan di dalam novel ini.


Cerita akan di mulai dengan Cassia, si Antagonis yang mendapatkan kesempatan terlahir kembali, di sini semua rahasia akan di ungkap, intrik, ancaman, musuh dalam selimut dan konflik besar, kisah lebih seru dan menegangkan.


Jangan lupa baca novel KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS season 1 agar makin nyambung ceritanya. Happy reading!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

  Nafisha menggigil mendengar ancaman itu dia sampai tak sadar saat seseorang menariknya pelan menuju sebuah ruangan.

  "Ambil darahnya!" kata Liam tegas.

  Dokter hanya mengangguk, dia berjalan pelan menuju ruangan dimana Nafisha berbaring untuk di ambil darahnya.

Sedangkan di sisi lain.

  "Kau mau kembali ke London? Kapan?" tanya Vladimir dia masuk ke dalam kamar sang Adik.

  "Lusa mungkin, kenapa?" Cassia menatap Vladimir dengan penuh tanya.

  "Hanya ingin tahu, hari ini aku berniat mau mengajak kamu main, apa bisa?"

  "Kemana?" Cassia menatap Vladimir dengan penuh tanya dan keingintahuan.

  "Di tempat yang tak jauh katanya ada taman mawar yang baru buka, bagaimana kalau kesana?"

  "Kau serius? Kenapa aku baru tahu kalau ada taman mawar?" protes Cassia.

  "Baru buka, makanya hari ini aku mau mengajak kamu kesana, Cassia!" kata Vladimir dengan kekehan kecil.

  "Baiklah, kapan kita pergi?" tanya Cassia.

  "Besok," Vladimir menjawab cepat tanpa kompromi.

  Cassia mengangguk, dia benar-benar semangat dan senang saat di janjikan akan ke taman mawar.

  Sore itu. Udara terasa dingin, hujan mengguyur bumi dengan rinai ringan yang masih terlihat.

...****************...

  Di tepi jendela kaca rumah sakit besar London, sosok Amelia yang sejak hari itu terbaring kini sudah bangun, setelah mendapatkan kembali donor darah dari sosok Nafisha.

  "Kau baik? Apa masih ada yang sakit?" Liam bertanya penuh perhatian, berbeda saat menghadapi Nafisha.

  "Iya Kak," angguk Amelia, dia menatap penuh kasih sayang pada sosok Liam.

  Ada Lucas dan Olivia juga, mereka bahagia akhirnya sang putri kembali sadar setelah terjatuh dari tangga hari itu.

  "Mom, Dad," panggil Amelia lirih, dia memang tak mendapatkan luka berat hanya saja sakit yang di derita membuat dia membutuhkan tranfusi darah secepat mungkin.

  "Kami di sini, Sayang!" kata Olivia lembut, dia memberikan usapan lembut pada kepala Amelia.

  Amelia tersenyum lembut. Namun, di dalam hatinya ia bersorak bahagia sebab jelas ia tahu darah Nafisha kembali di ambil demi kesembuhannya.

  'Akan aku buat kamu menderita Nafisha, tak akan aku biarkan kamu mengambil mereka semua!' batin Amelia penuh tekad.

  Sedangkan di kamar Nafisha, dia sedang terbaring lemah tanpa daya setelah tranfusi darah tadi, dia lemas dengan bibir pucat yang nampak menyedihkan.

  Mata dengan hiasan bulu mata lentik itu terbuka pelan, Nafisha melihat menggulir matanya untuk menemukan seseorang di kamarnya. Namun, tak ia temukan seorang pun.

  Kamar itu senyap, dingin dan seperti sebuah tali kekang yang mencekik dirinya hingga mati.

  Nafisha terkekeh sinis, dia mengusap pelan air mata yng mengalir sedikit dari pinggiran matanya,"Inikah hidup yang kamu mau, Nafisha?" dia bertanya pada dirinya sendiri atas apa yang terjadi padanya hari ini.

  Nafisha tersenyum miris, dia tak tahu kehidupan yang baik itu seperti apa? Sebab sejak dulu ia di paksa bekerja walaupun enggan, ia di paksa memilih walaupun enggan dan sekarang lagi-lagi dia harus bertahan walaupun bukan ini kehidupan yang dia mau.

  "Aku harus tetap bertahan, sebab aku tak akan rela Smith keluarga ku di ambil oleh Amelia yang licik itu!" gumam Nafisha, dia bertekad untuk membalas Amelia dan merebut Smith yang sebenarnya adalah miliknya dari tangan Amelia yang tak berhak atas apapun.

  Ini bukan lagi tentang ketenangan ataupun apa yang ia harapkan. Namun, ini adalah tentang keinginan naik ke tingkat sosialita yang lebih tinggi lewat tangan Smith.

  Nafisha tak tahu bahwa keputusannya kali ini benar-benar akan membawa dia kedalam kehancuran dan penyesalan yang tak berujung lagi.

...****************...

Dua hari berlalu dengan detak jantung Darian yang semakin cepat. 

  Hari ini bukanlah hari biasa hari ini adalah saat yang menentukan, saat di mana ia harus memberikan jawaban pasti tentang investasi besar untuk proyek properti di perusahaan Italia. 

  Nafasnya berat saat memanggil asistennya, suara hatinya berdentang seperti genderang perang. "Hubungi asisten mereka sekarang juga. Katakan kalau aku siap mengucurkan 50 miliar untuk proyek ini," perintah Darian dengan mata membara penuh tekad.

  Rio menatapnya penuh keraguan. "Tuan muda, apakah kau benar-benar yakin mau berani menginvestasikan sebesar itu? Ini taruhan besar, dan risikonya pun tak sedikit."

  Darian mengangkat kepala, sorot matanya tajam menusuk ke depan. "Aku sudah hitung dengan matang. Keuntungannya bisa tembus 1 triliun. Ini bukan sekadar investasi ini adalah kunci untuk melesatkan perusahaan kita ke puncak kejayaan yang tak terbayangkan." 

  Rio tersentak, merasakan getaran ambisi yang membara dalam diri Darian. "Baik, aku akan segera menghubungi mereka." 

  Dalam sekejap, keputusan Darian meluncur bagai peluru terobosan atau kehancuran, semuanya kini tergantung pada langkah berikutnya.

  Dunia seakan menahan nafas menanti keajaiban dari pilihan yang berani ini.

  Tangan Rio bergerak cepat, merogoh saku dan mengambil ponsel dengan jari yang sedikit gemetar. 

  Dengan napas teratur, ia menghubungi nomor asistennya, suara di seberang terdengar samar namun tegas.

  Setelah menyampaikan pesan pentingnya, Rio menutup telepon dengan sentuhan ringan, kemudian menoleh pada tuan mudanya dengan wajah serius.

  “Mereka akan tiba setelah jam makan siang, Tuan,” ucapnya penuh arti. 

  Darian mengangguk, matanya tajam menatap berkas di depan meja. “Baik. Mana berkas yang kemarin? Saya ingin menandatanganinya sekarang juga,” katanya, suaranya dipenuhi tekad yang tak tergoyahkan. 

  Ruangan itu sejenak hening, seolah waktu ikut menahan napas menanti keputusan yang akan menentukan langkah selanjutnya.

  Rio menyerahkan berkas itu dengan hati yang sesak, meski semua tampak bersih tanpa cacat, tapi ada bayang-bayang keraguan yang membelit dadanya.

  Kemudian Darian menandatangani dokumen itu, seketika pria itu resmi menjadi investor di proyek properti di Italia  sebuah langkah besar yang mengguncang pondasi perusahaan Parker. 

  Lima puluh miliar telah melayang, uang yang sangat berharga untuk perusahaan mereka. Namun, di balik setiap goresan tinta itu, Rio merasakan badai gelisah menggerogoti pikirannya. 

  'bagaimana jika mereka seorang penipu? Perusahaan ini bisa terancam bangkrut?' gumamnya dalam hati. 

  Ketakutan itu menggerayangi hati, seolah menyiratkan bahwa satu langkah ini bisa jadi bukan hanya taruhan bisnis melainkan risiko yang mengancam segala yang mereka miliki.

  Tapi Rio tak bisa berbuat apa-apa lagi, karena keputusan itu ada di tangan bosnya. Ia hanya mampu menghela nafas panjang. Siap menghadapi badai yang akan datang. 

...****************...

  Di tengah sunyinya rumah kecil di Negaverse yang baru saja dibeli dengan darah dan keringatnya, Neva duduk terpaku di ruang tamu. 

  Dadanya bergemuruh tak menentu, pikiran yang seharusnya tenang malah diselimuti kecemasan membara. 

  “Kenapa rasa gelisah ini menghantui hatiku? Kenapa Nafisha tiba-tiba menyeruak dalam setiap sudut pikiranku?” bisik Neva dengan suara yang hampir tenggelam dalam hening.

 Getaran takut menguasai dirinya, seolah ada bahaya yang mengintai, namun ia tak tahu dari mana. 

  Nafisha… apa yang sedang terjadi padanya? Hatinya tercekik oleh ketidakpastian yang menyiksa, menunggu jawaban yang belum datang.

  Meski Nafisha bukan darah dagingnya, Nafisha sudah menjadi bagian dari nafasnya sejak kecil.

  Ia yang menyusui dan merawatnya, menanamkan kasih sayang yang tak terucapkan dalam setiap tetes ASI yang mengalir dari tubuhnya.

  Ikatan batin merea lebih dalam dari sekadar ikatan darah, mereka adalah dua jiwa yang memilih bersatu, menghadapi dunia sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. 

  Mereka bukan sekadar anak tanpa hubungan darah, tapi mereka adalah keluarga yang lahir dari cinta dan pengorbanan.

  " Nafisha, dimana pun kamu berada, semoga kamu baik-baik saja, kembalilah, ibu sangat merindukanmu." Lirihnya pilu. 

  Meski ia sangat membencinya tapi ia tetap menyanyinya lebih dari apapun. 

1
MataPanda?_
trus semngat kak sampe hapy ending 😀
hidagede1
ucapan cassia menjadi kenyataan, nafisa sampai tidak kepikiran untuk memikirkan/menjatuhkan cassia
hidagede1
nafisha benar" lupa akan cassia
Erna Ismail
👍
Aqil Baim
semangat pagi
hidagede1
sama" rubah licik, yg paling licik yg menang 🤭😂
hidagede1
jd arzhela tau kalo cassia hidup kembali?
Senjaku02: belum.
total 1 replies
hidagede1
kalo smith tau anak kandung nya, knapa smith tetap mencintai anak angkat nya ketimbang anak kandung nya?
Senjaku02: ikuti terus kelanjutannya ya☺️☺️
total 1 replies
MataPanda?_
trus lanjut kak semangat 😀
Jue
Kenapa Veronica tidak berjodoh dengan abang Casia sahaja , Dengan itu hubungan Veronica dan Casia akan bertambah erat serta dekat .
Jue
Akhirnya ada cinta di hati Casia buat Dax , Semoga mereka bahagia dan menang melawan kejahatan Nafisha dan Darian
MataPanda?_
wah udah ada kelanjutan y trimakasih kak semangat trus..
selalu d berikan kesehatan 😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!