NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vvhiiiiivhy

Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Jamuan Berdarah dan Tatapan Sang Tirani

Keheningan yang mencekam menyelimuti aula utama kediaman Adipati Killian. Cahaya lilin dari lampu gantung kristal yang megah memantulkan bayangan panjang di atas lantai marmer yang mengilap, menciptakan atmosfer yang dingin dan menekan. Malam ini adalah malam perayaan kemenangan sang Duke atas pemberontakan di wilayah perbatasan selatan, sebuah acara yang dihadiri oleh para bangsawan kelas atas kekaisaran—termasuk mereka yang di masa lalu pernah menginjak-injak harga diri Elena.

Elena berdiri di dekat pilar besar, jemarinya yang terbungkus sarung tangan sutra putih menggenggam segelas anggur merah dengan anggun. Gaun malamnya berwarna merah marun pekat, kontras dengan kulitnya yang seputih pualam, membuatnya tampak seperti mawar yang mekar di tengah hamparan salju. Matanya yang jernih namun dingin menatap tajam ke arah kerumunan. Di sana, di sudut ruangan, Gavin sedang tertawa bersama beberapa menteri, sementara adik tirinya, Misha, bergelayut manja di lengannya dengan senyum polos yang memuakkan.

Tertawalah selagi kalian bisa, bisik Elena dalam hati. Kilasan ingatan masa lalu mendadak berputar di kepalanya. Rasa panas api yang membakar kulitnya di sel penjara bawah tanah, tangisan memilukan putranya yang masih kecil saat ditebas oleh prajurit Gavin, dan tawa kemenangan Misha. Semua rasa sakit itu berubah menjadi bahan bakar yang membakar jiwanya dengan dendam yang membara.

"Kau menatap mereka seolah-olah ingin mencabik daging mereka menjadi serpihan kecil, Elena."

Sebuah suara berat dan rendah berbisik tepat di samping telinganya. Elena tidak terkejut. Aroma maskulin yang khas, bercampur dengan aroma samar besi dan minyak senjata, langsung memberitahunya siapa yang datang. Duke Killian berdiri di sampingnya, mengenakan seragam militer hitam formal dengan tanda pangkat emas yang berkilau. Wajahnya yang tampan namun kaku seperti pahatan es tidak menunjukkan emosi apa pun, tetapi matanya yang sehitam malam mengunci pandangan Elena.

"Apakah tatapanku terlalu kentara, Yang Mulia?" Elena membalas dengan senyum tipis yang penuh rahasia, memutar gelas anggurnya perlahan.

"Bagi orang awam, kau hanya terlihat seperti wanita cantik yang sedang bosan," Killian meraih gelas anggur dari pelayan yang lewat, menyesapnya sedikit tanpa melepaskan pandangannya dari Elena. "Namun bagiku, kau terlihat seperti seekor harimau yang siap menerkam mangsanya. Ingat aliansi kita, Nona Muda. Aku tidak suka jika sekutuku bertindak ceroboh dan merusak rencana besarku."

"Anda tidak perlu khawatir, Duke," Elena berbalik sepenuhnya menghadap sang tirani berdarah dingin. "Saya tahu persis kapan harus menyerang. Malam ini, saya hanya ingin memberi mereka sedikit hidangan pembuka. Penghancuran yang sesungguhnya membutuhkan persiapan yang matang, bukan?"

Killian menatap Elena dengan minat yang mendalam. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan tipis—sebuah senyuman langka yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya gemetar ketakutan. "Bagus. Aku memegang katamu."

Tepat saat itu, dentang lonceng perak berbunyi, menandakan acara utama akan segera dimulai. Gavin, yang merasa posisinya semakin kuat setelah mendekati beberapa menteri keuangan, berjalan ke tengah aula. Dengan langkah tegap dan senyum penuh percaya diri, ia mengangkat gelasnya, bersiap memberikan pidato penghormatan untuk sang Duke. Namun, sebelum Gavin sempat membuka mulutnya, seorang pelayan dengan wajah pucat pasi berlari masuk ke dalam aula dan berlutut dengan gemetar di hadapan Duke Killian dan para menteri.

"L-Lapor, Yang Mulia Duke! Ada... ada kekacauan di gudang pasokan logistik milik Kementerian Perdagangan!" seru pelayan itu dengan suara terbata-bata yang menggema di seluruh aula yang mendadak hening.

Wajah Gavin langsung berubah pucat. Kementerian Perdagangan adalah sektor yang baru saja ia ambil alih secara rahasia melalui pengaruh dana dari keluarga Elena—sebelum Elena kembali ke masa lalu.

"Kekacauan apa?" tanya salah satu menteri tua dengan kening berkerut.

"Seluruh dokumen transaksi gelap dan bukti suap yang melibatkan... melibatkan Tuan Gavin dan beberapa pejabat perbatasan telah ditemukan tertempel di papan pengumuman alun-alun kota sejak satu jam yang lalu! Pasukan penjaga kota saat ini sedang menuju ke sini untuk melakukan penangkapan!"

Bisik-bisik langsung pecah di antara para bangsawan. Pandangan menuduh dan jijik langsung tertuju pada Gavin. Misha, yang berada di sampingnya, melepaskan pegangannya dengan wajah panik, ketakutan jika dirinya ikut terseret ke dalam masalah besar ini.

"Ini fitnah! Ini tidak mungkin!" teriak Gavin, suaranya melengking panik. Ia menatap sekeliling dengan liar, mencoba mencari perlindungan atau pembelaan dari para menteri yang sebelumnya menjilatnya, namun mereka semua justru memalingkan muka, tidak ingin terlibat dengan seorang pengkhianat kekaisaran.

Elena memperhatikan pemandangan itu dengan kepuasan yang mendalam. Tentu saja dokumen-dokumen itu menyebar. Dialah yang mengirimkan salinan bukti tersebut secara anonim kepada komandan pasukan penjaga kota, yang kebetulan adalah paman dari pihak ibunya yang setia. Di kehidupan pertamanya, pamannya disingkirkan oleh Gavin sebelum sempat bertindak. Namun kali ini, Elena bergerak tiga langkah lebih cepat.

Gavin yang frustrasi akhirnya menangkap sosok Elena yang berdiri di dekat Duke Killian. Dengan mata memerah penuh amarah, ia melangkah maju dan menunjuk Elena dengan jari gemetar. "Kau! Ini pasti perbuatanmu, kan?! Kau sengaja menjebakku karena aku menolak permintaanmu tempo hari!"

Elena tidak mundur satu inci pun. Ia justru melangkah maju, memasang wajah yang tampak terkejut sekaligus terluka, sebuah akting yang sangat sempurna hingga membuat beberapa bangsawan wanita di sekitar mereka merasa iba.

"Tuan Gavin, apa yang Anda bicarakan?" suara Elena terdengar bergetar, seolah-olah ia adalah korban yang teraniaya. "Keluarga saya telah memberikan begitu banyak bantuan untuk Anda. Mengapa Anda tega menuduh saya setelah tindakan kriminal Anda sendiri terungkap? Apakah ini cara Anda membalas kebaikan kami?"

"Kau wanita ular—!"

Brakk!

Gavin tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Duke Killian melangkah di depan Elena, menghalangi pandangan Gavin sepenuhnya. Aura membunuh yang luar biasa pekat mendadak keluar dari tubuh sang Duke, membuat suhu di dalam aula megah itu terasa turun drastis hingga membekukan sumsum tulang.

"Jaga bicaramu di kediamanku, Gavin," suara Killian begitu dingin dan tajam, bagaikan bilah pedang yang siap menebas leher. "Menuduh sekutu dari Duke dari wilayah utara tanpa bukti sama saja dengan menantangku. Apakah kau sudah bosan hidup?"

Tekanan dari tatapan Killian membuat lutut Gavin lemas. Pria yang di kehidupan lalu menjadi Kaisar yang kejam itu, kini berlutut di lantai marmer, gemetar ketakutan di hadapan sang tirani yang sesungguhnya. Pintu aula terbuka lebar, dan pasukan penjaga kota bersenjata lengkap masuk, langsung meringkus Gavin yang sudah tidak berdaya.

Saat Gavin diseret keluar dari aula dengan paksa, matanya sempat bertemu dengan mata Elena. Pada detik itulah, Elena melepaskan topeng korbannya. Ia menatap Gavin dengan tatapan dingin, penuh kemenangan, dan seringai tipis yang mengerikan. Gavin membelalakkan matanya, baru menyadari bahwa domba penurut yang selama ini ia manfaatkan telah berubah menjadi monster yang siap menghancurkannya.

Setelah kekacauan mereda dan para tamu mulai berbisik-bisik di sudut lain aula, Elena menghela napas panjang, merasakan beban di dadanya sedikit berkurang, meski ia tahu ini barulah permulaan.

"Akting yang sangat mengesankan, Elena," Killian berbisik dari balik punggungnya, memecah keheningan di antara mereka berdua. "Kau membuat seluruh bangsawan di ruangan ini percaya bahwa kau adalah korban yang suci."

Elena berbalik, menatap Killian dengan senyum yang kini terlihat tulus namun penuh tekad. "Dalam permainan ini, Yang Mulia, menjadi serigala berbulu domba adalah senjata terbaik. Terima kasih atas bantuan Anda malam ini."

Killian menatap mata Elena yang berkilau di bawah cahaya lilin. Untuk pertama kalinya, sang tirani merasakan ketertarikan yang tidak biasa pada seorang wanita. Wanita di hadapannya ini bukan sekadar sekutu politik; dia adalah api yang membakar kegelapan, dan Killian tidak keberatan untuk ikut terbakar bersamanya.

"Ingat aliansi kita, Elena. Selama kau menguntungkanku, aku akan menjadi pedang dan perisaimu," ucap Killian, mengangkat gelasnya ke arah Elena.

Elena menyentuhkan gelas anggurnya ke gelas Killian, menghasilkan dentang berdenting yang menandakan awal dari kehancuran para musuh mereka. "Demi aliansi kita, Yang Mulia Duke."

Malam itu, di dalam aula kediaman Killian, Elena tahu bahwa takdir telah benar-benar berubah. Dia bukan lagi Elena yang naif yang mati terbakar di sel bawah tanah. Dia adalah Elena yang kembali dari neraka untuk menyeret semua pengkhianat bersamanya, dan kali ini, dia memiliki sang tirani berdarah dingin di sisinya.

1
Pelangi Jingga
ceritanya di ulang trus
jenny
pelayan setianya ganti kak? bukannya namanya Yana?
jenny
Misha atau Dara
Nycthophile
banyak bener nih adik tiri punya nama😌
jenny: ha ha hs
total 1 replies
Nycthophile
Thor mohon maaf nih sebelum nya minta tolong kalo ada pergantian nama karakter kasih tau Thor soal nya nama adik tiri nya Elena ganti ganti terus 🙏😔
jenny: saya pikir bukan cuma saya yang bingung cz banyak nama di setiap chapter... 🤭 atau mungkin adik tirinya lebih dari satu dan semuanya tergila-gila dengan Gavin 😄
total 1 replies
Nycthophile
nama adik tiri nya yang benar Mya atau Misha Thor😔
Nycthophile
lagi perasaan tiga bab udah di ulang terus😔
Nycthophile
nama adiknya ganti ya terus Thor awalnya Dara abis itu Misha sekarang Mya😔
Siskasuryaningsih
namanya semua di ganti2, eh bambang lu ye, buat kepala ane pening tau, 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!