Dibuang dan dijadikan pelayan oleh keluarga angkatnya, Lin Yue tidak menyangka bahwa seminggu sebelum kiamat ia mengaktifkan Sistem Suaka di rumah tua neneknya.
Saat Virus Genesis meletus, manusia, hewan, dan tumbuhan bermutasi menjadi monster berelemen. Di tengah kiamat yang mengerikan, rumah tua Lin Yue diubah oleh Sistem menjadi zona aman mutlak!
Aturan Lin Yue sangat sederhana: "Mau makanan hangat, listrik, dan perlindungan? Bayar sewa pakai Kristal Inti di kepala zombie!"
Dari kos-kosan 4 kamar sederhana, Lin Yue membangun perumahan elit hingga kota suaka terbesar di dunia, memaksa keluarga angkat yang dulu menyiksanya berlutut memohon perlindungan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: ATURAN KETAT IBU KOS
BAB 12: Aturan Ketat Ibu Kos
Sinar matahari pagi membias kusam di atas tumpukan reruntuhan beton bertulang yang hancur di seberang jalan. Angin dingin berembus perlahan, membawa kepulan debu tipis yang melintasi lorong gang. Berita berbisik yang disebarkan secara rahasia oleh Xiao Chen mengenai keberadaan Kos-kosan Ajaib Suaka merayap sangat cepat bagaikan api menyambar semak kering, dengan cepat menarik perhatian para penyintas terdesak yang bersembunyi di sudut-sudut gelap Distrik Jiangcheng.
Di luar pintu gerbang pagar besi utama Suaka, berdiri lima orang penyintas dengan kondisi fisik yang sangat memprihatinkan.
Tubuh mereka kurus kering hingga tulang-tulang rusuk mereka menonjol jelas di balik pakaian yang koyak-koyak, tertutup oleh lapisan debu hitam dan tanah kering. Mata mereka cekung jauh ke dalam tengkorak, memancarkan kelesuan serta keputusasaan yang teramat sangat. Tiga di antaranya adalah para penyintas pemungut barang bekas yang kemarin sempat berpapasan dengan Xiao Chen di gedung perbelanjaan hancur, sementara dua orang lainnya adalah pasangan suami istri paruh baya yang tampak saling merangkul seraya memeluk erat sebuah ransel usang berwarna cokelat kusam.
Kelima orang itu berdiri membatu di seberang pagar besi, menatap papan pengumuman berhiaskan larik tulisan emas bersinar di samping pintu gerbang dengan sepasang mata yang membelalak lebar. Tatapan mereka berguncang hebat antara rasa takjub, ketidakpercayaan yang mendalam, dan rasa haus akan jaminan keselamatan hidup.
"Air bersih tak terbatas... aliran listrik dua puluh empat jam penuh... bebas serangan zombie seratus persen..." bisik pria paruh baya itu dengan tenggorokan yang bergoyang turun-naik, suaranya parau dan bergetar hebat. "Tempat ini... tempat ini benar-benar sebuah surga di tengah neraka!"
"Tapi coba kamu lihat persyaratan biaya sewanya!" potong salah satu penyintas pemungut barang bekas di sebelahnya dengan nada suara cemas dan panik. "Dua buah Kristal Inti per minggu! Kita bertiga hanya berhasil mengumpulkan satu kristal inti keruh dari hasil memotong kepala zombie busuk yang terjepit pintu reruntuhan kemarin!"
Saat kelima orang itu sedang berbisik-bisik penuh keraguan dan kecemasan di luar pagar, sebuah nada mekanis berderit halus.
Cklek.
Pintu kayu utama rumah tua dua lantai itu terbuka perlahan ke arah dalam.
Lin Yue melangkah keluar dari dalam kegelapan rumah dengan gerakan yang amat tenang dan santai. Ia mengenakan celana kargo hitam ringkas dan kaus polos berwarna senada yang bersih tanpa noda. Di genggaman tangan kanannya, tombak kayu jati rakitan berujung pisau dapur tebal yang kilau bajanya tampak tajam dipanggul dengan santai di atas bahunya. Sepasang matanya jernih, tajam, dan sangat dingin—sama sekali tidak memancarkan kehangatan atau simpati seorang penyelamat yang haus puji.
Ia melangkah perlahan menuruni anak tangga kayu, menyeberangi halaman tanah, dan berhenti tepat beberapa inci di belakang garis batas pagar besi luar.
Di sekeliling jeruji besi di depan kakinya, sirkuit energi Barrier Listrik Level 1 berdesir halus, memancarkan letupan-letupan kecil arus listrik berwarna biru terang. Pemandangan itu menciptakan kontras yang amat tajam antara aura ketenangan mutlak yang dipancarkan oleh sosok Lin Yue dengan kerapuhan serta penderitaan kelima penyintas yang meringkuk di luar.
Melihat kehadiran sang Pemilik Suaka secara langsung, kelima penyintas itu secara instinktif mengambil satu langkah mundur. Tubuh mereka gemetar, merespons intimidasi tak kasat mata dari aura kewaspadaan dan keberadaanLin Yue yang mendominasi kawasan tersebut.
"Kalian berdiri terlalu dekat dengan pintuku," ujar Lin Yue dengan nada suara yang datar dan dingin. Suaranya tidak keras, tetapi sanggup menembus keheningan pagi dengan kejernihan yang memotong udara. "Apakah kalian datang ke sini untuk melakukan transaksi sewa kamar, atau kalian hanya ingin menjadikan diri kalian sebagai umpan gratis bagi rombongan zombie di ujung jalan?"
Pria paruh baya yang menggendong ransel usang membuang napas gemetar. Ia memberanikan diri mengambil satu langkah maju ke depan, memegang erat tali ranselnya seraya merundukkan kepalanya dalam-dalam.
"S-Saudari..." bisik pria paruh baya itu dengan suara serak yang memohon, memperlihatkan tingkat kepatuhan dan rasa hormat yang mendalam. "Kami... kami mendengar kabar ajaib ini dari Xiao Chen. Kami berdua sangat ingin menyewa satu kamar di sini! Saya dan istri saya sudah tidak tahan lagi, kami sangat membutuhkan air bersih dan perlindungan yang aman dari mahluk-mahluk itu. Kami memiliki... kami membawa barang-barang berharga ini untuk membayar sewa!"
Dengan gerakan jari yang panik dan gemetar, pria itu merogoh bagian dalam ransel usangnya. Dari dalam kain lusuh, ia mengeluarkan dua buah kaleng kornet daging sapi yang tutupnya masih tersegel rapi dan sebuah jam tangan logam berwarna emas yang bertatahkan kristal imitasi. Pria itu menyodorkan kedua benda tersebut melintasi celah jeruji pagar besi dengan kedua tangannya yang gemetar.
"Ini makanan kaleng daging murni yang belum kedaluwarsa dan jam tangan emas mahal, Saudari! Tolong, kami memohon dengan sangat, izinkan kami sekeluarga menyewa satu kamar untuk masa tinggal dua minggu!" mohon pria itu dengan mata membelalak penuh ratapan harapan.
Lin Yue bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah jam tangan emas berkilau tersebut. Pandangan matanya yang tajam hanya terkunci dingin pada dua buah kaleng kornet daging sapi di tangan pria itu.
Bip!
Layar antarmuka transparan Sistem di dalam kesadaran Lin Yue berkedip cepat, menganalisis secara otomatis tingkat energi dan nilai komoditas yang disodorkan.
[Sistem Memulai Analisis Komoditas Tambahan:]
2 Kaleng Kornet Daging Sapi (Kondisi Segel Utuh & Baik): Tingkat Kebutuhan Alami Tinggi. Dapat dikonversi menjadi 2 Poin Energi Sistem / Layak Diterima sebagai Alat Pembayaran Sewa Kamar Setara 1 Minggu.
1 Jam Tangan Logam Bertatahkan Kristal Imitasi: Nilai Energi Mutlak: 0 Poin (Objek Sampah Tanpa Fungsi - Ditolak).
Lin Yue mengibaskan pergelangan tangan kanannya secara perlahan.
Sebuah gelombang energi transparan yang halus menyapu udara. Dua buah kaleng kornet daging sapi itu mendadak terlepas dari genggaman sang pria, melayang masuk melintasi garis batas pelindung tanpa hambatan, lalu secara otomatis lenyap terserap ke dalam ruang Inventaris Sistem miliknya. Sementara itu, jam tangan emas yang disodorkan terjatuh ke atas tanah kering tanpa diberi perhatian sedikit pun.
"Dua kaleng makanan ini bernilai setara dan cukup untuk pembayaran sewa Kamar 102 selama masa satu minggu pertama," kata Lin Yue dengan suara tegas tanpa ragu.
Melihat kaleng makanannya diterima dan mendengar keputusan tersebut, sepasang suami istri paruh baya itu seketika menumpahkan air mata haru yang tidak sanggup lagi mereka bendung. Tubuh mereka gemetar hebat, saling berpelukan erat. "Terima kasih banyak, Saudari! Terima kasih atas kemurahan hati Saudari!"
Namun, sebelum pasangan suami istri itu melangkah maju menuju pintu Kamar 102, Lin Yue mengangkat sedikit gagang tombak jati di tangannya. Ujung mata pisau dapur yang berkilau dingin terangkat perlahan, menunjuk lurus tepat ke arah wajah kelima orang penyintas di seberang pagar.
Seketika itu juga, atmosfer di sekitar pintu gerbang berubah menjadi amat berat, tegang, dan mencekam.
"Tahan langkah kalian," ujar Lin Yue dengan nada suara yang begitu dingin dan menusuk, bagaikan sabetan belati es yang siap mengoyak tenggorokan siapa pun yang membangkang. "Sebelum kalian melangkahkan kaki masuk dan menikmati fasilitas di dalam propertiku, ada Aturan Mutlak Ibu Kos yang wajib kalian tanamkan di dalam kepala kalian tanpa ada pengecualian sedikit pun."
Lin Yue memandang sepasang mata kelima orang tersebut satu per satu dengan tatapan tajam, memastikan setiap kata yang keluar dari mulutnya tertanam kuat di dalam pusat kesadaran mereka:
Aturan Pertama: Dilarang keras melakukan tindakan pertengkaran, pencurian, pengerusakan, atau aksi kekerasan dalam bentuk apa pun di seluruh area kekuasaan Suaka. Jika ada penyewa yang mencoba memprovokasi, merusak fasilitas, atau membahayakan penyewa lain di dalam lingkungan ini, Sistem pertahanan Suaka akan secara otomatis mengeksekusi mati orang tersebut di tempat tanpa perlu memberikan peringatan.
Aturan Kedua: Pembayaran sewa kamar wajib dilakukan secara tepat waktu menggunakan Kristal Inti Keruh Level 0 atau komoditas bahan pangan bernilai setara yang disetujui secara langsung oleh Pemilik. Tidak ada sistem penunggakan pembayaran, tidak ada janji utang, dan tidak ada rasa kasihan. Begitu masa sewa kalian habis dan saldo kalian kosong, pintu kamar akan mengunci secara otomatis dari dalam dan tubuh kalian akan dilempar keluar melintasi barrier perlindungan.
Aturan Ketiga: Hak Otoritas Pemilik Suaka adalah Mutlak dan Tanpa Batas. Pemilik berhak mematikan fasilitas air bersih, memutus pasokan aliran listrik, atau mengusir siapa pun dari area properti kapan saja tanpa perlu memberikan penjelasan atau alasan.
Tiga aturan utama yang diucapkan oleh Lin Yue disampaikan secara sangat lugas, tajam, dan tidak kenal kompromi. Tidak ada sedikit pun ruang terbuka untuk negosiasi, dan tidak ada tempat bagi manipulasi emosional atau ratapan kesedihan.
Tiga orang penyintas pemungut barang bekas yang berdiri di belakang tampak gemetar ketakutan setengah mati saat mendengar aturan-aturan yang sangat dingin tersebut. Namun sebaliknya, bagi pasangan suami istri paruh baya yang telah berulang kali menyaksikan pengkhianatan dan kejamnya dunia luar, aturan ketat yang tidak kenal kompromi ini justru memberikan rasa aman yang luar biasa mutlak!
Di dunia yang telah kehilangan seluruh tatanan hukum dan kepolisian ini, tempat dengan aturan paling keras dan pengawasan paling mematikan adalah satu-satunya tempat di mana mereka dapat tidur dengan nyenyak tanpa perlu takut ditikam atau dirampok oleh penyintas lain di tengah malam!
"Kami mengerti dan paham sepenuhnya, Saudari! Kami bersumpah akan mematuhi seluruh hukum dan aturan Saudari selama kami berada di tempat ini!" seru pria paruh baya itu dengan mantap, seraya membungkukkan badannya secara mendalam ke arah Lin Yue.
Brak! Cklek!
Panel Kunci Digital di samping pintu besi Kamar 102 mendadak memancarkan pendaran cahaya hijau terang, berbunyi nyaring, dan pintunya terdorong terbuka secara otomatis dari dalam.
Pasangan suami istri itu tidak membuang waktu. Dengan tangis haru yang menyelimuti wajah mereka, mereka segera melangkah dan merangkak masuk ke dalam ruangan unit Kamar 102. Begitu tubuh kedua orang itu melewati ambang pintu, pintu besi hitam yang tebal dan padat itu berdenting nyaring lalu tertutup rapat secara otomatis, mengunci mereka dengan aman di dalam surga baru mereka.
Lin Yue memutar pandangan matanya, mengalihkan perhatian dinginnya pada tiga orang penyintas pemungut barang bekas sisanya yang masih berdiri mematung di luar garis gerbang.
"Bagaimana dengan kalian bertiga?" tanya Lin Yue dengan nada datar tanpa emosi. "Apakah kalian memiliki kristal inti atau bahan pangan berharga untuk menyewa unit Kamar 103 dan Kamar 104?"
Ketiga penyintas pemungut itu menelan ludah mereka dengan sangat susah payah. Tenggorokan mereka terasa semakin kering. Salah satu dari mereka merogoh kantong celananya yang robek dengan jemari gemetar, lalu memperlihatkan satu-satunya batu abu-abu keruh berukuran biji jagung yang mereka miliki bertiga.
"K-Kami bertiga hanya memiliki satu buah Kristal Inti Keruh ini, Saudari..." bisik penyintas itu dengan nada suara pasrah dan penuh keputusasaan. "Apakah... apakah tidak bisa jika kami bertiga patungan menggunakan satu kristal ini untuk menyewa satu kamar selama dua atau tiga hari terlebih dahulu?"
Lin Yue menatap batu abu-abu di tangan penyintas tersebut dengan tatapan dingin, lalu menggelengkan kepalanya secara perlahan tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Tidak ada sistem pembayaran setengah-setengah atau sewa harian," jawab Lin Yue tanpa sedikit pun rasa belas kasihan. "Pergi cari satu kristal inti lagi, atau berburulah zombie di luar sana hingga kalian memiliki modal yang cukup untuk menyewa satu minggu penuh. Suaka ini didirikan sebagai area bisnis, bukan yayasan amal bagi orang-orang yang malas."
Tanpa membuang waktu lagi untuk mendengarkan ratapan mereka, Lin Yue membalikkan badannya secara santai, melangkah kembali menuju pintu rumah tua utamanya.
Ia meninggalkan ketiga penyintas itu yang berdiri mematung di luar gerbang dalam penyesalan yang teramat mendalam—menyesali mengapa mereka tidak berburu zombie dengan lebih giat dan berani kemarin.
Hukum ketat Ibu Kos Suaka telah ditetapkan dengan sangat tegas, dan di era kehancuran kiamat ini, setiap aturan yang keluar dari mulut Lin Yue adalah sabda mutlak yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun.
Bersambung.....
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...