Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Day 7...
Al yang bantu Rin ke pasar dan ikut makan siang hari itu adalah hari terakhir mereka bertemu. Saat pulang Al juga memborong banyak roti katanya titipan teman-temannya.
Rin juga nggak mau tahu lagi tentang laki-laki dingin itu. Neneknya cerita tentang kebaikan Al tapi bagi Rin Al tetaplah seseorang yang dingin. Dan Rin merasa sedikit takut kalau ada di dekat Al.
Sore itu Rin kembali mendaki bukit sekedar menjernihkan pikirannya sebelum nanti kembali dipenuhi kegiatan kuliahnya. Rin duduk di kursi yang sama dengan kemarin, di posisi yang sama. Dia mengeluarkan catatan dan kembali menulis.
Tak lama ada seseorang yang duduk di ujung lainnya. Rin melihat Al duduk persis seperti kemarin. Hoodie, topi, Earphone bedanya kali ini celananya santai sepanjang lutut juga sepatu putih yang sama.
Rin melihat Al dan tersenyum. Tapi Al kembali sibuk dengan ponselnya. Rin mendengus pelan lalu melanjutkan menulis sambil kembali mengirim pesan dengan Ara.
Rin : dia juga datang. Mau negur tapi dingin banget
Ara : 😆 secakep apa sih? Coba fotoin!
Rin : malu ah
Ara : koo malu? Bukannya kalian udah kenal?
Rin tersenyum lalu dia memoto dirinya sendiri dan memasukkan sedikit siluet Al. Pura-pura mencari angle yang pas. Rin mengirim ke Ara.
Ara : ah dikit banget! Nggak keliatan!
Rin terkikik senang bisa mengerjai Ara. Ara penasaran banget soal Al dari cerita-cerita Rin. Kayaknya Al tu ganteng banget, tapi kalau dilihat memang terlihat putih, sayangnya nggak kelihatan mukanya.
Al melirik Rin yang kembali asik dengan ponselnya dan terkikik setiap ada balasan. Al menduga Rin sedang berbalas pesan dengan pacarnya. Dan Al sedikit terganggu dengan suara Rin.
"Ck! Berisik!"
"pindah aja sana!" balas Rin tanpa melihat Al.
"ini tempatku!"
"ini tempat umum," jawab Rin tak mau kalah.
"nggak ada yang tahu tempat ini, Rin!" suaranya bernada datar dan dingin menyebut namanya. Baru kali ini Al mengalihkan pandangan dari ponsel dan menatap wajah Rin bahkan menyebut namanya! Rin baru sadar mata Al yang kecoklatan menatapnya. Ganteng. Rin sadar dan kembali menulis seolah tak peduli.
"Ma... Masa sih nggak ada yang tahu," gumam Rin.
"Memang nggak ada, ini biasanya tempatku!" jawab Al masih memainkan ponselnya. Kali ini Rin mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Al.
"Hahaha mana mungkin! Gue sering ke sini dan kursi ini selalu kosong!"
"Kamu lupa kalau aku baru kembali ke kota ini? Aku dulu buat kursi ini. Dan entah gimana malah kamu juga ikut duduk di sini," ucapnya pelan.
"Oh jadi gue nggak boleh duduk di sini?"
"Ck! Bukan nggak boleh, jangan berisik!"
"Ya maaf," ucap Rin pelan. Al kembali memasang earphone-nya.
Rin : barusan dia protes karna aku berisik, pdhal telinganya dipasang earphone!
Ara : wkwkwk dingin banget ya?
Rin : serem tau!
Rin bisa membayangkan Ara pasti tertawa senang di sana. Rin membuang napasnya dan menyimpan buku catatannya dan mengeluarkan botol minumnya. Ah, Rin juga mengeluarkan toples kecil berisi cookies. Rin menimbang-nimbang apa dia tawarkan ke Al atau tidak. Tapi akhirnya dia membuka toples dan menyodorkannya ke hadapan Al.
Al mengangkat wajahnya saat aroma cookies menyeruak indera penciumannya. Rin sedang menyodorkan toples itu ke arahnya.
"Kenapa?"
"Uhm... lo mau?"
Kembali Al melirik isi toples yang menggiurkan. Bentuknya bulat kecil berwarna coklat. Dari aromanya aja Al sudah membayangkan betapa enaknya cookies itu.
"Ambil aja! Sebagai permintaan maaf kalo gue udah bikin lo terganggu," ucap Rin. Al ngambil dua dan langsung memakannya.
"Thanks," ucapnya pelan. Rin mengangguk tapi entah Al lihat atau nggak. "Enak!" ucapnya pelan.
"Haaa? Apa?" tanya Rin.
"Perasaan aku yang pakai earphone, kamu malah nggak dengar!" ucapnya.
Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Rin dengar!
"Lo bilang apa?"
"telingaku ketutup tapi kamu yang budek!"
Deg! Nyebelin banget kan? Kaku banget! Ngomong irit. Rin jadi nyesel bilang dia ganteng.
"nggak! Yang sebelumnya lo bilang apa?" tanya Rin lagi.
"enak?" Al mengacungkan cookies terakhir di tangannya.
"ooooh... Ya enak dong!" jawab Rin.
"kamu beli dimana?" tanyanya.
"jangan kaku gitu kenapa sih? Gue jadi kayak diinterogasi dosen. Panggil lo gue aja!" ucap Rin. Al mengangguk.
"beli dimana?"
Rin sampe narik napas lagi. Makin irit ngomong si manusia dingin di sebelah Rin.
"nggak beli, ini gue bikin sendiri!" ucap Rin. Al menatapnya. Lagi-lagi mata coklat itu seolah menghipnotis Rin.
"Bikin?"
"Nggak! disulap! tuh kan, elo yang budek sebenernya!" Rin berkata tapi sambil tertawa lalu terdiam saat Al masih menatapnya tanpa senyum. Rin jadi takut salah ngomong.
"Beli.... Setoples kecil itu!" tunjuknya pada toples di pangkuan Rin.
"Gue nggak jual! Ini cuma iseng bikin buat nemenin nulis. Lo kalo suka makan aja, nih!" Rin menyodorkan toples itu. Rin letakkan diantara mereka duduk.
Tanpa basa basi Al ngambil dua lagi dan memakannya dalam diam. Rin tersenyum karena ternyata Al suka cookiesnya. Itu artinya cookiesnya enak di lidah orang lain. Rin berencana mau memajang cookies itu juga di Roemah Roti milik neneknya.
"Menurut lo berapa rating cookies ini? Dari 1 sampai 10?" tanya Rin.
"8!" jawab Al tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"cuma 8?" tanya Rin.
"kenapa?" tanya Al.
"gue pikir udah 9/10. Gue mau jual ini di Roemah Roti punya nenek. Tapi belum oke kayaknya,"
"udah!"
"Haaa? Udah apanya?" tanya Rin.
"udah oke, lu jual aja!" ucap Al. Tapi Rin masih ragu.
"lusa gue beli, 3 toples segitu!" tunjuk Al pada toples yang cookiesnya tinggal setengah itu.
"serius?" tanya Rin.
"lo nggak mau buat?"
"eeeh mau... Mau... Oke gue catet. Lo beli 3 toples. Buat lusa. Mau kualitas premium atau yang biasa aja?" tanya Rin. Al melongo. Yah mana dia tahu soal kualitas premium atau nggak. Yang dia tahu enak atau nggak aja.
"samain dengan ini!" dagunya menunjuk toples. Rin mengangguk senang kembali menulis di catatannya.
"oke. Deal. Lusa gue bawain dan harganya..."
"nggak masalah, sebut aja!" ucap Al. Rin teriak kesenangan. Al sampai kaget dan menatap Rin jengkel.
"hehehe sorry. Ini resep gue, gue seneng dong kalo ada yang order! Lumayan buat ngisi celengan!" Rin tersenyum senang.
"Hmmm..." Al beranjak.
"Eh mau kemana?" tanya Rin yang refleks memegang lengan Al.
"Pulang!"
"Eh... Oh oke, maaf!" ucap Rin. Hati senang membuatnya lupa kalau mereka nggak deket.
"mau ditemani?" tanya Al.
"emang boleh?" tanya Rin. Seketika dia menyesali mulutnya yang asal nanya tanpa pikir. Tapi Rin kaget waktu Al kembali duduk di kursi tanpa berkata apapun. Duh...!
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok