“Ketika aku masih menjadi Tuan Muda, kalian semua menghormatiku. Namun, setelah dantianku hancur, bahkan keluargaku sendiri menganggapku sampah.”
“Aku telah mengorbankan segalanya untuk kalian. Apakah penghinaan dan pengkhianatan ini balasan yang pantas kuterima?”
Dikhianati sekte, dihina keluarga, dan ditinggalkan orang-orang yang dicintainya, Qin Xuan kehilangan segalanya.
Namun, ketika semua orang menganggapnya tidak berguna, sebuah pagoda misterius justru memilihnya sebagai penguasa.
Mereka telah menghancurkan hidupnya. Kini, Qin Xuan akan membuktikan bahwa mereka telah meremehkan orang yang salah.
🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Kedatangan Para Tokoh Besar
Halaman latihan Keluarga Qin semakin ramai menjelang dimulainya Upacara Besar Klan. Para tamu terus berdatangan, sementara para pelayan sibuk menghidangkan makanan dan minuman.
Qin Xuan tetap duduk di sudut paling belakang. Jubah hitamnya menutupi sebagian wajah, membuat orang-orang yang tidak mengenalnya sulit melihat penampilannya dengan jelas.
Ia tidak tertarik mengikuti percakapan para tamu. Namun, sebuah pengumuman dari pintu masuk membuat suasana mendadak hening.
“Rombongan Akademi Bela Diri Tianyuan telah tiba!”
Semua orang segera menoleh.
Sekelompok pemuda dan pemudi memasuki halaman dengan langkah teratur. Masing-masing memiliki aura yang menunjukkan bahwa mereka bukan pendekar biasa.
Di depan rombongan berjalan seorang wanita cantik berusia sekitar dua puluhan. Penampilannya anggun, tetapi sorot matanya menunjukkan kepercayaan diri seorang ahli bela diri.
Wanita itu adalah Liu Yunshi, pengajar Akademi Bela Diri Tianyuan.
Kedatangan mereka membuat para tamu terkejut.
Akademi Bela Diri Tianyuan merupakan tempat pendidikan bela diri terbaik di Dinasti Zhao. Banyak pemuda berbakat dari berbagai wilayah berusaha keras agar dapat diterima di sana.
Bahkan seorang pengajar biasa dari akademi tersebut memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi daripada pemimpin keluarga besar di Kota Qingquan.
Karena itu, tidak seorang pun menyangka rombongan akademi bersedia menghadiri upacara Keluarga Qin.
Beberapa pemimpin keluarga mulai merasa gelisah. Jika Keluarga Qin berhasil menjalin hubungan dengan akademi, kedudukannya di Kota Qingquan tentu akan semakin kuat.
Di sudut halaman, Qin Xuan juga sedikit terkejut melihat Liu Yunshi dan rombongannya.
Kenapa mereka datang ke sini?
Sementara itu, Qin Xingqiong tampak sangat puas melihat reaksi para tamu. Ia segera berdiri bersama Qin Shan dan Qin Cangming untuk menyambut rombongan tersebut.
“Salam, Guru Liu. Terima kasih sudah bersedia datang,” ucap Qin Xingqiong sambil membungkuk hormat.
Qin Shan dan Qin Cangming ikut memberikan salam dengan sikap ramah.
Liu Yunshi mengangguk. Ketika memperhatikan Qin Xingqiong, ia menyadari bahwa kekuatan pemuda itu telah meningkat cukup banyak sejak pertemuan terakhir mereka di Menara Pertarungan.
Rupanya dia berhasil meningkatkan kultivasinya.
Liu Yunshi merasa perjalanan ini mungkin tidak akan sia-sia. Meskipun tujuan utamanya adalah mencari Qin Xuan yang menduduki peringkat pertama, merekrut Qin Xingqiong juga bisa menjadi hasil yang cukup baik.
Namun, ketika merasakan aura darah yang samar dari tubuh pemuda tersebut, keningnya sedikit berkerut.
Ia tidak langsung menanyakannya.
“Guru Liu, silakan duduk. Kami sudah menyiapkan tempat untuk kalian,” kata Qin Xingqiong.
Rombongan akademi kemudian menempati kursi kehormatan di barisan depan. Para pelayan segera menghidangkan makanan dan minuman.
“Terima kasih, Saudara Xingqiong,” ujar Wei Wuxiu.
Qin Xingqiong membalas dengan senyum ramah. Ia tampak menikmati perhatian yang diberikan para tamu kepadanya.
Setelah duduk, Liu Yunshi menoleh kepadanya.
“Qin Xingqiong, apa kau pernah mendengar tentang seorang pemuda bernama Qin Xuan?”
Qin Xingqiong sempat terdiam.
Nama itu langsung mengingatkannya kepada Qin Xuan yang duduk di sudut halaman. Namun, ia segera memahami bahwa Liu Yunshi sedang membicarakan pemuda lain yang baru saja menjadi juara Peringkat Manusia.
Ia sendiri baru mendengar kabar tersebut setelah keluar dari pengasingan.
Meskipun merasa sangat berbakat, Qin Xingqiong tahu bahwa dirinya belum mampu menandingi juara baru itu.
Untuk menduduki peringkat pertama, seseorang setidaknya harus memiliki kekuatan tujuh puluh dua banteng. Kekuatan sebesar itu masih jauh di atas kemampuannya.
“Maaf, Guru Liu. Aku belum pernah bertemu dengannya,” jawab Qin Xingqiong.
“Kalau dia berasal dari Provinsi Barat Daya, seharusnya namanya sudah lama terdengar.”
Liu Yunshi menghela napas pelan.
Ia kembali gagal mendapatkan petunjuk tentang pemuda yang dicarinya.
Namun, ia segera mengalihkan pembicaraan.
“Beberapa hari lagi, akademi kami akan membuka penerimaan murid di Kota Qingquan. Pemuda yang telah mencapai kekuatan delapan belas banteng biasanya sudah memenuhi syarat dasar.”
Qin Xingqiong memahami maksudnya.
“Terima kasih atas informasinya, Guru Liu. Saat pengujian nanti, aku akan menunjukkan kemampuanku.”
Melihat kepercayaan dirinya, Liu Yunshi mengangguk.
Kedatangan rombongan akademi membuat anggota Keluarga Qin semakin bangga. Mereka mulai memandang keluarga-keluarga lain dengan sikap meremehkan.
Namun, kegembiraan mereka belum berhenti.
“Penguasa Menara Pertarungan telah tiba!”
Pengumuman berikutnya membuat hampir seluruh tamu berdiri.
Seorang pria berjalan memasuki halaman dengan langkah mantap. Aura kuat yang terpancar dari tubuhnya membuat orang-orang secara naluriah menunjukkan rasa hormat.
Dia adalah Liu Chengfeng, Penguasa Menara Pertarungan Kota Tianfeng.
Kedudukannya jauh melampaui para pemimpin keluarga di Kota Qingquan. Bahkan Penguasa Kota Qingquan harus menghormatinya.
“Salam, Penguasa Menara!” seru para tamu hampir bersamaan.
Liu Chengfeng tersenyum.
“Aku sedang mengurus sesuatu di sekitar sini. Kebetulan kudengar Keluarga Qin mengadakan upacara hari ini, jadi aku mampir. Semoga kedatanganku tidak mengganggu.”
Qin Xingqiong segera maju bersama ayah dan Qin Cangming.
“Tentu saja tidak! Kehadiran Tuan merupakan kehormatan besar bagi keluarga kami.”
Liu Chengfeng memperhatikan Qin Xingqiong sejenak.
Ia dapat merasakan bahwa pemuda tersebut memang memiliki bakat yang cukup baik. Namun, jika dibandingkan dengan Qin Xuan yang ditemuinya di Menara Pertarungan, perbedaannya terlalu jauh.
“Aku mendengar Keluarga Qin memiliki seorang pemuda dengan Tubuh Pembunuh Haus Darah,” katanya. “Bakatmu memang cukup menjanjikan.”
Qin Xingqiong semakin gembira menerima pujian tersebut.
“Tuan terlalu memuji.”
Para pelayan segera menyiapkan kursi kehormatan yang jauh lebih besar daripada kursi rombongan akademi. Kursi itu ditempatkan tepat di tengah barisan utama.
Liu Chengfeng langsung duduk, sementara Qin Shan dan Qin Xingqiong menempati kursi di kedua sisinya.
Melihat pengaturan tersebut, beberapa anggota rombongan akademi merasa kurang senang. Meskipun mengetahui kedudukan Liu Chengfeng lebih tinggi, mereka tetap merasa Keluarga Qin terlalu membedakan perlakuan.
Liu Yunshi sendiri hanya diam.
Tidak lama kemudian, dua pengumuman kembali terdengar.
“Keluarga Sun telah tiba!”
“Rombongan Sekte Di Yuan telah tiba!”
Sun Yangde, Pemimpin Keluarga Sun, memasuki halaman bersama seorang lelaki tua berjubah mewah.
Lelaki tua itu adalah Tetua Zhu dari Sekte Di Yuan.
Kedatangan mereka secara bersamaan membuat beberapa tamu saling bertukar pandang. Hubungan Keluarga Sun dengan Qin Xuan sedang memburuk, sehingga tujuan kunjungan tersebut mudah ditebak.
Qin Shan segera menyambut mereka.
“Saudara Sun, Tetua Zhu, silakan masuk.”
Sun Yangde mengangguk, lalu langsung bertanya, “Apakah Qin Xuan datang hari ini?”
“Dia sudah datang. Duduk di bagian paling belakang,” jawab Qin Shan sambil menunjuk ke sudut halaman.
“Tenang saja, Saudara Sun. Hari ini kami akan menyelesaikan masalah itu.”
Sun Yangde menatap sosok berjubah hitam tersebut dengan dingin.
“Setengah bulan lalu, dia menerobos kediaman Keluarga Sun dan membunuh tetua ketiga beserta putranya. Aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja. Tetua Zhu juga datang untuk mengurus persoalan ini.”
Qin Shan segera menyatakan bahwa mereka akan memberikan penyelesaian yang memuaskan.
Namun, ketika Sun Yangde dan Tetua Zhu melihat Liu Chengfeng duduk di kursi utama, ekspresi keduanya langsung berubah.
Mereka buru-buru menghampirinya dan membungkuk hormat.
“Salam, Penguasa Menara!”
Liu Chengfeng hanya mengangguk singkat.
Meski demikian, keduanya sudah merasa mendapat kehormatan besar. Bahkan pemimpin Sekte Di Yuan belum tentu memiliki kesempatan bertemu dengannya.
Setelah kembali ke tempat duduk, sikap angkuh mereka jauh berkurang.
Menjelang tengah hari, Qin Shan mengumumkan dimulainya penghormatan kepada leluhur.
Seluruh anggota Keluarga Qin berdiri dan berjalan menuju aula leluhur. Qin Shan, Qin Xingqiong, dan Qin Cangming memimpin upacara tersebut.
Mereka berlutut di hadapan papan nama leluhur.
Hanya Qin Xuan yang tetap duduk di tempatnya.
Ia telah diusir dari Keluarga Qin. Karena itu, ia tidak merasa berkewajiban mengikuti upacara mereka.
Beberapa tamu memperhatikan sikapnya, tetapi tidak terlalu terkejut.
Liu Chengfeng dan rombongan akademi juga sempat melirik pemuda berjubah hitam itu. Entah mengapa, penampilannya terasa sedikit tidak asing.
Namun, karena wajahnya tertutup, mereka tidak dapat mengenalinya.
Di depan aula leluhur, Qin Shan mulai berbicara dengan suara lantang.
“Para leluhur, hari ini Keluarga Qin mendapat berkah besar. Qin Xingqiong telah membangkitkan Tubuh Pembunuh Haus Darah. Dengan bakatnya, aku yakin dia akan membawa keluarga kita menuju kejayaan!”
Seluruh anggota keluarga membungkuk mengikuti Qin Shan.
Setelah penghormatan selesai, Qin Shan berbalik menghadap para tamu.
“Mulai hari ini, aku menetapkan Qin Xingqiong sebagai Tuan Muda Keluarga Qin!”
Pengumuman tersebut disambut tepuk tangan anggota keluarga.
Tidak seorang pun tampak terkejut karena keputusan itu memang sudah diperkirakan.
Namun, beberapa tamu justru melirik Qin Xuan yang masih duduk sendirian.
Saat itulah Qin Cangming tiba-tiba menoleh ke arahnya.
Wajah Tetua Agung itu memerah karena marah.
“Qin Xuan!” bentaknya hingga seluruh halaman kembali hening.
“Semua orang menghormati leluhur, tetapi kau malah duduk santai di sana! Cepat kemari, berlutut, dan akui kesalahanmu!”
Seluruh perhatian langsung tertuju kepada Qin Xuan.
......................
Bersambung...