Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Dua bulan telah berlalu sejak malam mengerikan yang hampir merenggut nyawaku. Pagi ini, waktu yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Kak Ethan benar-benar membuktikan seluruh ucapannya; ia tidak pernah ingkar janji untuk menepati kalimatnya bahwa aku akan menempati kamar baru di lantai dua, tepat di sebelah kamar Olivia.
"Nona Besar, Anda sudah diperbolehkan pulang hari ini karena kesehatan Anda sudah membaik," ucap sang dokter ramah sembari meletakkan papan klip medisnya di atas meja nakas.
Aku mendongak, mendengarkan wejangannya dengan saksama.
"Namun, Nona Besar harus rajin meminum obat tepat waktu dan selalu menjaga suasana hati agar tetap tenang," lanjut sang dokter penuh perhatian, memberikan tatapan prihatin yang terselubung. "Penyakit lambung kronis Anda tidak akan kambuh lagi asalkan Anda tidak mengalami stres atau beban pikiran yang terlalu berat."
Aku memaksakan segaris senyuman tulus yang hangat di bibirku yang kini mulai kembali merona kemerahan. "Baik, Dok. Saya akan meminum obatnya dengan teratur dan selalu menjaga kesehatan saya."
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Nona Besar. Semoga kesehatan Anda lekas pulih sepenuhnya," pamit sang dokter, memberikan anggukan takzim sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan rawatku.
Begitu pintu kaca tertutup rapat, aku segera bangkit berdiri dari atas brankar dan mulai berbenah untuk bersiap-siap pulang ke rumah besar keluarga Adipta.
Malam kemarin, Kak Ethan sempat menelepon dan memberi tahu bahwa ia tidak bisa datang langsung untuk menjemputku di rumah sakit pagi ini. Jadwalnya sebagai Direktur Utama teramat padat, dan kebetulan pagi ini ia harus memimpin sebuah meeting penting dengan jajaran direksi di kantornya.
Meski begitu, aku sama sekali tidak merasa kecewa atau sedih seperti dulu. Kehangatan konstan yang dikirimkannya setiap sore selama dua bulan ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa aku tidak lagi dibuang.
Aku melipat pakaian ganti terakhirku ke dalam tas jinjing dengan hati yang berdebu oleh rasa tidak sabar, sekaligus didera debaran tidak keruan merenungkan bagaimana reaksi Kak Charles dan Kak Aaron saat melihat si "anak pembawa sial" ini melangkah masuk dan menetap di lantai dua nanti.
Dengan tas jinjing di tangan, aku melangkah keluar dari lift menuju lobi utama rumah sakit. Begitu mataku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang ramai, aku melihat Pak Sopir keluarga kami sudah berdiri tegak menungguku di dekat pintu keluar. Pria paruh baya itu langsung bergegas menghampiriku begitu menyadari kehadiranku.
"Nona Besar, Tuan Besar Ethan menyuruh saya untuk menjemput dan mengantarkan Nona Besar pulang ke rumah hari ini," ucap Pak Sopir dengan sikap yang teramat takzim.
Ia melirik tas di tanganku, lalu dengan sopan mengambil alih beban tersebut dari genggamanku."Tuan Ethan meminta maaf karena tidak bisa menjemput sendiri," lanjut Pak Sopir sembari membimbing langkahku menuju area parkir. "Karena hari ini Tuan Ethan mendadak ada urusan dinas penting ke luar kota untuk beberapa hari ke depan, jadi beliau memerintahkan saya untuk memastikan Nona Besar pulang dengan aman."
Mendengar kabar itu, aku tersenyum maklum. "Tidak apa-apa, Pak."
"Mari, Nona," ucap Pak Sopir begitu kami sampai di depan mobil sedan hitam milik keluarga.
Dengan gerakan yang teramat hormat, ia membukakan pintu penumpang bagian belakang untukku. Aku melangkah masuk, mendudukkan diriku di atas jok kulit yang empuk, lalu menatap jendela kaca saat mobil perlahan mulai bergerak meninggalkan area rumah sakit.
Ketiadaan Kak Ethan di rumah selama beberapa hari ke depan mendadak memicu debaran cemas yang tidak keruan di dalam dadaku. Kakak sulung yang selama dua bulan ini menjadi pelindung tunggalku kini sedang berada jauh di luar kota. Itu berarti, sesampainya di rumah besar nanti, aku harus menghadapi Kak Aaron, Kak Charles, seorang diri tanpa ada sosok Kak Ethan yang menengahi di antara kami.
Di sepanjang perjalanan, aku tidak bisa berhenti merenung. Hatiku didera kecemasan yang teramat sangat mengenai apa yang akan kuhadapi nanti sesampainya di rumah. Bagaimana aku harus bersikap di depan Kak Aaron dan Kak Charles? Dua kakak laki-lakiku itu masih sangat membenciku dan menganggapku sebagai monster pembawa sial. Karena terlalu dalam tenggelam dalam lamunan kelam tersebut, aku sama sekali tidak menyadari bahwa mobil sedan hitam yang kutumpangi sudah memasuki gerbang rumah besar keluarga Adipta.
"Nona, kita sudah sampai di rumah," ucap Pak Sopir dari balik kemudi.
Aku tidak menyahut. Pendengaranku mendadak tuli karena fokusku sepenuhnya tersedot oleh rasa takut yang kian membubung di dada.
"Nona? Nona Besar?" panggil Pak Sopir sekali lagi, kali ini dengan sedikit meninggikan suaranya agar bisa menembus lamunan panjangku.
Aku tersentak kaget, lalu mengerjapkan mata berulang kali untuk mengumpulkan kembali kesadaranku. "I-iya, Pak? Oh, kita sudah sampai, ya. Maaf, Pak, tadi saya tidak dengar."
"Tidak apa-apa, Nona. Mari, silakan turun," ucap Pak Sopir ramah.
Pria paruh baya itu turun terlebih dahulu dan bergegas membukakan pintu penumpang untukku. Dengan sangat perhatian, ia bahkan menaruh telapak tangannya di atas pembatas pintu mobil agar kepalaku tidak terbentur saat melangkah keluar. Gestur kecil yang teramat takzim itu membuat dadaku sedikit menghangat.
"Terima kasih banyak, ya, Pak," ucapku tulus setelah berhasil berdiri tegak di atas lantai halaman.
"Sama-sama, Nona. Selamat datang kembali ke rumah, Nona Besar," balas Pak Sopir dengan senyuman hangat, yang hanya kubalas dengan anggukan kepala samar.
Namun, begitu aku membalikkan badan untuk melangkah menuju pintu utama, langkah kakiku seketika terhenti kaku. Sepasang mataku melebar, menatap nanar ke arah area parkir halaman rumah. Di sana, sebuah mobil akrab yang teramat kukenali terparkir dengan rapi.
Inikan mobil Kak Aaron? batinku mendadak panik, dan debaran jantungku seketika berdegup dua kali lebih cepat. Ternyata dia sedang ada di rumah ... .
Fakta bahwa kakak keduaku berada di dalam rumah tanpa adanya Kak Ethan yang menengahi membuat seluruh persendianku mendadak terasa lemas. Aku meremas tali tas jinjingku erat-erat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk melangkah maju menerobos pintu depan.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, aku perlahan mendorong pintu depan rumah besar keluarga Adipta. Begitu pintu terbuka lambat, langkah kakiku seketika membeku tepat di ambang pintu.
Di tengah ruang tamu yang megah dan sunyi, Kak Aaron ternyata sudah berdiri di sana. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatapku lurus dengan sepasang mata yang menyiratkan kecanggungan yang amat sangat besar.
"Akhirnya kamu pulang juga," ucap Kak Aaron sinis, mencoba membentengi rasa bersalahnya dengan topeng ketat andalannya. "Mulai hari ini, kamu harus makan dengan teratur dan istirahat dengan baik! Jangan hanya tahu berbuat masalah dan membuat nama baik keluarga kita jadi buruk di mata orang lain!"
Aku tertegun, mendadak kaget mendengar rentetan kalimat ketus yang langsung menyambut kepulanganku. Rasa sesak yang teramat asing kembali merayap di dadaku. Di saat tubuhku baru saja pulih, yang pertama kali ia cemaskan tetaplah nama baik keluarga Adipta. Kecewa dan lelah, aku mencengkeram tas jinjingku lebih erat, lalu mulai melangkah lebar bermaksud mengabaikannya dan pergi menuju arah tangga.
"Tunggu, aku belum selesai berbicara!" seru Kak Aaron tegas, menahan langkahku.
Langkah kakiku otomatis terhenti. Aku berdiri mematung di tengah ruangan, memunggunginya tanpa sudi menoleh sedikit pun ke arah kakak keduaku itu. Keheningan yang mencekam melanda di antara kami selama beberapa detik sebelum Kak Aaron kembali membuka suara dengan nada baritonnya yang mendadak melunak, kehilangan seluruh urat marahnya.
"Mulai hari ini ... kamu tidur dan pindah ke lantai dua, di kamar bersebelahan langsung dengan Olivia," kata Kak Aaron pelan.
Jantungku serasa berhenti berdetak seketika mendengar pengumuman tersebut.
"Kak Ethan sudah menyiapkan kamar di lantai dua khusus untukmu sebelum dia pergi dinas ke luar kota kemarin," lanjut Kak Aaron, suaranya terdengar kaku namun menyiratkan kepedulian yang teramat langka. "Semua fasilitas di sana sudah dibersihkan. Jadi, bersiap-siaplah untuk pindah sekarang.
"Lantai dua ... bersebelahan langsung dengan kamar Olivia?
Air mata haru yang hangat mendadak merebak di sudut mataku, luruh perlahan melewati pipiku yang masih pucat. Aku menatap nanar ke arah anak tangga marmer yang menuju ke lantai atas. Sejak hari di mana Papa dan Mama mengembuskan napas terakhir mereka dua puluh tahun lalu, aku tidak pernah lagi diizinkan untuk menginjakkan kaki ke lantai dua, barang sejengkal pun. Aku selalu dikurung dan dipaksa mendekam di dalam kegelapan gudang lantai tiga karena dianggap sebagai monster pembawa petaka. Mengetahui bahwa hari ini dinding isolasi itu akhirnya dihancurkan oleh mereka sendiri, membuat seluruh duniaku serasa berputar balik oleh rasa haru yang tak terbendung.
Namun, keheningan magis yang baru saja menyelimuti ruang tamu mendadak koyak dalam sekejap. Dari arah selasar dapur, suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar mendekat.
Dengus.
Sebuah dengusan ketus yang teramat tajam dan familier seketika memotong aliran rasa haru di dadaku. Aku tersentak, refleks menoleh dan mendapati sosok Kak Charles baru saja muncul. Pria itu berdiri di ambang sekat ruangan dengan segelas air es di tangannya, menatapku lurus dengan sepasang mata elang yang dipenuhi kilat ketidaksukaan yang pekat.
"Atas dasar apa dia tiba-tiba diizinkan pindah ke lantai dua?" tanya Kak Charles dingin, suaranya naik satu oktav menuntut penjelasan dari Kak Aaron.
Ia melangkah lebar memotong tengah ruangan, lalu meletakkan gelasnya ke atas meja kopi marmer dengan dentingan kasar. Perhatiannya kembali beralih menatapku seolah aku adalah sebongkah aib yang merusak pemandangan rumah megah ini.
"Kak Aaron, apa kamu sudah gila?!" cecar Kak Charles ketat, menoleh ke arah kakak keduanya dengan kening berkerut dalam. "Kita sudah sepakat selama dua puluh tahun untuk menjauhkannya dari lantai bawah! Kenapa sekarang, saat Kak Ethan sedang dinas ke luar kota, kamu malah seenaknya membawa si pembawa sial ini naik ke lantai dua?! Apa kamu mau kesialannya merembet dan menghancurkan sisa keluarga kita yang ada di lantai ini, hah?!"
Tuduhan kejam yang meluncur tanpa ampun dari bibir Kak Charles laksana hantaman belati yang langsung merobek paksa luka lama di dadaku. Seluruh tubuhku seketika bergetar hebat di atas lantai marmer, dan rasa perih di lambungku seolah kembali berdenyut sakit karena stres yang mendadak menyerang.
Kata-kata dokter di rumah sakit pagi tadi tentang “jangan sampai stres” seketika menguap begitu saja dari kepalaku. Aku mencengkeram erat tas jinjingku, menundukkan kepalaku dalam-dalam demi menyembunyikan air mata hangat yang kembali mendesak keluar dari pelupuk mataku. Dua bulan berada di dalam kamar rawat rumah sakit yang tenang ternyata tidak pernah mengubah kenyataan pahit ini: di mata Kak Charles, aku akan selalu menjadi monster pembawa petaka yang tidak pernah diinginkan kehadirannya.
Tiba-tiba
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~