kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TATAPAN TAJAM, JANJI DAN RENCANA LICIK.
Pagi itu gue melangkah masuk gerbang sekolah sambil nyengir lebar, tangan nyangkut di lengan Arka kayak perangko. Nggak peduli siapa yang lihat, nggak peduli siapa yang bisik-bisik. Kemarin udah lewat, rahasianya udah terbuka dikit, dan gue ngerasa—aneh banget—makin berani.
"Heh, jalan santai banget sih kalian," celetuk Raka pas kita ketemu di depan kelas, sambil nyengir jahat. "Arka, kemarin pulang telat, dimarahin Daddy nggak?"
Arka cuma mendengus pelan, tapi sudut bibirnya naik dikit. "Diam lo. Jangan cerocos."
"Aluna, lo jaga dia ya! Jangan sampai ketos kesayangan kita ini kabur lagi," timpal Zian sambil kedip-kedip.
Gue tepuk dada. "Tenang aja! Di tangan gue, dia nggak ke mana-mana!"
Arka geleng-geleng kepala, tapi tangannya malah meremas pelan jari gue yang nyangkut di lengannya. "Ayo masuk, nanti telat."
Baru duduk di kelas, Sasa langsung nyamperin, mukanya tegang banget. "Na... Callysta sama teman-temannya tadi ketawa-ketawa pas lihat lo masuk bareng Arka. Katanya... katanya lo pamer. Katanya lo sengaja bikin Arka nampang cuma buat jaga gengsi."
Gue ketawa pendek. "Halah, capek banget mulut mereka. Biarin aja, Sa. Gue bahagia, itu yang penting."
"Tapi mereka nggak berhenti, Na. Gue denger ada rencana..."
Belum selesai Sasa ngomong, suara ketua kelas nyaring: "Aluna! Dipanggil ke ruang Tata Usaha sekarang!"
Gue mengerutkan dahi. "Gue? Ngapain?"
"Nggak tahu, buruan!"
Gue bangkit, Arka langsung berdiri ikut. "Gue temenin."
"Nggak usah, lo duduk aja. Nanti malah dibilang lo ikut campur terus," kata gue, lalu nyengir biar dia tenang. "Gue bisa sendiri, inget? Gue ini gadis barbar!"
Arka senyum tipis, tapi matanya masih cemas. "Cepat balik ya. Kalau ada apa-apa, kabarin gue."
"Siap, Bos!" Gue salut pelan, lalu melangkah keluar.
Sampai di ruang TU, gue disambut tatapan tajam Bu Guru. Di sampingnya berdiri Callysta, mukanya sedih banget kayak habis ditinggal kucing.
"Aluna," ucap Bu Guru serius. "Ada laporan kalau kamu bikin keributan, mengganggu ketertiban, dan—ini yang paling penting—memaksa Arkananta menemani kamu terus-terusan sampai dia nggak fokus belajar. Benar?"
Gue melotot. "Bu, siapa yang bilang? Kita cuma jalan bareng kayak teman biasa!"
"Teman biasa?" Callysta menyela pelan, suaranya bergetar. "Tapi kemarin gue lihat lo narik-narik tangan Arka, terus dia nggak berani nolak. Banyak yang lihat kok..."
Gue ngerasa darah naik ke ubun-ubun. "Lo ngarang semua kan?! Kita itu tunangan, Bu! Wajar kalau kita bareng!"
Ruangan hening seketika. Bu Guru melotot. "Tunangan? Itu urusan serius, Aluna. Kalau benar, harusnya resmi, bukan dipamer-pamerin di sekolah."
"Resmi atau nggak, itu urusan keluarga kita!" jawab gue tegas. "Dan Bu, gue nggak pernah maksa Arka apa-apa! Justru dia yang selalu jaga gue!"
"Aluna, bicara sopan!" tegur Bu Guru.
Callysta tersenyum tipis, senyum yang bikin gue pengen nyubit pipinya. "Bu, mungkin Aluna cuma terbawa perasaan. Arka itu kan ketua OSIS, banyak yang nempel sama dia. Takutnya nanti nama baik sekolah tercemar..."
Gue mau meledak, tapi pintu terbuka tiba-tiba. Arka berdiri di sana, napasnya agak terengah, seolah lari dari kelas. Dia melangkah masuk, berdiri di samping gue, menatap Bu Guru lurus-lurus.
"Bu, maaf ikut campur," suaranya tenang tapi tegas. "Gue yang minta Aluna temenin gue. Gue yang nyari dia. Bukan dia yang maksa gue. Kalau ada yang terganggu, itu urusan gue, bukan salah dia."
Bu Guru terkejut. "Arkananta... ini soal sopan santun dan kedisiplinan."
"Gue paham. Tapi gue nggak mau orang yang gue sayang difitnah tanpa alasan." Arka meremas pelan jari gue di balik punggung, bikin gue tenang seketika. "Kalau ada sanksi, berikan ke gue juga. Karena semua keputusan gue, gue ambil sendiri."
Callysta menunduk, wajahnya berubah pucat. Bu Guru menghela napas panjang. "Baiklah. Saya periksa dulu. Kalau terbukti ada yang tidak benar, akan ada tindakan. Kalian kembali ke kelas."
Jalan pulang ke kelas rasanya lama banget. Pas sampai di lorong yang sepi, gue langsung menatap Arka. "Lo ngapain masuk ke sana? Nanti dibilang ngeyel lho!"
Arka menghela napas, lalu tersenyum—senyum yang cuma gue yang dapat. "Lo pikir gue bisa diam aja lihat lo disalahin? Gue nggak bisa biarin lo sendirian, Aluna. Nggak pernah."
Jantung gue berdegup kencang. "Tapi... Callysta nggak bakal berhenti, Arka. Dia kayak punya rencana lain."
"Biarkan. Yang penting kita jujur. Kita tetap kita." Arka mengusap pipi gue pelan, suaranya lembut banget. "Dan satu hal lagi... soal pernikahan kita, ayah sama bunda gue bilang, untuk sementara tetap dirahasiain dari sekolah. Biar tenang."
Gue mengangguk pelan. "Oke. Gue janji. Rapat rahasia kita berdua aja."
Arka ketawa kecil. "Rapat rahasia?"
"Iya! Kita tim rahasia! Lawan semua orang yang mau ganggu kita!" Gue angkat kepalan tangan, Arka tertawa sampai matanya menyipit.
"Tim rahasia... bagus juga. Setuju." Dia menepuk kepalan tangan gue pelan. "Mulai sekarang, kita jaga rahasia ini baik-baik. Dan jaga satu sama lain."
Sore itu, di halaman belakang yang sama, kita buat janji sederhana—bukan pakai cincin mewah atau sumpah serapah, cuma saling pegang tangan, tatap mata, dan sepakat: apa pun yang terjadi, kita hadapin bareng.
Tapi gue tahu... Callysta masih di luar sana, mengamati, menyusun rencana lain. Tatapannya tajam kayak duri, dan dia nggak akan berhenti sebelum dapat apa yang dia mau.
Tapi gue nggak takut. Karena gue punya Arka. Dan kita punya rahasia yang nggak bisa dia rusak—rahasia tentang dua orang yang berbeda, tapi saling melengkapi, dan nggak akan menyerah.