NovelToon NovelToon
DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kakek Protektif

Setelah sarapan Mas Brayen kembali ke kamar dan ijin mau ke kantor.

"Sayang, Mas mandi dulu ya, jam 8 ada meeting," katanya sambil mengacak rambutku yang masih pakai celemek.

Aku mengangguk. "Iya Mas, Isyana beresin meja dulu."

15 menit kemudian Mas Brayen keluar dari kamar mandi. MasyaAllah. Kemeja putih rapi, celana bahan hitam, rambut sudah disisir, wangi parfum yang aku suka. Tapi... dasinya miring.

"Mas... dasinya miring... sini..."

Kali ini aku memasangkan dasinya yang kurang rapih. Aku berdiri di depan Mas Brayen, aku lingkarin dasi di lehernya. Tangan ku gemetar karena grogi, sudah lama tidak pasangin dasi suami sendiri.

Mas Brayen diam saja menatapku, senyum.

"Kok diem aja Mas, diliatin terus Isyana jadi grogi..."

"Gak apa-apa, Mas seneng diliatin kamu dari dekat gini. Cantik."

Aku makin merah. Aku benerin dasinya pelan, aku tarik simpulnya sampai rapi.

"Udah rapi, Mas..."

Spontan Mas Brayen mengecup bibirku dan berkata makasih sayang...

CUP.

Cepat sekali. Aku kaget sampai mundur selangkah.

"MAS BRAYEN!"

Mas Brayen ngakak. "Makasih sayang... makasih sudah pasangin dasi, sudah masakin sop ayam..."

"Mas ngagetin Isyana aja! Kalau ada yang liat gimana!"

"Liat aja, kan istri sah Mas. Halal."

Wajahku merah kayak tomat. Aku mukul pelan dadanya. "Ih Mas!"

Mas Brayen mengambil tas kerjanya, menggandeng tanganku. "Yuk, anterin Mas sampai mobil ya?"

Aku pun ke bawah mengantar suamiku menuju mobilnya. Apartemen kami ada lift pribadi sampai basement. Di lift pun Mas Brayen masih gandeng tanganku erat, tidak dilepas.

"Mas, nanti di basement ada satpam loh..."

"Biarin. Biar satpam tau kalau Mas punya istri cantik."

Sampai di basement, mobil Alphard hitam Mas Brayen sudah siap. Supir sudah buka pintu. Aku benerin lagi kerah kemeja Mas Brayen yang sedikit terlipat.

"Mas hati-hati di jalan ya... jangan lupa makan siang... tadi Isyana bekalin tempe mendoan di mobil ya..."

"Iya sayang, siap laksanakan."

Baru saja Mas Brayen mau masuk mobil, tiba-tiba...

"BRAAYEEN!"

Suara berat menggelegar dari belakang.

Aku dan Mas Brayen sama-sama menoleh.

Ibu mertua ku dan Kakek pun datang. Ibu pakai gamis coklat, Kakek pakai batik dan tongkat, tapi jalannya masih tegap. Mereka baru keluar dari mobil Mercy putih di sebelah.

Oh tidak.

Kakek menatap Mas Brayen dengan tatapan tajam. Tatapan Kakek kalau sudah mau marah.

"Brayen! Kamu ini mau kemana lagi! Kerja, kerja, kerja terus! Istri kamu di rumah terus kamu tinggal!"

Ibu mertuaku langsung menatapku, lalu menatap Mas Brayen, lalu menatap tangan kami yang masih bergandengan.

Mas Brayen langsung berdiri tegak seperti prajurit. "Kek... eh Kakek... Ibu... kok pagi-pagi di sini?"

Kakek jalan mendekat, tongkatnya berdetak di lantai basement. "Kakek sama Ibu mu mau ngasih kejutan buat Isyana! Ibu mu bilang Isyana kangen masak! Lah kamu malah mau ngantor lagi! Kapan kamu jagain Isyana hah!"

Aku panik. "Eh Kakek... enggak Kek..."

Ibu mertua ku tersenyum melihatku, "Isyana... kamu masak pagi ini ya? Ibu lihat story mu... sop ayam..."

"Isyana... Isyana cuma..." aku makin malu.

Kakek masih lanjut marah, padahal Mas Brayen paling siaga jagain aku. Tiap malem aku demam, Mas Brayen yang kompres. Tiap aku nangis, Mas Brayen yang peluk. Cuma Kakek gak tau karena Mas Brayen gak pernah cerita.

"Kek, jangan marahin Mas Brayen, Kek... Mas Brayen itu... Mas Brayen paling siaga jagain Isyana kok Kek... semalam aja Isyana batuk dikit Mas Brayen langsung bangun bikinin air anget..."

Kakek mengangkat alis. "Hah? Siaga?"

Mas Brayen yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara. Dia rangkul Kakek.

"Kek... Kakek salah paham nih... Justru karena Mas siaga, Mas harus kerja lebih semangat biar bisa siaga 24 jam jagain cucu mantu kesayangan Kakek ini..."

Kakek melotot. "Alasan!"

Ibu mertuaku yang dari tadi nahan ketawa, akhirnya nyeletuk. "Ayah, coba lihat dasi Brayen. Rapi sekali. Biasanya Brayen kalau pasang dasi sendiri miring terus. Ini pasti Isyana yang pasangin."

Kakek melihat dasi Mas Brayen. Lalu melihat wajahku yang merah.

"Isyana yang pasangin?" tanya Kakek.

Aku mengangguk pelan. "Iya Kek..."

"Terus tadi Kakek lihat... Brayen cium Isyana ya di lobi tadi?"

DUEER. Ketahuan.

Wajahku mau meledak. Mas Brayen langsung batuk.

"Eh... anu Kek... itu..."

Kakek yang tadi marah, tiba-tiba ketawa ngakak. Ketawanya keras sampai menggema di basement.

"HAHAHA! Bagus! Bagus! Harus begitu! Kalau suami istri ya harus begitu! Jangan kayak Kakek dulu waktu muda, gengsi cium istri!"

Sekarang giliran Ibu mertua ku yang malu. "Ayah!"

Kakek menepuk bahu Mas Brayen keras.

"Brayen! Kakek marah karena kamu kerja terus bukan karena kamu gak sayang Isyana. Kakek tau kamu sayang Isyana. Tapi jangan lupa, kerjaan bisa nunggu, Isyana jangan sampai nunggu! Pagi ini Kakek lihat kalian gandengan, Kakek senang!"

Mas Brayen menghela nafas lega. "Siap Kek... hari ini Mas pulang cepat. Janji."

"Janji?"

"Janji. Jam 4 Mas sudah di rumah. Mau temenin Isyana masak lagi."

Aku menatap Mas Brayen. "Beneran Mas jam 4 pulang?"

"Beneran sayang. Buat Isyana, Mas bolos meeting juga gak apa-apa."

Kakek langsung lempar tongkatnya pelan ke Mas Brayen. "Eh! Jangan bolos! Kerja tetap kerja! Tapi habis kerja langsung pulang ke Isyana!"

Kami semua tertawa. Ibu mertuaku memelukku.

"Isyana, terima kasih ya sudah masakin Brayen pagi ini. Ibu senang lihat kalian rukun lagi. Tadi Ibu sama Kakek sengaja kesini mau ngajak sarapan bareng, eh ternyata sudah sarapan duluan ya?"

Aku peluk Ibu. "Maaf Bu, Isyana gak tau Ibu mau kesini... sop ayamnya masih ada Bu di atas... masih anget..."

"Wah ada sop ayam? Kakek mau! Ayo naik lagi!"

Mas Brayen panik. "Kek, Mas kan mau ke kantor..."

"Lah kamu ngantor aja! Biar Isyana sama Ibu sama Kakek yang ngabisin sop ayam kamu! Biar kamu nyesel pulang ke kantor!"

"KEK!!"

Dan kami ngakak lagi. Satpam basement sampai bingung liat keluarga ini berisik jam 7 pagi.

Akhirnya Mas Brayen tetap berangkat kantor, tapi sebelum masuk mobil, dia berbisik di telingaku depan Kakek dan Ibu.

"Nanti malam giliran Mas yang masakin kamu ya sayang..."

"Mas bisa masak?"

"Bisa. Masak mie instan paling enak sedunia khusus buat Isyana."

Aku ngakak. Kakek pura-pura gak denger, tapi senyumnya lebar.

Mobil Mas Brayen jalan pelan meninggalkan basement. Aku, Ibu, dan Kakek melambai. Dari kaca mobil, Mas Brayen melambai balik, dan membentuk love kecil dengan jarinya ke aku.

Kakek lihat. "Ish! Zaman sekarang bucin betul!"

Aku tutup muka. "Kakek!"

Ibu ketawa. "Sudah, sudah, ayo naik Isyana, Ibu mau nyicip sop ayam viral itu."

Pagi itu, di basement apartemen, aku merasa jadi Isyana yang paling beruntung. Punya suami yang siaga, punya Ibu mertua yang sayang, punya Kakek yang galaknya sayang.

Dan Mas Brayen, walaupun sudah berangkat kantor, dasinya masih rapi karena aku yang pasangin.

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!