Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan manis
Langkah kaki Lucian berhenti tepat di depan pintu kayu berukir klasik yang tertutup rapat. Pria itu sudah tampak sangat rapi dengan balutan jas formal berwarna arang, siap untuk meninggalkan mansion guna mengurus beberapa urusan bisnis mendadak. Namun, sebelum beranjak pergi, ia berniat untuk berpamitan dan meluruskan ketegangan kecil yang sempat terjadi siang tadi.
Sayangnya, sejak insiden penolakan soal kunjungan siang hari, Celeste memilih mengurung diri di dalam ruang lukis pribadi di lantai dua.
Apakah istrinya marah? Tapi apa kesalahannya?
Pria dingin itu merenung sejenak, teringat kembali pada saran Nathan untuk berbicara secara langsung. Namun melihat pintu tertutup rapat itu, ia mengurungkan niatnya.
Mei yang baru datang berdiri menunduk hormat berjarak satu meter, membawa nampan berisi makanan untuk sang nyonya muda.
"Tuan Muda..." sapa Mei ragu-ragu. "Apa saya perlu mengetuk pintu dan memberi tahu Nyonya Muda bahwa Anda ingin pamit?"
Lucian menggeleng pelan. Ia merogoh ponsel dari saku jasnya, mengetik beberapa kata, lalu menunjukkan layar tersebut kepada sang pelayan.
'Katakan padanya aku keluar sebentar, mungkin larut malam baru kembali.'
"Baik, Tuan," jawab Mei patuh sambil menunduk dalam ketika Lucian berlalu menyusuri lorong.
Mei sempat tertegun sejenak, bertanya-tanya dalam hati apakah pasangan pengantin baru itu sedang bertengkar. Namun, ia lekas mengedikkan bahu, mengenyahkan pikiran itu, lalu mengetuk pelan pintu ruang lukis dan melangkah masuk.
Di dalam ruangan yang diterangi sinar matahari di balik kaca jendela, suasana terasa begitu tenang. Kanvas besar di hadapan Celeste yang sebelumnya hanya berupa sketsa kini mulai menampakkan wujudnya, sebuah lukisan pemandangan malam berbintang dengan siluet galaksi yang memukau.
Mei meletakkan nampan makanan di atas meja kecil dekat sudut ruangan. "Nyonya Muda, ini makan siang sekaligus sarapan Anda. Perintah langsung dari Tuan Muda."
Mendengar nama suaminya disebut, kuas di tangan Celeste terhenti di udara. Ia menatap pelayan setianya itu dengan sorot mata berkecamuk. Benarkah suaminya begitu perhatian di tengah kesibukannya?
Tiba-tiba, bayangan tentang reaksi Lucian jika kelak pria itu mengetahui penyakit langkanya—alergi parah terhadap sinar matahari kembali berkelebat di kepalanya. Apa Lucian juga akan jijik, merasa tertipu, dan bersikap dingin?
Pikiran itu begitu menghantui hingga kepalanya mendadak berdenyut nyeri. Celeste segera mengalihkan pikirannya, kembali memusatkan perhatian pada goresan kuas di kanvas.
"Tuan Muda juga menitipkan pesan," tambah Mei ramah. "Beliau keluar sebentar untuk urusan pekerjaan, mungkin baru akan kembali larut malam."
Celeste mengangguk pelan. "Aku paham. Terima kasih atas makanannya, Mei. Aku akan memakannya sekarang."
Tanpa membuang waktu, Celeste melahap makanan di hadapannya dengan cukup lahap. Belakangan ini, nafsu makannya memang meningkat drastis. Entah karena makanannya enak-enak? atau mungkin nafsu makannya sudah besar?
Sembari mengunyah, sebuah kenangan kuliner masa lalu tiba-tiba melintas di benaknya, membuat sudut bibirnya tertarik membentuk senyum kecil. Saat dia dan Roxy berburu kuliner itu jajanan malam.
"Ah, Mei," panggil Celeste di tengah suapannya. "Kira-kira, koki di mansion ini bisa memasak bakso ukuran besar tidak?"
Mei mengerjap bingung, lalu tersenyum maklum. "Semua koki di sini adalah koki profesional kelas atas, Nyonya Muda. Tentu saja mereka bisa membuat apa pun. Apa Anda ingin saya meminta mereka memasaknya sekarang?"
Celeste menatap antusias. "Tolong sampaikan ke pihak dapur... aku ingin bakso berukuran sebesar bola kaki!"
"Se-sebesar bola kaki, Nyonya?!" seru Mei kaget, nyaris menjatuhkan piring di tangannya.
"Iya," kata Celeste tersenyum lebar.
Saat Mei hendak melangkah pergi memegang gagang pintu, Celeste buru-buru menambahkan, "Oh ya, satu lagi! Pastikan di dalam bakso raksasa itu berisi banyak bakso-bakso kecil di dalamnya!"
Mei tertawa kecil melihat antusiasme sang nyonya yang mendadak ceria seperti anak kecil. "Baik, Nyonya Muda. Saya akan menyampaikannya pada para koki."
Selepas kepergian Mei, Celeste menghela napas lega, tersenyum kecil sembari bergumam bahwa sudah sangat lama ia tidak menikmati jajanan sederhana itu.
Di saat yang bersamaan, ponselnya bergetar ringan di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Roxy, mengajak keluar ke sebuah bar malam ini untuk merayakan pekerjaan baru sang sahabat.
Tanpa pikir panjang, Celeste langsung mengiyakan, toh, hanya di malam hari ia bisa merasa sepenuhnya bebas.
Beberapa saat kemudian, Mei kembali masuk ke ruangan dengan wajah setengah menahan tawa.
"Nyonya Muda, saya sudah menyampaikan keinginan Anda pada kepala koki," lapor Mei. "Tadi para koki sempat syok berat dan berniat menolak karena resep aneh itu... tapi begitu Butler Jiro mendengar bahwa itu adalah permintaan Anda, beliau langsung memaksa para koki untuk mengerjakannya."
Celeste terkekeh geli. "Ya ampun... apa aku terlalu banyak merepotkan mereka?"
"Tidak sama sekali, Nyonya. Omong-omong, ada kejutan dari Tuan Muda di lantai bawah," tambah Mei penuh misteri, matanya berbinar antusias.
Celeste mengerutkan kening, mengangkat alisnya sebelah. "Kejutan? Dari Lucian?"
Didorong rasa penasaran, Celeste meletakkan kuasnya dan bergegas turun ke lantai bawah. Begitu ia menginjakkan kaki di area halaman belakang dekat teras samping, ia mendapati beberapa orang pengawal sedang sibuk membongkar kotak kayu besar. Di sana, sebuah mesin pembuat es krim komersial kelas atas berwarna perak mengkilap tengah dipasang oleh para teknisi.
"Ini... apa?" gumam Celeste takjub, menghampiri mesin tersebut.
Butler Jiro yang kebetulan mengawasi langsung membungkuk hormat. "Pesanan khusus dari Tuan Muda untuk Anda, Nyonya Muda. Beliau tahu Anda menyukai camilan manis, jadi beliau memesan langsung mesin es krim impor ini beserta bahan-bahan premium terbaik dari Italia."
Celeste membelalakkan matanya tak percaya. Mesin es krim mahal itu tampak sangat mewah, bukan jenis mesin biasa yang ada di kafe-kafe komersial.
Tak lama kemudian, seorang koki membawakan mangkuk kecil berisi hasil uji coba pertama es krim vanila bertekstur selembut sutra dengan taburan serpihan cokelat Belgia murni. Dengan tangan sedikit gemetar karena takjub, Celeste mencicipi sesendok kecil es krim itu.
Rasanya... luar biasa. Manisnya pas, meleleh sempurna di lidah dengan aroma vanila murni yang mahal. Wajah Celeste seketika berbinar cerah, senyum terindahnya merekah sempurna.
"Ini enak sekali!" serunya senang.
Tanpa ragu, Celeste meminta Mei dan para pengawal serta pelayan yang berjaga di sekitar sana untuk mencicipinya. "Ayo, jangan malu-malu! Coba ini, enak sekali!"