“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kenapa dia secantik ini?
Celin menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Kalimat "Gue tahu lo di rumah sakit" terasa seperti jeratan yang mencekik lehernya. Reja benar-benar memiliki mata di mana-mana.
Ia melirik ke arah pintu IGD yang tertutup rapat. Perasaan bersalah karena meninggalkan ayahnya yang kritis berperang dengan rasa takut akan apa yang bisa dilakukan Reja pada Kirei.
Namun, Celin tahu, jika ia tidak segera kembali, keadaan akan menjadi jauh lebih buruk bagi semua orang.
Dengan langkah cepat, Celin menghampiri perawat di meja administrasi. "Suster, ini uang muka untuk perawatan ayah saya. Saya ada urusan mendesak, tolong hubungi saya jika ada perkembangan," ucapnya sambil menyerahkan sisa uang di dompetnya dan kartu identitas ayahnya.
Saat taksi berhenti di depan rumah, Celin melihat mobil Reja sudah terparkir di halaman. Pintu depan rumah terbuka lebar, seolah-olah sang pemilik rumah sedang menantikan mangsanya masuk ke dalam jebakan.
Begitu Celin melangkah masuk, suasana rumah terasa sangat dingin. Reja duduk di sofa ruang tamu, masih mengenakan jaket kulitnya. Di depannya, ada segelas air mineral yang sudah kosong dan ponsel yang ia putar-putar di atas meja.
"Bagus. Lo masih ingat jalan pulang," suara Reja terdengar sangat tenang, namun nada itu justru lebih menakutkan daripada teriakan.
Reja berdiri, melangkah perlahan mendekati Celin. Ia berhenti tepat di depan Celin, matanya tertuju pada noda darah di kemeja krem yang dikenakan gadis itu.
"Darah siapa itu? Darah bokap penipu lo, atau darah selingkuhan lo di taman tadi?"
Reja bertanya sambil menarik kerah kemeja Celin, memaksa gadis itu menatapnya.
"Gue nggak selingkuh. Gue cuma ketemu Kirei, dan di jalan pulang gue liat ayah dipukuli orang," jawab Celin berusaha tetap tenang, meski napasnya memburu. "Gue terpaksa bawa dia ke rumah sakit."
Reja tertawa sinis, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata. "Terpaksa? Lo selalu punya alasan. Lo bohong sama Papa bilang kita belajar bareng, lo bohong sama gue bilang mau di rumah, dan sekarang lo bawa-bawa drama keluarga lo."
Reja melepaskan cengkeramannya dan mendorong Celin sedikit ke belakang. "Lo tahu jam berapa sekarang? Jam lima sore. Dua jam lagi kita harus ada di rumah Papa. Dan lo... lo berantakan, bau rumah sakit, penuh darah."
Reja meraih dagu Celin dengan kasar. "Dengar, ular kecil. Karena lo udah berani bohong dan bikin gue nunggu kayak orang bego di taman tadi, ada harga yang harus lo bayar."
"Apa mau lo?" tanya Celin menantang.
"Makan malam nanti, lo nggak boleh bicara sepatah kata pun kecuali gue yang izinin. Lo harus jadi istri yang paling penurut di depan Papa. Dan sebagai tambahan..." Reja mengambil ponsel Celin dari tasnya dengan gerakan cepat.
"Ponsel ini gue sita. Lo nggak boleh hubungi Kirei atau pihak rumah sakit sampai makan malam ini selesai. Gue mau lo ngerasain gimana rasanya cemas tanpa tahu kabar apa pun."
"Reja, ayah kritis! Gue perlu tahu keadaannya!" Celin mencoba merebut ponselnya kembali, namun Reja mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Itu konsekuensi buat pembohong," ucap Reja dingin. "Sekarang pergi ke kamar lo. Mandi. Pakai baju paling mahal yang ada di lemari lo. Gue mau lo keliatan sempurna di depan Papa, seolah-olah nggak ada darah yang pernah nempel di baju lo itu."
Celin terpaku di tempatnya. Ia menatap punggung Reja yang berjalan menjauh menuju dapur. Rasa sesak di dadanya hampir tak tertahankan.
Ayahnya mungkin sedang berjuang nyawa, Kirei mungkin sedang bingung di taman, dan kini ia harus bersiap mengenakan topeng kemewahan untuk merayakan kehancuran keluarga Rian.
Dengan langkah gontai, Celin memasuki kamarnya. Ia merasa harga dirinya semakin terkikis. Ia masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin, mencoba membasuh bau darah dan rasa perih di hatinya.
Malam ini, di rumah besar Adrian, Celin tahu ia harus memainkan peran terbaik dalam hidupnya. Sebuah peran di mana ia menjadi cantik di luar, namun mati di dalam.
Celin berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia memoleskan lip cream berwarna nude yang sangat tipis, hanya untuk menyamarkan bibirnya yang pucat.
Rambut hitam kecoklatannya yang biasanya hanya diikat asal-asalan kini ia gerai indah, dengan bagian setengah ke belakang diikat rapi, membingkai wajahnya yang oval.
Gaun warna pastel selutut itu membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Sederhana, namun memberikan kesan elegant dan classy. Di pergelangan tangannya, perban putih masih melingkar rapi, menutupi luka yang ia dapatkan sebelumnya.
Meski luka itu tidak parah, kontras warna putih perban di atas kulitnya yang kuning langsat justru memberikan kesan rapuh yang misterius.
Selama ini, Celin selalu sengaja bersembunyi di balik baju-baju lusuh, rambut yang kusut, dan wajah kusam tanpa riasan.
Ia tidak ingin menarik perhatian, terutama perhatian Reja. Namun malam ini, ia tidak punya pilihan selain menjadi aset berharga bagi keluarga Bagaskara.
Pukul 18.50. Celin sudah duduk di sofa ruang tamu, tas kecilnya dipangku dengan erat. Tatapannya kosong, lurus menembus dinding di depannya.
Pikirannya melayang jauh ke bangsal rumah sakit yang berbau antiseptik. Gimana keadaan Ayah? Apa dia udah melewati masa kritisnya? Pertanyaan itu berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Suara langkah sepatu yang tegas menuruni tangga mulai terdengar. Reja turun dengan setelan jas hitam tanpa dasi, kancing kemeja teratasnya dibiarkan terbuka, memberikan kesan cool sekaligus berbahaya.
Langkah Reja mendadak terhenti di anak tangga terakhir. Matanya menyipit, menatap sosok yang duduk di sofa.
Reja tertegun. Ia merasa seperti sedang melihat orang asing. Gadis yang biasanya terlihat menyedihkan dan berantakan di sekolah, kini menjelma menjadi sosok yang sangat cantik.
Cahaya lampu gantung di ruang tamu memantul di rambut Celin yang berkilau. Ada getaran aneh di dada Reja—sebuah kekaguman yang ia sangkal mati-matian dalam benaknya.
Sial, kenapa dia harus secantik ini? batin Reja dengan rasa gengsi yang membumbung tinggi.
Bersambung...