Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH YANG DI BAKAR
Pagi itu adalah pagi pertama dalam hidupku yang rasanya benar-benar seperti keluarga. Keluarga baru yang belum pernah kurasakan, bahkan saat aku masih hidup di peradaban dinasti dulu.
Kami duduk melingkari meja makan. Berenam. Aku, Ayah, (Tuan Ajimo Skyvi), Vanka, Alex, Puri, dan Pengacara Frans. Di tengah meja, ada capcai seafood buatan Vanka dan Alex yang mengepul, piring-piring porselen putih yang tertata rapi, dan tawa kecil yang akhirnya pecah setelah malam panjang yang mengerikan semalam.
Aku masih memakai baju tidur pinjaman dari apartemen Vanka. Memar di pipi kiriku bekas tamparan Hans masih berwarna biru keunguan, tapi anehnya, aku tidak merasa sakit lagi.
Televisi 62 inci di ruang tengah yang sengaja menghadap meja makan kami sengaja dikeraskan volumenya. Kami semua menunggu. Menunggu berita besar yang sudah disiapkan Vanka semalam.
Dan berita itu muncul.
BREAKING NEWS PAGI - CMM NEWS
Presenternya bukan Mely. Presenter pengganti dengan wajah tegang muncul dan berkata lantang,
"Ajimo Skyvi, pemimpin Skyvi Group yang belasan tahun hilang tanpa jejak, kini telah kembali! Manajer kepercayaannya, Hans, terbukti telah menyekapnya selama 17 tahun! Artis besar dan terkenal, Mely Adyan, terlibat!".
Layar kemudian dipenuhi daftar kejahatan Hans.
"Kejahatan Hans terungkap: memiliki usaha ilegal, rumah bordil, dan perdagangan manusia. Beberapa artis papan atas terlibat dan namanya sudah dikantongi pihak berwajib".
Satu per satu, nama artis yang selama ini dekat dengan Hans dan Mely muncul di layar. Wajah-wajah cantik yang biasanya ada di sampul majalah, kini terpampang sebagai tersangka.
Berita itu telah menyebar ke seluruh kota. Bahkan mungkin ke seluruh negeri.
Suasana meja makan kami yang tadinya hangat, mendadak menjadi tegang. Tapi tegang yang penuh kekaguman.
Ayahku, Tuan Ajimo Skyvi, menatap layar itu dengan mata berkaca-kaca. Selama 17 tahun dia dianggap mati. Selama 17 tahun perusahaannya, YOY Entertainment, dipimpin oleh pengkhianat yang memalsukan semua dokumen. Dan pagi ini, namanya kembali bersih.
"Naya," bisik Ayah, tangannya menggenggam tanganku di atas meja. "Ayah akan kembali menjadi pemimpin YOY Entertainment. Bukan untuk Ayah. Tapi untuk kamu. Untuk mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu."
Aku hanya mengangguk. Tenggorokanku tercekat.
Alex berdeham untuk memecah ketegangan yang tiba-tiba menggantung di udara. "Ehem..."
Semua menoleh ke arahnya.
"Aku akan berangkat lebih awal dan menyiapkan semuanya untuk konferensi pers Paman nanti," ujar Alex seraya melahap habis sisa capcai di piringnya dengan cepat. "Tim sudah menunggu di kantor."
Aku masih diam. Keberhasilan kami menjebloskan Hans ke penjara tadi malam masih terasa seperti mimpi. Rasanya canggung. Setelah seumur hidup dianggap sampah, tiba-tiba aku menjadi putri pewaris Skyvi Group.
Di tengah lamunanku, aku teringat sesuatu.
"Puri," panggilku pelan. "Bagaimana keadaan Choco?"
Choco, anjing gempalku, sudah lama tidak bertemu denganku sejak kami semua menginap di apartemen Vanka untuk keamanan.
Puri yang sedang mengunyah udang tersenyum. "Aku menitipkannya di penitipan hewan, Nay. Aku tidak ingin membuat Choco stres melihat rumah kita dijaga polisi. Tenang saja, hari ini kita akan kembali pulang setelah konferensi pers Ayahmu selesai."
Aku mengangguk lega. Setidaknya Choco aman.
Tiba-tiba, terdengar suara orang tersedak keras.
"Uhuk! Uhuk!"
Vanka. Dia tersedak air yang baru saja dia minum dari gelas kristal.
Matanya membelalak menatap kami satu per satu. "Kalian... kalian akan kembali ke rumah kalian?"
Aku menatap Vanka. Ada sesuatu di tatapannya yang sulit kuartikan. Seperti ingin menahan, tapi enggan untuk mengatakannya.
"Iya, Vanka," jawabku pelan. "Aku rasa sudah cukup kami merepotkanmu. Aku takut tidak bisa membalas semua kebaikanmu. Apartemenmu, makananmu, bahkan nyawamu yang hampir hilang karena kami."
"Tuan, aku akan membalas semua berkas yang telah dipalsukan oleh Hans," sela Pengacara Frans dengan cepat, mencoba mencairkan suasana. "Saya sudah siapkan tim legal."
Tuan Ajimo mengangguk. "Terima kasih, Frans."
Sarapan pagi telah habis. Tidak tersisa sedikit pun di atas piring porselen. Entah karena memang enak, atau karena kami semua butuh tenaga untuk menghadapi hari yang panjang ini.
Setelah selesai sarapan, aku membantu Vanka membersihkan piring sisa sarapan, sementara yang lainnya bersiap-siap untuk pergi dari apartemen. Piring-piring sudah kubersihkan sampai mengkilap.
Aku menyusul Puri menuju kamar untuk membersihkan diri. Ada rasa bahagia, kagum, namun hati terasa berat untuk pergi dari apartemen ini. Satu sisi aku merindukan Choco, merindukan rumah kecil kami, tapi sisi lain... entah kenapa apartemen ini terasa begitu aman.
Alex sudah duduk di kursi sofa beserta Ayahku. Pengacara Frans sudah pergi lebih dulu untuk menyiapkan dokumen konferensi pers. Aku dan Puri keluar dari pintu kamar. Aku masih memakai setelan baju yang sama saat pertama kali datang ke tempat ini - kemeja putih dan celana jeans yang sudah agak kotor karena kejadian di gudang tua.
Vanka sudah rapi dengan setelan jas hitamnya. Jas yang membuat bahunya terlihat lebih lebar dan wajahnya yang biasanya santai menjadi sangat serius dan tampan. Saat aku keluar, mata kami bertemu.
Tatapan mata Vanka... ya Tuhan. Tatapan itu seolah ingin menahan kami, terutama aku, agar tidak pergi. Tapi bibirnya kelu. Enggan ia lakukan.
Jantungku berdegup sedikit lebih kencang. Aku segera membuang muka.
Terdengar suara ponsel berdering. Ternyata itu ponsel milik Alex. Dia mengangkatnya dan melangkah sedikit menjauh dari kami. Wajahnya berubah serius setelah selesai bicara.
Alex kembali menghampiri kami yang sudah bersiap untuk pergi.
"Paman, Naya, maafkan aku. Aku dan Puri harus datang ke kantor sekarang. Terjadi sedikit masalah untuk konferensi pers Paman nanti. Tim keamanan bilang ada sekelompok wartawan bayaran suruhan Mely yang mencoba masuk," jelas Alex.
"Lalu apa hubungannya denganku, Lex? Aku bagian dalam bukan siaran," ujar Puri dengan raut wajah sinis, dia jelas malas diajak kerja di hari yang seharusnya libur.
"Kau harus datang ke kantor, Puri. Kau harus membersihkan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan Hans. Hanya kau yang tahu password arsip rahasia itu," suara tegas keluar dari mulut Alex, tidak bisa dibantah.
Puri menghela napas panjang. "Huff... baiklah."
"Naya, bisakah kau membawa barang-barang kami?" pinta Puri tersenyum manis, membuatku tidak bisa menolaknya. Dia memang selalu begitu.
Aku tersenyum sambil mengelus lengan Puri. "Pergilah, kerjaan kalian lebih penting. Karena atasan baru kalian ada di depan kalian." Aku melirik Ayahku yang tersenyum.
Ayahku menyuruh mereka pergi dengan lambaian tangan.
Tiba-tiba dengan sigap Vanka membawa barang yang dibawa Alex dan Puri yang tadinya dititipkan padaku. "Ayo, Paman, Naya, biar aku yang mengantar kalian," ajaknya seraya melangkah lebih dulu. Nada suaranya terdengar lega.
Aku dan Ayah mengikuti Vanka di belakangnya. Dua pengawal yang bertugas menjaga apartemen Vanka sudah tidak ada lagi, mereka sedang sibuk menyiapkan konferensi pers untuk Tuan Ajimo.
Kami melangkah melewati lorong yang sepi dan memasuki lift menuju lantai bawah. Saat di lobi, mobil Vanka sudah terparkir rapi. Sebuah mobil SUV hitam besar. Kami melangkah dan masuk ke dalam mobil. Vanka melajukan mobilnya sedikit cepat, menerobos ramainya kota Jakarta pagi ini.
Setelah satu jam perjalanan yang diisi keheningan, kami telah sampai di perkompleksan rumah kami yang berada di ujung komplek. Rumah yang telah menjadi istana kecil dan tempat pertama kali aku mendapatkan keluarga. Rumah Puri dan Alex. Rumah yang menyimpan tawa dan tangis kami selama ini.
Kami keluar dari dalam mobil. Dan aku terkejut.
Langkahku terhenti.
Rumah kami yang penuh kenangan bersama Puri dan Alex telah hancur.
Rumah itu masih berdiri, tapi tidak utuh lagi. Atapnya runtuh setengah, pintu kayunya hilang menjadi arang hitam, dan jendela-jendelanya pecah seperti habis dibakar. Dinding putihnya menghitam oleh jelaga.
Bau gosong masih sangat menyengat, menusuk hidung.
Aku melangkah perlahan. Tubuhku terasa lemas, lututku gemetar melihat rumah penuh kenangan itu hangus. Melihat barang-barang di dalam telah menjadi abu. Sofa tempat kami biasa menonton TV, meja tempat Puri mengajariku merias wajah, semuanya hangus.
Vanka dan Ayah menghampiriku dari belakang.
Vanka memegang sebuah bingkai foto yang sudah gosong. Foto kami bertiga, aku, Puri, dan Alex saat pertama kali pindah ke rumah ini. Senyum kami di foto itu masih utuh, tapi bingkainya sudah meleleh.
"Naya, sepertinya rumah ini sudah dibakar 3 hari yang lalu," ujar Vanka dengan suara pelan dan penuh analisis. "Sepertinya saat Alex dan Puri pergi dari rumah ini untuk menginap di apartemenku. Lihat jejak bensinnya masih ada di sini."
"Tapi Alex dan Puri mengatakan mereka sudah pergi," suaraku lirih, hampir tidak terdengar. Air mata sudah menggenang di pelupuk mataku.
Ayahku mengelus pundakku dan memelukku erat dari samping. Pelukan seorang ayah yang baru kudapatkan.
"Mereka kembali, Naya. Syukur saat itu Alex dan Puri sudah bergegas pergi dari rumah ini. Kalau tidak..."
Ayah tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi aku tahu maksudnya. Kalau Alex dan Puri masih di dalam rumah ini 3 hari yang lalu, mungkin mereka sudah...
"Bagaimana kami akan tinggal?" Akhirnya air mataku menetes juga. Mengalir deras membasahi pipi memarku yang masih biru. "Rumah yang penuh kenangan tidak berdiri utuh lagi, Yah. Di mana kami harus pulang?"
Vanka yang masih memegang bingkai foto gosong itu, menatapku dalam. Kemudian dia menatap Ayahku. Ada keputusan di matanya.
Dia tidak menjawab. Dia hanya meremas bingkai foto itu dan berkata dengan suara yang sangat serius,
"Naya... sepertinya yang membakar rumah ini, Seseorang yang tahu kalian akan kembali ke sini."
Angin siang bertiup kencang, membawa abu-abu sisa kebakaran rumah kami, menerbangkannya ke wajahku.
Bersambung...