NovelToon NovelToon
Cuma Kamu

Cuma Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Sandiwara

Langkah kaki Zahira berderap tergesa menembus udara malam yang mulai menusuk. Jam tangan di pergelangannya menunjukkan pukul 19.15 tepat saat ia mendorong pintu samping rumah megah itu.

Napasnya masih tersengal, dadanya berdebar kencang membayangkan amukan Karlina yang mungkin sudah menunggunya di balik pintu.

Namun, suasana ruang tengah malam itu terasa sangat berbeda. Lampu gantung kristal menyala hangat, dan aroma masakan mahal memenuhi udara.

Di sofa kulit yang empuk, duduk Damian Sumargo, sang Papi yang baru saja kembali dari Surabaya.

Di sampingnya, Karlina sedang menyandarkan kepala dengan wajah penuh kelembutan buatan, sementara Bianka asyik memamerkan hasil belanjaannya.

"Zahira? Baru pulang, Nak?" suara Damian menggelegar hangat, membuat Karlina seketika menegakkan tubuhnya dengan senyum tegang.

"I-iya, pi. Maaf Zahira baru sampai," bisik Zahira, menunduk cemas.

Sebelum Damian sempat bertanya lebih jauh, Karlina langsung berdiri dan mendekati Zahira. Tangannya yang pagi tadi mencengkeram lengan Zahira kini mengelus bahu anak tirinya itu dengan sangat halus, seolah ia adalah ibu paling penyayang di dunia.

"Kasihan anak Mami..." ujar Karlina dengan nada suara yang begitu manis hingga membuat bulu kuduk Zahira berdiri. "Papi kamu baru sampai jam enam sore tadi, Ra. Mami sudah bilang, kalau capek tidak usah dipaksa lembur di kafe. Nanti kamu sakit, Sayang. Mami kan khawatir."

Zahira terpaku. Tatapan mata Karlina yang mengunci matanya menyimpan ancaman yang sangat jelas: ikuti sandiwara ini atau tanggung akibatnya.

"Iya, Pi... Mami benar. Zahira cuma mau bantu-bantu teman," sahut Zahira pelan, menahan rasa mual atas kepalsuan di depannya.

Damian tersenyum bangga, menatap putri sulungnya dengan mata berbinar. "Kamu itu selalu rajin dan mandiri, Ra. Tapi ingat kesehatanmu... Ayo duduk?, kita makan malam sama-sama. Papi kangen sekali makan bareng kalian."

.

.

.

Di sudut ruangan, Vidi yang baru turun tangga hanya bisa menyaksikan adegan drama picisan itu dengan rahang mengeras.

Suasana pagi berikutnya di meja makan terasa makin memuakkan bagi Vidi. Pagi yang biasanya diwarnai bentakan dan caci maki Karlina, kini mendadak berubah menjadi panggung sandiwara keluarga harmonis.

Karlina sibuk menyendokkan nasi goreng ke piring Damian, lalu dengan senyum terkembang melayani Zahira.

"Ini, Zahira... makan yang banyak ya, Nak. Mami tahu kamu capek. Nasi gorengnya Mami pastikan bersih dan enak, khusus buat kamu," tutur Karlina begitu lembut.

Munafik, gumam Vidi dalam hati, meremas sendoknya erat-erat. Watak ibunya yang mendadak berubah 180 derajat hanya karena ada Papi benar-benar membuat perutnya mulas.

Kemarin pagi, cangkang telur kecil saja dijadikan alasan untuk mencaci-maki Kak Zahira bagai penjahat. Sekarang? Ibunya berakting seolah Zahira adalah putri kesayangan.

Vidi melirik Kak Zahira yang hanya menunduk dan mengunyah makanannya diam-diam. Vidi tahu betul, Kakak tersayang-nya itu sedang menahan tekanan batin yang luar biasa demi menjaga kedamaian rumah.

"Papi," panggil Vidi memecah keheningan. "Hari ini Vidi boleh diantar Papi ke sekolah? Sekolah Vidi kan searah sama kantor Papi."

Damian tertawa kekeh, mengacak rambut bungsunya. "Tentu saja, Jagoan! Sudah lama Papi nggak antar kamu. Ayo siap-siap!"

.

.

Di dalam mobil sedan mewah milik Damian, hening sempat tercipta. Hanya suara mesin yang halus dan lalu lintas pagi kota yang bising. Vidi menatap luar jendela, menimbang-nimbang setiap kata yang ingin ia ucapkan.

Ada dorongan kuat dalam dadanya untuk membongkar semua kebusukan Mami dan Kak Bianka—soal janji perjodohan paksa dengan pengusaha tua, soal uang kuliah Zahira yang ditahan, hingga makian kasar saban hari.

Namun, Vidi teringat tatapan mata Zahira yang memohon semalam. Jika ia membuka suara sekarang tanpa persiapan, Kak Zahira yang justru akan dijadikan sasaran amuk Mami saat Papi pergi bekerja nanti.

Ia harus melindungi kakaknya dengan cara yang lebih cerdas.

"Pi..." panggil Vidi pelan.

"Iya, Nak? Ada apa? Mau minta uang jajan tambahan?" goda Damian dari balik kemudi.

Vidi menggeleng. Ia menoleh menatap wajah ayahnya yang mulai dimakan usia. "Enggak, Pi. Vidi cuma mau minta satu hal... tapi Papi harus janji bakal kabulin."

"Wah, rahasia sekali kelihatannya. Apa itu?"

"Lain kali, kalau Papi ada libur atau ada waktu luang... boleh enggak Papi ajak Vidi sama Kak Zahira jalan-jalan liburan? Cuma kita bertiga aja. Enggak usah ajak Mami sama Kak Bianka."

Damian sedikit terkejut, melirik bungsunya lewat spion tengah. "Lho? Kenapa Mami sama kak Bianka enggak diajak? Nanti Mami kamu sedih, Vi."

Vidi tersenyum tipis, sebuah senyuman dewasa yang menyimpan luka. "Enggak apa-apa, Pi. Kak Zahira itu capek banget. Dia belajar keras buat skripsi, kerja dari pagi sampai malam. Vidi cuma ingin Kak Zahira bisa tenang sebentar tanpa perlu mikirin apa-apa. Lagipula... Vidi lebih suka di dekat Kak Zahira. Kakak selalu ngajarin Vidi jadi orang sederhana."

Damian tertegun mendengarnya. Ada nada getir yang tersirat dari ucapan putra bungsunya, namun ia juga merasa dadanya dihujani rasa bangga yang luar biasa. Di usianya yang baru 14 tahun, Vidi memiliki kepekaan dan pemikiran yang begitu dewasa, jauh melampaui usianya.

Damian mengulurkan tangan kirinya, mengusap kepala Vidi dengan penuh kasih sayang. "Papi bangga sama kamu, Vidi. Kamu perhatian sekali sama Kakakmu. Baik, Papi janji. Nanti Papi atur waktu khusus buat kita bertiga, ya."

"Janji ya, Pi," bisik Vidi mantap, menatap bangunan sekolahnya yang mulai terlihat di depan mata.

.

.

Siang harinya, suasana di kedai kopi tempat Zahira bekerja tampak cukup ramai. Suara denting cangkir, aroma biji kopi yang pekat, dan obrolan pengunjung memenuhi area indoor.

Zahira berdiri di balik meja bar, dengan cekatan meracik pesanan minuman, sementara Hanum bolak-balik membawakan nampan berisi cangkir-cangkir kopi ke meja pelanggan.

Saat Hanum baru saja kembali dari area meja sudut dekat jendela, langkahnya mendadak terhenti. Matanya membelalak menatap seorang pelanggan yang baru saja duduk mengoperasikan laptopnya.

Dengan setengah berlari, Hanum berhamburan masuk ke ruang barista tempat Ciki sedang menata pasokan susu.

"Ciki! Ciki! Coba kamu intip ke meja sudut dekat jendela!" bisik Hanum heboh, menarik-narik apron Ciki.

"Ada apa sih, Num? Heboh banget kayak lihat artis aja," gerutu Ciki, namun tetap ikut mengintip dari celah tirai kayu.

Di meja sudut itu, duduk seorang pria muda berwajah tampan dengan kacamata berbingkai tipis. Ia mengenakan kemeja putih polos yang lengan bajunya tergulung rapi, begitu fokus menatap layar laptop sembari menyesap kopinya.

"Astaga! Itu kan pria ganteng yang kemarin di toko sepatu?!" pekik Ciki tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Demi apa dia ngopi di sini?!"

"Iya, kan?! Ya ampun, dari samping aja rahangnya tajam banget! Karismanya bener-bener gak main-main!" timpal Hanum seraya mencuri-curi pandang dengan wajah berbinar.

Zahira yang baru saja selesai menuangkan latte art menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Ia berjalan mendekati mereka dengan senyum geli.

"Kalian ini ada-ada saja," tegur Zahira halus. "Ingat ya, Hanum, Ciki... kalian berdua itu sudah punya pacar. Jangan mencuci mata berlebihan begitu, nanti pacar kalian bisa ngambek."

"Aduh, Ra... ini namanya mengagumi keindahan ciptaan Tuhan!" elak Hanum terkekeh. "Lagipula, siapa tahu dia itu jodoh yang dikirim Tuhan buat kamu! Udah ganteng, sopan, penyayang ibu lagi!"

"Hus! Jangan sembarangan," potong Zahira dengan pipi yang sedikit merona, mengingat interaksi singkatnya di toko sepatu kemarin.

Tiba-tiba, pintu depan kedai berdenting nyaring. Gisel melangkah masuk bersama ibunya, Bunda Heni, wanita paruh baya yang anggun dan berwajah hangat. Gisel celingukan mencari keberadaan Zahira.

"Zahira!" panggil Gisel riang seraya berjalan mendekati meja bar. "Ini Bunda mau ketemu kamu, mau bahas soal paviliun—"

Ucapan Gisel terhenti seketika. Pandangannya tak sengaja berbenturan dengan pria berkacamata di meja sudut yang baru saja mendongak dari laptopnya.

Mata Gisel membelalak sempurna, langkah kakinya terpaku di lantai porselen kedai.

"Lho... Mas Elvan?!" cetus Gisel kaget, mengenali sosok pria berkacamata yang kini juga ikut menatapnya dengan raut terkejut.

1
sunaryati jarum
Semoga lulus dengan nilai sempurna dengan predikat Cumlaude, Zahira
fazry_fazriyah: aamiin....

terima kasih doakan selalu Zahira ya
total 1 replies
Best
apa sih si Imelda ini, jahat
Best
Mampir lagi Thor. semangat up ceritanya...✨
Best
lanjut Thor... semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!