Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama di Penthouse SCBD
Pukul 22.00 WIB. Penthouse lantai 56, SCBD.
Alya masih berdiri mematung di depan pintu kaca yang menghadap langsung ke gemerlap Jakarta. Gaun putih sederhana yang tadi dipakaikan WO masih melekat di tubuhnya. Di jari manisnya, ada cincin berlian 5 karat yang dingin.
Di atas meja marmer, selembar kertas.
*SURAT KONTRAK PERNIKAHAN*
Pihak Pertama: Rafael Virel (32), CEO Virel Corp.
Pihak Kedua: Alya Putri (24).
Pasal 1: Pernikahan berlangsung selama 1 tahun.
Pasal 2: Pihak Kedua dilarang jatuh cinta pada Pihak Pertama.
Pasal 3: Tidak ada sentuhan fisik tanpa izin Pihak Pertama.
Alya tertawa miris. Dilarang jatuh cinta? Justru dia harus berdoa agar pria itu tidak pernah menyentuhnya.
Suara pintu terbuka.
Rafael masuk dengan kemeja putih yang dua kancing atasnya terbuka, jasnya sudah dilepas. Wajahnya dingin seperti biasa. Tampan, tapi tatapannya bisa membunuh.
"Kamu belum ganti baju?" Suaranya berat.
Alya langsung mundur selangkah. "Saya... saya nunggu disuruh."
Rafael menatapnya dari atas ke bawah. Lalu dia melempar sebuah kotak hitam ke atas kasur king size.
"Pakai ini. Mulai besok, semua pakaianmu akan disiapkan. Istri seorang Rafael Virel tidak boleh kelihatan seperti gadis yang mau kabur dari kondangan."
Alya membuka kotak itu. Isinya silk dress tidur berwarna hitam. Tipis.
Mukanya langsung panas. "Saya tidak bisa pakai ini! Ini terlalu..."
"Terlalu apa?" Rafael berjalan mendekat. Jarak mereka hanya tinggal satu jengkal. Aroma parfum mahalnya menusuk hidung Alya. "Kamu itu sekarang istri sah saya di depan media, Alya. Kontrak kita bilang kamu harus patuh."
"Patuh bukan berarti saya harus pakai baju seperti ini di depan Anda!" Alya memberanikan diri menatap matanya. "Di kontrak pasal 3, tidak ada sentuhan fisik!"
Rafael malah tersenyum miring. Senyum pertama yang Alya lihat malam ini, dan itu lebih menakutkan daripada wajah datarnya.
"Pintar. Sudah baca kontrak." Dia membungkuk, bibirnya berhenti tepat di samping telinga Alya, tapi tidak menyentuh. "Bagus. Jadi kamu harusnya tahu juga Pasal 7. Kamu harus tinggal di kamar yang sama dengan saya selama satu tahun. Dan tidur di ranjang yang sama."
Jantung Alya hampir copot.
Apa?
Dia buru-buru membuka lagi lembaran kontrak itu. Dan benar. Pasal 7 tertulis kecil di bawah.
_Untuk menghindari kecurigaan media dan keluarga, kedua pihak wajib tinggal satu kamar dan satu ranjang selama masa kontrak._
"Ini curang! Tadi tidak ada pasal ini!"
"Ada. Kamu saja yang tidak teliti karena sibuk nangis di KUA tadi," jawab Rafael santai. Dia masuk ke walk-in closet. "Saya tidak akan menyentuhmu. Saya tidak tertarik pada gadis yang menangis karena hutang bapaknya 2 Miliar. Jadi kamu aman."
Kalimat itu menampar Alya lebih keras daripada bentakan.
Ya. Dia di sini karena hutang. Bapaknya hampir dipenjara karena ditipu rekan bisnis, dan satu-satunya orang yang bisa melunasi adalah Rafael Virel, teman SMA bapaknya yang sekarang jadi konglomerat paling ditakuti di Jakarta. Syaratnya: Alya harus jadi istri kontraknya selama setahun untuk menenangkan ibunya yang sakit-sakitan yang ingin melihat Rafael menikah.
Alya menggigit bibir menahan air mata. Dia masuk ke kamar mandi dan mengganti gaun putihnya dengan dress hitam itu. Dengan jantung berdebar, dia keluar.
Rafael sudah di atas ranjang, bersandar sambil membaca laporan saham di iPad. Dia melirik Alya hanya sedetik, tapi sedetik itu cukup membuat rahangnya mengeras.
Alya mencoba menarik ujung dressnya yang hanya sampai paha.
"Duduk," perintah Rafael.
Alya duduk di sisi paling ujung ranjang, sejauh mungkin.
Rafael mematikan iPad-nya. "Mulai besok, kamu ikut saya ke kantor. Ibu saya akan datang dari Singapura. Dia harus percaya pernikahan ini asli."
"Saya harus ngapain?"
"Jadi istri yang manis. Tersenyum. Gandeng tangan saya. Dan..." Rafael tiba-tiba meraih dagu Alya, mengangkatnya paksa agar menatapnya. Sentuhan pertamanya. Kasar tapi tangannya panas. "Jangan pernah sebut kata kontrak di depan siapapun. Kalau kamu bocorkan, hutang bapakmu akan saya tagih dua kali lipat dan saya pastikan dia masuk penjara."
Mata Alya berkaca-kaca. "Anda mengancam saya?"
"Saya mengingatkan posisi kamu, Nyonya Virel."
Dia melepaskan dagu Alya. Bekas jarinya masih tertinggal.
Malam itu, mereka tidur dengan batas bantal di tengah. Rafael memunggungi Alya. Alya memeluk lututnya, menatap lampu Jakarta yang tidak pernah tidur.
Di tengah keheningan, Rafael bicara tanpa menoleh.
"Kenapa kamu setuju? Kamu masih kuliah kan?"
Alya terisak pelan. "Bapak saya satu-satunya keluarga saya. Saya tidak punya pilihan. Daripada Bapak di penjara..."
Rafael diam lama.
"Besok pagi jam 6 saya sudah gym. Jangan bangun kesiangan. Istri CEO Virel tidak boleh malas."
Alya tidak menjawab. Dia hanya mengusap air matanya diam-diam.
Yang tidak Alya tahu, dari pantulan kaca jendela, Rafael sebenarnya sedang menatapnya. Tatapan dinginnya tadi sudah hilang. Berganti tatapan bingung.
Gadis 24 tahun ini berbeda dari semua wanita sosialita Jakarta yang mengejarnya. Dia tidak merayu. Dia malah takut.
Dan entah kenapa, itu membuat Rafael ingin membuatnya takut lebih lama. Agar tetap di sini.
Pukul 02.00 pagi, Alya akhirnya tertidur karena lelah menangis.
Rafael bangun pelan. Dia menarik selimut dan menyelimuti tubuh Alya yang kedinginan karena AC penthouse yang terlalu dingin. Gerakannya sangat pelan, takut membangunkan.
"Ceroboh," gumamnya pelan sambil menatap wajah polos Alya yang tertidur.
Itu adalah malam pertama dari 365 hari neraka mereka. Kontrak baru saja dimulai.