NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:386
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Isyarat di Antara Rak Supermarket

Malam harinya, suasana di kediaman Pradipta terasa jauh lebih sepi. Kedua orang tua Vino sedang ada dinas bisnis di luar kota selama seminggu ke depan, meninggalkan rumah megah itu hanya diisi oleh Vino, Darel, Aira, dan beberapa asisten rumah tangga.

Aira baru saja selesai mengikat rambutnya dengan jepit sederhana ketika mendengar suara klakson mobil Vino dari arah garasi. Ia terburu-buru mengambil catatan belanjaan dapur dari Bibi, lalu setengah berlari menuju ke luar rumah.

Vino sudah duduk di balik kemudi mobil sports-nya dengan mesin yang menderu pelan. Kaca mobilnya diturunkan separuh.

"Lama banget sih lu! Buruan masuk!" cetus Vino tanpa menoleh, nada suaranya tetap judes dan penuh ketidaksabaran.

Aira membungkuk sedikit, membuka pintu penumpang belakang dengan canggung. Namun, sebelum kakinya sempat melangkah masuk, suara langkah santai terdengar dari arah teras rumah.

"Mau belanja ke supermarket, Vin?"

Darel berjalan mendekat dengan pakaian kasual yang rapi dan aroma parfum maskulin yang lembut. Ia tersenyum tipis ke arah Vino, lalu melirik Aira yang membeku di dekat pintu mobil.

Vino berdecak malas dari dalam mobil. "Iya. Kenapa? Lu mau titip sesuatu?"

"Gak titip, gue ikut aja," jawab Darel santai. Tanpa menunggu izin Vino, Darel membukakan pintu depan penumpang—kursi yang biasa diduduki Caren—lalu menatap Aira. "Aira, kamu duduk di depan aja. Biar saya yang di belakang."

"Eh? N—nggak usah, Kak Darel..." Aira panik, menggelengkan kepalanya cepat. "Aku di belakang aja, Kakak kan tamu di sini—"

"Gak apa-apa. Saya gak suka lihat cewek disuruh duduk di belakang kayak supir," potong Darel lembut, tangannya memegang pintu depan agar tetap terbuka untuk Aira.

Vino yang memperhatikan interaksi itu lewat spion tengah mendadak merasa kepalanya pening. Rasa risih dan jengkel yang tak beralasan perlahan merayapi dadanya. Bagi Vino, tingkah Darel yang selalu sok memperlakukan Aira bak putri raja itu sangat berlebihan dan bikin gatal.

"Duh, berisik banget sih kalian di luar!" bentak Vino dari dalam mobil, menggebrak setir dengan telapak tangannya. "Bebas mau duduk mana aja! Cepetan masuk, gue kagak punya waktu seharian!"

Aira yang ketakutan mendengar gertakan Vino akhirnya terpaksa duduk di kursi depan samping kemudi, sementara Darel masuk dan duduk tenang di jok belakang.

Selama perjalanan menuju supermarket, suasana di dalam mobil terasa begitu canggung dan dingin. Vino fokus menatap jalanan dengan wajah keruh, sesekali melirik sinis Aira dari sudut matanya. Ia menyadari satu hal yang berbeda dari Aira malam ini: cewek itu tidak lagi tampak setegang biasanya di sebelahnya. Kehadiran Darel di kursi belakang seolah memberi Aira semacam 'tameng' rasa aman yang belum pernah ada sebelumnya.

Sejak kapan ini cewek jadi berani gak ketakutan lagi di dekat gue? Gara-gara si Darel? batin Vino menyeringai tajam, ada rasa gengsi yang tersentil di lubuk hatinya.

Sesampainya di supermarket besar kawasan Jakarta Selatan, Aira langsung mendorong troli belanjaan dengan teliti. Ia melihat catatan kecil di tangannya, sibuk memilih bumbu dapur, buah-buahan, dan daging segar sesuai kebutuhan rumah.

Darel berjalan tepat di samping Aira. Setiap kali Aira kesulitan mengambil barang di rak yang tinggi, Darel dengan sigap mengambilkannya.

"Ini kotak sereal yang kamu mau, Aira?" tanya Darel manis, menyerahkan kotak sereal itu ke tangan Aira dengan jemari yang sengaja menyentuh kulit tangan Aira sedikit lebih lama dari biasanya.

Aira tersenyum tipis, matanya berbinar tulus. "Iya, Kak Darel. Makasih banyak ya..."

Dari jarak beberapa meter di belakang mereka, Vino berjalan lambat sambil membawa minuman kaleng. Matanya memperhatikan bagaimana Aira tersenyum lega pada Darel—sebuah senyuman tulus yang tidak pernah sekali pun Aira tunjukkan padanya. Setiap kali Aira menatap Vino, mata cewek itu selalu dipenuhi rasa takut, cemas, dan kehampaan.

Vino mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Rasa panas yang asing membakar dadanya. Ia tidak suka melihat pemandangan ini. Bukan karena ia menyukai Aira—tentu saja bukan! Bagi Vino, Aira tetaplah cewek numpang yang merepotkan. Tapi Aira adalah miliknya secara hukum dan perjanjian bisnis keluarga, dan melihat Darel begitu mudah merebut perhatian Aira terasa seperti sebuah penghinaan besar bagi harga diri seorang Vino Pradipta.

Vino melangkah lebar menghampiri mereka berdua, lalu melempar minuman kalengnya ke dalam troli belanjaan Aira secara kasar hingga mengejutkan mereka berdua.

Brak!

Aira terlonjak kaget, merapatkan tubuhnya ke dekat Darel refleks.

"Woy, Aira!" tegur Vino dengan nada tinggi yang dingin dan arogan. "Lu di sini ditugasin belanja kebutuhan rumah, bukan pacaran atau gosip sama Darel! Jalan lu lelet banget dari tadi!"

"Ma—maaf, Vin... ini udah hampir selesai kok..." jawab Aira terbata-bata, langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sifat penurut dan ketakutannya seketika kembali membelenggunya saat berhadapan langsung dengan bentakan Vino.

Darel melangkah satu tapak ke depan, menyembunyikan Aira di balik punggungnya dengan senyum tenang yang provokatif. "Vino, gak usah bentak-bentak Aira di tempat umum begini. Dia lagi kerja kok, gue cuma bantu."

Vino menatap Darel dengan mata menyalang tajam. Bukannya makin santai, tatapan tenang Darel justru terasa seperti ejekan terbuka bagi Vino.

"Gue gak minta lu bantu, Rel," desis Vino dingin, suaranya merendah namun penuh tekanan ancaman. "Dia itu urusan gue. Lu gak usah sok jadi pahlawan di rumah gue. Paham?"

Darel mengangkat kedua tangannya santai, terkekeh tipis. "Oke, oke. Gue cuma gak mau Aira kelelahan aja."

Vino tidak membalas lagi. Ia menyambar tali lengan baju seragam Aira—menarik cewek itu keluar dari balik punggung Darel dengan sentakan yang cukup kuat hingga Aira hampir tersandung.

"Pegang trolinya! Ikut gue ke kasir sekarang!" perintah Vino kasar, berjalan mendahului tanpa memedulikan ringisan pelan dari bibir Aira.

Darel berdiri di tempatnya, memperhatikan Vino yang menarik Aira pergi menuju area kasir. Senyuman manis di wajah Darel perlahan sirna, berganti dengan tatapan dingin yang begitu kelam dan tanpa emosi.

Darel meraba saku celananya, menggenggam ponselnya erat-erat sambil membatin penuh rasa puas.

Bagus, Vino. Makin kasar kamu sama Aira, bakal makin mudah buat gue merebut dia sepenuhnya dari tangan kamu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!