Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar baik yang ditunggu-tunggu
...•••...
“Suram banget, tuh, muka,” kata Sian begitu duduk di hadapan Jay yang terlihat begitu fokus menatap ponselnya.
“Bangsat!” Jay melempar ponselnya begitu saja hingga layarnya sampai retak.
Sian mengusap wajahnya. lagi. Setiap hari begini terus. Jay uring-uringan, marah-marah, sibuk mencari seseorang yang bahkan tidak diketahui keberadaannya.
“Move on ajalah, bro. Udah hampir 2 tahun juga, kan?”
“Perasaan—”
“Stop, deh, Jay,” potong Sian cepat. “Lo udah sering cerita, anjir. Lo emang nggak punya salah sama dia. Mungkin dianya aja yang emang bermasalah?”
“Jaga omongan lo!” suara Jay seketika mengeras. Ia tidak pernah suka ketika orang lain menyalahkan perempuan yang dicintainya.
Sian mengangkat kedua tangan, menyerah. “Chill, bro.” Ia terkekeh kecil. “Ya terserah lo aja dah kalau mau nyiksa diri sendiri.”
Sian kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke sisi Jay. Sebelum pergi, ia menepuk pundak sahabatnya itu sekilas.
“Kuat-kuat dah, ya. Otak sama fisik lo.” Setelah itu Sean pergi meninggalkan Jay, membawa laptop dan setumpuk tugas yang semakin hari semakin memuakkan.
Orang patah hati memang begitu, ya?
Keras kepalanya minta ampun. Diberi nasihat hanya dianggap angin lalu. Apa pun yang dikatakan orang terdekat seolah tidak pernah cukup membuat mereka melihat sesuatu yang sebenarnya sudah begitu jelas.
Padahal, orang terdekat hanya sedang berusaha menyadarkan mereka pada realitas yang ada.
Kalau seseorang memilih pergi dari hidup kita, bukankah itu berarti dia memang sudah tidak mau lagi menjadi bagian dari hidup kita?
Seharusnya logikanya memang sesimpel itu. Tapi hati punya cara sendiri untuk menolak sesuatu yang sudah diterima oleh logika.
Dan Jay, selama hampir 2 tahun terakhir, masih memilih untuk tidak menerimanya.
Dreett…
Layar ponsel yang tergeletak di lantai kembali menyala, menampilkan notifikasi panggilan masuk.
Jay langsung membungkuk dan meraih ponselnya. Entah keberuntungan macam apa yang masih berpihak padanya, ponsel itu ternyata belum mati total meskipun layarnya sudah retak.
Ia menggeser tombol hijau di layar.
“Ya?”
“...”
“Serius?” tanya Jay dengan nada sedikit meninggi, jelas tak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Ya. Pokoknya terus cari. Jangan sampai kehilangan jejak lagi!”
Jay memutuskan panggilan setelah memberikan perintah terakhirnya.
Rasa lega perlahan memenuhi dadanya. Posisi perempuan yang selama hampir 2 tahun ia cari akhirnya berhasil dilacak. Memang belum benar-benar jelas, masih samar dan belum bisa dipastikan sepenuhnya. Namun, setidaknya kali ini Jay memiliki sesuatu yang selama ini tidak pernah ia miliki: petunjuk.
“Akhirnya…”
Jay menghela napas panjang. Penantiannya mungkin sebentar lagi akan membuahkan hasil. Ia akan segera bertemu dengan perempuan yang dicintainya.
Selama ini, Jay tidak pernah mengharapkan atau menginginkan sesuatu segila keinginannya terhadap perempuan yang ia cintai. Ia ingin merengkuh tubuh perempuan itu dengan penuh cinta, mendekapnya begitu lekat, atau bahkan mengurungnya agar perempuan itu tidak lagi berani pergi dari hidupnya sesuka hati.
Jay baru sadar bahwa kekayaan tidak menjamin seseorang akan selalu ada di hidup kita. Sebab, pada akhirnya, perasaan tidak bisa dibeli dengan uang.
Tubuh seseorang mungkin bisa dinikmati hanya dengan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah, layaknya seorang pelacur yang menjual tubuhnya. Namun perasaan? Tidak.
Begitu pula dengan perempuan yang dicintainya. Perempuan yang menurutnya begitu keras kepala. Seseorang yang tidak bisa ia kehendaki sesuka hati, tidak peduli seberapa besar keinginannya untuk mendapatkannya ataupun seberapa banyak yang sanggup ia berikan.
Jay menatap lockscreen ponselnya. Foto dirinya dan perempuan itu yang sedang tersenyum lebar masih terpampang di sana.
Jarinya mengusap permukaan layar, tepat di atas wajah perempuan itu.
“Sebentar lagi, kita bakal ketemu, Kak.”
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
Aku kasih tanda pembeda ya, teman-teman. Buat memudahkan kalian membedakan masa lalu dan masa sekarang
SAY HI, DONGGG