Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2.Pertemuan pertama dengan musuh.
Aula Utama itu begitu luas hingga suara langkah kaki pun bergema pelan di lantai batu marmer yang dingin. Di ujung ruangan, di atas kursi-kursi yang diukir indah, duduk sepasang suami istri. Pria itu berpakaian jubah gelap berhias benang emas, wajahnya tegas, garis rahangnya keras, tatapannya tajam menelisik setiap inci tubuh Li Hua seakan sedang menilai barang dagangan. Itu Tuan Zhang, Perdana Menteri Negeri Ye Lu—ayahnya dalam dunia ini. Di sampingnya duduk seorang wanita berpakaian lembut berwarna krem, wajahnya halus, matanya berkaca-kaca menatap ke arah Li Hua seakan menahan rindu yang tak tertahankan.
Li Hua berdiri tegak, kedua tangannya saling meremas di depan perut, jantungnya berdegup kencang namun ia berusaha menahan agar tidak terlihat gemetar. Semua mata tertuju padanya—pelayan yang berbaris di sisi lorong, pengawal yang berdiri kaku di tiang pintu, dan ketiga orang yang kini mengaku sebagai keluarganya sendiri.
"Nak..." suara wanita itu terdengar lembut, bergetar pelan. Ia bangkit dari kursinya, melangkah mendekat dengan tangan terulur. "Kau akhirnya pulang... Ibu merindukanmu, Li Hua."
Nyonya Zhang berhenti tepat di hadapan gadis itu, menatapnya lekat-lekat, lalu perlahan mengusap pipi Li Hua dengan jari-jemari yang halus. Tatapannya begitu penuh kasih sayang, begitu hangat, hingga hampir saja membuat Li Hua luluh. Namun ia menelan ludah, mengingat kembali apa yang ia ketahui—keluarga ini adalah yang akan hancur, dan mereka jugalah yang tanpa ragu akan menyerahkan nyawanya demi kepentingan mereka sendiri.
"Selamat datang kembali di rumahmu," ucap Tuan Zhang, suaranya berat dan berwibawa, namun tak ada kehangatan di sana. "Delapan belas tahun... terlalu lama kita terpisah. Tapi sekarang semuanya sudah kembali pada tempatnya."
Di sampingnya berdiri seorang pemuda jangkung, wajahnya mirip dengan Li Hua—garis rahang yang sama, bentuk mata yang serupa, namun tatapannya dingin dan mengawasi. Itu Zhang Mo Chen, kakak laki-lakinya. Ia hanya mengangguk singkat, tanpa senyum, tanpa kata sapaan.
Lalu dari sisi lain ruangan melangkah maju seorang gadis. Ia mengenakan gaun sutra halus berwarna merah muda, rambutnya dihiasi perhiasan halus, wajahnya cantik namun ada sesuatu yang tajam di balik senyumnya. Langkahnya ringan, anggun, tepat berhenti di samping Li Hua.
"Aku Shi Yin..." ucapnya lembut, suaranya terdengar manis namun matanya menatap tajam ke manik mata Li Hua. "Kakak kembarmu. Selama ini... akulah yang tinggal di sini. Akulah yang menanggung beban nama baik keluarga, sementara kau dikirim jauh ke desa terpencil sebagai penolak bala nasib buruk yang dikatakan peramal akan menimpa keluarga kita."
Li Hua menatapnya diam-diam. Jadi begitulah alasannya... batinnya. Aku dibuang agar dia aman. Dan sekarang aku dipanggil kembali bukan karena rindu, tapi karena aku berguna.
"Kau tidak marah, kan?" tanya Shi Yin pelan, menyentuh lengan Li Hua seakan penuh perhatian. "Ibu dan Ayah terpaksa melakukannya. Demi keselamatan keluarga. Tapi sekarang kau sudah kembali, dan kita akan hidup seperti keluarga seutuhnya."
Li Hua hanya mengangguk pelan, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia tahu—di balik senyum manis Shi Yin, di balik pelukan hangat ibunya, ada rencana yang sudah disusun rapi. Ia bukan dipulangkan sebagai putri yang dicintai, melainkan sebagai pengganti. Sebagai tumbal.
Malam itu, setelah pertemuan di aula berakhir, Li Hua diantar ke sebuah bangunan kecil namun rapi di halaman belakang kediaman utama. Ruangannya sederhana dibandingkan kemegahan tempat lain, namun bersih, wangi, dan nyaman. Di hadapan cermin besar dari tembikar yang dipoles mengkilap, seorang gadis muda berdiri menyisir rambutnya pelan-pelan. Namanya Qiao'er, pelayan yang ditugaskan khusus untuk merawatnya.
"Rambut Nona halus sekali..." puji Qiao'er lembut, sambil menyisir helai demi helai rambut hitam itu. "Wajah Nona sungguh cantik. Tidak kalah sedikit pun dari Nona Pertama, Shi Yin."
Li Hua menatap pantulan dirinya, lalu menatap wajah gadis muda itu yang tersenyum lebar di balik bahunya. "Siapa namamu?" tanyanya pelan.
Wajah Qiao'er memerah, ia menunduk hormat. "Nama hamba Qiao'er, Nona."
"Qiao'er..." Li Hua mengulang nama itu pelan. "Jangan menunduk terus. Angkat wajahmu saat bicara padaku."
Qiao'er mengangkat wajahnya perlahan, namun matanya tetap tak berani menatap langsung. Saat ia menggerakkan tangan untuk merapikan kain penutup bahu, ujung lengan bajunya tersingkap sedikit. Dan di sana, terlihat jelas di pantulan cermin—kulit pergelangan tangannya berwarna kebiruan kehitaman, memar yang besar tersembunyi di balik kain panjangnya.
Li Hua segera membalikkan tubuh, menatap gadis itu lekat-lekat. "Tanganmu..."
Qiao'er buru-buru menyembunyikan tangannya ke belakang punggung, wajahnya pucat seketika. "Tidak apa-apa, Nona... Hanya luka kecil."
"Berikan padaku," perintah Li Hua lembut namun tegas, meraih pergelangan tangan gadis itu.
Qiao'er tersentak hebat, menarik tangannya seakan takut disakiti. "Nona... tidak perlu..."
"Aku bilang berikan!" Li Hua menggenggam tangan itu perlahan namun mantap, lalu perlahan melipat lengan baju panjang itu ke atas. Napasnya tertahan. Sepanjang lengan Qiao'er, dari pergelangan hingga ke siku, penuh memar—ada yang sudah menguning, ada yang masih merah segar, bahkan ada bekas pukulan yang melukai kulitnya.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Li Hua, suaranya rendah namun bergetar karena amarah yang tertahan. "Siapa yang berani menyiksamu seperti ini?"
Qiao'er berlutut seketika, keningnya menyentuh lantai. "Hamba jatuh, Nona... Hamba tidak hati-hati, terjatuh di tangga..."
"Jangan berbohong padaku!" potong Li Hua tegas, berlutut di hadapannya agar pandangan mereka sejajar. "Lihat mataku. Apakah kau pikir aku tidak tahu perbedaan luka jatuh dan luka dipukuli? Katakan padaku siapa pelakunya. Aku janji akan melindungimu."
Qiao'er meneguk ludah, matanya berkaca-kaca, takut menatap gadis di hadapannya. Ia tampak bergumul hebat dalam batinnya, sebelum akhirnya air matanya menetes perlahan.
"Adalah... Nona Pertama, Shi Yin..." suaranya berbisik, hampir tak terdengar. "Hamba tidak sengaja merobek gaun sutra miliknya. Ia marah besar... memerintahkan agar hamba dihukum, lalu diusir dari pelayanannya dan dikirim ke sini sebagai pelayan Nona Kedua."
Li Hua mengepalkan tangannya erat, kuku menancap ke telapak tangan. Shi Yin... batinnya membara. Wajah malaikat tapi hati iblis. Benar-benar gila, wanita gila yang kejam.
"Bangun, Qiao'er," ucap Li Hua, menolong gadis itu berdiri. "Kita tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi. Dia menyiksamu, memanfaatkanku, dan siapa tahu berapa banyak orang lain yang sudah dia sakiti."
"Maksud Nona...?" Qiao'er menatap bingung.
"Sekarang ikut aku! ," ucap Li Hua tegas, melangkah menuju pintu. "Hari ini aku harus buat perhitungan dengan nona besar gila itu."
"Tapi Nona, itu berbahaya! Nona Shi Yin akan marah besar!" Qiao'er berusaha mencegahnya.
"Aku tidak takut," jawab Li Hua tanpa menoleh. "Aku tidak akan membiarkan dia menindas pelayanku, itu sama dengan dia merendahkan aku."
Dengan langkah mantap, Li Hua berjalan keluar dari halaman belakang, diikuti Qiao'er yang tergopoh-gopoh menyusul, tampak takut namun tetap setia mengikuti. Mereka melewati lorong beranda yang sepi, menuju bangunan indah tempat Shi Yin tinggal—sisi lain kediaman yang sunyi dan tertutup oleh pepohonan rimbun.
Namun sesampainya di halaman terbuka di depan kediaman itu, langkah kaki Li Hua terhenti seketika. Darah seakan membeku di pembuluhnya.
Di tengah halaman, di bawah terik matahari siang, seorang pria diikatkan kedua tangan dan kakinya ke tiang kayu yang kokoh. Tubuhnya telanjang bagian atas, kulitnya pucat namun penuh luka—bekas cambukan yang lama mengering, dan yang baru saja meneteskan darah merah segar. Seorang pelayan berdiri di sampingnya, memegang cambuk rotan yang ujungnya masih basah oleh darah, siap mengayunkan kembali pukulannya.
"Berhenti!" teriak Li Hua tanpa sadar, suaranya memecah keheningan.
Pelayan itu menoleh, terkejut melihat kedatangan mereka. "Siapa kalian? Ini bukan tempat untuk Nona Kedua!"
Li Hua tak mempedulikannya, melangkah mendekat hingga beberapa langkah dari pria yang terikat itu. Wajahnya pucat, keringat bercampur darah menetes di dahinya, rahangnya mengeras menahan sakit tanpa mengeluarkan suara rintihan sedikit pun. Namun matanya—mata itu tajam, gelap, memancarkan kebencian yang begitu dalam hingga membuat bulu kuduk berdiri.
"Siapa dia?" tanya Li Hua menoleh ke Qiao'er, suaranya bergetar. "Siapa yang kalian siksa seperti ini?"
Qiao'er menunduk, tak berani menatap. "Dia... Pangeran dari Negeri Tang Liang. Tawanan perang. Pangeran Li Yun."
Nama itu meluncur dari bibir Li Hua bagai kutukan. Li Yun... Raja Iblis yang kelak akan membakar seluruh negeri ini. Pria yang berdiri di hadapannya, penuh luka dan darah, adalah sosok yang akan menghancurkan segalanya.
Ia melangkah maju satu langkah lagi, menatap lurus ke manik mata hitam itu. "Li Yun..." panggilnya pelan namun jelas.
Pria itu mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mereka bertemu. Di matanya tak ada rasa malu atau takut, hanya kebencian yang membara—dan secercah keraguan yang samar. Ia menatap Li Hua, seakan mencoba mengenali wajah yang selama ini ia kenal sebagai penyiksanya.
Li Hua menatapnya balik, hatinya berdebar kencang bukan karena takut pada masa depan, melainkan karena menyadari satu hal: di hadapannya berdiri bukan sekadar musuh yang akan datang, melainkan seseorang yang telah disakiti begitu dalam oleh keluarganya sendiri. Dan di sinilah, tepat saat ini, jalan cerita yang ia baca mulai berubah arah.