NovelToon NovelToon
Aku Belum Mati, Suamiku!

Aku Belum Mati, Suamiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Berondong / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:21.5k
Nilai: 5
Nama Author: IAS

Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.

Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.

"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"

Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani

Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.

Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?

Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Hidup 04

"Terimakasih Pak Mahes, sudah mengantar saya," ucap Aina saat ia sudah sampai di depan rumah. Aina sebenarnya sangat tidak enak diantarkan begini.

"Dengan senang hati Bu Aina. Jangan berterimakasih, saya hanya menjalankan tugas dari atas ah maksud saya teman saya. Ya saya hanya membantu teman saya saja. Kalau begitu silakan masuk dan saya akan pergi."

Aina kembali mengerutkan alisnya. Perasaannya mengatakan bahwa Mahes sepert menyembunyikan sesuatu. Sedari tadi Aina berpikir demikian. Rasanya sangat aneh, namun Aina tak nyaman untuk bertanya juga.

Setelah Aina masuk rumah, Mahes juga kembali ke mobil. Sebelum menjalankan mobilnya, terlebih dulu ia melaporkan kepada Jexen bahwa Aina sudah sampai di rumah.

"Bagus, kembali sekarang. Bagaimanapun Aina adalah orang kesukaan Rinda, dia harus dijaga agar tetap aman," ucap Jexen tegas.

"Siap."

Jexen meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Matanya sejenak terpejam lalu kembali terbuka.

Hembusan nafas panjang keluar dari bibir Jexen. Pria itu seolah memliki beban kuat di dadanya.

Drtzzz

Ponsel Jexen berdering nyaring. Sebuah nama yang muncul di layar ponsel itu membuatnya langsung menjawab panggilan.

"Ada apa, Mbak?" tanyanya sambil memijit pangkal hidungnya

"Tidak, semua aman kok. Kamu kapan pulang?" tukas wanita di seberang sana

"Aku akan pulang, sebentar lagi," Jexen melihat ke arah jam yang menggantung di dinding.

"Baiklah. Belikan Mbak martabak. Sedang ingin," pinta wanita yang dipanggil mbak oleh Jexen.

Jexen mengiyakan. Kunci mobil yang ada di atas meja langsung diraupnya, dan pemuda itu segera meninggalkan tempatnya.

Ketika malam begini, penjual martabak tentu tidak sulit di dapat. Jaxen membelikan dua varian untuk si pemesan.

Sesampainya di rumah, orang yang dipanggilnya 'mbak' itu langsung menyambutnya dengan tawa gembira. Bahkan langsung memberi sebuah pelukan dan ciuman.

"Yeaay makasih cintaaa, muah," ucapnya riang

"Mbak, jangan seperti itu," sahut Jexen cepat sambil menjauhkan tubuh wanita itu dari dirinya.

"Diiiih malu ya. Ulululu adeeeek maluuu ya," ledeknya.

Bibir Jexen mengerucut dengan tingkah polah wanita tersebut. Bekas bibir yang tadi menempel pada pipinya, langsung diusap dengan punggung tangannya.

"Og gitu ya, awas tidak Mbak bantu kamu," ancam wanita dengan rambut panjang yanh dicepol ke atas.

"yaaah jangan dong Mbak. Mbak Xeren kenapa jadi mengancam begini sih?" sahut Jexen cepat. Pemuda yang tingginya hampir 190 cm itu langsung menampilkan wajah memelas.

Xerena hanya terkekeh geli melihat Jexen yang menciut. Namun dia menikmati ekspresi pemuda itu dan tak buru-buru untuk meralat perkataannya.

"Mbak aku cuma bercanda, jangan dimasukkan hati oke?"

"No no no, tidak bisa. ini harus dimasukkan ke hati bahkan ke jantung. So, bertaubat lah wahai rakyat ku."

Jexen menghela nafasnya panjang. Dia tahu bahwa Xerena hanya bercanda, tapi rasanya tetap tidak nyaman di hati karena hanya Xeren yang bisa membantunya saat ini.

Bruk

"Oh Dewi Xerena, maafkan lah hambamu yang hina ini."

Hahahah

Xerena tertawa keras melihat Jexen yang berlutut di lantai sambil menangkupkan kedua tangannya. Meski demikian, Xerena menjadi sangat terhibur.

"Oke, not bad. Bangun wahai rakyat ku, Dewi mu ini sudah memaafkan."

Xerena benar-benar puas dalam mengerjai Jexen. Hingga membuat Jeremy dan Xeena menggeleng-gelengkan kepala mereka. Dua orang tua itu tahu betul bahwa usia anak-anaknya sudah bukan muda lagi. Mereka sudah berumur 25 dan 30 tahun, tapi jika sedang bercanda seperti ini, tak ubahnya seperti usia 5 tahunan.

"Sudah apa Xer, jangan ganggu adik kamu begitu. Lihat tuh lingkaran hitam di bawah matanya. Duh anak mama kasihan sekali," ucap Xeena. Meski usianya sudah lebih dari 50 tahun tapi wajahnya masih segar dan cantik.

Mendapat pembelaan dari Xeena, Jexen langsung menggelayut manja kepada sang ibu. Tapi ada satu orang yang tidak terima, pemuda 25 tahun itu menempel pada Xeena.

"Jex, minggir. Punya papa ini. Awas," ucap Jeremy. Dia menarik tubuh putra bungsunya dan melemparnya ke sisi lain sofa. Lalu dengan erat dan posesif, dia mendekap tubuh istrinya.

"Oh Ya Tuhan Pa, ingat umur. Sudah tua. Masih saja cemburu, sama anak pula," ucap Jexen bersungut-sungut.

Jeremy jelas tidak peduli dengan ucapan putranya. Baginya menyingkirkan Jexen dari sisi istrinya adalah tindakan utama.

"Mas, jangan seperti itu. Malu dilihat anak-anak,"ucap Xeena.

"Biarkan. Biar mereka segera cari pendamping hidup. Sudah umur 30 dan 25 tahun kok masih kuat saja menjomblo," kilah Jeremy.

Xeena hanya tertawa mendengar ucapan suaminya. Sedangkan Jexen dan Xerena, keduanya sama-sama mengerucutkan bibir mereka karena kesal. Tiap kali sang ayah asti menyinggung soal pasangan. Dan bagi mereka itu tidak menyenangkan.

"Jadi Jex, sudah siap kembali?" tanya Jeremy. Mereka beralih mode, dari bercanda ke serius.

"Not yet, Pa. Aku masih ada yang harus diurus?" jawab Jexen cepat.

Jeremy menghembuskan nafasnya kasar. Dia hanya menganggukkan kepala, karena cukup tahu dengan keinginan sang anak.

"Ya sudah kalau begitu, Papa sama Mama pergi tidur dulu. Antarkan kakak mu, katanya ada operasi malam ini," ucap Jeremy.

Jexen mengerti, dia tahu dini hari nanti Xerena ada jadwal operasi. Dia tentu tak akan lupa akan hal itu. Meski Jexen bisa meminta orang lain untuk mengantarkan Xerena ke rumah sakit, tapi dia tidak melakukannya. Jexen lebih suka mengantarkan Xerena sendiri.

"So? bagaimana Mbak?"

"Safe, kamu tenang saja."

Jexen mengusap wajahnya kasar. Ia menggerakkan kakinya berkali-kal dengan tangan yang salng bertaut. Wajahnya melihat ke bawah, namun pikirannya kemana-mana.

"Apa kamu takut?"

"Sedikit."

Xerena bisa melihat wajah Jexen yang sedikit takut dan gelisah. Belum pernah dia melhat adiknya yang seperti ini sebelumnya.

Xerena beranjak dari duduknya, dia lalu dudu di sisi Jexen sambil mengusap lembut punggung lebar itu.

"Yakinlah semuanya akan baik-baik saja, Jex. Kamu sudah berusaha sampai sejauh ini. Aku yakin semuanya akan baik."

"Yeah aku juga berharap seperti itu, Mbak. Tapi ... Yah sudahlah. Aku aku antarkan Mbak ke rumah sakit."

Xerena menganggukkan kepala. Sebelum berangkat, lebih dulu Xerena masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Dia lalu siap dengan tas di tangannya.

"Mau ditunggu atau tidak?"

"Tidak usah, kamu pikir Mbak mu ini anak kecil. Sana pulang, Mbak sudah harus bersiap untuk operasi."

Jexen langsung pulang setelah Xerena masuk ke gedung rumah sakit. Namun sepanjang perjalanan pulang, pikiran Jexen melalang buana. Banyak kemungkinan yang akan terjadi dan ada beberapa yang sedikit membuatnya pikirannya risau. Dimana hal tersebut sangat jarang dialami oleh seorang Jexen.

TBC

1
GiZaNyA
denger tuh Jexen.. jangan kebablasan lhooo sama Rinda... bisa dijadiin penyetan kamu sama keluarga kamu kalo macem2🤣🤣🤣
GiZaNyA
heh Gani... situ kenapa Rinda kecelakaan ngga dicari dulu main langsung nikah aja... ya sekarang makanlah penyesalan kamu dan bersiap untuk diceraikan oleh Rinda...
dewi rofiqoh
Harus bersabar jexen! Dan harus bisa menahan diri 🤭🤭
GiZaNyA
akhirnya Rinda ngurus berkas cerai nya.... gaya banget si Teani mau balik ke TBBA... bae2 kena sleding Jexen kalo kerjanya main2...
Arin
Tapi lumayan lah hari ini bisa peluk Rinda sambil curi kecupan di kepala nya..... iya kan Jex. Mumpung Rinda gak sadar🤣🤣🤣
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
huh sok pamer tp bukan harta km dasar mokondo
GiZaNyA
pepet teeusss Rinda nya Jex... 🤣🤣
Arin
Ternyata yang ditakutkan Gani adalah kehilangan penopang hidupnya🤣🤣🤣. Gak ada yang biayain lagi untuk berfoya-foya dan bergaya seperti orang kaya. Sokor
Mundri Astuti
makanya buruan pisah rinda
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
di kristen mana bisa suami atau istri lebih dari satu
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: berarti mualaf cmn buat bisa nikah aja?
total 6 replies
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
bisa jd kecelakaan itu emng disengaja tinggal siapa pelakunya blm jelas
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
pede bgt km masih ditempatkan posisi direktur kerjaan ajh g becus
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
orang numpang tapi mau menguasai huh,ada itu g ada hak ny
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
boleh g sih di gampar biar tau km tuh g PNY apa apa atas harta rinda
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
ada hak apa yang bangun itu rumah PNY ibunya Rinda,hak apa yg km mau akui km tuh cm numpang
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
alasan aja padahal mah mau dekat sama Rinda
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
hahahah kaget kan km
dewi rofiqoh
Sepertinya rinda harus mengkaji ulang jabatan yang diberikannya pada temani! 🤔🤔Jika perlu tendang aja si tes dari TBBA
Sri Supriatin
Kalau kalimatnya bisa dimengerti hanya typo buat sy g masalah thor 👍👍👍
Ilfa Yarni
yg tegas ya rinda parasit hrs disingkirkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!