Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.
Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.
"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."
Lili kira bercanda.
Besoknya lamaran beneran datang.
Kontrak setahun 500 juta.
Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.
Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Sebulan Setelah Dikontrak
Sebulan setelah Fadil menandatangani map putih itu, Ruko Putih Blok B No. 5 akhirnya berubah.
Bukan berubah menjadi ruko mewah dengan lantai marmer atau perabot mahal. Namun, setidaknya tempat itu sudah tidak terlihat seperti rumah yang hampir ditinggalkan penghuninya.
Siang itu, aku dan Damian sengaja mampir setelah menyelesaikan urusan di Kantor Lintas Nusa Lantai 3.
Begitu turun dari mobil, aku langsung menatap bangunan tersebut.
Pintunya terbuka lebar.
Tidak ada lagi kardus berserakan, pakaian menumpuk, atau bau apek yang dulu menyambut siapa pun yang masuk.
Aku bahkan sempat tersenyum sendiri.
Tempat ini punya banyak kenangan.
Dulu, aku pernah duduk di lantainya sambil menangis karena UKT empat juta belum lunas. Saat itu, rasanya seluruh dunia sedang menolakku.
Sekarang, aku kembali ke tempat yang sama dengan keadaan berbeda.
"Masuk?" tanya Damian.
Aku mengangguk.
Di dalam, Fadil sedang menyapu lantai menggunakan sapu lidi baru. Kemeja kotak-kotaknya basah oleh keringat. Rambutnya sedikit berantakan.
Begitu melihat kami, dia langsung menghentikan pekerjaannya.
"Lili? Damian? Kok nggak bilang mau datang?"
Dia buru-buru meletakkan sapu di sudut ruangan.
Damian melihat sekeliling sebelum menjawab.
"Rumahnya bersih sekarang."
Fadil tertawa kecil.
"Sebulan ini aku belajar hidup lebih teratur. Setiap pulang kerja, aku bersihkan semuanya. Kalau dibiarkan, besok makin malas."
Aku duduk di atas tikar pandan yang masih terlihat baru.
"Nyaman juga sekarang."
"Jauh lebih nyaman," jawab Fadil. "Dulu aku tidur saja rasanya gelisah. Sekarang pulang kerja bisa istirahat tanpa melihat barang berantakan."
Tak lama kemudian, Bu Lastri keluar dari dapur kecil membawa tiga gelas teh hangat.
Penampilannya juga berbeda. Daster batiknya bersih, rambutnya tersisir rapi, dan wajahnya tidak lagi menunjukkan kemarahan seperti saat pertama kali datang ke Lantai 3 membawa map biru palsu.
"Lili, minum dulu. Maaf cuma ada teh."
"Justru ini yang saya cari, Bu."
Bu Lastri tersenyum.
Aku menerima gelas itu, lalu memperhatikan dapur kecil di belakang.
"Bu Lastri sekarang sering masak?"
"Iya. Daripada bengong, lebih baik belajar masak lagi. Sekarang kalau Fadil pulang kerja, setidaknya ada makanan hangat."
Fadil langsung menyahut.
"Masakan Mama sekarang enak, Lili. Bahkan kemarin aku nambah dua kali."
"Memang biasanya nggak enak?" godaku.
Fadil tertawa.
Untuk pertama kalinya, suasana di Ruko Putih terasa seperti rumah sungguhan.
Damian duduk di sebelahku. Dia memperhatikan Fadil yang kembali mengambil sapunya.
"Bagaimana pekerjaanmu di gudang?"
"Baik. Aku masih di bagian yang sama."
"Datang tepat waktu?"
Fadil mengangguk cepat.
"Selama sebulan ini aku nggak pernah terlambat."
"Bagus."
Damian memang tidak banyak bicara. Namun, setiap perkataannya selalu terdengar seperti penilaian yang harus dipertanggungjawabkan.
Fadil kemudian duduk di hadapan kami.
"Aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, Damian."
"Kenapa?"
Fadil terdiam sebentar.
"Karena dulu aku terlalu sering menyalahkan keadaan. Kalau nggak punya uang, aku marah. Kalau gagal, aku menyalahkan orang lain. Bahkan waktu Mama menyuruhku membawa map biru itu, aku langsung menurut tanpa berpikir panjang."
Dia menunduk.
"Aku malu mengingat kejadian di kantor kalian."
Bu Lastri yang duduk di dekat dapur ikut terdiam.
Aku meletakkan gelas teh.
"Fadil, semua orang pernah melakukan kesalahan."
"Tapi kesalahanku hampir membuat semuanya berantakan."
"Yang penting sekarang kamu memperbaikinya."
Fadil menatapku.
Aku tersenyum kecil.
"Aku juga pernah berada di posisi sulit. Bahkan dulu aku menerima kontrak lima ratus juta sebagai istri pura-pura selama satu tahun. Aku nggak tahu bagaimana akhirnya. Aku hanya berpikir bagaimana caranya bertahan."
Damian melirik ke arahku.
Aku melanjutkan.
"Awalnya aku menganggap kontrak itu sebagai sesuatu yang membuatku kehilangan kebebasan. Tapi ternyata, selama perjalanan itu, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga."
"Apa?" tanya Fadil.
Aku menoleh kepada Damian.
Dia diam-diam menggenggam tanganku di bawah tikar.
"Rumah," jawabku.
Ruangan mendadak hening.
Bu Lastri mengusap sudut matanya.
"Lili, boleh Bu Lastri bicara sesuatu?"
"Tentu, Bu."
Bu Lastri bergeser mendekati Fadil, kemudian menggenggam tangan anaknya.
"Fadil, Mama mau minta maaf."
Fadil langsung mengangkat wajah.
"Ma, nggak usah."
"Harus. Mama yang menyuruh kamu membawa map biru itu. Mama juga yang membayar Pengacara Hendro. Mama terlalu sibuk memikirkan uang sampai lupa kalau anak Mama sendiri bisa kehilangan masa depannya."
Air mata Bu Lastri mulai jatuh.
"Mama pikir kalau kita punya uang, semuanya bisa selesai. Ternyata Mama salah."
Fadil menggenggam tangan ibunya.
"Sudah, Ma. Aku juga salah karena nggak berani menolak."
"Tapi sekarang kamu masih mau tinggal sama Mama?"
Fadil tersenyum tipis.
"Memangnya aku mau tinggal sama siapa lagi?"
Bu Lastri akhirnya menangis sambil memeluk anaknya.
Aku ikut terharu melihat mereka.
Damian hanya mengamati tanpa mengganggu momen itu.
Beberapa menit kemudian, Fadil kembali duduk.
"Damian, aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Kontrak itu masih berlaku, kan?"
Damian mengangguk.
"Masih. Selama kamu menjalankan kewajibanmu, tempat tinggal ini tetap menjadi bagian dari kesepakatan."
Fadil menghela napas lega.
"Aku akan menjaganya."
"Jangan hanya menjaga tempatnya. Jaga juga kepercayaan yang sudah diberikan."
Fadil mengangguk mantap.
"Iya. Aku mengerti."
Sore itu, sebelum pulang, aku sempat melihat Fadil kembali menyapu lantai.
Pemandangan sederhana.
Namun, entah kenapa membuatku teringat pada diriku sendiri beberapa tahun lalu.
Dulu aku pernah menangis di tempat itu karena merasa tidak punya siapa-siapa.
Sekarang, aku melihat seseorang yang sedang berusaha membangun kembali hidupnya.
Di dalam mobil, Damian membiarkan jendela terbuka sedikit. Angin Samarinda masuk membawa udara panas yang justru terasa menyenangkan.
"Kamu senang melihat mereka?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Senang. Fadil sudah berubah."
"Menurutmu dia bisa bertahan?"
"Bisa. Asalkan dia benar-benar mau berusaha."
Damian tersenyum tipis.
"Dulu kamu juga begitu."
Aku menoleh.
"Apa?"
"Ketika menerima kontrak lima ratus juta, kamu juga takut. Tapi kamu tetap bertahan."
Aku tertawa pelan.
"Bedanya, dulu aku sering menangis."
"Sekarang juga masih."
"Damian!"
Dia tertawa kecil.
Aku menyandarkan kepala ke bahunya.
Di perjalanan menuju Rumah Biru, pikiranku kembali pada semua perjalanan yang sudah kami lewati.
Kontrak lima ratus juta yang mempertemukan kami.
Kontrak seumur hidup yang akhirnya kami pilih sendiri.
Dan sekarang, kontrak baru yang memberi Fadil kesempatan memperbaiki hidupnya.
Ternyata, selembar kertas memang bisa mengubah banyak hal.
Namun, bukan tanda tangan yang membuat seseorang bertahan.
Melainkan kemauan untuk berubah dan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Damian menggenggam tanganku.
"Capek sayang?" tanyanya.
"Sedikit sayang."
"Nanti sampai rumah istirahat. Jangan memikirkan pekerjaan lagi."
Aku mengangguk.
Hari itu aku pulang dengan perasaan hangat.
Ruko Putih Blok B No. 5 mungkin belum menjadi tempat yang sempurna. Fadil juga masih harus bekerja keras untuk masa depannya.
Namun, setidaknya sekarang mereka punya kesempatan.
Dan aku tahu satu hal.
Kadang, seseorang tidak membutuhkan uang dalam jumlah besar untuk memulai hidup baru.
Dia hanya membutuhkan kesempatan, keberanian, dan seseorang yang bersedia percaya bahwa dirinya masih bisa berubah.