NovelToon NovelToon
Dari Benci Jadi Rindu

Dari Benci Jadi Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: Aulia Cemmzz

Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Luka Lama Terbuka

Beberapa hari berlalu sejak mereka bekerja bareng di perpustakaan. Anehnya, Arka tidak lagi terlalu kasar saat berbicara dengan Laras. Dia masih dingin dan sering menyindir, tapi setidaknya tidak lagi menatap Laras seakan gadis itu adalah masalah terbesar dalam hidupnya.

Pagi itu cuaca sedang tidak bersahabat. Langit mendung pekat, angin bertiup kencang, dan hujan mulai turun rintik-rintik tepat saat jam istirahat dimulai. Laras duduk sendirian di bangku panjang koridor yang agak sepi, menatap ke luar jendela dengan tatapan yang terlihat kosong.

Arka yang sedang berjalan bersama Dika berhenti sebentar saat melihat sosok itu sendirian.

"Kenapa dia nggak masuk ke kantin? Hujan mau deras banget gitu," gumam Arka pelan, lebih ke dirinya sendiri.

"Mungkin dia mau sendirian. Ayo kita pergi aja, nanti kalau lu nanya dia malah ngambek lagi," jawab Dika sambil menepuk bahu temannya.

Arka mengangguk tapi kakinya tidak bergerak. Dia melihat bahu Laras sedikit bergetar. Bukan karena kedinginan, tapi karena dia sedang menahan tangis. Tanpa sadar, Arka berjalan mendekat dan meninggalkan Dika yang bingung sendirian di belakang.

"Lu kenapa di sini? Hujannya makin besar lho, nanti lu sakit," ucap Arka datar saat berdiri di samping Laras.

Laras terkejut, buru-buru menyeka matanya dengan ujung lengan baju. "Nggak apa-apa. Cuma... mau tenang sebentar aja."

Arka duduk agak jauh di ujung bangku itu. "Kalau ada masalah, cerita aja. Gue nggak akan nyebar ke siapa pun, janji."

Laras terdiam lama. Hanya terdengar suara hujan yang semakin deras menghantam atap sekolah.

"Pagi ini gue dapat kabar... nenek gue yang kemarin sakit, udah nggak ada," ucap Laras pelan, suaranya hampir tertelan suara hujan.

Arka terdiam. Dia tidak menyangka hal yang berat seperti itu. Dia ingin bilang sesuatu yang menenangkan, tapi kata-kata seakan tertahan di tenggorokannya.

"Gue turut berduka cita ya. Gue tahu rasanya kehilangan orang yang paling kita sayang. Nenek gue juga sudah nggak ada sejak gue kelas sepuluh," kata Arka akhirnya, suaranya jauh lebih lembut dari biasanya.

Laras menoleh sedikit, terkejut mendengar pengakuan itu. "Lu nggak pernah cerita soal itu ke siapa-siapa kan?"

"Gue nggak suka terlihat lemah di depan orang lain. Jadi gue jarang cerita. Tapi itu bukan berarti gue nggak merasakannya ya. Justru karena gue tahu rasanya, gue ngerti kenapa lu mau sendirian di sini," jawab Arka menatap lurus ke arah hujan di luar.

"Gue pikir lu itu nggak pernah sedih, nggak pernah punya masalah. Lu selalu terlihat begitu kuat dan sempurna di mata semua orang," ucap Laras jujur.

Arka tersenyum getir. "Sempurna itu cuma topeng, Laras. Semua orang punya luka yang nggak mau diperlihatkan ke orang lain. Termasuk gue."

Mereka duduk berdampingan dalam diam yang nyaman untuk waktu yang cukup lama. Untuk pertama kalinya, tidak ada pertengkaran, tidak ada sindiran, tidak ada kebencian. Hanya dua jiwa yang saling mengerti tanpa perlu banyak kata.

Bel berbunyi menandakan istirahat selesai. Laras berdiri dan menyeka sisa air matanya, lalu menatap Arka dengan senyum yang lebih tenang.

"Makasih ya, Ka. Gue nggak tahu kalau lu akan jadi orang pertama yang nemuin gue pas sedih begini."

Arka menatapnya, ada sesuatu yang berubah di tatapannya. "Nggak apa-apa. Kalau butuh tempat cerita, gue di sini. Tapi jangan bilang ke siapa-siapa ya, gue nggak mau reputasi cowok dingin gue hancur gara-gara ini," candanya sambil tersenyum tipis.

Laras tertawa kecil, dan tawa itu terdengar begitu tulus. Arka menatapnya sejenak, lalu berjalan duluan menuju kelas dengan perasaan yang anehnya terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!