NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA SIFAT YANG TAK PERNAH SAMA

Tau nggak?”

Tiba-tiba Rachel angkat bicara, Suaranya cukup untuk membuat seluruh perhatian yang semula tersebar beralih kepadanya. Namun, baru saja hendak melanjutkan perkataannya, sudut bibir gadis itu malah bergetar.

Rachel menunduk.

Bahu kecilnya mulai berguncang.

Lalu—

“Haaa... haaa...”

Ia tertawa ngakak sendirian, Semua orang menatapnya dengan ekspresi datar. Dante bahkan sampai memutar kedua matanya.

“Mulai deh...”

“Gilanya kambuh,” gumamnya.

Rachel buru-buru menahan tawanya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengembalikan wajah seriusnya. Sayangnya, senyum itu masih saja lolos.

“Ekhemmm.”

Ia berdeham, kemudian memasang ekspresi sok tenang.

“Aku mencuri kapal paman.”

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Kemudian—

“HAAAA... HAHAHAHAHA!”

Rachel kembali tertawa.

Semua orang semakin bingung. Tidak ada satu pun yang mengerti bagian mana yang menurut gadis itu lucu.

Dante memijat pelipisnya.

“Ga lucu, anjir.”

“Lucu, kok...” Rachel menyahut di sela tawanya.

Ia kemudian menunjuk Alesya yang kini berada dalam pelukan Kael.

“Kalau aku tahu Alesya ada di sini, bukan kapalnya yang aku curi...”

Rachel berhenti sejenak.

Senyumnya melebar.

“...tapi helikopternya.”

“HAAA—HAHAHAHA!”

Dante akhirnya menyerah, Ia ikut tertawa, bahkan sampai harus menutup wajahnya sendiri.

“Ya ampun...”

Darren hanya menggeleng pelan. Sudah tidak ada gunanya meladeni Rachel. Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada Reana yang duduk di dekatnya. Wajah gadis itu terlihat sedikit pucat setelah perjalanan panjang mereka.

“Dingin nggak?” tanya Darren lembut.

Reana menggeleng pelan.

“Enggak.”

Namun beberapa saat kembali terdengar suara Rachel.

“Aku yang dingin, Bang...”

Darren menatapnya.

“Peluk dong, Bang.”

“Ga sudi.”

Jawabannya begitu datar dan cepat.

Rachel mengerucutkan bibir.

Sementara itu—

“Haaaaaaa...”

Dante kembali meledakkan tawanya, Kali ini begitu keras sampai ujung matanya berair. Kael hanya menggeleng pelan melihat tingkah mereka.

Reana pun ikut terkekeh.

Rachel kembali memasang wajah cemberut.

Namun ia tidak benar-benar tersinggung.

Ia sudah terbiasa menggoda Darren.

Bagaimanapun, dulu cowok itu terkenal sebagai manusia yang seolah tidak tersentuh oleh perempuan mana pun. Jadi melihat Darren sekarang bisa begitu lembut kepada Reana adalah hiburan tersendiri baginya.

Belum sempat Rachel melanjutkan godaannya—

“Huekk... huekk...”

Suara seseorang muntah terdengar dari sisi perahu.

Semua kepala langsung menoleh.

Alesya.

Gadis itu membungkuk sambil memegangi perutnya.

Kael segera mengubah posisinya, membantu Alesya mencondongkan tubuh ke sisi perahu agar ia bisa muntah ke arah danau.

Setelah beberapa saat, Alesya kembali bersandar lemas ke dada Kael.

“Pala aku pusing...”

Rengeknya lirih.

Kael menatap wajah gadis itu.

“Ga mempan kayaknya.”

Ia terdengar sedikit pasrah. Rachel yang melihat keadaan Alesya langsung merogoh saku celananya.

Sebuah botol kecil minyak angin ia keluarkan.

Tanpa banyak bicara, Rachel melemparkannya kepada Kael.

“Pakai itu.”

Kael menangkapnya dengan satu tangan.

Ia membuka tutupnya, lalu mengoleskan sedikit minyak angin ke telapak tangannya sebelum mengarahkannya ke Alesya.

Aroma hangat perlahan memenuhi udara. Kael mengusap pelan bagian pelipis dan tengkuk Alesya.

Beberapa menit berlalu.

Napas gadis itu mulai teratur.

Tubuhnya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur. Alesya akhirnya kembali terlelap dalam pelukan Kael. Kepalanya bersandar nyaman di dada pria itu.

Kael tidak bergerak banyak.

Satu tangannya tetap menopang tubuh Alesya agar tidak bergeser, sementara tangan lainnya dengan setia mengelus rambut gadis itu. Sesekali, jemarinya berhenti untuk memberikan pijatan lembut di kepalanya.

Tidak ada kata-kata.

Tidak ada ekspresi berlebihan.

Hanya sebuah perhatian kecil yang dilakukan seolah sudah menjadi kebiasaan.

Dan anehnya, pemandangan sederhana itu membuat suasana di atas kapal mendadak jauh lebih tenang.

Beberapa menit berlalu.

Suara mesin kapal terdengar berderu pelan, membelah permukaan danau yang tenang. Angin siang berembus sedikit kencang.

Di tengah suasana itu, Alesya masih tertidur.

Tubuhnya meringkuk kecil dalam pelukan Kael. Pria itu masih berada di posisi yang sama sejak tadi. Punggungnya bersandar pada sisi kapal, sementara Alesya tidur dengan kepala di dadanya.

Tangan Kael terus bergerak perlahan.

Mengelus rambut.

Berhenti.

Kemudian kembali mengelusnya.

Sesekali jemarinya berpindah ke pelipis Alesya, memberikan pijatan kecil, Gerakannya begitu hati-hati. Seolah sedikit saja ia salah menyentuh, gadis itu akan kembali merasa tidak nyaman.

Darren yang duduk tak jauh dari mereka sempat melirik. Kemudian menoleh kepada Dante. Dante juga sedang memperhatikan hal yang sama.

Keduanya saling bertatapan.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa. Namun ekspresi mereka seolah mengatakan satu hal yang sama.

Sejak kapan Kael begini?

Rachel rupanya juga menyadarinya. Gadis itu menyandarkan dagu pada kedua tangannya, lalu memandangi Kael dengan tatapan penuh arti.

“Wih...”

Suara kecil itu membuat Kael melirik.

“Apa?”

Rachel menyeringai.

“Enggak.”

Ia menggeleng cepat.

“Cuma kagum.”

“Kagum apa?”

“Kagum sama tangan kamu.”

Kael mengernyit.

Rachel menunjuk tangan Kael yang masih mengelus kepala Alesya.

“Biasanya tangan itu dipakai buat bunuh orang.”

Dante langsung menahan tawa.

Rachel melanjutkan dengan wajah konyol nya.

“Sekarang malah dipakai buat elus-elus kepala orang"

Kael menatapnya datar.

“Diam.”

Rachel mengangguk.

“Oke.”

Dua detik kemudian—

"Just friends lagi_”

“Rachel.”

“Iya, iya. Diam.”

Rachel langsung menutup mulutnya, Namun senyumnya masih melebar. Kael kembali menatap Alesya. Gadis itu bergerak sedikit dalam tidurnya.

Keningnya mengerut.

Kael langsung berhenti mengusap rambutnya.

“Ada apa?” bisiknya.

Alesya tidak menjawab. Ia hanya bergerak semakin mendekat, mencari posisi yang lebih nyaman.

Tangannya bahkan tanpa sadar mencengkeram bagian depan baju Kael.

Kael terdiam.

Tatapannya jatuh pada tangan kecil yang menggenggam bajunya. Untuk sesaat, wajahnya tetap tanpa ekspresi. Namun setelah beberapa detik, ia menarik napas pelan. Tangannya kembali mengusap kepala Alesya, Kali ini lebih lembut.

“Tidur aja.”

Suara itu begitu rendah hingga hampir tertelan suara mesin kapal. Reana yang mendengarnya langsung melirik.

Kemudian ia menatap Darren.

“Darren...”

“Hm?”

“Kael bisa ngomong selembut itu?”

Darren menahan senyum.

“Bisa.”

“Kirain cuma bisa bilang 'berisik'.”

Dante dan Jessica pun langsung terkekeh.

Rachel pun hampir kembali tertawa, Kael melirik mereka satu per satu. Tatapannya cukup untuk membuat semuanya langsung diam.

Namun Alesya tetap tidak terbangun.

Mungkin karena efek obat tidur yang diberikan Kael cukup kuat, untuk membuka mata saja, rasanya begitu berat.

***

Kapal akhirnya merapat di dermaga.

Suara gesekan lambung kapal dengan tepian kayu terdengar pelan, disusul bunyi tali yang dilemparkan untuk mengikat kapal. Satu per satu mereka turun dari kapal.

Namun Kael tetap berada di sana.

Alesya masih berada dalam gendongannya. Gadis itu belum sepenuhnya sadar akibat pengaruh obat. Kepalanya bersandar di dada Kael, sementara kedua tangannya terkulai lemas.

Rachel yang sudah lebih dulu turun menoleh ke belakang.

"Dari sini kita harus jalan kaki."

Tatapannya kemudian beralih pada Kael.

"Enggak istirahat dulu? Di sini ada motel"

Kael terdiam beberapa saat.

Tatapannya turun sekilas pada Alesya yang masih tertidur dalam pelukannya.

Kemudian ia mengangguk, Tanpa banyak bicara, mereka pun mulai berjalan mengikuti Rachel menuju motel yang dimaksud.

Jaraknya tidak terlalu jauh.

Namun perjalanan singkat itu justru terasa ramai karena celotehan Rachel yang seolah tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan.

Gadis itu berjalan paling depan bersama Reana dan Jessica. Sesekali ia menoleh, mengajak keduanya berbicara seolah mereka sudah berteman sejak lama.

Memang begitulah Rachel.

Mudah akrab dengan siapa saja.

Bahkan dalam situasi seperti ini pun, mulutnya masih sempat bekerja lebih cepat daripada pikirannya.

"Eh, kalian tahu enggak kalau dulu Alesya pernah—"

"Rachel."

Suara Kael terdengar dari belakang.

Datar.

Tegas.

Rachel berhenti sebentar, lalu menoleh sambil nyengir lebar.

"Apa?"

"Berisik."

Rachel malah menjulurkan lidah.

"Galak banget."

Reana dan Jessica yang melihatnya hanya terkekeh. Rachel kembali berjalan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Suka marah-marah mulu. Heran deh."

Kemudian gadis itu mendekatkan wajahnya kepada Reana dan Jessica, ia mengecilkan suaranya seperti hendak membicarakan rahasia besar.

"Kalian tahu?"

Reana dan Jessica langsung menoleh.

"Apa?" tanya Reana penasaran.

Rachel melirik ke belakang.

Kael masih berjalan dengan Alesya dalam gendongannya. Wajahnya tetap datar seperti biasa.

Rachel kembali menghadap ke depan.

"Sebenarnya..."

Ia sengaja menggantung ucapannya.

Lalu berkata pelan,

"Alesya itu sebenarnya enggak suka sama dia."

Reana sontak membelalakkan mata.

"Benarkah?"

"Iya."

Rachel mengangguk mantap.

"Selera Alesya sama kayak aku."

Jessica mengerutkan kening.

"Sama dalam hal apa?"

Rachel tersenyum penuh arti.

"Kami sama-sama suka berondong."

Reana dan Jessica saling pandang. Kemudian keduanya tertawa kecil, seolah baru saja mendapatkan jawaban dari sebuah teka-teki yang selama ini mengganjal.

"Pantes..." bisik Reana.

"Waktu Alesya bilang mau cari berondong, Kael langsung ngamuk"

Rachel menahan tawa.

"Kan aku bilang juga apa."

Ketiganya kembali tertawa kecil.

"Ya... aku masi tidak percaya kau bisa meluluhkan hati Darren, cowok yang bahkan lebih dingin dari kael" Lanjut gadis itu setelah beberapa saat, ucapannya tertuju pada Reana.

Sebelumnya gadis itu hanya terkekeh kecil, lalu ia menoleh ke belakang, tatapannya bertemu dengan wajah datar Darren. lalu kembali kedepan.

"Ga tau... Tiba-tiba aja dia dekat-dekat aku"

jawab Reana asal, ia juga tidak mengerti apa yang menarik pada dirinya, sehingga membuat cowok itu selalu menempel padanya.

"Wahh... kalo tau bisa dapet jodoh di penjara, harus nya aku ikut"

Rachel membuang nafas kesel, sedangkan Jessica dan Reana hanya terkikik.

Sementara itu, beberapa meter di belakang mereka, tiga pria masih berjalan beriringan. Dante menatap punggung Rachel dengan tatapan tak percaya.

"Enggak heran sih kalau dia gampang banget bergaul sama siapa aja."

Darren hanya terkekeh kecil.

"Sepertinya cuma kau yang merasa terganggu."

Dante langsung menoleh.

"Memangnya kau tidak?"

Tatapannya bergeser ke depan.

"Dia terang-terangan menggodamu di depan Reana."

Darren mengangkat bahu santai.

"Udah biasa."

Dante menghela napas panjang. Kemudian ia kembali memperhatikan Rachel yang kini sedang tertawa bersama Reana dan Jessica.

"Kelakuannya beda banget sama Kael."

Ia menggeleng-gelengkan kepala.

"Anak angkat apa gimana?"

Kael yang berjalan tidak jauh dari mereka hanya menatap Dante dengan wajah datar.

"kau dan dia sama aja"

Darren langsung terkekeh.

Dante terdiam.

Beberapa detik kemudian, ia mengangkat tangan frustrasi.

"Shittt."

Darren kembali tertawa kecil.

Kael tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia hanya terus berjalan.

Alesya masih berada dalam pelukannya, sama sekali tidak menyadari percakapan di belakang mereka.

Untuk pertama kalinya setelah perjalanan panjang yang melelahkan itu, langkah mereka tidak lagi dikejar suara tembakan ataupun teriakan.

Hanya langkah kaki yang menyusuri jalanan sepi menuju sebuah motel kecil di ujung dermaga.

Dan di antara semuanya, Rachel tetap menjadi satu-satunya orang yang seolah tidak pernah mengenal kata diam.

***

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!