NovelToon NovelToon
DIA DARI MASA LALUKU

DIA DARI MASA LALUKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Selingkuh / Obsesi
Popularitas:559
Nilai: 5
Nama Author: yavarnie

Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.

Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.

Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan gue gimana?

...•••...

“Joging, joging. Joging pala lo!” gerutu Sian yang melihat Jay rebahan di atas ranjang. “Gue kan belum selesai makan, cok! Kalau malu ya malu sendiri, jangan malah ngajak-ngajak!”

“Ngedumel mulu dah,” sahut Jay akhirnya setelah lama terdiam.

Ia bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati jendela besar yang terbuka lebar. Angin pagi menyusup masuk, menerpa wajahnya sekaligus menggerakkan helai rambut dan pakaiannya.

Dari sana, pandangannya tertuju ke halaman rumah. Ayahnya berdiri di hadapan perempuan itu sambil mencium keningnya sebelum beranjak masuk ke dalam mobil.

Bibir Jay perlahan melengkung membentuk senyum miring saat melihat mobil ayahnya meninggalkan halaman rumah, meninggalkan perempuan itu seorang diri.

Ia segera berbalik menatap Sian yang masih duduk bersandar di sofa dengan wajah merajuk.

“Lo bisa naik motor, kan?”

Sian hanya mengangkat sebelah alis.

“Beliin gue rokok, dong, di supermarket perempatan itu,” pinta Jay sembari menghampiri sahabatnya.

“Bisa, kan?” ulangnya, kini berdiri tepat di hadapan Sian.

Sian mendengkus pelan. Ia sempat mengalihkan pandangan sebelum kembali menatap Jay.

“Lo pikir gue bodoh?” Sian berdiri dan mendongak menatap Jay. Perbedaan tinggi badan mereka membuat Sian harus sedikit mendongakkan kepala untuk bisa menatapnya tepat di mata.

“Mau main api lo?”

Jay menghela napas panjang, lalu berbalik menuju ranjang dan duduk di tepinya. “Gue cuma mau minta penjelasan.”

“Apa lagi yang harus dijelasin?!” sentak Sian.

“Lo nggak tahu apa-apa anjing!” balas Jay dengan nada tinggi. Rahangnya mengeras, menahan amarah yang sejak tadi sulit dibendung. “Lo nggak tahu apa-apa,” ulangnya lirih sambil menggelengkan kepala.

“Lo nggak tahu apa yang gue rasain, Cil. Lo nggak tahu…”

Sian terdiam. Selama beberapa saat, ia hanya menatap wajah Jay.

“Mana kuncinya?”

“Di atas nakas.”

Sian beranjak menuju nakas dan mengambil kunci motor yang dimaksud Jay. “Jangan salahin gue kalau motor lo rusak,” katanya sembari menyambar kunci itu. “Fyi, gue nggak bisa naik motor gede.”

Sian melengos keluar kamar, lalu membanting pintu hingga dentumannya menggema di dalam ruangan.

Setelah beberapa saat terdiam, Jay akhirnya bangkit dan melangkah keluar kamar. Setibanya di lantai bawah, Jay mengedarkan pandangan untuk mencari perempuan itu. Tak menemukannya di sana, ia pun bergegas menuju dapur.

Benar saja. Di sana, perempuan itu sedang duduk di meja pantry, menyesap minuman dari gelas di tangannya.

Tanpa banyak bicara Jay melangkah mendekat hingga berdiri di hadapannya.

Perempuan itu mendongak. Senyum simpul terukir di bibir merah meronanya saat tatapan mereka bertemu.

Jay tak mengatakan apa-apa. Ia berjalan memutari kursi hingga berhenti tepat di belakang perempuan itu. Kepalanya menunduk, mendekati puncak kepala perempuan itu, sementara hidungnya menghirup aroma sampo yang melekat pada rambut panjangnya. Jay memejamkan mata sejenak, membiarkan aroma itu memenuhi penciumannya, seolah ingin menyimpan setiap jejak keberadaan perempuan itu dalam ingatannya.

“Hahhh…”

Jay menghembuskan napas panjang, lalu sedikit menjauhkan kepalanya dari rambut perempuan itu. Kedua tangannya bertumpu pada meja pantry, mengurung tubuh perempuan itu di antara kedua lengannya. Ia kemudian menunduk, meletakkan dagunya di atas pundak telanjang perempuannya.

“Hati gue sakit,” gumamnya tepat di telinga perempuan itu. “Selama ini, gue nyari keberadaan lo. Sampai gila rasanya.” Kedua tangan Jay perlahan melingkar di pinggang ramping perempuan itu, seolah enggan melepaskannya lagi.

Namun, perempuan itu justru melepaskan tangan Jay dari pinggangnya. Ia memutar tubuh hingga Jay terpaksa mundur selangkah.

Senyum manisnya tak sedikitpun memudar. Perempuan itu bangkit dari kursinya, lalu melingkarkan kedua tangan di leher Jay hingga pemuda itu sedikit menunduk ke arahnya.

Ia memeluk Jay sembari mengelus tengkuknya. Kepalanya miring ke samping hingga bibirnya merapat pada pipi pemuda itu, mengecupnya dengan isapan lembut selama beberapa detik sebelum perlahan terlepas.

Kedua tangannya turun, beralih menggenggam pergelangan tangan Jay. Menatap manik pemuda itu diiringi senyum yang tampak begitu tulus.

“Sekarang kan kita udah ketemu lagi.”

Jay menatapnya lekat-lekat. “Dengan status lo sebagai istri bokap gue?” kedua alisnya bertaut, membentuk kerutan di antara pangkalnya.

“Ekspresinya biasa aja.” Tangan perempuan itu mengusap alis tebal Jay dengan lembut.

Jay sempat memejamkan mata, membiarkan sentuhan itu menahannya dalam diam. Sial. Selalu saja begini. Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan, begitu banyak hal yang membuat dadanya sesak, tetapi satu sentuhan perempuan itu saja sudah cukup untuk membuatnya goyah.

Entah dirinya yang terlalu lemah setiap kali berhadapan dengan perempuan itu, atau memang perempuan itu tahu betul bagaimana membuatnya luluh.

“Tapi kenapa pertemuannya harus gini?” suara Jay terdengar frustasi.

“Apa kamu mikir aku ngerencanain semua ini? Enggak, Jay. Enggak.” Perempuan itu menggeleng pelan. “Aku sama terkejutnya kayak kamu.”

“Tapi lo keliatan santai aja, tuh,” sahut Jay cepat.

“Ya emang aku harus gimana? Koar-koar gitu? Bukannya semua juga udah terjadi?”

Jay menepuk nepuk dadanya sendiri, seolah berusaha menunjukkan sesuatu yang tak sanggup dijelaskannya dengan kata-kata.

“Perasaan gue gimana?”

Suaranya melemah. Ia menatap perempuan di hadapannya dengan mata yang menyimpan begitu banyak harapan. Setidaknya, ia ingin perempuan itu memahami betapa menyakitkannya keadaan mereka sekarang.

Namun, perempuan itu tak kunjung menjawab.

Ia kembali duduk di kursi pantry, mengambil cangkir putihnya, lalu menyesap teh dengan tenang. Barulah setelah itu ia kembali menatap Jay.

“Ya itu tanggung jawab kamu, Jay.”

Jay terdiam mendengar kata yang keluar dari mulut perempuan di hadapannya.

“Kenapa dari banyaknya orang di dunia ini lo harus nikah sama bokap gue? KENAPA?!”

Habislah sudah kesabaran Jay. Untuk pertama kalinya ia berteriak di hadapan perempuan yang dicintainya.

“Kenapa?” ulangnya lirih.

Kedua lutut Jay perlahan kehilangan tenaga hingga tubuhnya merosot dan terduduk di lantai yang dingin dengan kepala tertunduk dalam.

Dadanya terasa sesak. Perasaannya benar-benar hancur, jauh lebih menyakitkan daripada yang sanggup ia ungkapkan.

Sebut saja dirinya payah. Pecundang. Atau apa pun yang pantas disematkan kepada laki-laki yang menunjukkan kelemahan di hadapan seorang perempuan. Saat ini, Jay tak lagi peduli.

Perlahan, ia mendongak dengan mata berkaca-kaca menatap perempuan di atasnya yang menatapnya dengan ekspresi datar.

Bibir Jay bergerak, tetapi sesaat tak ada suara yang keluar. Ia menelan getir yang mengganjal di tenggorokannya sebelum akhirnya bertanya,

“Lo beneran cinta sama Papa?”

...[...]...

#•• masa lalu

••• masa sekarang

1
tak tahu
jadi laki emang harus gentle
tak tahu
baju hitam gak buat cuma berduka aja kali🙄
Yavarnie: nahh bener tuh
total 1 replies
tak tahu
keren2 kak
Yavarnie: makasih banyakkk
total 1 replies
Yavarnie
INI ADA YANG BACA NGGAK SIH?
SAY HI, DONGGG
Yavarnie: huhu thank you udah bacaa
total 2 replies
senjani jingga
semangat thor!, kalau berkenan mampir juga ya di novel baruku😁
senjani jingga: terimakasihhh❤️❤️
total 2 replies
Yavarnie
aneh, ya, datang ke gereja bukannya ibadah, malah buat nemuin seseorang wkwk
tak tahu: si jay emang aneh2 ja
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!